
Tok! Tok!
Aku berdiri di depan pintu rumah kayu tidak sederhana dengan sabar.
Yang kusebut tidak sederhana ini benar-benar tidak sederhana.
Ini adalah rumah pemegang kunci rumah Nenek. Terbuat dari kayu, tapi disusun dengan rapi dan penuh estetika. Jadi, walau rumahnya terbuat dari kayu, tapi masih terlihat indah.
Malah, aku lebih suka rumah seperti ini.
“Ya! Tunggu sebentar!”
Terdengar suara derap langkah kaki dari balik pintu. Aku sudah membentuk seulas senyum sebelum pemilik rumah membuka pintunya.
“Ya, ada ap—”
Pintu terbuka. Aku sedikit terkejut karena ternyata yang membuka pintu malah anak kecil. Kemana suara ibu-ibu yang menjawab ketukanku?
Begitu melihatku, anak kecil itu diam membeku. Aku tidak tahu kenapa, tapi meski begitu aku tak memudarkan senyum sedikitpun.
“Apa ibumu—”
“Maaaakkk!!!”
Kalimatku terpotong oleh teriakan anak itu.
“…ada?…” gumamku melanjutkan kalimat yang tadi belum selesai.
Hahh… kenapa dia malah lari. Senyumku agak memudar ketika anak itu menghilang masuk ke dalam rumah. Mencari ibunya.
Yah, setidaknya permintaanku terpenuhi.
Tidak lama, sang ibu datang dengan langkah tergopoh-gopoh karena di dorong oleh anaknya.
“Kenapa sih?!”
“Itu… ada mas-mas gan…teng….” Suara gadis itu memelan.
Tapi aku bisa mendengarnya, haha.
“Hah?! Kalo ngomong yang jelas!”
Ibu itu beralih dari anaknya menatapku. Dia sama terkejutnya dengan anak kecil tadi.
“Eh, ada apa yah?” tanyanya dengan suara lembut.
Aku tersenyum tipis. Dia cukup familiar untukku. Apa dulu dia dekat dengan Nenek?
“Saya mau minta kunci buat rumah Ibu Sophie Grace.”
Ibu itu melongo. Kemudian sebelah tangannya terangkat untuk menutupi mulutnya.
“Miss Sophie?”
Panggilan itu. Panggilan yang aku rindu dari orang-orang kepada Nenek.
Aku mengangguk.
Ibu itu menggeleng tidak percaya. “Kamu, jangan-jangan… Hansa?”
Aku tertegun. Ternyata benar dia mengenalku. Senyumku menghilang untuk satu detik. Dan kembali pada detik berikutnya.
“Iya.”
Satu kata yang keluar dari mulutku membuat ibu itu memelukku seketika.
Aku tersentak. Apa kita pernah sedekat ini?
“Oh, Hansa. Tante ga tau kalau ternyata kita bisa ketemu lagih.”
Suaranya tertahan. Sepertinya dia teman dekat Nenek. Pantas kunci rumahnya dititipkan ke sini.
Ragu sejenak, aku kemudian membalas pelukannya. Tanpa berkata apa-apa.
Biarlah dia tak tahu kalau sebagian ingatanku menghilang.
“Masuk atuh, Hannie. Kita ngobrol dulu,” ajaknya setelah tenang.
Dia bahkan tahu nama panggilanku. Itu cukup mengejutkan juga.
“Terima kasih.”
Aku berjalan memasuki rumah kayu itu. Suasananya agak berbeda dengan rumah Nenek yang bergaya eropa kuno. Tapi, kurang lebih ada daya tarik yang sama.
Yang bisa membuatmu rindu dengan cepat, walau baru meninggalkan tempat ini lima menit.
Hatiku menghangat.
“Kakak, boleh aku duduk di sampingmu?” tanya anak kecil tadi begitu aku duduk di ruang tamu.
Aku mengulum senyum dan anak itu terlihat salah tingkah. Anak jaman sekarang sudah tahu ‘malu-malu’ ya.
“Boleh. Namamu siapa?”
Kini giliranku bertanya.
“Oh, aku, aku… em….”
Aku terkekeh. “Kamu tidak ingat namamu sendiri?”
Wajah gadis itu memerah. “Ingat! Aku tau namaku!”
Aku tertawa. Dia manis sekali.
“Namaku Agni! Tuh, aku tau kan!”
Masih tertawa, aku mengangguk dan mengusak pelan rambut anak kecil itu.
“Pintarya,” pujiku agar dia tidak marah-marah lagi.
Dan itu berhasil. Dia langsung melengos. Karena rambutnya diikat, aku jadi bisa lihat sekarang telinganya pun ikut memerah.
Haha, menggoda anak kecil adalah yang terbaik.
Tidak terima disalahkan, dia kembali marah-marah, tapi kini pada ibunya. Karena sepertinya dia masih terlalu malu untuk menatapku.
Dia mengingatkanku pada Zihan. Kalau malu atau marah padaku dia juga akan bertingkah sama. Teriak-teriak ga jelas.
“Minum dulu tehnya. Beda loh sama yang di kota. Teh ini mah di petik langsung dari kebon. Seger!” tawar ibu pemilik rumah setelah menyuruh anaknya masuk ke kamar.
Tapi, anak itu masih mengintip dari balik dinding.
Aku tertawa kecil.
“Begitu? Kalau gitu saya cobain ya.”
Ibu itu mengangguk senang. “Iyah, sok atuh.”
Benar katanya. Teh ini lebih segar dari teh-teh yang pernah aku coba sebelumnya.
“Enak,” kataku.
Ibu itu tersenyum lebar.
“Iyakan! Tante bilang juga apa.”
Seperti teringat sesuatu, dia kembali membuka suara.
“Eh, ngomongnya jangan formal-formal amat. Santai aja atuh.”
Lagi-lagi aku dibuat tersenyum. Bukan senyum formalitas seperti sebelumnya di depan pintu.
“Iya, terima kasih.”
Ibu itu mengangguk dan menepuk pundakku.
“Kamu mah udah gede aja yah. Tambah ganteng gini euy! Jauh lebih ganteng daripada bapak sama paman kamu.”
Dia kemudian mendesah kecewa. “Sayang si Om belum pulang dari sawah. Nanti ketemu yah!”
Tante dan Om. Apa itu panggilanku pada mereka dulu?
Aku mengangguk.
“Tapi, saya— aku mau beres-beresin barang dulu. Mungkin besok ke sini lagi. Takutnya keburu malem.”
Ibu itu mengangguk beberapa kali. Terlihat masih menimbang-nimbang.
Aku paham kalau dia ingin aku di sini dulu beberapa saat. Setidaknya mungkin sampai makan malam.
“Yaudah atuh. Tapi janji yah. Besok ke sini, ketemu sama om. Eh, dia tuh kangen banget sama kamu!”
Ibu itu menepuk pundakku lagi. Tidak keras kok.
Aku tertawa. “Iya, besok pagi sekalian aku bawain sarapan? Gimana?”
Wajahnya berubah senang.
“Aih boleh banget atuh! Tapi emangnya kamu bisa masak?”
Aku mengangguk percaya diri.
“Bisa dong. Kan diajarin Nenek.”
Ibu itu tertawa lepas.
“Bisa aja kamu, Hannie.”
Aku tidak bohong. Nenek memang jago memasak. Hanya saja, karena Ayah memintanya untuk banyak istirahat dan menyewakan banyak asisten rumah tangga, Nenek jadi jarang memasak lagi.
Selama tiga puluh menit ke depan, Ibu pemilik rumah mengajakku berbincang panjang lebar. Kemudian dia memberiku kunci rumah Nenek.
“Ini kuncinya. Tante selalu ngurus rumah Nenek kamu. Jadi rumahnya masih bersih. Ya, ga sendiri sih. Tetep nyewa orang buat bebersihnya. Tapi, kalo ada apa-apa bilang aja sama Tante ya!”
Aku menerima kunci itu. Kunci tua dengan gantungan daun berwarna emas yang kini sudah agak kusam. Karena bukan emas asli.
Aku ingat, akulah yang membeli gantungan ini.
...…...
16 tahun yang lalu.
“Nana!”
Aku berlarian menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
Usiaku sudah enam tahun. Kemarin kami baru saja merayakan pesta di rumah ini. Banyak yang datang, artinya banyak juga yang mencubit dan menciumi pipiku.
Hal yang paling aku benci.
“Eh, Dek Hansa jangan berlari di tangga!” seru salah satu asisten rumah tangga, Kak Eli.
Dia yang paling dekat sekaligus sabar terhadapku.
“Kak Eli! Dimana Nana?” tanyaku dengan napas tersengal.
Kak Eli memegangi tubuhku supaya tidak jatuh sambil mengingat-ingat.
“Kayaknya di ruang tamu. Lagi ada temannya, jadi—eh!”
Aku melepas pegangan Kak Eli dan berlari lagi ke ruang tamu.
“Nana!!!”
“Dek Hansa!!!”
Di ruang tamu, aku melihat Nenek sedang berbincang dengan seorang wanita berpakaian sederhana tapi rapi.
Wanita itu menatapku, dan tersenyum lebar.
“Hai, Hannie. Maaf ya, tante ga bisa datang kemarin.”
.
.