Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XX



“Berisihkan tiap sudut rumah ini yang kau kotori.”


Aku berkacak pinggang. Menitahnya melakukan ini dan itu. Geeta dengan raut wajah sedih menurutiku.


“Dasar, ditinggal semalam aja rumah jadi kayak begini. Apa harusnya aku ga tidur?”


Geeta yang sedang membersihkan lantai dengan kain berbalik dan menatapku.


Dia mengelus perutnya. “Uung, iaa, par!” Kemudian menunjuk lemari es.


Mataku berkedut. Berusaha mencerna perkataannya. “Ah, kau lapar karena lihat kulkas?” tanyaku memastikan.


Geeta mengangguk cepat. “Aaang! Aaang!!”


Menutupi mulut dengan sebelah tangan, aku mengangguk mengerti. Begitu rupanya ya.


“Kamu ga akan pernah kenyang ya?”


Geeta memiringkan kepala. “Yang?”


Aku menangguk. “Iya. Kau itu rakus. Pemakan segala. Liat kulkas nganggur bawaannya pegen makan. Iya kan?”


Dia melongo, baru menyadari tindakannya. ‘Apa aku begitu?’ ekspresinya seakan mengatakan itu.


Aku mendengus. “Pokoknya, nanti aku bakal bikin jadwal makan buat kamu. Jangan protes! Biar kamu disiplin.”


Geeta menatapku dengan enggan. Tapi dia sadar, kalau dia tidak bisa membantah.


Rumah kembali bersih pada pukul dua belas. Tepat jam makan siang. Perutku sudah keroncongan dari tadi karena tidak sarapan.


Tapi, tidak ada bahan makanan yang tersisa. Aku menggigit bibir, makhluk itu. Dia mau membunuhku ya?


“Geeta, diam di rumah. Aku mau beli makanan.”


Dengan gesit Geeta menahan kakiku. “Aaaanng!!!!”


Dia menggeleng. Memintaku untuk jangan pergi.


“Ayolah, aku lapar setengah mati. Kamu enak udah makan semaleman.”


Geeta tetap tidak melepaskan pelukannya di kakiku. Aku mendesah pasrah.


“Baik, baiklaah. Lepaskan aku dulu,” ujarku mengalah.


Geeta melepaskan pelukannya dan berdiri. “Aaang….”


Sepertinya dia ingin minta maaf. Aku melengos, kalau kutatap matanya, hatiku jadi melunak.


“Iya, terserah. Aku pesan online aja.”


Maunya sih, beli sendiri biar hemat. Apa boleh buat? Dia merengek seperti anak kecil. Bikin repot aja.


“Tapi ingat!” Aku berbalik dan mengacungkan telunjuk di depan wajahnya.


“Besok, aku tetap harus keluar untuk beli bahan makanan. Kau tidak akan bisa menahanku.”


Cahaya di mata Geeta meredup. Dia berlinangan air mata.


Hahh, kenapa cengeng sih. “T-Terserah kamu mau nangis apa gimana. Pokoknya besok aku ga akan ngalah.”


Tiga puluh menit berlalu, makananku tiba.


“Saya kira rumah ini ga akan ditempatin lagi. Mas penghuni baru?”


Tanganku yang memegang uang berhenti. Aku menatap petugas pengantar makanan itu.


“Oh, masnya tinggal di daerah ini?”


Dia mengangguk. “Iya, saya di desa seberang sana. Kalau yang daerah sini mah, mahal, tanahnya lega-lega,” kekehnya.


Aku mengangguk. Setelah membayar, ekspresi pengantar makanan itu berubah.


Agaknya dia terkejut, kemudian menatapku dengan senyuman yang… aneh.


“Pasangan muda ya, mas?”


“Apa?” Aku diam, sesaat aku melupakan Geeta yang ada di dalam rumah.


Dengan cepat aku berbalik dan mendapati Geeta tengah menunggguku di ambang pintu depan.


Mata kami bertemu dan dia melambaikan tangannya sambil tersenyum cerah.


Aaahhh!!! Kenapa dia keluar?!


“A-ah, itu….” Aku tergagap mencari alasan.


“Saya pikir mas tinggal sendiri. Abis keliatannya masih muda baget,” potong pengantar makanan.


Aku gelagapan tidak tau harus bicara apa sampai akhirnya petugas pengantar makanan itu pergi.


Kelihatannya Geeta tidak bisa tinggal di sini. Bisa-bisa banyak yang salah paham, dan kalau Tante Dinan tahu…


Entah apa yang akan terjadi.


...…...


“Geeta.”


Geeta menoleh menatapku dengan mulut belepotan saus. Aku memesan pizza dan pasta untuk makan malam ini.


“Dengar, aku tahu, aku yang lebih dulu memintamu untuk tinggal di sini. Tapi—” Kalimatku terpotong oleh suara kunyahannya yang mengganggu.


Apa aku perlu mengajarinya etika-etika dasar juga?


Mendengar kalimatku, Geeta langsung berhenti mengunyah dan menjatuhkan pizza-nya.


“Hangi, uung…” katanya dengan wajah menyesal.


Haahh, kalau dia terus memasang wajah seperti itu tiap ku-omeli, aku tidak akan sanggup.


“M-makanlah perlahan. Biar aku tunjukkan bagaimana cara makan yang benar.” Aku mengacungkan telunjuk di depan wajah.


“Perhatikan dengan baik. Aku tidak mau mengulanginya, dan setelah ini kau harus mengikutiku.”


Geeta mengangguk serius. Dia menatap mulutku lamat-lamat. Takut melewatkan sesuatu.


Aku mendengus geli, dan mengambil sepotong pizza yang tersisa. Kemudian memakannya.


“Lihat, seperti ini. Coba kau lakukan,” titahku setelah menelan lahapan pertama.


Geeta meraih kembali pizzanya yang tadi dijatuhkan, kemudian melahapnya sedikit demi sedikit seperti yang aku contohkan.


“Bagus. Kau lebih pintar dari yang aku duga.”


Dengan refleks aku mengusap pucuk kepalanya seperti yang biasa Nenek lakukan padaku. Tapi langsung kutarik lagi begitu sadar.


Geeta memandangku dengan wajah malu-malu.


Wah, dia bisa berekspresi seperti itu juga rupanya.


Aku berdeham mengalihkan suasana. “Kembali lagi, seperti yang aku katakan sebelumnya soal tinggal di rumah ini.”


Geeta memfokuskan pandangan padaku, dan mulut pada pizza.


“Aku minta maaf, tapi sepertinya kita tidak bisa tinggal bersama.”


Makhluk rupawan dengan mata bersinar itu langsung membeku dan menjatuhkan pizzanya, untuk kedua kali.


Dia ternganga dan cahaya matanya redup. Sepertinya dia akan menangis.


Buru-buru aku menenangkannya. “T-Tapi bukan berarti kita harus berpisah. Aku akan cari tempat yang bagus. Kau tahu, situasinya benar-benar tidak memungkinkan kita tinggal bersama.”


Air mata muncul di ujung mata indah Geeta. Dia meremat tanganku.


“Hangi…” rengeknya.


Aku tahu, aku tahu. Kau tidak akan setuju.


“Kau pasti kaget. Tapi, kalaupun aku jelaskan situasinya, kau pasti tidak akan mengerti.”


Aku balas menggenggam tangannya.


“Untuk saat ini, mungkin kamu bisa kembali ke rawa?” usulku ragu-ragu.


Tentu saja. Geeta menolak.


“AAANGG!!!! HANGI AANG!!!!”


Aku kewalahan dengan amukannya.


“Kenapa? Kamu kan dari awal tinggal di rawa.”


“AAAAAAANGG!!!!”


Geeta mengguncang tubuhku dengan kedua tangannya. Kuat sekali. Dia jauh lebih kuat dari laki-laki.


Kekuatannya kembali mengingatkanku kalau dia bukan manusia.


“Aku sungguh minta maaf, tapi….”


Geeta mendongak menatapku dengan berlinang air mata. Ugh, aku yakin tidak ada satupun manusia yang akan tega padanya begitu melihat ekspresi ini.


Termasuk aku.


Tapi! Aku tidak akan bersikap lunak padanya!


Dengan berat hati aku menuntun Geeta kembali ke rawa. Dia masih menangis. Air matanya masih menggenang. Tapi apa boleh buat.


“Setiap malam saja. Aku janji hanya setiap malam.”


Sebelum pergi, Geeta memelukku dengan erat. Itu bukan pelukan perpisahan, aku bisa merasakannya.


Tapi bujukan.


Geeta berusaha membujukku untuk tetap tinggal. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Kubiarkan Geeta memelukku selama yang dia mau. Sampai akhirnya dia menyerah sendiri.


Dia melepaskan pelukannya, tapi masih berdiri menghadap diriku. Enggan kembali ke rawa.


Aku mengulum senyum, dan memegangi pundaknya.


“Geeta, sedikit memoriku sudah kembali. Dan aku tahu kita dekat. Yakinlah aku bukan mengusirmu. Ini demi kebaikan kita berdua, oke?”


Geeta mengangguk lesu dan berbalik ke rawa. Begitu juga denganku.


Setelah memastikannya masuk ke air yang dingin dan tenang itu, aku kembali ke rumah.


Tapi kenapa ya? Perasanku tidak enak.


.


.