Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XL



“WAAAAHHHH… HANNIE! *AIH! AIH!! AANGG!”


*[Aih \= Air]


Geeta melompat kegirangan begitu kita sampai di pantai. Tiga hari lalu, setelah aku mengusulkan untuk pergi ke pantai asal-asalan, Om malah menganggapnya serius.


“Kenapa kamu baru ngomong di mobil kalo usulanmu itu cuma asbun? Han… Han.”


“Asbun?” ulangku.


“Iya! Asal Bunyi, asal nyebut! Dasar,” jelas Om tidak sabar. Sepertinya dia benar-benar marah.


Memang benar ya, ada beberapa kenyataan yang tidak seharusnya diketahui. Tau begitu aku ga ngomong tadi.


“Yaudah, dari pada jauh-jauh ke sini sebentar doang. Kita nginep aja, aku yang bayar hotel sama makan dan lain-lain. Om jangan ngambek lagi yah. Kan bisa bikin lagu di sini, lebih enak kan? Ditemenin sama desiran ombak.”


Om tidak langsung termakan dengan bujukanku, tapi dia tetap setuju. Pasti setuju, karena jarak pantai terdekat dengan rumah Nenek itu lumayan jauh. Kalo ga nginep sudah pasti Om akan kelelahan.


Iya, dia yang menyupir. Dan dia tidak mengizinkanku menggantikannya. Katanya bahaya, selama masih ada dia, maka dialah yang menyetir.


“Hannie! Cepat! Main ke pangtai ayo!” Geeta menghentakan kakinya tidak sabar.


Aku terkekeh. “Iya sabar dong,” sahutku.


“Itu bocah masih belum lancar juga ngomongnya? Suruh minum air laut aja biar lidahnya fleksibel.” Om berjalan mengikutiku.


Senyumku mengembang. “Ide bagus, Om. Tapi emangnya bisa ya?”


“Ya siapa tau, kali aja nanti lidahnya terkaget-kaget. Terus jadi lebih mlehoy.”


Aku tidak bisa menahan tawa setiap mendengar ucapan Om. “Kita coba aja kali ya.”


“He’em. Mari kita coba!” katanya dengan nada khas yang sedang nge-trend. Kemudian berjalan mendahuluiku dan merangkul Geeta.


“Ayo kita minum air laut Geeta!!!”


Geeta mengernyit tipis. “Mang bisah?”


“Bisa lah, selama yang diminum itu air, ya bisa. Kecuali kamu minum bata, baru ga bisa.”


“Maksud Hita airnya berahcun ga?” desahnya ikutan lelah dengan ucapan Om.


“Jelas engga dong.” Om menggerak-gerakkan telunjuknya. “Malah bisa buat sop. Langsung jadi gitu, tinggal masukin wortel aja.”


“Mahsa sih?!” Geeta membelalak.


Melihat kepribadian mereka yang kontras membuat perutku tambah geli. “Om, udahlah jangan nyebarin ajaran sesat. Sekte mana lagi itu sop pake air laut.”


“Ssssttt… Han, justru inovasi baru itu baik untuk kehidupan,” bantahnya dengan nada dan wajah serius.


“Inovasi sih inovasi, tapi masa iya air lautnya ga dimasak dulu. Nanti kalo ada telur hiunya gimana?”


Om menjentikkan jari. “Justru itu. Nanti kita ternak hiu aja. Udah ga jaman ternak lele. Udah banyak. Nah kan, inovasi baru lagi.” Dia mengibaskan rambutnya ke belakang. “Emang cocok deh Om jadi duta inovasi abad ini,” katanya penuh percaya diri.


Tawaku semakin menjadi. Wajah polos Geeta yang kebingungan benar-benar mendukung suasana ini.


“Bubar, bubar! Malu diliatin orang.”


...…...


Deburan ombak seakan menjadi musik latar untuk acara makan malam kami. Sebenarnya sudah selesai dari tadi, tapi aku masih mau melihat-lihat pemandangan laut yang jarang aku kunjungi.


Aku bersandar pada pagar balkon restoran hotel dengan segalas jus apel di tangan.


“Hannie,” panggil Geeta lembut dari belakang.


“Kenapa ikut ke sini? Anginnya kenceng loh. Nanti kamu masuk angin.” Walau aku juga tidak yakin apa Geeta bisa sakit semacam itu.


Geeta menghela dan tersenyum tipis. Setiap melihatnya tersenyum lembut begitu, aku jadi teringat Nenek.


“Geeta, sebenernya yang ngajarin kamu senyum kayak gitu siapa?” tanyaku begitu Geeta ikut menopangkan tangan di pagar balkon.


“Mang kenapa?”


Aku menggeleng. “Engga, senyum kamu tuh mirip sama seseorang.”


“Hannie suka orang itu?”


Pertanyaan Geeta membuatku terkekeh. “Iya, suka banget. Emang kenapa? Kamu cemburu?”


Geeta memanyunkan mulutnya sebal. Bagiku dia terlihat semakin lucu saat berekspresi seperti itu. “Engga.”


“Gausah malu-malu, ngakuin kamu cemburu ga bakal memupuk dosa kok.”


Aku meraih telunjuk ramping itu dan mengaitkannya dengan telunjukku. “Deng-ki, Geeta. Terus menurutku beda tuh. Kalo cemburu kan bisa ngasih tanda ke pasangan kamu, kalo kamu bener sayang sama dia. Tapi kalo iri ada niat untuk menjatuhkan.”


Wajah kecil Geeta jadi terlihat semakin jelas dengan rambut yang diikat sanggul. Om yang mengikatkannya. Dia sudah terlatih karena kelima anaknya perempuan.


“Jadi jelas kan bedanya, Geeta.” Aku tersenyum miring.


Wajah Geeta langsung memerah. Kulitnya yang pucat membuat rona merah itu terlihat semakin jelas. Saking fokusnya aku sampai tidak sadar Om Dien sudah memperhatikan sejak tadi dari meja.


“Geeta,” bisikku pelan. “Ke pantai yuk. Sekarang udah sepi, jadi rasanya kayak tamu VVIP.”


Geeta menoleh ragu ke Om yang mulai memelototi kami.


“Gapapa, Om ga bakal gigit kita. Sama aja kayak dulu. Inget kan, dulu juga kita suka ketemu diem-diem?” Aku tidak berhenti menghasutnya.


Habis, sayang sekali kalau kita tidak menikmati suasana pantai di malam hari dari dekat. Kita juga hanya menginap satu malam.


“Tapi— mengding izin, Han.”


Aku menggeleng. “Kalo izin ga bakal dibolehin.”


Geeta langsung cemberut. “Hita gamau. Hannie aja.”


“Yahh, padahal dulu kamu setuju-setuju aja. Kenapa sekarang jadi ga seru? Emang Om seserem itu buat kamu?” keluhku kecewa.


“Yaudah, nanti kalo berubah pikiran samperin aku aja ya. Aku ga suka menikmati pantai sendirian.”


Bohong.


Sebenarnya aku paling suka menikmati segalanya seorang diri. Tapi setelah bertemu Geeta, aku jadi ingin selalu menghabiskan banyak waktu bersamanya.


Aku melangkah pergi setelah tersenyum singkat pada Om. Meninggalkan Geeta sendirian di balkon. Lift berdenting dan aku turun ke lantai dasar.


...…...


“Kenapa ga ikut?” tanya Dien setelah gadis muda berambut hijau itu duduk kembali ke tempatnya.


Wajahnya jelas murung.


“Kamu takut Om hukum?” tanya Dien lagi. Ada sedikit rasa bersalah di dadanya begitu melihat ekspresi sedih Geeta.


Apa dia terlalu berlebihan menakuti mereka? Sebenarnya ia cukup percaya pada Hansa. Anak itu bukan tipe yang akan berbuat macam-macam.


“Hita… menghongmati Om.” Suara gadis itu mulai terdengar.


“Menghormati? Menghormati gimana maksudnya?”


Mata gadis itu kini mengunci pandangan Dien. “Om surugh Hita sama Hannie buat main di sini ajah. Hita horgmati itu,” jelasnya.


Dien menahan senyum. “Kamu gadis pintar. Memang ya, anak baik-baik juga akan berteman dengan anak baik-baik lainnya. Ga aneh kalo kalian secocok ini.” Dia menyamping dan menyesap minumannya.


“Kalian berdua sama-sama tau tata krama dengan baik. Menghargai peraturan orang lain. Padahal kita baru ketemu. Tapi si anak ayam itu lebih nakal sedikit dari kamu sih.” Anak ayam yang dimaksud adalah Hansa.


Dien menatap gadis itu lagi dan mengidikkan dagunya ke arah pantai.


“Kayaknya Om bakal lebih khawatir kalo Hani main sendiri di pantai. Nanti kalo diculik gimana? Mukanya mengundang orang banget buat ngarungin dia sih.”


“Hannie, Om!” omelnya. Tapi kini senyum cerah gadis itu kembali terukir. “Sehius boleh nih?”


“Se. Ri. Us. Janji sama Om besok pagi ngomongmu lebih lancar.” Dien menjulurkan kelingkingnya.


Gadis itu diam sejenak. Memandangi kelingkingnya, dan menautkannya pada kelingking Dien.


“Jangji. Eh, eumm… Jann-ji,” katanya susah payah.


Dien tertawa dan menyuruhnya pergi. “Cepetan! Nanti keburu ada tante-tante gemoi pemburu cogan. Kapan lagi kan, nemu yang begitu keliaran malem-malem sendirian?”


Gadis itu melambaikan tangannya dari dalam lift. Mencuri perhatian orang-orang di sekitarnya. Beberapa terpana dengan pesona gadis itu dan dengan percaya diri balas melambai.


Beberapa malah terlihat kebingungan dan tidak suka. Yang seperti itu rata-rata adalah perempuan.


Geeta keluar dari hotel dan memasuki kawasan pantai. Angin laut menggelitik dirinya. Tidak sampai satu menit dia mencari laki-laki bermata kelabu itu.


Sedikit berlari, Geeta menghampiri laki-laki yang sedang duduk berselonjor di atas pasir. Lumayan jauh dari bibir pantai.


“Hannie!!!”


.


.