
Assisten Ken mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, suasana di dalam mobil sangat hening tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali.
Felix sibuk dengan ponselnya sedangkan Rose duduk tenang sambil memperhatikan suasana di luar yang ramai, ada yang akan berangkat kerja, ada juga anak-anak yang akan berangkat sekolah.
Penglihatan Rose teralihkan oleh sesuatu, dia memandangi dengan seksama. '' Wahh, bangunan apa itu ? Kenapa banyak anak-anak yang berpakaian sama?'' kagumnya.
Pandangan Rose tidak teralihkan dari tempat itu.
''Itu Sekolah Nona,'' jawab assisten Ken.
''Pasti senang sekali rasanya bisa berkumpul bersama seperti itu , punya teman yang banyak tidak seperti aku tidak punya teman, Apa Tuan Ken pernah merasakan Sekolah?'' tanya Rose.
''Tentu saja Nona, sepertinya semua orang pernah sekolah,'' jawab Ken.
Felix yang mendengar percakapan mereka hanya diam tidak terlalu tertarik, dia terus sibuk dengan ponselnya.
''Apa saja yang kalian lakukan disana?'' tanya Rose penasaran dengan kehidupan bersekolah.
''Banyak hal Nona, yang paling utama kita belajar disana, ngomong -ngomong saya dengar dari Nyonya Nayla anda tidak pernah bersekolah, sebenarnya anda tinggal dimana?'' tanya Ken penasaran, kenapa bisa Rose tidak pernah sekolah sama sekali, pria itu tidak habis pikir dengan keluarga gadis ini, kenapa tidak menyekolahkan putrinya.
''Iya benar, sepanjang hidup saya tinggal di hutan bersama bik Anum, sekarang saya ada di sini karena kabur,'' jawabnya polos.
''Nona, apa orang tua anda tidak memperdulikan keadaan anda? saya heran bagaimana anda sampai tinggal di hutan dan tidak bersekolah.'' Assisten Ken menggali informasi lebih dalam lagi sekaligus agar tuannya tertarik dengan obrolan mereka.
Dan benar saja Felix yang tadi nya sibuk memainkan ponsel sekarang menaruh Ponsel itu di saku, dia terkejut dengan fakta kalau Rose tidak pernah bersekolah. ''Pantas saja dia bodoh,'' gumam Felix dalam hati.
Rose menarik napasnya dalam. ''Saya juga tidak mengerti Tuan Ken, saya tinggal di hutan hanya berdua dengan bik Anum, Ayah mengunjungi saya hanya satu bulan sekali, bahkan saya tidak tahu siapa ibu saya,'' suara Gadis itu bergetar ingin menangis saat menceritakan kisah hidupnya tapi Rose berusaha menjawab pertanyaan itu dengan tegar.
Dia berusaha tersenyum walaupun hati kecilnya sangat sakit jika mengingat hidupnya yang di perlakukan tidak adil oleh orang tua sendiri.
Felix melihat jelas ekspresi sedih Rose, pria itu paham betul jika Rose pasti menyimpan luka yang begitu dalam saat dia di campakkan oleh orang tuannya sendiri yang adalah orang yang gadis itu cintai, Felix sangat tahu betul bagaimana terluka nya di campakkan oleh orang yang sangat kita cintai, Bahkan sampai sekarang bekas luka itu masih ada.
''Ken diam kau,'' ucap Felix dengan suara beratnya, dia yang semulanya diam Mulai pasang badan untuk menghentikan Ken berbicara, dia ikut sakit melihat Rose sedih.
''Maaf Nona, saya kelewat batas bertanya tentang pribadi anda,'' Assisten Ken sadar dirinya telah melampaui batas, dia merasa sangat bersalah.
''Tidak masalah Tuan Ken, saya paham maksud anda,'' jawab Rose yang sama sekali tidak tersinggung dengan pertanyaan assisten Ken, dia hanya merasa sedih dengan nasibnya sendiri.
''Kau baik-baik saja? jika tidak lebih baik kau pulang, kau bisa mulai bekerja besok,'' tanya Felix sedikit khawatir dengan kondisi batin Rose.
''Tidak masalah Tuan, saya baik-baik saja,'' jawab Rose dengan yakin.
''Baiklah jika itu mau mu.''
Dalam beberapa Menit akhirnya meraka sampai di perusahaan, Dengan cepat Felix langsung turun dari mobil berniat ingin membukakan pintu untuk Rose.
Tapi tangannya berbarengan dengan tangan assisten Ken memegang gagang pintu Mobil itu. ''Lepaskan, biarkan aku yang melakukannya,'' ucap Felix dengan nada ancaman, dia menatap assisten Ken dengan sorot mata yang mematikan, pria itu sungguh tidak mau kalah kali ini.
Nyali assisten Ken langsung ciut, dia membiarkan Bosnya melakukan itu.
''Tugas yang di berikan oleh Nyonya Nayla sungguh berbahaya,'' gumam Assisten Ken dalam hati, dia sedikit menyesal menyetujui permintaan Nayla agar membuat Felix cemburu tapi iming-iming yang di berikan Nyonya Nayla sungguh mengiurkan, wanita paruh baya itu menjanjikan kalung limited edition yang sangat di inginkan oleh tunangan nya, maklum asisten Ken adalah termasuk perkumpulan pria bucin akut.
Dengan senyum kemenangan Felix membukakan pintu mobil itu untuk Rose. ''Terimakasih Tuan Felix,'' ucap Rose tersenyum manis.
Pria itu meleleh saat di berikan senyuman manis itu. ''dia sangat lucu,'' gumam Felix dalam hati, ada kesenangan saat mendapat kan apresiasi dari Rose.
Agaknya pria ini mulai suka dengan rose.
Happy Reading 🥰😘♥️😘
I LOVE YOU 3000 😘♥️🥰🥰