Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter IX



Aku mengusap keringat di dahi. Lalu menengok ke rawa.


Dapur yang terhubung dengan halaman belakang dibatasi oleh jendela besar dan pintu kaca.


Aku jadi bisa melihat jelas pemandangan di luar.


Sudah malam. Aku jadi teringat kejadian hari itu. Saat aku terpeleset, dan akhirnya pingsan.


Saat sadar, Ayah mengomeliku habis-habisan. Memang salahku, tapi yang benar saja.


Aku bocah berumur lima tahun, dan baru saja tersadar setelah pingsan empat jam.


Mereka membawaku ke rumah sakit. Kepalaku mengalami pendarahan. Untungnya tidak parah.


Bunda sudah menangis saja saat itu. Sementara Nenek, seperti biasa dia hanya tersenyum lembut.


Melihatku sadar saja sudah membuatnya lega. Begitu katanya.


Aku berjalan ke dapur. Membuka pintu kaca besar itu, dan berjalan ke halaman tanpa alas kaki.


Persis seperti tujuh belas tahun yang lalu.


Semilir angin menggelitik wajahku. Aku memejamkan mata sebentar. Menikmati suasana pedesaan di malam hari dengan aroma khasnya.


Rindu sekali. Aku bisa merasakan kejadian tujuh belas tahun lalu.


Membuka mata lagi, kulihat di tengah halaman masih ada meja bundar berwarna putih. Dengan payung di tengahnya.


Warna putih itu sudah pudar. Kaki-kaki mejanya agak berkarat. Aku mendekat dan menyentuh permukaan meja dengan ujung jari.


Rasanya seperti kembali ke masa lalu. Semuanya persis sama, tidak ada yang berubah.


Alasanku membawa piring dan alat makan sendiri agar piring-piring lama itu tidak berubah tempat, dan tidak mudah rusak. Tetap awet.


Piring lama keluar hanya untuk dibersihkan saja dari debu. Barang-barang lain juga diperlakukan sama.


Tante bilang, dia berusaha merawat rumah ini sebaik mungkin. Dia tahu alasan Ayah, dan kedua adiknya tidak mau datang ke sini.


Katanya dia memaklumi itu.


Kurasa aku tahu kenapa dia sangat senang sampai memelukku tadi pagi. Kalau ada di posisinya aku juga akan bereaksi sama.


Bayangkan saja, tidak satupun dari kami yang mengunjungi desa ini sejak sepuluh tahun terakhir.


Aku mengulum senyum. Besok aku harus membuat sarapan yang enak dan berterima kasih pada Tante dan keluarganya.


Ngomong-ngomong, apa dia masih menyimpan gantungan kunci beruang dariku?


Menghela napas panjang, kukeluarkan kunci rumah dengan gantungan daun dari kantung celana.


Aku bisa mendengar suara Nenek yang memanggilku. Dan suaraku yang memanggilnya.


Seolah perjalanan waktu itu memang nyata.


Bukan. Andai perjalan waktu itu memang nyata. Pasti aku sudah bolak-balik ke masa lalu.


Kalau begitu apa hatiku tidak akan sesakit sekarang?


Aku beralih ke tembok batu yang memisahkan rumah Nenek dengan kawasan rawa.


Diantara rumah lain di sekitarnya, rumah Nenek yang paling menjorok ke rawa. Kalau musim hujan, air rawa bisa naik sampai ke anak tangga yang pertama.


Tidak pernah banjir, tenang saja.


Aku duduk di atas tembok yang kini hanya setinggi pinggangku.


Tiba-tiba aku teringat ucapan pria tua siang tadi. Diwa, katanya?


Kalau menurut cerita pria itu, Diwa ini seperti putri duyung ya? Putri duyungnya rawa?


Dulu aku sempat percaya putri duyung. Tapi semua itu menghilang bersama ingatanku.


Lagi pula, semakin dewasa kepercayaanmu terhadap cerita-cerita semacam itu juga akan menipis.


Aku memandangi rawa di hadapanku dalam diam. Pandanganku terkunci pada pantulan bulan dan bintang-bintang di permukaan air.


Rasanya seperti dihipnotis oleh sesuatu.


Aku menggeleng dan menarik keluar kalung pemberian Nenek yang tersembunyi di balik kaus hitamku.


Nenek berjanji akan memperlihatkan kotak rahasianya, tapi aku lupa apakah Nenek sudah melakukan itu atau belum.


Dari dulu, cairan di dalam kaca lonjong ini tidak pernah berhenti bercahaya.


Setahuku, ada cairan yang bercahaya dalam gelap, tapi cairan dari Nenek ini bercahaya walaupun di bawah sinar matahari.


Karena itu aku menyembunyikannya di balik baju.


Jawaban yang tidak membantu.


Di tengah perhatianku terhadap kalung itu, aku merasakan sesuatu muncul di tengah rawa.


Aku menoleh perlahan. Ada benjolan di sana. Seperti sesuatu yang ingin keluar.


Sama, seperti saat usiaku lima tahun. Benda itu, makhluk itu. Dia yang aku lihat siang itu kan?


Aku berdiri. Menajamkan penglihatan. Tapi tampaknya dia tidak akan segera memperlihatkan wujudnya.


Aku turun ke bawah. Tanahnya masih berlumpur seperti dulu.


Tentu saja, memangnya apa yang bisa aku harapkan? Tanahnya berubah jadi pasir?


Tidak seperti responsnya terhadap Nenek dulu, makhluk atau benda itu tidak langsung menyelam walau aku berusaha mendekatinya.


Seakan memang inilah yang dia inginkan. Dia memang mau menunjukkan wujudnya padaku.


Aku berdiri tepat sejajar dengannya. Saat itu, cairan di kalungku semakin bersinar.


Apa yang pria tua itu katakan benar? Kalau aku akan di culik? Kalau begitu dia sudah memasang target sejak tujuh belas tahu lalu?


Atau lebih dari itu?


Tidak apa. Aku sudah siap. Kalau dia mendekatiku dengan cepat, aku berharap, aku bisa lolos darinya.


Makhluk itu berjalan mendekati daratan.


Kakiku agak gemetar. Aku tidak membawa ponsel, senter, atau alat penerang apapun.


Gerakan makhluk itu semakin cepat. Aku mundur selangkah.


Haruskah aku lari?


Benjolannya naik, aku bisa melihat kalau ternyata itu adalah rambut. Dan, ya ada mata.


Itu adalah kepala.


Detik itu juga sekujur tubuhku merinding. Apa ini yang disebut sebagai Diwa?


Aku pikir, aku bisa langsung lari kembali ke atas. Tapi kakiku tidak bisa bergerak. Entah makhluk itu yang menahannya, atau aku yang terlalu takut.


Aku tidak tahu.


Yang pasti, aku sangat shock sampai suaraku pun tak keluar.


Makhluk itu sampai di bibir daratan. Kurasa dia mulai berdiri.


Kakiku sangat lemas. Aku jatuh terduduk. Mataku terbelalak.


Makhluk itu berdiri, tinggi menjulang di hadapanku. Tunggu, bukannya pria tua tadi bilang kalau wujud makhluk rawa ini seperti putri duyung?


Cahaya bulan tidak cukup terang untuk bisa melihat wajahnya dengan jelas.


Dari rambut, dan lain-lain sama seperti penjelasan pria itu, tapi yang aku lihat ini memiliki sepasang kaki!


Sama seperti manusia!


Aku terpaku. Tidak bisa apa-apa. Apa Diwa akan menculikku?


Apa ini karma karena aku terlalu menyepelekan legenda desa ini?


Dalam hati aku terus berdoa. Agar aku selamat dan makhluk itu pergi.


Tapi, dia tidak pergi! Dia terus mendekatiku.


Aku mundur dengan sisa tenaga yang ada, sampai punggungku menyentuh tembok batu.


Aku tidak bisa kemana-mana lagi. Diam-diam aku meminta maaf pada pria tua tadi, karena sudah meremehkannya.


Karma datang terlalu cepat. Penyesalan selalu datang terlambat. Kombinasi sempurna untuk memberi jiwa rapuh manusia pelajaran.


Pelajaran yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup.


Detik itu juga aku berjanji untuk tidak pernah meremehkan apapun, sekalipun aku tidak mempercayainya.


Diwa mendekatiku. Tubuhnya penuh lumpur. Tapi tidak berbau. Ketika jarak kita tersisa kurang dari satu meter.


Kesadaranku menghilang.


.


.