Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter LI



PLAK!!!


Ren terpaku atas apa yang dilakukan kakaknya padanya barusan. Pipinya terasa panas akibat tamparan pria itu.


“Pergi. Sebelum kupatahkan seluruh tubuhmu.”


Entah sejak kapan suara pria itu terdengar sedingin ini di telinga Ren. Tapi yang lebih membingungkan, Ren tidak lagi merasa takut. Rasa terkejutnya mengalahkan perasaan lain.


“Melihatmu hanya akan membesarkan api yang sudah menyala.” Pria itu pergi setelah mengatakannya. Tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.


Ren sudah mengira pria itu tidak akan menerima kehadirannya yang tiba-tiba begitu saja. Ren juga tidak mau menghampiri pria itu lebih dulu tadi. Tapi entah kenapa kurang dari tiga puluh menit lalu, tubuhnya bergerak sendiri.


Penolakan seperti ini tidak pernah terlintas di kepala Ren. Dia tidak mengira Radi akan menamparnya dengan cara yang amat memalukan. Ren lebih sudi dirinya ditonjok atau ditendang habis-habisan. Level tampar-menampar itu… berbeda.


Beberapa orang yang lewat, dan yang sedang makan di area luar restoran memperhatikannya. Sialan. Kenapa kakaknya meninggalkannya begitu saja dengan keadaan seperti ini?


Ren mendecih. Kakaknya berhasil mempermalukan dirinya. Sangat, sangat berhasil.


“Seumur hidup aku tidak pernah dipermalukan sama sekali. Aku tidak tahu kalau pengalaman pertamaku itu malah bersamamu….” Ren bergumam pelan. Saking pelannya ia sendiri juga nyaris tidak bisa dengar.


Ren menegakkan tubuh dan menengadah. Membiarkan dirinya menjadi tontonan untuk beberapa saat. Atau lebih tepatnya menahan bendungan air mata yang hampir bocor.


Kalau bendungan itu hancur, hancur juga harga dirinya. Dan itu akan membuat rencana Radi untuk memperlamukan dirinya lebih sukses lagi.


Ren mendecih. Disaat seperti ini, kenapa ia malah menjauh dari orang-orang terdekatnya? Padahal ia butuh sekali dukungan. Lebih dari apapun. Ren… butuh seseorang menepuk pundaknya.


“Nak.”


Dengan refleks Ren menoleh. Baru saja ia berharap ada seseorang yang menepuk pundaknya, dan sekarang sudah terjadi? Ia jadi merinding.


“Ngapain di sini Ren? Panas-panasan siang bolong begini.” Pria tua itu mengangkat sebelah tangannya yang menggenggam kantung plastik.


“Mau minum jus?”


...…...


“Aku coba bicara sama dia, tapi malah ditampar. Aku bahkan belum sempet ngomong apa-apa.” Ren mengeluhkan masalahnya pada Kakek Kama di tempat makan sebuah Mal.


Pria tua itu menepuk pundak Ren di saat yang tepat. Katanya dia ke Jakarta untuk liburan. Ha, itu membuat Ren tertawa. Baginya Jakarta tidak cocok disandingkan dengan kata ‘berlibur’.


“Oh? Mungkin dia lapar, jadinya galak begitu.” Kakek Kama tertawa puas.


Ren mengangkat wajahnya dan mendengus. Kakek ini seleranya aneh. Coba saja, kakek-kakek mana lagi yang suka main di mal. Alasannya sih, karena Ren anak muda. Jadi Kakek Kama membawanya ke salah satu Mal di ibu kota.


Tapi menurut Ren, kakek itu malah menikmati waktunya sendiri untuk sekitar satu jam sebelum mereka duduk di tempat ini sekarang.


“Kalo gitu Kak Radi laper mulu seumur hidupnya dong.” Ren memberi tanggapan.


Bukannya merasa tidak enak atau bagaimana, Kakek Kama malah tertawa lebih keras lagi sampai orang-orang menoleh ke arah mereka.


Ah, Ren baru kali ini merasa terbebani saat pandangan orang-orang tertuju padanya. Biasanya Ren malah senang, tapi hari ini dia merasakan hal baru. Dan dia tidak menyukainya.


Ren mengerutkan dahinya. “Maksud Kakek?” Dia masih belum terbiasa memanggil Kama dengan sebutan Kakek.


Karena pria itu sebenarnya kan seusia dengan bapaknya. Aneh. Tapi pria itu sendiri yang meminta untuk dipanggil kakek. Apa Ren terlihat semuda itu dimatanya sampai cocok dijadikan cucu?


“Ya… cara berpikir kalian sama. Polanya sama. Karena itu kalian susah mencari celah. Terus, kenapa kalo kamu bertengkar dengan Radi jadi lebih sulit berbaikan ketimbang dengan May?”


Ren mengedikkan bahunya.


Kakek Kama tersenyum miring. “Karena sifatnya berbeda.”


Jawaban itu malah membuat Ren semakin pusing. Seakan memahami anak muda didepannya, Kama melanjutkan.


“Sifat kalian bertiga beda. Tapi cara berpikirnya kurang lebih sama. May sifatnya amburadul gitu, suka-suka, dan bebas. Dia lebih mudah melupakan masalah-masalah kecil. Tidak dibesar-besarkan. Karena itu kamu biasa saja sama May, bahkan kamu ga bisa lihat dia sebagai ‘kakak’ kan?”


Ren menegakkan punggungnya. Dia mulai paham kemana perbincangan ini akan mengarah akhirnya.


“Sementara Radi. Dia sudah jadi kepala keluarga ya. Takut akan segalanya, termasuk kehilangan. Makannya dia lebih keras dan susah ditembus. Kamu akan sulit membaca pikirannya. Dan dia tau itu. Jadi sekarang kamu kesulitan deh!” Kakek Kama mengangkat kedua tangannya di udara.


Ren tertawa kaku menanggapi. Tapi apa yang Kakek Kama katakan itu benar. Dia kesulitan menembus pertahan kakaknya.


“Tapi kayak yang kukatakan tadi, Ren. Kalian bertiga punya pola yang sama. Kalian sama-sama tidak menyukai situasi ini dan ingin terbebas secepat mungkin dengan cara apapun. Tapi di sisi lain, kalian tidak mau saling menyakiti.”


Kakek Kama meminum jus yang ia beli. Dia tahu Ren sudah paham. “Sekarang kamu susun sendiri rencanamu. Percaya deh, tadi itu cuman belum saatnya aja. Momennya ga tepat. Radi tidak seburuk itu, dan kamu juga.”


Ren kembali menunduk. Rasanya, lebih ringan. Kepala dan dadanya terasa… lebih luas. Bendungan yang tadi ia tahan, sepertinya sudah mulai bocor.


Saat itu Ren merasa kepalanya ditepuk. Dia tidak mengangkat wajahnya yang sudah terlanjur dihiasi air mata.


“Lega kan? Anak muda kayak kamu itu harusnya cari tempat bersandar yang banyak. Jangan malah menghindar. Kamu beruntung kita ditakdirkan bertemu sekarang.”


Kama mengusap rambut pirang itu perlahan. “Yang satu ini wajahnya paling mirip sama ibunya. Tapi rapuh banget kayak bapaknya." Kama terkekeh.


Untuk beberapa saat tadi, Ren merasa ada tali yang mengikat dirinya sampai terasa sesak. Tapi sekarang tali itu seakan diputus dengan mudah oleh Kakek Kama. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada Ren.


“Cewekmu mana Ren? Kok pacarnya lagi banyak masalah ngga didukung?”


Ren mengusap air matanya dan menatap Kakek Kama dengan senyum tipis. “Aku sudah putus.”


“Lagi?!” Kakek Kama menghentakkan gelas jusnya ke meja.


Ren tertawa kecil. “Iya. Lagi… Tapi—” Ren ikut menghentakkan tangannya ke meja. “Aku udah tobat! Aku ga mau main-main terus.”


Di luar dugaan Ren, Kakek Kama tidak tertawa terbahak-bahak seperti yang sudah-sudah. Dia malah tersenyum lega. Ren baru kali ini melihat ekspresi Kakek Kama yang itu. Eh, apa ia harus merasa bangga?


“Bagus. Kamu pulang ke rumah ibumu memang untuk bertobat ya?” Senyum pria tua itu melebar.


.


.