
Drettt , ponsel Felix bergetar, dia segera mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya.
''Halo Alice, ada apa?'' tanya Felix.
''Kamu pergi ke ulangtahun nya Ana?'' ujar Alice melalui sambungan telepon.
''Iya,'' jawab pria itu singkat.
''Bawa Rose bersama mu, aku ingin bertemu dengan nya,''
''Tidak akan, datang saja ke kantor ku jika ingin menemui Rose,'' tolak Felix mentah-mentah.
''Baiklah aku akan ke sana dan membawa dia pergi.''
''Jangan coba-coba membawanya keluyuran, dia adalah pegawai ku.'' ancam Felix yang tidak terima miliknya di usik orang lain.
''Tidak peduli,'' cuek Alice.
Tut, Tut, gadis itu menutup telepon secara sepihak.
Brakk.
Felix mengebrak meja kerjanya dengan keras. ''Beraninya perempuan itu mengabaikan perintah ku,'' kesal pria bertubuh kekar itu.
Rose yang baru masuk sampai terkaget dengan kerasnya suara itu, dia menghampiri Felix dan menaruh beberapa kertas di atas meja. ''Anda marah?'' tanya Rose yang melihat wajah seram yang di tunjukan pria itu.
Tanpa aba-aba Felix menarik tangan Rose, gadis itu merasa di seret oleh Felix. ''Tuan, kita mau kemana? ini masih jam kerja.'' Rose merasa heran, kenapa pria ini berjalan dengan begitu tergesa-gesa.
Pria itu tidak menjawab pertanyaan Rose dia hanya sibuk menyeret gadis itu, setelah pintu lift terbuka dia langsung menarik Rose masuk ke dalam tanpa memberikan waktu terbuang sedikit pun.
''Kita mau kemana?, kenapa anda terburu-buru seperti ini,'' tanya Rose lagi, dia tidak menyerah sebelum pria itu memberikan jawaban.
''Cerewet, ikuti saja, aku bos disini,'' ujar Felix sambil memencet tombol lift yang bertulisan 1.
''Aku adalah bos disini,'' gumam Rose pelan meniru suara Felix.
''Menyebalkan, aku kan lelah,'' kesal gadis itu.
''Kau berani beraninya menghinaku sekarang,'' ujar Felix menoleh ke samping menatap Rose dengan kilatan api yang keluar dari mata tajam pria tampan itu.
Rose menelan ludahnya kasar. ''Sungguh menakutkan Tuan satu ini, Assisten Ken tolong aku,'' gumam Rose dalam hati.
''Jawab!'' bentak Felix, pria itu mulai kehilangan kesabaran, tadi di hina oleh Alice dan sekarang Rose berani juga menghinanya secara langsung
tanpa ada takut-takutnya.
Rose tersenyum kaku. ''hehehe, saya sedikit kesal karena saya sedang lelah,'' ujar Rose.
''Kau lelah? oke mulai besok jangan bekerja lagi,'' ujar Felix mengeluarkan ultimatum yang tidak bisa di bantah.
Rose menghempaskan tangan Felix yang sedang memegangnya, dengan sekali hentakan. ''Anda selalu saja berlaku seenaknya, anda tidak pernah bertanya bagaimana pendapat orang lain, saya lelah tau, mengeluh itu wajar,'' teriak Rose memekakkan telinga Felix, kali ini gadis manis itu tidak mau mengalah.
Felix sampai terbengong melihat keberanian Rose membentaknya dengan sekuat tenaga, pria itu membuka mulut lebar tidak bisa berkata-kata, baru kali ini dia dimarahi balik oleh orang lain, biasanya tidak ada yang berani dengannya, ini hal baru yang terjadi selama hidup selama 30 tahun.
Terlihat jelas kemarahan dari tatapan Rose, napasnya naik turun dengan cepat, kedua tangan mungil itu terkepal menahan sesuatu dalam dirinya.
Ting, pintu lift terbuka.
''Haiii, kebetulan sekali kita bertemu,'' ujar Alice yang sudah ada di luar lift, melambaikan tangannya dengan senyum yang sumringah.
Felix langsung melengos malas melihat Alice, orang yang dia hindari sekarang ada di sampingnya. ''Cihh, kebetulan?, kebetulan dari mananya,'' gumam Felix kesal.
Pasti banyak yang bertanya-tanya, bagaimana Alice bisa tahu ruang kerja Felix, jelas dia tahu karena dia pernah bekerjasama dengan perusahaan besar ini.
''Kau hantu ya, bisa secepat ini sampai disini,'' ujar Felix dengan nada jutek.
''Aku memang dalam perjalanan kemari untuk bertemu Rose, aku sengaja menelepon hanya untuk memprovokasi saja, katanya tidak kencan tapi giliran pacaran nya mau di ajak keluar kok gak dikasih, dasar cowok plin-plan,'' ejek Alice dengan muka songong.
''Rose, sabar ya, dia memang sedikit arrogant,'' ujar Alice memanas-manasi Felix.
Rose hanya tersenyum kaku membalas pernyataan dari Alice, dia tidak terlalu paham dengan percakapan antara dua orang ini tapi Rose tidak membantah dengan pernyataan bahwa Felix adalah pria yang sedikit arrogant, kadang baik tapi kadang juga ngeselin setengah mati.
Setelah sampai di ruangan Felix, gadis berusia 25 tahun itu duduk dengan santai di sofa, dan Felix duduk di kursi kekuasaan nya dengan tangan di lipat.
Sedangkan Rose berdiri di samping Felix, walaupun kesal gadis itu berusaha masih menghormati bosnya.
''Apa yang kau mau, katakan, jangan membuang-buang waktu ku,'' tanya Felix duluan, pria itu ingin Alice cepat-cepat pergi dari hadapannya.
''Aku ingin mengajak Rose ke ulang tahun Ana, supaya ada yang menemani ku,'' jawab Alice sambil memperhatikan kukunya yang baru saja di cat ulang.
''Jangan harap aku mengijinkan nya, kau ajak saja teman mu yang lain, kenapa kau begitu terobsesi dengan Rose,'' selidik Felix.
Tidak biasanya Alice mudah di dekati oleh orang lain, soal berteman Alice sangat pemilih, dia hanya mau bergaul dengan yang sederajat dengannya.
''Aku kan temannya Rose, ya wajar mengajak dia keluar, apa salahnya, kau saja sebagai pacar sangat posesif,'' ejek Alice.
''Jaga bicara mu, kami tidak berpacaran,'' bantah Felix.
''Baguslah kalau begitu, berarti aku tidak perlu ijin mu untuk mengajaknya pergi, Rose kau mau kan menemani ku ke acara ulang tahun teman ku,'' rengek Alice menghampiri Rose yang tepat berada di samping Felix.
Alice memegang tangan Rose sebagai bentuk permohonan, tidak lupa dia memasang muka memelas sembari menatap Rose dengan sendu.
''Lepas,'' Felix menghempaskan tangan Alice yang memegang tangan Rose. ''Tidak usah akting, ini bukan drama, pergi dari sini dan jangan mempengaruhi Rose dengan wajah sok sedih mu itu,'' usir pria itu.
''Sorry ya tuan Felix yang terhormat saya tidak meminta pendapat anda, aku kan bertanya pada Rose ku yang manis ini,'' debat Alice yang kekeh tidak mau kalah dari Felix.
''Kurang ajar!'' bentak Felix, dia menatap Alice dengan tatapan mematikan, wajah pria itu memerah karena perkataan nya terus di bantah dari tadi.
Bukannya takut Alice malah menatap balik Felix dengan tatapan permusuhan.
Meraka sama-sama menatap satu sama lain sebagai tanda bendera genderang perang sudah di kibarkan.
''Felix kau tahu betul, aku tidak suka kekalahan,'' ujar Alice dengan masih memberikan tatapan mematikan satu sama lain.
''hehhh, aku tidak pernah kalah,'' serang Felix.
Keduanya semakin menegang, membuat Rose pusing tujuh keliling menghadapi keduanya.
''Stop,'' terik Rose dengan sekuat tenaga.
Keduanya menoleh berbarengan. ''Tuan dan Nona ini sudah waktunya jam makan siang, lebih baik kita makan dulu, saya sudah lapar,'' ujar Rose menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
Happy Reading 🥰😘♥️
I LOVE YOU 3000🥰😘♥️😘