Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XVII



Aku mengernyit. Tentu saja, kau kan baru bergabung dengan kami lima menit lalu. Terus, apa-apan ‘Tuan Muda’ itu?


Dengan sopan aku tersenyum dan menjawab, “Iya, sepertinya saya bukan lawan bicara yang seimbang untuk anda saat ini.”


Teman Kakek melongo mendengar jawabanku. Kemudian tertawa terbahak-bahak.


“Wah! Sophie, cucumu yang satu ini sangat pandai bicara! Apa yang kau ajarkan padanya?”


Nenek memejamkan mata dan menyesap tehnya.


“Bukan aku. Kau seharusnya tanya ke orang tuanya, Kama.”


Kakek Kama mencondongkan tubuhnya ke depan. Dia menatap Nenek tidak percaya.


“Oh, ya? Aku tahu kau adalah guru utama anak ini.”


Kemudian beralih menatapku.


“Hei nak, siapa namamu?”


Aku menegakkan punggung. Bersikap sempurna.


“Hansa Reyki Grace. Usiaku tujuh tahun. Kalau kakek?”


Kakek Kama lagi-lagi terpesona. Kelihatannya. Dia jadi semakin bersemangat.


Aku menghela napas samar. Sepertinya akan segera terjadi percakapan panjang. Melihat kedua orang tuaku menikmati atmosfer ini.


Kalian tahu, saat orang tua memiliki kesempatan untuk memerkan kehebatan anaknya secara tidak langsung.


...…...


Sudah satu bulan sejak aku bertemu dengan Geeta. Makhluk rawa yang dapat berubah menjadi perempuan. Aku belum banyak berinteraksi dengannya.


Saat aku ingin, tiba-tiba keesokan paginya Ayah mengajakku untuk pulang. Jadi aku belum punya kesempatan untuk bertemu Geeta lagi.


Padahal aku mau tahu rahasia Nenek yang lain secepatnya.


Satu bulan kemudian, kami kembali lagi ke desa ini, tapi bukannya ke rumah Nenek. Ayah malah membawa kami ke restoran ini.


Dan disinilah aku sekarang.


“Jadi, hadiah apa yang Nenekmu berikan di ulang tahun ke tujuh?”


Aku memasang wajah sok berpikir. Kelihatannya Kakek Kama menyukai orang-orang yang terlihat sombong. Mungkin baginya menantang?


“Kenapa Kakek ingin tahu? Kakek juga ingin memberiku hadiah? Takut sama kayak Nenek ya hadiahnya?”


Kakek mendengus geli. Kali ini dia tidak tertawa terbahak-bahak.


“Entahlah, coba kau beri tahu aku dulu apa hadiahnya.”


Aku mengidikkan bahu. Ya terserahlah. Kuraih kalung bercahayaku dari balik kemeja putih yang sebenarnya tidak kusuka.


Tetap memakainya adalah yang terbaik karena Bunda sangat menyukaiku saat mengenakan kemeja ini.


“Ini,” unjukku pada Kakek Kama.


Dia menegakkan punggung. Terpana melihat benda yang menggantung di leherku itu.


“Waw, aku tidak pernah melihat benda seindah ini,” katanya dengan pupil mata membesar.


Paman yang duduk tepat di sampingnya, menimpali, “Itu hadiah terbaik yang diberikan Ibu padanya. Tidak. Selama ini, itu adalah hadiah ulang tahun terbaik yang pernah dia siapkan. Bahkan hadiah ulang tahunku tidak ada yang seindah itu.”


Kakek Kama mengangguk. Membenarkan.


“Memang tidak ada benda yang lebih hebat dan indah dari ini.”


Dia menengok ke samping dan menatap Paman dengan pandangan iba. “Padahal kau anak bungsu, Ren. Tapi benda seindah ini malah disiapkan untuk cucunya.”


Paman terlihat agak kesal sedikit. “Yaa, tidak apa-apa. Lagi pula Hansa pantas mendapatkan itu. Dia anak yang baik, tidak seperti kami bertiga.”


Paman memandang Ayah yang sedang melahap steak daging.


Ayah menghentikan gerakan tangannya, dan kembali meletakkan garpu ke atas piring.


“Jangan sok tahu. Aku bukan anak nakal. Cuma kamu dan May yang nakal. Aku tidak,” tuturnya tidak terima.


Dan detik berikutnya situasi berubah menjadi perdebatan antar dua bersaudara.


Aku tidak terlalu peduli dan melahap kentang goreng yang mulai dingin. Kutatap Kakek Kama yang terlihat puas melihat kakak dan beradik itu bertengkar.


Kenapa aku merasa dia sengaja ya?


Kakek menangkap basah aku yang sedang menatapnya, dan tersenyum jahil.


“Sssst, bukankah ini menyenangkan?” tanya Kakek Kama dengan telunjuk di depan bibir.


Aku tertawa kecil. Dia orang yang cukup menyenangkan.


Aku berhenti tertawa seketika. Dia masih penasaran dengan kalungku kah?


“Kalung itu. Kau tahu dari mana Nenekmu mendapatkannya?”


Aku mengerutkan kening tipis.


“Memangnya Kakek mau apa?” tanyaku sambil menyembunyikan kalung ke dalam kemeja.


Kakek Kama tertawa.


“Jangan khawatir. Aku tidak berniat merebut kalung itu darimu.”


Dia menunduk. Sekilas tatapan matanya berubah sendu.


“Dulu, aku dan Raje –kakekmu. Kita pernah menemukan cairan yang agak mirip di suatu tempat. Aku tidak ingat jelasnya dimana, tapi yang pasti cahaya itu membawa kita pada sesuatu yang menarik.”


Kakek Kama menatapku dalam. Tatapannya sungguh berubah. Menerawang. Dia seperti tidak sedang melihatku.


Dia melihat orang lain.


“Apa kau tahu kalau wajahmu sedikit mirip dengan Raje, Hansa?”


Aku mematung sesaat. Kemudian menggeleng. Semua orang bilang aku mirip Bunda.


“Di dalam matamu. Kau memiliki tatapan yang sama dengan Raje.”


Aku tertegun. Apa katanya? Aku sendiri belum pernah bertemu dengan Kakek sih. Dia sudah pergi sejak Ayah masih sekolah.


“Menatapmu, seakan menatap Raje. Seperti kembali ke masa lalu.” Suara Kakek Kama memelan. “Aku merasa dia masih hidup.”


Aku menelan ludah. “T-Tapi, mataku kan warna bau-abu.”


Kakek Kama mengidikkan bahu. “Siapa peduli? Warna apapun, kalau cara kalian menatap dunia ini sama, ya tetap sama.”


Aku mengernyit. Cara menatap dunia? Apa maksudnya? Aaaahhh. Dia aneh, seperti Paman.


Kenapa Kakek bisa berteman dengan orang aneh ini?


Kudengar Kakekku dan Kakek Kama tidak terlalu akur. Tapi mereka bersahabat baik.


“Cahaya itu, apa yang menarik dari cahaya yang Kakek temukan?” tanyaku berusaha mengalihkan topik.


Kakek Kama tersadar dari lamunannya. Pandagan matanya sudah tidak menerawang lagi.


Sekarang dia melihatku sebagai aku.


Kakek Kama tersenyum simpul sebelum menjawab. “Kamu akan segara tahu.”


Dia menatap Nenek yang sedang menengahi perdebatan kedua putranya.


“Sophie akan segera memberi tahumu, Hansa.”


Aku terdiam sejenak. Kenapa aku merasa Kakek Kama sudah tahu tentang Geeta?


“Kama!” seru Nenek begitu sadar Kakek Kama tengah mengajakku berbincang seorang diri.


“Apa yang kau bicarakan dengannya? Bukan yang aneh-aneh kan?”


Nenek menatapku dan Kakek Kama bergantian. Kedua putranya masih berdebat kecil. Bunda mengawasi mereka menggatikan Nenek.


Kakek Kama mengangkat kedua tangannya di udara.


“Ups, sepertinya aku sudah bicara terlalu banyak.”


Nenek menggeram sedikit. Sikap tenangnya tadi agak memudar karena perkelahian Ayah dan Paman.


“Hannie, jangan hiraukan apapun yang dikatakan Kama, ya?”


Aku tersenyum kaku. Baru pertama kali aku melihat Nenek agak emosional. Biasanya dia selalu terlihat tenang.


“Kau tahu Sophie, anak ini sepertinya bisa memenuhi ‘itu’.”


Kakek Kama menyesap tehnya yang mulai dingin. Pandangan Nenek berubah.


“Jangan bicarakan itu. Kita tidak bisa membahasnya sekarang.”


Kakek Kama mendengus geli, dan menatapku. Dia tersenyum miring.


“Bukankah begitu? Kau sanggup kan, Hansa?”


Aku kebingungan mendengar tiap kalimat yang keluar dari mulut Kakek Kama. Tidak satupun dari perkataannya yang dapat aku mengerti.


.


.