Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XXVIII



Ayah langsung menoleh cepat. “Tapi kan Ibu harus istirahat.”


Nenek mengangkat sebelah tangannya. Meminta Ayah untuk diam. Kemudian menatapku, menunggu jawaban.


Tentu saja aku mengangguk. “Beneran?”


Nenek mengiyakan. Kemudian beralih pada Ayah. “Aku akan baik-baik saja. Tidak usah berlebihan,” katanya kemudian masuk ke kamar.


Setiap pulang dari perjalanan yang agak jauh, Nenek pasti langsung istirahat. Kelelahan.


Tapi saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami kondisi Nenek. Begitu mendengar akan jalan-jalan bersamanya, di dalam diriku tidak ada sedikitpun rasa khawatir seperti yang Ayah rasakan.


Aku melompat kegirangan, dan bermain lagi.


...…...


“Geeta, hari ini aku akan pergi sama Nenek loh.”


Aku beridiri di dekat dinding batu, di halaman belakang. Kurebahkan kepalaku di atas sana.


“Aku masih belum nemu cara buat ketemu kamu sendirian. Eli ga mau ngelepas matanya dariku.”


Melirik ke belakang, aku mendapati Eli yang sedang berdiri menjagaku.


“Lihat, dia masih melototin aku.”


Bergumam sendiri. Aku sedang bergumam sendiri. Berharap Geeta dapat mendengarku dari dalam rawa.


Aku mendesah malas. “Biar begitu hari ini aku seneng banget bisa jalan-jalan sama Nenek.”


Kemudian mendengus lagi. “Tapi Eli ikut juga. Katanya bantuin Nenek jaga aku. Memangnya aku bakal ngapain sih?”


Mataku memandang lurus ke air rawa yang tenang dan bersih itu.


“Suatu saat nanti Geeta, aku mau ngajak kamu jalan-jalan juga.”


Aku menggenggam kalung yang tersembunyi di balik kaus putihku.


“Pasti kita bisa jalan-jalan bareng juga nanti.”


Tidak lama, Paman berseru dari dapur.


“Hannie! Ayo berangkat!”


Aku berbalik dan berlari kecil. Menoleh sekali, aku melihat kepala Geeta yang muncul dari balik air rawa.


Dia mengangkat sebelah tangannya. ‘Dadah’. Dia seakan mengatakan itu.


Aku tersenyum, dan berlari lebih cepat.


“Iyaa!!!” sahutku.


Kami akan pergi ke pasar. Di sana ada banyak toko barang antik.


Dan ternyata di pasar banyak sekali yang menarik perhatian. Kalau Eli tidak menggandeng tanganku, entah sudah hilang kemana aku ini.


Dua asisten rumah tangga yang lain membawakan barang belanjaan Nenek. Selain membetulkan arloji Kakek, Nenek sekalian belanja.


“Sudah lama sekali ga belanja begini ya, Ren.”


Paman mengangguk. Dia juga bantu membawakan kantung-kantung belanjaan.


“Iya, dulu Ibu suka banget belanja. Bapak sampe capek nungguinnya.” Paman terkekeh.


Entah hanya perasaanku, begitu mendengar kata ‘Bapak’ dari mulut Paman, pandangan Nenek berubah sendu.


“Iya ya, Bapak sampe nunggu di mobil waktu itu.”


Paman yang sadar perkataannya membuat atmosfer di sekitar berubah, langsung terdiam.


Dia mengangganti topik detik itu juga, dan mata Nenek kembali bercahaya.


Sepertinya topik tentang Kakek lumayan sensitif untuk Nenek.


“Ah, Paman! Itu toko barang antik!” seruku sambil menunjuk ke toko depan. Membantu Paman mengganti suasana.


Paman dan Nenek menoleh bersamaan ke arah tunjukkanku.


“Weh iya. Hayuk lah kita gas.”


Dengan senyum lebar Paman menggandeng lengan Nenek dan menggiringnya ke toko.


“Ayo Eli, ayo!!!” Aku yang tidak mau tertinggal langsung menarik-narik tangan Eli agar dia jalan lebih cepat.


“Iyaa, sabar,” sahut Eli lelah.


Sejak sampai tadi, sepertinya Eli yang paling kewalahan. Walau tugasnya hanya menjaga anak kecil, tapi itu sangat melelahkan.


Karena anak kecil itu Aku.


...…...


“Bakal agak lama nih, Bu.”


Nenek mengangguk-angguk. “Kira-kira berapa lama?” tanyanya pada pemilik toko.


Pria tua pemilik toko itu memperhatikan arloji Kakek lagi. “Kira-kita empat sampai lima jam lah.”


Nenek terkejut. “Lama ya?!”


Pria itu tertawa kaku. “Iya, arloji tua mah agak susah. Ribet.”


“Yaudah kita makan aja dulu,” usul Paman.


Nenek menimbang-nimbang, kemudian setuju. “Yaudah. Nanti kita ke sini lagi ya, Pak.”


Pria itu mengangguk. “Iya, atas nama siapa, Bu?”


“Sophie,” jawab Nenek singkat.


“Mie ayamnya yang satu bisa setengah ga, Mas?” tanya Eli pada penjual.


Kami duduk di meja pinggir depan, dekat tenda. Eli memesan ke gerobak, tidak jauh dari tempat kita duduk.


“Bisa, Mba. Satunya setengah, tiga mie ayam biasa, duanya bakso?”


“Iya, itu aja.”


Setelah memesan, Eli kembali ke meja.


“Eli, liat deh. Itu kenapa ayamnya?” tanyaku begitu Eli duduk.


Dia menengok ke arah yang kutunjuk. Mendapati seekor ayam kesakitan di dalam kandang. Tidak berhenti berkokok, dan berontak.


“Wah, iya. Itu kan ayam bagus. Kenapa ya?” sahut Eli.


Paman yang duduk di sampingku mencondongkan tubuhnya ke depan. “Ada apa?”


Aku menunjuk ke arah yang sama. “Itu, ayamnya kenapa?”


Paman langsung melongo begitu melihat pemandangan yang sama.


“Wah, gila! Itu kan Ayam Cemani. Kok disiksa?!”


Perkataan Paman menarik perhatian Nenek yang sedang bicara pada dua asisten rumah tangganya.


“Kenapa Ren?”


Paman mengecilkan suara, dan menunjuk ke arah yang sama.


“Nek, bisa kita bantu ga? Ayamnya kasian…” pintaku pada Nenek, setelah dia memberi respon yang kurang lebih sama dengan Eli dan Paman.


Nenek berpikir sejenak. “Kalo ayam itu dijual, bisa kita beli.” Dia beralih menatap Paman Ren. “Kamu tanya gih sana Ren, sama Hansa. Ibu tunggu di sini. Capek.”


Paman langsung berdiri. “Yaudah. Yuk.”


Dia menarik bagian belakang kausku tanpa aba-aba. “Aku bisa jalan sendiri!” desisku menahan amarah karena sedang di tempat umum.


Kami menyeberang. Paman menggenggam tanganku erat. Takut kelepasan lagi.


“Misi, bang….”


Tak lama pemilik toko ayam itu keluar.


“Ya? Kenapa?” sahutnya kurang bersahabat.


Aku sampai tak percaya kalau dia itu memang penjual di sini.


“Ah, itu… Ayam ini dijual ga ya?” tanya Paman sambil menunjuk satu kandang kecil berisi ayam yang kesakitan tadi.


Dari nada suaranya, aku tahu Paman menahan emosi dan berusaha untuk tetap sopan.


Kalau Bibi May pasti sudah nge-gas.


“Oh, berani berapa emang?” balas si penjual dengan penampilan urakan itu.


Paman tersenyum kaku. Cara si penjual bicara benar-benar memuakkan. Aku bisa merasakan genggaman tangan Paman bertambah kencang.


Haahhh, orang ini membuatku sakit secara tidak langsung. Dia yang tidak sopan, tapi aku yang kena imbasnya.


Awas saja kalau Paman benar-benar melampiaskan amarahnya padaku.


“Ini ayam Cemani kan ya?”


“Iya.”


Paman diam lagi. Terlihat kerutan di sekitar dahinya. “O-Oh… kalo gitu tiga puluh?”


Penjual tertawa. Aku juga mengkerutkan dahi. Maksudnya tiga puluh apa?


“Mana ada cemani tiga puluh,” dengusnya.


“Loh, temen saya beli dua lima aja, bang.”


Penjual itu terkekeh. “Ga asli kali itu mah.”


Paman menghela. “Yaudah, empat puluh.”


Penjual masih menggeleng. “Ga dapet untung saya kalo segitu.”


Aku menatap Paman ragu-ragu. Dia terlihat sangat marah. “Lima puluh.”


Nada suaranya penuh dengan penekanan. Penjual itu langsung terlihat sangat senang.


“Nah, gitu dong. Langsung bungkus nih?”


Paman mendengus. Melepaskan genggamannya dariku. Kemudian menyibakkan rambut. Kelihatan jelas sekali kalau dia menahan emosi.


Dia mengeluarkan ponselnya. “Punya rekening bang?” tanyanya. Kini suara Paman yang tak bersahabat.


Si penjual menyadari ketidakbersahabatan itu. Dan tersenyum sombong. "Iya, ada.”


Tidak lama, transaksi selesai. Paman meminta kandang yang lebih besar.


“Saya transfer lebih, buat abangnya berobat.”


Paman menunjuk kepalanya sendiri dengan telunjuk. Tersenyum miring ke arah penjual itu. Kemudian menarik tanganku lagi.


“Cepet sembuh, ya,” katanya lagi sebelum pergi menyeberang.


Aku menoleh ke belakang sesaat. Penjual itu tampak marah dan memukul mejanya.


Tadi itu… Paman mengejeknya ya?


.


.