
“Uwaaah!!! Lebih banyakh orang ya?!” Suara Geeta agak kencang karena angin dan musik bising dari panggung di pinggir pantai.
Senyumnya melebar. Bahkan bias kehijauan dari warna asli matanya kelihatan.
“Iya. Hari ini, hari libur. Jadi lebih banyak pengunjung. Kamu suka keramaian? Aku pikir kamu masih takut karena yang ‘waktu itu’?”
Maksudku adalah kejadian di restoran cepat saji saat kami jalan-jalan di mal.
Geeta menggeleng. “Suahsananya beda! Geeta suka pantai. Sama kayak yang Hannie bilang dulu, pantai tuh bikin senang.”
Dia punya tipe senyuman yang menular. Siapapun yang melihat senyum itu, pasti tidak tahan untuk ikut tersenyum. Dan begitulah aku sekarang. Ikut tersenyum bersamanya.
“Kita ga boleh sering-sering ke pantai kalo gitu.”
Geeta menoleh cepat. “Eh? Kenapa?”
“Soalnya biar ga cepet bosen. Kalo kamu sering ke sini, nanti cepet bosen dan aku bakal bingung nyari tempat dimana lagi yang bisa bikin kamu senyum selebar itu,” jelasku.
Geeta tertawa kecil. “Geeta ga bakal bosen asal sama Hannie!”
Oh, tahukah dia betapa berbahayanya kalimat yang dia ucapkan itu? Jantungku bisa copot sekarang juga karena bekerja terlalu cepat.
“Bisa aja,” jawabku mengakhiri perbincangan berbahaya ini.
“Heeiii!!!” Om berseru dari dekat panggung. “Om mau nyanyi! Kalian video-in ya!” titahnya dengan senyum tak kalah lebar dari Geeta.
Aku membentuk tanda ‘OK’ dengan tanganku.
“Yak, pengunjung sekalian. Ada yang mau nyumbang suaranya di pantai tercinta kita ini ga? Kalo ada silahkan acungin tangannya ya!” MC panggung itu membuka kesempatan.
Om langsung mengangkat tangan sambil meloncat.
“Iya boleh! Bapak yang paling bersemangat di sana. Ayo naik ke panggung!”
Om berlari kecil menaiki tangga ke panggung. Pengunjung lain bersorak memberi semangat.
“Ayo Om, rambutnya aja gamau kalah sama rumput laut. Suaranya juga ga boleh kalah sama ombak yak!”
Semuanya tertawa. Om mengabaikan basa-basi MC itu dan mengambil alih panggung. “Lagu ini untuk putriku tercinta di sebelah sana!”
Semuanya menatap Geeta, dan dia terlihat malu-malu. Lucu sekali.
“Dokumentasi siap ya?!” Om menatapku. Aku membalasnya dengan mengacungkan jempol, dan dia mulai bernyanyi.
Intrumen pembuka yang lembut mengalun di udara. Awalnya, aku pikir Om hanya bisa membuat lagu dan bermain musik. Tapi ternyata suaranya juga bagus. Lembut, tenang, dan teratur.
Sangat berbeda saat sehari-hari dia bicara. Kalian tidak akan menyangka kalau Om yang sedang benyanyi, dan Om yang biasa adalah orang yang sama.
“Senyumanmu yang indah bagaikan candu
Ingin trus ku lihat walau…” *
* [Feby Putri - Halu]
Hmmm, Om memilih lagu yang tepat. Aku melirik Geeta yang hanyut dalam suara Om.
“Kamu ga bakal tidur lagi kayak semalam karena denger Om nyanyi kan?” tanyaku tetap merekam penampilan Om dengan ponsel.
Netra coklat kehijauan itu mengunci pandanganku.
“Ga dong! Lagu ini khusus buat Geeta,” kekehnya.
Oh, aku ingin sekali mengalihkan ponsel ini ke Geeta dan mengabaikan Om.
Penampilan Om berakhir dengan baik. Semuanya bertepuk tangan dengan meriah. Niatku untuk mengabadikan Geeta dalam ponsel ini masih ada.
Setelah dipikir-pikir, aku belum mengabadikan sosok Geeta sama sekali.
“Geeta, mau kufoto?” tanyaku. Aku rasa walau dia tidak setuju, aku akan tetap memotretnya.
Belum sempat Geeta menjawab, angin berhembus kencang menerbangkan topi pantai yang dibelikan Om kemarin saat baru sampai di sini.
“Ah, topinyah….” Geeta mendesah kecewa.
Topi itu mendarat di air. Sudah cukup jauh dari bibir pantai.
“Tunggu di sini. Biar aku yang ambil,” putusku sembari melepaskan sepatu dan kaus kaki. Melihat wajah kecewanya membuat tubuhku bergerak sendiri.
“Hannie!” seru Om saat melihatku berlari memasuki air laut.
Geeta diam mematung memegangi ponselku.
...…...
Geeta memerhatikan laki-laki bermata kelabu itu keluar dari air. Deburan ombak yang kencang membuat tubuh laki-laki itu sedikit terhuyung.
Nyaris semua mata perempuan yang ada di bibir pantai terkunci pada sosok itu.
“Ah, Hannie…” gumamnya melihat sekujur tubuh laki-laki itu basah oleh air laut.
“Topinya ke bawa angin. Untung ga ketengah banget.” Laki-laki itu terkekeh dan menyerahkan topi pantai itu pada Geeta.
Geeta menghela, diikuti dengan omelan Om dibelakang. “Bukan! Yang bener untungnya kamu bisa berenang. Kalo ngga, gatau lagi Om harus ngomong apa,” decak pria tua berambut ikal itu. “Kalo gini kamu tinggal di goreng aja, Han. Udah kerendem air asin.”
“Kalo ga bisa berenang, aku ga bakal nyebur tadi.” Laki-laki itu terkekeh sembari meremas kemeja tipis dan kausnya.
“Jangan ketawa, terus gimana kamu? Mau basah-basahan sampe rumah? Masuk angin loh. Om juga gamau jok mobil Om jadi basah gara-gara kamu.” Pria itu menjitak kepala bocah yang jauh lebih muda darinya.
“Aku ganti baju aja nanti. Kenapa histeris banget?” Laki-laki bermata kelabu itu meringis dan mengusap kepalanya.
“Kamu kan ga ada baju lagi.”
Satu ujung bibir laki-laki itu terangkat ke atas. “Beli lah,” katanya santai.
Pria tua yang dipanggil Om oleh mereka itu menjitaknya sekali lagi. “Ngabisin duit aja kerjaannya.”
Geeta menengahi perkelahian dua pria itu untuk kesekian kalinya. “Gausah, Hannie. Geeta bisa—”
“Geeta,” sela laki-laki itu cepat. Tangannya yang tadi sedang mengeringkan pakaian berganti memegangi tangan Geeta.
Dari tatapan laki-laki itu, Geeta paham. Dia tidak boleh membiarkan Om Dien tahu kalau dirinya bukan manusia. Identitasnya, harus disembunyikan.
Walau Geeta juga ingat, sejak kecil Hannie berjanji beberapa kali padanya untuk tidak khawatir soal identitasnya sebagai makhluk mitologi di kemudian hari.
“Aku mau beli baju dulu ya, Om.” Laki-laki itu pergi ke toko aksesori terdekat.
“Geeta bangtuin Hannie ya, Om,” pamitnya tanpa menunggu izin dari Om Dien.
Sementara pria tua itu kebingungan sendiri. “Eh, loh, kok? Heh, Geeta! Udah di sini aja gitu loo…”
Geeta mengekori laki-laki dengan netra kelabu itu.
“Aku mau ganti baju. Kamu jangan ngikutin.” Laki-laki itu mendengus geli di depan toilet umum.
Tapi Geeta tidak mendengarkan dan tetap menahan laki-laki itu. “Geeta bisa keringin bajuk Hannie,” katanya dengan wajah bersalah.
Dia merasa tidak nyaman karena membuat laki-laki itu kerepotan lagi.
“Gapapa, kalo kamu tetep ngeringin nanti Om bisa curiga. Emangnya ga aneh kalo bajuku tiba-tiba kering gitu aja?” Cucu Miss Sophie itu terkekeh lagi.
Memang, Hannie tidak kelihatan keberatan sama sekali. Tapi tetap, Geeta merasa tidak nyaman. Akhirnya dia menempelkan kedua tangannya pada laki-laki itu tanpa permisi.
“Eh, Geeta?” Laki-laki itu terperanjat.
“Abis ini gangti baju lagi aja. Geeta tetep mau ngeringin.”
Bukan hanya air, tapi pasir dan kotoan mengganggu lainnya juga terhisap ke dalam telepak tangan gadis itu.
“Ya-yaudah! Tapi baju aja ya, baju aja.” Wajah laki-laki itu merona.
Geeta mengangguk menyetujui dan melanjutkan pekerjaannya. Hingga kemeja dan kaus itu kembali kering. Bukan. Lebih tepatnya kembali bersih. Seperti baru keluar dari tempat laundry.
“Wah tangan kamu jadi kotor. Dibilang juga gausah, Geeta.” Pandangan laki-laki itu tertuju pada kedua lengannya.
Geeta menggeleng. “Tinggal dicucih.” Dia tersenyum tipis dan membiarkan laki-laki itu memasuki toilet untuk berganti pakaian.
Tapi netra kelabu itu tidak mau melepas lengannya.
“Hannie,” panggil Geeta lembut. “Kita mau pulang. Gangti baju cepat.”
Titahan Geeta berhasil melepas tatapan lekat sepasanga netra kelabu laki-laki itu, dan dia tersenyum. Caranya tersenyum selalu membuat Geeta merasa aneh.
Seperti ada banyak drum yang terus bergema di dalam dadanya. Bahkan terkadang ia sampai menahan napas. Takut laki-laki itu juga mendengar suara drumnya.
“Yaudah. Sana balik ke Om. Nanti dia kesepian,” kata laki-laki itu sebelum pada akhirnya menghilang di balik pintu toilet.
Geeta berbalik dan mencuci tangannya. Baru kemudian kembali menemani pria tua yang suka mengomel itu.
.
.