
Kepalaku muncul dari balik pintu sambil tersenyum kaku.
“Eh, Tante….”
Tante menggeram. Kemudian menjewer telingaku.
“Duhhh!! Kamu inih! Tante pikir kamu sakit apa gimanah. Kok ga ke rumah? Katanya mau bikinin sarapan?!”
Aku meringis dan tertawa kecil sesekali. Kurasa, aku yang masih kecil tidak menyukai Tante karena hal ini.
Dia cerewet.
“Maaf, aku ketiduran. Semalem beresin barang-barang sampe begadang, maaf,” sesalku.
Agaknya hatiku terasa berat untuk berbohong pada Tante. Tapi aku tidak berbohong sepenuhnya kan? Aku sungguh merapikan barang-barang.
Tante menatapku dengan tatapan menyelidik.
“Oh ya? Kenapa belum ganti baju sampe sekarang? Jangan-jangan kamu main keluar terus baru pulang.”
Aku menelan ludah. Masih berusaha untuk tersenyum.
“Kan kalo abis begadang ga boleh mandi Bu!” celetuk seorang anak perempuan dari balik tubuh Tante.
Ah, dia ikut juga rupanya.
Tante menanggapi perkataan anak bungsunya dengan anggukan kecil.
“Benar juga. Tapi setidaknya kamu harus ganti baju!”
Aku nyengir mendengar omelannya. Yah, lebih baik tidak bicara terlalu banyak atau Tante akan curiga.
Syukurlah anak itu ikut, kalau tidak, mungkin aku sudah ketahuan. Bukan, Geeta sudah ketahuan.
Meskipun aku tidak yakin apakah makluk itu adalah Geeta atau bukan.
“Masuklah, Agni. Kamu sudah sarapan?” sapaku pada anak Tante.
Aku harus membalas kebaikannya!
Agni tersenyum malu-malu dan melangkah masuk setelah ibunya.
“Dia sengaja ga makan di rumah begitu denger Tante mau ke sini. Katanya mau makan sama kamu!” sahut Tante.
Pipi anak itu memerah. “Ibu!”
Aku tertawa dan mengusap kepalanya pelan.
“Benarkah? Kalau begitu terima kasih karena mau menemaniku.”
Sekarang telinganya juga ikut memerah. Haha, lucu sekali.
“Eh?! Hannie!”
Aku dan Agni terperanjat begitu mendengar pekikan Tante.
Untuk beberapa detik, aku masih belum menyadari penyebab Tante bereriak. Tapi, begitu melangkah ke dapur, aku baru ingat kalau di sana banyak makanan tercecer.
Sekali lagi, aku mendecakkan lidah pagi ini. Aku lupa membersihkan bekas makan makhluk itu.
“Hannie! Ada apa ini?!”
Tante menatapku jijik, terkejut, dan marah. Tentu saja, rumah yang dia jaga sepuluh tahun terakhir berubah jadi kapal pecah dalam semalam.
“A-Aku bisa jelaskan…” jawabku sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
...…...
“Apa?! Musang?”
Aku membawa mereka, -Tante dan putrinya- ke ruang tamu. Karena tidak mungkin aku membersihkan dapur saat ini juga.
Tante melongo mendengar ceritaku.
Ya, aku berbohong lagi. Rasanya benar-benar tidak nyaman! Tapi aku juga tidak mungkin cerita yang sebenarnya.
Mungkin saja, sebenarnya aku bisa cerita yang sebenarnya. Tapi, aku ingat Nenek tampak sangat menyayangi makhluk itu.
Dan aku juga tidak mau dianggap gila, kalau-kalau mereka tidak percaya ceritaku dan Diwa tidak mau menunjukkan wujud aslinya.
“Jadi, kamu berhasil ngusir musang itu?” tanya Tante lagi. Memastikan.
Aku mengangguk. “Agak sulit. Tapi dia sudah memakan sebagian besar stock makananku.”
Tante menggeleng dan memijat pelipisnya.
“Udah Tante duga kamu ga seharusnyah tinggal sendiri di sinih. Mau Tante carikan asisten rumah tangga?”
Aku mengerjap dan buru-buru menolak tawaran itu.
“Ga usah Tante. Makasih. Aku beneran gapapa,” ujarku sambil mengangkat tangan di depan dada.
Mengganti topik, aku mempersilahkan mereka untuk makan cemilan seadanya. Aku juga memakan sarapan yang dibuat Tante.
“Tapi kakak ga luka?” tanya Agni.
Ah, kenapa kau harus membahas perihal musang lagi.
Aku mengangguk dengan senyum dipaksakan. Ayolah Agni, sebelumnya kau membantuku.
Aku menghela samar. Kalau kita terus membahas hal ini, aku juga harus terus berbohong.
“Iya, nanti Hansa pikirin ya Tante,” sahutku. Kemudian menuangkan teh untuknya.
Beberapa menit ke depan, kita terus membicarakan musang. Sampai Tante bilang kalau beberapa tetangganya juga mengalami hal yang sama.
Katanya dia akan memanggil pengendali binatang atau apalah itu. Hahh, aku jadi semakin merasa bersalah.
“Tapi, Hansa. Apa kamu tahu soal Diwa?”
Aku tersedak seketika.
“Eh- eh. Minum atuh minum,” titah Tante cemas.
Aduhh, kenapa dia malah membahas Diwa?!
Setelah meneguk segelas air, aku tersenyum lelah.
“Diwa?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Iya, Diwa!” Tante meletakkan sepotong donat yang sudah digigit ke atas piring. Kemudian wajahnya berubah serius.
“Katanya dia suka nyulik anak kecil. Ga anak kecil aja sih, orang dewasa atau remaja juga, kalo deket-deket sama rawa bakal diculik.”
Aku berhenti makan dan mendengarkan ceritanya.
“Dulu, waktu kamu baru lahir. Tante iketin kamu pita merah di kaki sama tangan. Kata orang-orang biar ga diculik kalo bayi. Tapi téh, dilepas sama Nenek kamu!”
Aku termangu. Ternyata ada cerita seperti itu? Ternyata Tante sudah mengenalku sejak bayi?
Sebenarnya sejak kapan Nenek dan Tante berteman?
“Terus yah, malem-malem kamu téh nangis waktu itu. Kata beberapa orang yang lewat, ada makhluk yang berenang ke dasar rawa. Ih serem yah! Untung kamu ga diculik.”
Tunggu, apa? Ada yang pernah lihat selain aku?
“Apa Ayah sama Bundaku lihat?”
Tante menggeleng. “Ga ada yang liat di rumah ini mah. Mereka juga pada ga percaya begituan.”
Kalau begitu, Ayah tidak tahu? Lalu kenapa Nenek mengenalkanku pada Diwa tapi Ayah tidak? Ayah kan anaknya.
“Kalo Tante? Apa Tante pernah lihat?”
Tante menggeleng. “Sayangnya Tante sendiri juga belum pernah liat euy!” katanya terkekeh.
Aku mendengus. Dia cerita dengan sangat meyakinkan tapi sebenarnya belum pernah lihat.
“Kalau gitu cerita tentang Diwa hanya mitos.”
Tante menatapku dengan pandangan tidak terima. Matanya menatap lurus ke mata kelabuku.
“Kau dan Nenekmu itu sangat mirip.”
Aku mengerutkan kening tipis.
“Bahkan kalimat yang kalian lontarkan sama.”
Kerutan di dahiku semakin jelas. Apa? Kenapa tiba-tiba Nenek?
“Miss Sophie juga menganggap cerita Diwa ini hanya mitos.”
Kali ini pandangan Tante jatuh ke bawah. Tepatnya pada kalungku yang kusembunyikan di balik kaus.
Aku tidak bisa membaca pikirannya. Kemana arah perbicangan ini? Kenapa tiba-tiba atmosfernya berubah tegang?
“Hansa.”
Refleks aku menegakkan punggung. Nada bicara Tante berubah. Dia tidak memanggilku dengan nama panggilan.
“Apa kamu tahu kenapa Tante sangat percaya pada kisah Diwa ini? Kamu pasti berpikir Tante sangat antusias dengan bodohnya tanpa tahu kebenaran, kan?”
Aku menelan ludah. Ada apa sebenarnya?
Tante tersenyum –tidak, lebih tepatnya menyeringai. Dia memandangku dalam, sampai rasanya pandangan itu menembus sampai ke jiwaku.
“Nenekmu itu, Miss Sophie, kau tahu gosip apa yang menyebar tentangnya?”
Aku menggeleng.
Anak bungsu Tante tampaknya sudah tahu ‘gosip’ ini. Sungguh? Bahkan setelah Nenek meninggal gosipnya masih ada?
“Kalau begitu biar Tante beri tahu.”
Tante mendekatkan diri padaku. Tubuhnya condong ke depan.
“Miss Sophie digosipkan sebagai satu-satunya orang yang memelihara Diwa.”
Mataku melebar. Aku termangu. Bukan karena perkataan Tante.
Tapi karena ‘Diwa’ yang mengintip dari balik jendela ruang tamu.
.
.