Hidden Girl

Hidden Girl
Dia calon istri ku



"Sayang kamu kenapa, kok ngos-ngosan seperti ini," tanya Felix sambil merapikan rambut Rose yang menutupi wajah gadis itu.


"Saya kira anda membuang barang-barang yang ada di kamar bawah, saya takut anda mengusir saya dari rumah ini," ujar Rose jujur mengungkapkan kekhawatirannya.


Felix tertawa kecil mendengar kekhawatiran Rose yang berlebihan. "Hahaha, sayang mana mungkin aku melakukan itu kepada orang yang aku cintai," ujar Felix.


"Siapa tahu anda sudah tidak menyukai saya lagi," ujar Rose dengan air mata yang sudah mengambang di pelupuk matanya.


Melihat Rose yang hampir menangis membuat Felix langsung memeluknya untuk memberikan ketenangan. " Sayang, Itu tidak akan pernah terjadi, jangan berpikir negatif seperti ini lagi, oke," ujar Felix mengusap punggung gadis itu dengan lembut.


"Iya," Rose mengangguk pelan dalam dekapan pria tampan itu.


Mama Nayla gemas dengan kepolosan Rose yang nggak ketulungan, dia sampai gelang-gelang kepala dengan sikap calon mantunya itu.


"Rose, apa kamu keberatan sekamar dengan Felix?" tanya Mama Nayla.


Rose terdiam sejenak. "Sayang, jika kamu tidak suka bilang saja, nanti kami akan memindahkan kembali semua barang mu ke kamar bawah," ujar Felix memastikan kenyamanan gadis itu.


"Apa anda keberatan?" tanya Rose balik.


"Tentu tidak, aku akan sangat senang bisa bersama mu, lagipula kita juga sering tidur bareng di kamar mu," jawab Felix mengusap lembut rambut gadis itu.


"Jika tuan tidak keberatan, saya juga tidak keberatan," ujar Rose setuju untuk satu kamar dengan Felix.


"Oke, semua sudah jelas ya," ujar Mama Nayla tersenyum senang.


*


"Tuan, saya ingin makan strawberry cake," minta Rose yang saat ini ada di dalam mobil sedang perjalanan menuju kantor habis makan siang.


Felix mengerutkan dahinya. "Kamu kan habis makan," ujar Felix heran.


"Tapi saya ingin makan strawberry cake," rengek Rose yang ingin makan strawberry cake sekarang juga.


"Ken mampir ke toko kue," perintah Felix yang pasrah menuruti kemauan gadis 19 tahun ini.


"Iya Tuan," jawab Ken yang kali ini tidak banyak tanya dan protes karena bayaran dari mama Nayla sudah masuk ke rekeningnya. "Akhirnya meraka bersatu, tidak sia-sia semua perjuangan ku yang melelahkan," gumam Assisten Ken dalam hati.


"Terimakasih Tuan," ujar gadis itu tersenyum manis.


"Uhh, gini rasanya punya pasangan yang usianya jauh di bawah kita, sedikit-sedikit merengek," gumam Felix dalam hati, ya hanya bisa dalam hati saja.


Dalam beberapa menit meraka sampai di toko kue, dengan semangat Rose langsung turun dari mobil. "Cepat Tuan," ujar Rose yang sudah tidak sabar lagi untuk masuk ke dunia yang di penuhi oleh berbagai macam dessert yang menggugah selera siapapun yang melihatnya.


"Sabar sayang," Felix berjalan dengan malas.


Rose menarik tangan Felix untuk segera masuk ke dalam. "Wah, ini namanya surga kue," ujar Rose.


"Sesuka itu kah kamu dengan dessert?" tanya Felix yang melihat binar di mata gadis itu.


"Sangat suka terutama strawberry cake, saya sangat suka makanan manis," ujar Rose sambil melihat-lihat jejeran kue berbagi jenis itu.


"Pantas saja kau sangat manis," puji Felix yang membuat Rose tersipu malu.


"Nona anda mau yang mana?" tanya salah satu pelayan.


"Saya mau strawberry cake," ujar Rose menunjuk kue yang ia mau.


"Tuan anda mau?"


"Tidak, aku masih sangat kenyang."


*


Yang di lakukan Felix saat ini adalah memperhatikan Rose yang sedang menikmati kue. "Apa seenak itu?" gumam Felix yang melihat raut bahagia di wajah Rose, sungguh sederhana untuk membuat gadis ini senang.


Makanan manis memang sangat ampuh menaikkan mood seorang Rose.


"Felix," ujar seseorang menghampiri meraka.


"Nona Ana," ujar Rose.


Ternyata yang menyapa Felix adalah Ana tapi Felix hanya diam tak menanggapi Ana, ia sungguh malas dengan wanita yang mengejarnya padahal sudah punya suami.


"Rose, boleh aku bergabung?" tanya Ana.


"Tidak!" jawab Felix cepat.


"Tuan, Nona Ana kan teman anda, Ayo silahkan duduk Nona," ujar Rose yang tidak tahu kalau Felix tidak menyukai kehadiran mantan pacarnya ini.


"Makasih Rose kau memang baik," ujar Ana tersenyum.


"Anda juga suka makan kue?" tanya Rose.


"Iya, aku dulu sering kesini bersama orang yang aku cintai," ujar Ana melirik Felix.


"Sial, aku lupa kalau ini adalah toko kue kesukaan Ana, Si Ken juga kenapa harus ke toko ini sih," umpat Felix dalam hati.


"Wah, pasti menyenangkan," ujar Rose antusias karena dia mengira Ana ke tempat ini dengan Tuan Anderson.


"Rose cepatlah, kita harus segera kembali ke kantor," ujar Felix tidak ingin berlama-lama satu ruangan dengan Ana, dia sungguh muak mendengar Ana yang terus mengungkit masa lalu.


"Oh iya, ini bukanya jam kerja?" tanya Ana saat melihat jam tangannya.


"Hmm, anda benar tapi saya sangat ingin makan strawberry cake," jawab Rose tersenyum.


"Rose, kamu tidak boleh seperti itu, kamu kan lagi kerja jadi harus profesional, masak merepotkan bos," ujar Ana yang mulai ikut campur urusan dua sejoli ini.


"Jangan ikut campur urusan orang lain," ujar Felix dingin.


"Bukan itu maksud ku, kau harus bisa mengajarkan karyawan batasan dan kedisiplinan," ujar Ana mendebat perkataan Felix.


"Tidak perlu ada batasan antara kami berdua karena dia adalah calon istri ku jadi terserah dia maunya apa, itu bukan urusan mu," ujar Felix cepat karena dia sudah geram dengan sikap Ana.


Deg.


Rasanya hati Ana hancur berkeping-keping mendengar itu tapi dia berusaha menepisnya karena masih ada harapan, soalnya waktu itu Rose pernah bilang kalau meraka hanya sebatas karyawan dan bos. "Jangan bercanda Felix, ini tidak lucu," ujar Ana yang berpikir masih ada harapan. "Rose dia berbohong, Kan?" tanya Ana menggenggam tangan Rose.


Melihat itu Felix langsung berdiri dengan kasar lalu menarik tangan Rose. "Jangan berani-berani menyentuhnya," ujar Felix lalu menarik Rose untuk keluar.


Ana hanya bisa terdiam melihat kepergian Felix dan Rose, tubuhnya bergetar menahan tangis. "Ana kuatkan dirimu," ujar wanita itu berusaha agar tidak meneteskan air mata di tempat umum.


"Tuan, anda menyakiti saya," ringis Rose yang tangannya di tarik paksa oleh Felix yang sedang di pengaruhi oleh aura kemarahan.


Felix langsung melepas tangan Rose saat tersadar bahwa di menyakiti Rose di tengah kemarahannya pada Ana. "Maaf, aku tadi sangat marah," ujar Felix mengusap rambutnya kasar penuh penyesalan.


"Iya, saya mengerti," ujar Rose langsung meninggalkan Felix duluan masuk ke dalam mobil, sepertinya Rose kesal tapi dia tidak mau memperkeruh masalah, Rose adalah tipe orang yang tidak suka keributan, ia ingin berhubungan baik dengan semua orang.


Happy Reading 🥰🥰😘♥️😘


I LOVE YOU 3000😘♥️🥰😘♥️