HASTA KARYA [ END ]

HASTA KARYA [ END ]
BAB 9



“Hallo Dokter Maria”


^^^“Pengawal mu mengalami kecelakaan. Cepatlah kemari dan lihat sebelum aku menanganinya” ^^^


Pintah Dokter itu kepada Fahri.


Fahri yang dibuat kaget dengan kabar bahwa pengawalnya mengalami kecelakaan. Rahanya mulai mengeras serta jemari yang menggengam ponsel dengan nya erat .


...“Maksud mu Kinan?”...


^^^Fahri bertanya untuk memastikan kembali bahwa yang dia dengar hanyalah keraguan dari temannya bisa jadi Dr. Maria salah mengenali orang dan bukan Kinan yang ia maksud.^^^


...“Siapa lagi jika bukan Kinan pengawal mu”...


^^^ Dr. Maria yang mengomel segera mematikan panggilan. Tiba tiba saja pandangan Fahri mulai kosong. Fahri bergegas keluar dari ruangan dengan sneli yang sudah rapi membalut badanya. ^^^


Dia berlari larian untuk melihat kondisi dari pengawalnya itu. Walaupun Kinan sering membuat Fahri Tidak nyaman bahkan jengkel namun Fahri sudah menganggap Kinan sebagai bagian dari keluarganya.


^^^“Sebenarnya apa yang dilakukan wanita jadi jadian itu, bukankah seharusnya dia baik baik saja. Apakah diluar sana ada penyerangan?^^^


^^^Ah tapi itu mustahil. Apa yang sebenarnya terjadi jantung ini, Kenapa berdetak dengan begitu kencang, Apa aku juga sedang mengalami serangan jantung? Kenapa hati ini begitu gelisah?”^^^


Fahri terus saja mengomel di sepanjang lorong Rumah Sakit.


...“Tunggu aku Kinan” ...


dengan cepat ia berlari menuju IGD.


Sampainya disana Fahri mendekati dinding kaca yang berada tepat di depannya. Fahri mendorong pintu kaca yang sedikit terbuka. Fahri yang masuk langsung dihadapi dengan Kinan yang terpampang jelas dengan wajah yang penuh darah.


^^^Fahri menatap Kinan yang sudah bersimbah darah. Tidak ada ucapan yang dilontarkan Kinan kepada Fahri seperti biasanya, matanya tertutup rapat rapat seperti orang yang sedang bermimpi dan tidak ingin ada yang membangunkan.^^^


Dengan cepat Fahri mengeluarkan alat seukuran pensil namun mengeluarkan cahaya, ia mulai mendekatkan benda itu kemata Kinan yang telah ia buka oleh jemari Fahri, ia mengamati pupil mata Kinan yang menjadi penentu dari keadaan Kinan.


^^^Tidak sampai disitu, Dia meletakan stestoskop di setiap bagian vital dari wanita yang berada di hadapanya.^^^


“Bagaimana?” Tanya Dokter Maria.


^^^“Tidak terlalu parah, hanya ada pendarahan didalam”^^^


Ucapnya yang kembali bertanya.


^^^ Dia bertanya kepada suster yang berada disampingnya.^^^


“Benar dok, sekitar pukul 09.30 dokter”


^^^Fahri melihat jam yang ada di tangannya yang menunjukan pukul 09.45.^^^


“Bersihkan lukanya setelah itu segera masukkan dia ke ruang operasi, ada pendarahan di otak dan hubungi dokter bedah umum dan kardiovaskuler”


perintahnya kepada suster.


...“Baik dokter”...


Fahri keluar dari ruangan dan duduk di kursi tunggu yang sudah tersedia, dengan dokter Maria yang mengikuti Fahri.


^^^“Ada apa ini? Bukannya kau sanggup untuk mengoperasinya? Lalu kenapa menyuruh orang lain, lagi pula lukanya tidak terlalu parah”^^^


Tanya dokter Maria yang heran dengan sikap Fahri kepada pengawalnya.


“Saya hanya ingin memberikan yang terbaik”


^^^Balas Fahri dengan kepala yang sudah menunduk dengan yang cemas.^^^


^^^“Kenapa bukan kau saja yang mengoperasinya ?” ^^^


tanya dokter Maria yang duduk disamping Fahri,terus bertanya.


“Untuk kali ini saya akan menjadi walinya”


^^^Jawab Fahri dengan tegas kepada dokter Maria.^^^


...“Hmmpp... Baiklah” ...


Dokter Maria yang menemupuk nepuk pundak Fahri sekarang berdiri untuk meninggalkan Fahri sendirian.


Satu jam kemudian. Kinan memasuki ruang operasi sedangkan Fahri sudah mengosongkan jadwalnya dan duduk di kursi tunggu.


^^^ Operasi yang di pimpin oleh Dokter Andre yang merupakan dokter bedah umum.^^^


Fahri duduk dengan kepala yang menunduk, merapatkan kedua tangannya diantara wajahnya berharap ia mendapatkan ketenanggan dan operasi yang berjalan lancar.