Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XLVIII



Geeta sudah memperingati laki-laki itu untuk hati-hati. Dia sudah merasakannya. Pria itu akan terjatuh. Pasti. Karena itu dia berdiri di depan tangga. Bersiap untuk menangkap.


Tapi pria itu susah sekali diberi tahunya. Mengingat ia juga tidak boleh sembarangan menunjukan kekuatannya, Geeta memilih untuk menyingkir. Berharap prediksinya salah.


“Udah sana minggir jangan di depan tangga nanti malah ketabrak, jotoh, nangess.” Pria itu menuruni tangga yang bahkan tidak kelihatan dalam pandangannya.


Satu, dua anak tangga berhasil dilewati. Tapi, di anak tangga berikutnya,


BRUK !!!


pria itu terselip dan terjatuh.


...…...


Perawat rumah sakit buru-buru membawa Om ke ruang UGD. Sementara aku harus menyelesaikan urusan administrasi. Geeta sudah panik dan mondar-mandir seperti setrika-an.


Semuanya beres, aku mengajak Geeta untuk duduk di ruang tunggu. Aku tidak bisa melihat penangan Om. Bukan, bukan karena tidak boleh juga, tapi karena… darah.


“Di sini Om bakal dirawat sama dokter-dokter ahli. Kamu tenang aja tunggu di sini.”


Tapi kata-kata saja tidak cukup untuk menenangkan Geeta. Aku tidak lihat jelas juga bagian mana sebenarnya yang berdarah. Karena aku tidak berani mendekat saat melihat cairan merah itu bercecer tadi. Tapi yang pasti Om sudah pingsan saat aku menoleh.


“Loh? Hannie?”


Aku mencari sumber suara dan melihat pria jangkung berambut pirang tengah menatapku dengan mata melotot.


“Paman?” Aku langsung bangkit dari kursi dan mendekati pria itu.


“Bener Hannie kan?! Wah, udah lama ya! Ngapain di sini?” Paman Ren menjabat tanganku dengan senyum sumringah.


Eh? Memangnya Paman praktik di rumah sakit ini ya?


“Kenalanku, dia jatuh dari tangga dan pingsan.”


“Kok bisa?” Paman nampak terkejut, tapi juga terlihat biasa disaat bersamaan. Apa banyak pasien yang jatuh dari tangga hari ini?


“Aku ga tau. Dia bawa banyak barang dan jatuh dari tangga. Omong-omong, sejak kapan Paman praktik di sini. Seingatku Paman ga di sini kan?”


Ini adalah rumah sakit yang tidak terlalu besar di dekat desa. Seingatku Paman praktik di Jakarta, walau begitu kami jarang bertemu.


Paman mengangguk-angguk. “Paman udah lumayan lama di RS ini kok, dan tenang. Kenalanmu bakal baik-baik aja. Dokter di sini bagus-bagus juga. Walaupun di desa tapi bukan berarti kita payah. Yaa, biar begitu emang paling jago Paman sih.”


Aku terkekeh. Rasanya aneh sekali tertawa di saat Om masih kesakitan di ruang rawat.


Paman melirik ke belakangku dan menatap Geeta yang masih duduk gelisah. “Siapa dia? Temanmu?” tanyanya tanpa melepas pandangan dari sosok yang sedari tadi dia abaikan.


“Ah, dia….” Sialnya aku juga lupa ada Geeta. Kalau Paman, aku tidak bisa bilang Geeta adalah teman kecilku dari Eropa kan?


“Iya, dia… teman.”


Pandangan Paman berubah menyelidik. “Apanih. ‘Teman’? mencurigakan. Pasti dia pacar kamu kan? Iya kaann? Duh, keponakanku udah gede aja sih. Padahal kayaknya baru kemaren kamu ngerengek minta belajar piano.”


Ah, dari dulu dia masih saja menyebalkan. “Bukan kok. Beneran temen. Paman tau kalo kamar di rumah Nenek disewain kan? Dia salah satu penyewa di sana. Dan yang jatuh dari tangga juga penyewa.”


Paman mengangguk tanpa menghilangkan ekspresi menyebalkannya. Ugh, sudah tua bukannya berubah tapi malah makin menyebalkan.


“Bener juga, sekarang kamu tinggal di sana ya? Kalo gitu Paman harus kasih tau buat ngurus ‘penyewa’ kita tercinta ini dengan baik dong. Kasian kan, dia udah repot jagain kamu yang rewel begini.”


Aku meninju pelan lengan Paman. Tinggi kami sekarang sama. Padahal dulu aku menganggapnya tiang listrik bernyawa, tapi sekarang aku malah sama tiangnya.


“Han, ‘temen’ –mu itu kayaknya stress banget deh. Mending jangan nunggu di sini. Kerasa banget kan paniknya. Mending sambil makan yuk, di belakang ada kantin tuh,” ajak Paman sembari mengedikkan dagu ke Geeta.


Aku menoleh ragu. Bukannya kalau menunggu jauh begitu malah bikin tambah gelisah?


“Gausah khawatir lah. Paman udah bilang dokter di sini jago-jago kan? Menurutmu kenapa Paman mau pindah ke RS ini kalau rekannya ga jago?”


Iya juga. Aku ingat Paman tidak suka orang yang menurutnya tidak setara dengannya. Bule sombong ini, mungkin aku harus setuju dengannya sekarang.


“Oke.”


...…...


“Namamu, Geeta, benar?” Paman bertopang dagu memandangi gadis yang duduk di hadapannya.


Geeta mengangguk singkat sembari terus meminum jus aneka rasa tanpa henti. Ini sudah gelas ketiga. Sedari tadi Paman membiarkannya minum sendiri sampai terlihat lebih tenang.


“Ohh… kamu satu jurusan sama Hansa dulu? Atau satu kampus? Atau satu SMA? Atau satu SMP?”


“Paman,” desisku.


Paman terkekeh. “Lebih banyak pilihan lebih baik, Han.”


Geeta tidak menjawab dan melirikku. “Dia satu kampus denganku.” Akhirnya aku yang menjawab.


“Hmmm….” Paman mengangguk-angguk. “Geeta kamu ga nyaman ngobrol dengan saya atau gimana? Dari tadi ga ada suaranya. Kamu masih panik ya? Temanmu yang dirawat bakal baik-baik aja kok.”


Aku mendecih. Sudah tua dan sudah punya banyak anak mulutnya masih saja manis sama perempuan lain.


Geeta meletakkan botol jus keempat yang tersisa setengah ke atas meja. “Geeta takut, Om Dien pergi.”


“Om?” Paman mengernyit.


“Penyewa yang satunya kira-kira seumuran Ayah. Malah mungkin lebih tua sedikit. Dia musisi, kenalan Tante Dinan.”


Paman menganguk lagi. “Hannie bilang kalian ga pacaran, emang bener?” Dia mengabaikanku dan bertanya pada Geeta.


“Paman!”


Geeta memiringkan kepalanya. “Pacaran?”


Paman mengangguk antusias. “Iya. Kamu tau, cewek-cowok saling suka.”


Mata Geeta mulai berbinar. “Geeta suka Hannie kok.”


Mendengar itu senyum Paman langsung mengembang. “Wah, kayaknya cewekmu ini kelewat jujur deh, Han. Manggilnya udah Hannie juga lagi. Eh, Geeta kamu tau? Ga ada temen Hannie yang manggil dia Hannie. Mereka ga tau kalo Hannie punya panggilan Hannie.”


“Apasih? Belibet,” selaku mencoba menghentikan obrolan. Kalau begini terus—


“Sssst, Paman tau kamu lagi berusaha berentiin obrolan seru ini, Hannie sayang. Diem, pacarmu ini lebih seru daripada kamu.”


“Pamaannn….”


Geeta mengerutkan dahinya. “Emang Hannie punya nama lain?”


Om langsung melongo. “Hoi! Hannie, dia sampe nanya gitu loh! Emang kamu kenalan nyebut namanya… aiiiiihhhh.” Paman mendesis geli sendiri.


“ ‘Halo nama saya Hannie’, gitu?” Paman terkekeh. Dia membuat wajahku memanas. “Aduhhhh gemes banget! Gemes!”


Aku menginjak kaki Paman agar dia berhenti. “Duh! Kok nginjek-nginjek sih?! Paman udah rapuh nih, kalo sakit kamu mau gantiin Paman jadi dokter? Dokter bedah loh! Bedah!”


“Masa bodo! Dokter bedah seharusnya lebih ber-akhlak! Geeta jangan dengerin omongan bule ini. Mending kita balik ke ruang tunggu yuk.” Aku sudah ingin berdiri ketika tangan Paman menahan pundakku.


“Heh! Duduk. Jangan ga sopan gitu. Perasaan waktu kecil kamu bocah yang tergila-gila sama tata krama. Kok sekarang jadi begini?”


“Gini gimana?”


“Ya gitu. Ga sopan nginjek-nginjek kaki orang tua.”


“Kalo orang tuanya kayak Paman sih pantes digituin.”


“Heh!”


.


.