Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter L



“Woi Ren!”


Ren menoleh dengan mulut yang masih penuh dengan roti isi coklat. “Awpah seh? Gah liak we lahi mahan?”*


[*Apa sih? Gak liat gue lagi makan?]


Temannya itu menepuk punggung Ren agak keras. “Sabtu dateng ke acara gue kan? Anak-anak pengen banget lo dateng!”


Budi, teman satu universitasnya. Mereka dekat sejak pertama kali masuk kampus karena memang satu frekuensi. Ren tidak menyangka ia akan dapat teman satu frekuensi secepat itu di kampus.


“Tau ah, gue lagi badmood. Males ke mana-mana. Apalagi besok hari pertama koas. Tambah mager. Lagian kan itu acara masih seminggu lagi.” Ren melengos dan melahap lagi rotinya.


“Yaelahh Pak Bule, dateng aja lima menit gue udah bersyukur kok.” Budi duduk di samping temannya. “Lo tau cewek-cewek kampus maunya dateng kalo lo dateng.”


Ren langsung menoleh cepat dengan ekspresi tak senang. “Emangnya gue apaan? Ulet buat mancing ikan?! Ogah gue dateng kalo buat alesan itu!”


Mendengar amarah Ren, Budi malah tertawa kencang. “Sejak kapan lo jadi ga suka dikerumunin cewek-cewek? Wah, emang bener nih lo balik ke rumah emak lo buat tobat yak?”


“Sialan!” desis Ren sembari menendang temannya hingga terjatuh. “Pergi lo sana! Ganggu pemandangan pagi gue aja. Besok udah ga bisa sante-sante lagi nih gue!”


“Pergi kemana lagi?! Gue kan juga nge-kos disini! Lo kata nyari kosan sejam nemu?!” Budi menyahut dengan nada yang tidak kalah tinggi.


Mereka berdua teman dekat yang tidak pernah akur. Kalau akur malah terlihat aneh. Tidak ada yang tahu kenapa.


Ren mendecih dan melahap potongan roti terakhirnya. “Ngapain kek, balik ke kamar lo kek. Beli uduk kek. Asal jangan muncul sejauh penglihatan gue itu udah cukup, Bud.”


“Kenapa sih? Pasti lo balik-balik bawa masalah nih? Lo kan ga pernah ga bawa masalah kalo abis pergi. Siapa lagi sekarang?” Budi terkekeh dan melipat kedua kakinya. Dia memilih duduk di bawah daripada naik lagi ke kursi. Ren pasti akan menendangnya lagi.


Melipat plastik bekas rotinya, Ren mendesah kasar. “Kakak gue. Dahlah, gue ga mau cerita. Nanti juga ujung-ujungnya lo tau sendiri.”


Budi itu, dia tipe yang tidak bisa ditinggal penasaran. Dia akan mencari tahu sendiri masalah orang-orang terdekatnya dan membantu mereka. Merepotkan, tapi Budi selalu melakukan itu tanpa sadar.


“Iya ya, padahal ngapain juga gue penasaran sama masalah lo. Ga bakal ada ujungnya. Satu selesai, ga lama bakal muncul lagi yang baru,” tanggap laki-laki berambut keriting itu.


Ren mendengus dan berdiri dari kursi.


“Mau kemana lo?” tanya Budi refleks.


“Nyari kitab suci ke barat, ngumpulin bola naga, menjadi hokage. Ya mandi lah! Ngapain lagi?! Gue ga kayak elo yang mandinya seminggu sekali. Itu juga kalo inget.” Ren berbalik masuk ke kamarnya dengan cepat.


“Sialan lo, Ren! Ga seminggu juga! Dua hari sekali!”


...…...


“Cheeseburger, french fries large, sundae ice cream, dan soda. Ada lagi?”


Ren menggeleng dan membayar pesanannya. Kemudian menyingkir ke pinggir untuk menunggu pesanan ketika tiba-tiba ponselnya berdering.


“Halo?”


“Ren? Lo bener-bener! Udah dimana lo sekarang?!”


Ren menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga. “Kan udah gue kirim SMS! Kenapa marah-marah lagi sih?!” Ren memelankan suaranya ketika sadar ia berada di tempat umum. “Udah ah, gue pengen makan.”


Tapi si penelpon belum mau melepaskannya. “Jam berapa ini lo udah mau makan? Makan ape lo hah?”


Ren mendecih entah untuk yang keberapa kali hari ini. “Jam setengah sebelas! Makan siang lah. Kayak lo ga sering makan aja, May.”


“May, mey, may, mey. Gue kakak lo! Sopan dikit!.”


Ren baru membuka mulut untuk membalas, ketika pesanannya tiba. Dia mengapit ponsel di antara telinga dan bahunya. Kemudian membawa nampan berisi pesanannya dengan hati-hati ke meja yang kosong.


“Cuman Radi yang gue anggep kakak. Mana ada kakak kayak lo, May. Gue jauh lebih pantes jadi anak kedua daripada lo.” Ren duduk di kursinya dan memindahkan ponsel ke tangan kiri.


“Iya, tapi gue udah jadi emak tuh.”


Dia memilih meja dekat jendela. Akhir pekan, pengunjung restoran ini sudah pasti berkali-kali lipat lebih banyak dari hari biasanya. Ren beruntung masih dapat meja kosong.


“Ren. Serius, gue kira lo bakal pamit beneran dulu baru pergi. Gimana sih? Gue bangun lo udah lenyap aja. Gue jauh-jauh juga ke rumah Ibu karna kangen sama si bungsu ingusan!”


Kakaknya itu tidak pernah tidak mengejeknya ya? Ren meringis. “Lagian, siapa suruh bangun siang. Gue bangunin juga nanti anak lo ikut bangun.” Ah, membicarakan keponakannya membuat Ren ingat pada Hansa.


“ ‘Anak lo’? Keponakan gue, gitu dong! Emangnya keponakan lo cuman Hannie doang?” pekik May tak terima.


Ren terkekeh dan menggeleng pelan. “Iyaa. Keponakan gue yang gemes, Senaaa! Lagi ngapain dia?”


“Lagi main. Tar dulu, lo ga bisa ngalihin topik obrolan kita gitu aja. Sekarang lo dimana?”


Ren menghela. May, biar bagaimanapun juga dia itu sangat cerdas. Sepertinya, diantara mereka bertiga May yang paling cerdas. Tapi karena sifatnya yang semberono, kecerdasan itu sedikit tertutup.


“Jakarta lah. Mana lagi coba?” jawab Ren malas. “Kak Radi udah balik ke sana?”


Hening beberapa detik. “Belum.”


Ren tahu, May juga menunggu si anak sulung untuk pulang. Bagi mereka berdua, Radi sudah seperti ‘bapak’ kedua. Dia benar-benar berhasil menggantikan posisi bapak untuk keluarga mereka.


Dan bertengkar dengan si sulung sudah seperti bertengkar dengan bapak mereka.


“Nanti juga dateng.” Ucapan Ren saat itu sebenarnya hanya harapan.


May juga sadar akan hal itu, dan dia menjawab dengan harapan yang sama. “Iya.”


Ren merebahkan tangannya yang masih menggenggam burger ke atas meja. Dia jadi tidak nafsu makan. Menghela samar, Ren menatap keluar jendela.


Cuaca hari ini cerah sekali. Tidak seperti hati dan pikirannya. Itu membuat Ren sedikit merasa kesal.


“May, udah ya. Gue mau—”


Kalimat Ren terhenti seketika. Matanya melebar. Detik itu Ren merasa udara disekitarnya menghilang.


“Ren?”


Matanya tidak lepas dari sosok yang berdiri di seberang jalan. Menunggu lampur lalu lintas berubah merah. Sosok itu akan menyeberang ke restoran ini? Tidak. Tidak boleh.


Walau Ren memang ingin alam yang mempertemukan mereka. Tapi bukan sekarang maksdunya. Ini terlalu cepat. Ren belum siap. Dia tidak tahu apa yang akan dia katakan.


“Ren?! Ren!”


Ren sudah tidak bisa mendengar suara disekitarnya. Hening. Seluruh indranya terfokus pada sosok yang kini mulai menyeberangi jalan. Tubuh Ren membeku.


Hingga sampai laki-laki itu berhasil menyebrang dengan baik, dan mengedarkan pandangannya ke arah tempat Ren duduk. Kenapa juga laki-laki itu melihat-lihat dulu? Kenapa tidak langsung masuk dan memesan tanpa—


Oh, sepertinya hari ini adalah hari tersial Ren. Mata mereka bertemu. Tapi sosok laki-laki itu tidak beraksi apa-apa. Wajahnya tetap sedatar papan triplek dan sedingin kutub. Kemudian menghiraukan Ren dan tetap berjalan ke pintu masuk restoran.


Hingga saat itu Ren baru sadar dirinya telah menahan napas sejak tadi. Begitu sadar napasnya langsung tersengal. Ia merasa tubuhnya dingin sekali.


“REN!!!”


Ren terperanjat kecil. Suara itu dari ponselnya. Sejak kapan ponselnya ada di meja? Ren beralih pada tangan kanan yang sudah meremas burgernya hingga tak berbentuk. Sayang sekali, padahal masih sisa separuh.


Dia menghela. Mengatur napas. Sosok yang dilihatnya tadi sudah masuk ke restoran. Tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. Kenapa ya? Padahal Ren sudah memperkirakan hal itu, tapi dadanya tetap saja sesak.


“REN! LO MASIH IDUP KAN?! REN!!!”


Ren meraih lagi ponselnya. Menarik napas sekali. Dan menjawab, “Kakak di sini.”


.


.