
Nenek meminta salah satu asisten rumah tangga untuk membawakan teh dan camilan ke halaman belakang.
Kemudian mengajakku ke meja bundar berwarna putih di tengah halaman. Ada payung yang menaungi meja itu.
Aku mengikutinya dan duduk di hadapan Nenek.
“Hannie, suatu hari nanti. Maukah kamu menjaga rumah ini?”
Aku memiringkan kepala heran.
“Menjaga?”
Nenek menoleh. Kemudian tersenyum simpul.
“Iya, nanti saat sudah dewasa. Tinggalah di sini.”
Aku yang masih kecil tidak paham dengan maksud Nenek saat itu. Tapi agar cepat beres dan Nenek tidak membahasnya panjang lebar, aku mengiyakan permintaannya.
Senyumannya bertambah lebar. Mata abu-abu itu terlihat lebih bercahaya di bawah sinar matahari.
Asisten rumah tangga datang membawakan camilan. Aku masih terkesima melihat pesona nenekku sendiri.
Hanya karena aku mengiyakan permintaanya, dia tersenyum selebar itu.
Apakah Nenek sangat mencintai rumah ini? Tapi kenapa?
Aku memandang rawa di sebelah kananku. Rawa yang bersih seperti danau. Langit tercermin di permukaan airnya.
Ah… Kurasa aku tahu kenapa Nenek sangat mencintai rumah ini.
Menenangkan.
Satu kata itu sudah mewakili seisi rumah Nenek dan kawasan sekitarnya.
Di tengah lamunanku, tiba-tiba saja ada sesuatu yang bergerak di rawa.
Mataku memicing. Memastikan benda atau makhluk apakah itu.
“Nana, apa di rawa ini ada ikan?”
Nenek berpikir sejenak.
“Tidak tahu ya. Nana ga yakin, tapi, kayaknya ga ada.”
Keningku berkerut mendengar jawaban Nenek. Kalau begitu yang bergerak itu apa?
Tubuhku menegang. Tapi Nenek tidak menyadari perubahan sikapku.
Benda itu terus bergerak. Berenang bebas di permukaan. Kemudian tiba-tiba berhenti.
Mataku semakin tajam.
Di tengah rawa itu, muncul benjolan hitam. Membelah air. seperti seseorang tengah menyelam di bawah sana.
Aku berdiri. Membuat Nenek terkejut dan bertanya padaku.
“Han? Ada apa?”
Aku tidak mendengarkan Nenek. Benda itu, dia akan keluar!
Nenek menoleh ke arah yang sama. Ikut berdiri.
“Ada apa Han?”
Tapi reaksi Nenek malah membuat benda itu tak jadi keluar. Dia kembali menyelam dengan cepat. Dan aku kehilagan jejaknya.
Aku terdiam.
Apa… yang baru saja aku lihat?
...…...
“Hansa!”
Aku terkesiap, dan mendapati Bunda tengah menatapku dengan tatapan kematiannya.
“I-Iya…?”
Bunda mendecih. “Kenapa ngelamun? Habiskan makananmu!” titahnya.
Aku menunduk dan buru-buru menghabiskan makan malam.
Setelah kejadian pagi tadi, aku tidak bisa berhenti melamun. Benda itu. Atau, bolehkah kusebut ‘makhluk itu’?
Apa Nenek tahu keberadaannya? Karena itu Nenek sangat menyayangi tempat ini? Atau,
“Han.Sa.”
Bunda menggeram. Aku tersadar lagi.
“Dibilang jangan ngelamun!”
“I-Iya.”
Nenek menghela. “Sudahlah. Jangan berteriak di meja makan.”
Bunda melunak dan ikut menunduk. “Maaf, bu.”
Nenek mengangkat sebelah tangannya. “Tidak apa. Aku tahu rasanya saat anak-anak tidak mendengarkan perkataan ibunya.”
Aku tersindir. Kemudian menatap Nenek yang duduk tepat di sampingku.
Katanya meja makan ini peninggalan dari keluarganya. Dibawa langsung dari Eropa.
Eh, apa aku sudah mengatakannya pada kalian?
Nenekku adalah orang Eropa. Kakekku bertemu dengannya saat sedang bersekolah di benua biru itu.
Mereka menikah dan Nenek ikut tinggal bersama Kakek di sini. Karena itu, aku memiliki mata abu-abu, yang jarang sekali di temukan di Indonesia.
Teman-teman suka mengejekku. Katanya mataku cacat, karena berwarna cerah.
Huh, mereka bodoh atau apa?
“Hannie, cepat habiskan makananmu. Nanti Nana bacakan dongeng sebelum tidur.”
Mataku berbinar mendengar bujukan Nenek.
“Janji?”
Nenek mengangguk, kemudian mengusak kepalaku dengan cara yang paling aku sukai.
“Janji.”
Aku tersenyum lebar dan langsung melahap makan malam dengan cepat.
“Pelan-pelan nanti tersedak,” kata Ayah mengingatkan.
Malamnya, setelah Nenek membacakan dongeng, aku tidak langsung tertidur.
Bayang-bayang makhluk itu kembali lagi. Sadar bahwa rasa penasaranku sudah tak tertahankan, aku menuruni kasur dan mengendap-endap keluar dari kamar.
Aku tidur sendiri, Ayah dan Bunda ada di kamar sebelah. Nenek tidur di kamar bawah. Para asisten rumah tangga juga seharusnya sudah tidur.
Benar saja, sampai di lantai bawah, aku bisa memastikan tak ada seorangpun yang masih terjaga selain diriku.
Aku berjalan cepat ke pintu belakang kemudian membukanya perlahan.
Angin kembali berhembus menggelitik wajahku begitu pintu terbuka. Sama seperti tadi pagi.
Pemandangan desa seberang terlihat lebih indah dengan hiasan lampu-lampu, dan lentera yang menyala.
Untuk beberapa saat, aku lupa dengan tujuanku kemari. Pesona pedesaan memang tak ada tandingannya.
Berbeda sekali dengan di kota. Tengah malam pun masih ramai oleh kendaraan yang lalu lalang. Kata orang, ibu kota tidak pernah tidur.
Aku berjalan menginjak rumput tanpa alas kaki. Dingin. Udara malam jauh lebih dingin.
Sampai di ujung halaman, aku menopang tubuh ke dinding pembatas dari batu. Tiba-tiba aku teringat pesan Ayah.
“Nak, jangan dekat-dekat dengan rawa. Berbahaya.”
Aku termenung sesaat. Benda itu tidak muncul. Apa aku harus mengabaikan pesan Ayah dan mendekati Rawa?
Aku penasaran dengan apa yang dilihat mataku pagi tadi.
Menelan ludah, aku membulatkan tekad. Maaf Ayah. Aku tidak akan lama.
Aku menuruni tangga yang juga disusun dari bebatuan, kemudian pergi mendekati rawa.
Begitu menginjak dataran berlumpur itu, bulu kudukku berdiri. Ini pertama kalinya aku menginjak lumpur tanpa alas kaki.
Bukan, ini adalah pertama kalinya aku berjalan tanpa alas kaki.
Terus maju, aku mendekati rawa. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit.
Makhluk itu masih belum menunjukkan tanda-tanda keberadaanya.
Aku mendekat lagi. Sampai kakiku menyentuk air. Dingin, sekujur tubuhku langsung menggigil.
Tapi aku masih tidak peduli. Aku ingin lihat sekali lagi! Makhluk itu! Perlihatkan dirimu!
Angin berhembus kencang. Aku sudah tidak bisa berada di dalam air. Kuputuskan untuk menunggu beberapa saat lagi di dataran.
Mataku memicing. Aku memeluk tubuh sendiri, dan mulai bernapas melalui mulut.
Cepatlah sudah hampir tiga puluh menit. Kalau begini Ayah dan Bunda bisa sadar aku tak ada di kamar.
Entah bagaimana insting Bunda itu sangat tajam. Walau aku tidur di kamar yang berbeda, dia pasti tahu kalau aku tak ada di sana.
“Hannie!”
Aku tersentak. Lampu kamarku menyala. Benar, kan. Bunda sudah tahu kalau aku tidak ada di kamar. Aku menoleh lagi ke rawa.
“Lima menit lagi,” gumamku.
“Hannie!!”
Teriakan Bunda membangunkan seisi rumah. Kini tinggal lampu kamar Nenek yang belum menyala.
“Bu, sepertinya adek pergi keluar,” ujar salah seorang asisten rumah tangga.
Aku menoleh ke belakang dengan cepat. Bagaimana dia bisa tahu? Apa aku lupa menutup pintunya?
Buru-buru aku kembali ke tangga, tapi, ah. Sialnya aku terpeleset dan jatuh. Kepalaku membentur sesuatu dan rasanya sakit sekali, sampai aku tak bisa berteriak.
Setelah itu semuanya berubah hitam.
.
.