Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter II



DUARR!!!


Ribuan konfeti melayang di udara. Petasan meledak di sana sini, menghiasi langit biru siang itu.


Sekarang aku sudah lulus sarjana. Seperti kataku sebelumnya, aku kehilangan ingatan masa kecilku di usia sepuluh tahun.


Aku melupakan kisah-kisah dongeng, imajinasi tingkat tinggi, hantu, vampir, dan lain sebagainya.


Tapi, di usiaku yang ke delapan belas. Aku kembali mengingat semua itu, setelah membaca salah satu buku novel karangn penulis terkenal abad ini.


Tulisannya yang bergenre fantasi membangkitkan ingatanku. Mengingatkanku pada kenangan-kenangan bersama Nenek.


Setelah itu, aku mulai menulis. Banyak yang memuji tulisanku, jadi kuputuskan untuk kuliah jurusan sastra.


“Hannie!”


Aku menoleh. Itu Bunda. Walau sudah beberapa tahun terlewati, dia masih terlihat muda dan sehat.


Malah ada orang-orang yang salah mengira Bunda adalah kakakku, bahkan pacarku. Se-awet muda itu Bunda.


“Bunda, jangan lari-lari. Ingat usiamu, nanti kalo pegel-pegel Ayah ga mau mijitin,” seru Ayah dari belakang.


Mendengar itu Bunda menekuk bibirnya.


“Jahat. Ga usah ngomong gitu di depan umum dong!”


Aku tersenyum tipis melihat kelakuan mereka. Rasanya mereka seperti bukan orang tuaku.


Maksduku, mereka kadang jauh lebih kekanakan dariku. Melompat dan berlarian saat sedang gembira.


“Berisik! Yang harusnya paling bahagia sekarang itu kakak!”


Adik perempuanku muncul dari balik badan Ayah. Sepertinya dia ikut berlari. Senyumku semakin lebar.


Gadis kecil bermata abu-abu dengan rambut pirang itu kini beralih menatapku.


“Kakak! Selamet udah lulus ya! Sekarang kakak ga menderita lagi dan bisa tidur nyenyak tiap malem.”


Aku tidak bisa tidak tertawa mendengarnya. Aku berjalan menghampiri gadis itu dan berlutut. Mensejajarkan tinggi kami.


Dia baru berusia sepuluh tahun. Kemarin hari ulang tahunnya, mereka tiba-tiba datang ke kosanku dan merayakan ulang tahun di sana.


Tentu, pemilik kos tidak keberatan. Asal ada makan-makan gratis, semuanya ‘oke’.


“Terima kasih ya, Zihan.”


Aku mengusap rambut adikku lembut. Dia tersenyum lebar, sampai deretan giginya terlihat.


“Hm!” Angguknya pasti.


Aku tertawa kecil. Dia sangat menggemaskan. Aku rela melakukan apa saja demi menjaga senyuman itu.


“Hei, ayo foto! Yang lain udah pada foto tuh,” ajak Bunda.


Aku berdiri menuruti ajakan Bunda.


“Minta fotoin siapa ya?” tanya Ayah sambil memandangi kamera.


“Selfie aja!” sahut Zihan.


“Mana bisa! Emangnya hape, selfie.”


Aku mendengus geli mendengar perdebatan kecil mereka.


“Dibalik aja, sini.” Aku mengambil alih kamera dari tangan Ayah.


Kemudian membaliknya, sehingga lensa menghadap ke wajah kami.


“E-Emang bisa?” Bunda tidak yakin.


“Bisa!” sahut Zihan tidak sabar.


“Siap ya… 1… 2!”


CKREK!


“Lah, kok ga ada tiganya?” protes Bunda.


“Ayah belom siap!!!”


...…...


Aku menarik napas dalam, dan menghembuskannya perlahan untuk yang ketiga kali.


Kami sudah kembali ke Jakarta. Setelah pesta kelulusan, Ayah dan Bunda mengajakku kembali.


Ya, baiklah. Aku tidak menolak. Tapi sekarang, ada tempat yang ingin kutuju.


“Hannie! Makan siangnya udah siap!” seru Bunda dari dapur.


Aku berada di lantai atas, di kamarku. Begitu mendengar seruan Bunda, aku menggigit jari.


Sudah kutetapkan. Aku akan tanya sekarang. Tidak. Aku akan memohon sekarang.


Aku turun menuju dapur yang berada tepat di ujung tangga. Ayah dan Zihan sudah duduk di meja makan.


Mereka berdua sangat mirip, apalagi kalau soal makanan. Kadang aku bingung, kemana larinya semua makanan itu di dalam tubuh mungil Zihan.


Walau sudah makan banyak, Zihan tidak pernah terlihat gemuk.


Aku menelan ludah dan mengangguk.


Harus kukatakan sekarang. Kalau tidak, aku tidak tahu lagi kapan waktu yang tepat.


Aku duduk berhadapan dengan Ayah, dan Bunda di sampingku.


Ayah memimpin doa seperti biasa, kemudian mempersilahkan kami untuk menyantap makanan. Sudah lama sekali aku tidak makan bersama mereka.


“Makan yang banyak Hannie. Selama ngekos kamu pasti makannya ga bener. Mangkannya jadi kurus gini.”


Bunda mengambilkan aku nasi yang… sangat banyak. Lalu meletakkan ayam, tempe, tahu, sayur, udang tepung, jamur tepung, dan—


“Udah, Bun. Nanti kebanyakan,” selaku.


Kalau tidak kuhentikan Bunda bisa memasukkan semua masakannya ke atas piring.


Bunda menghentikan gerakannya dan tersenyum. “Tapi nanti nambah ya.”


Mendengar kalimatnya, seperti biasa aku hanya bisa tersenyum.


Banyak yang bilang senyumku mirip Bunda. Lembut dan terlihat tulus.


Aku bersyukur atas itu, karena walau aku memaksakan seulas senyum, akan tetap terlihat tulus. Orang-orang sering terkecoh.


Lahapan yang pertama, aku memuji masakan Bunda. Lahapan kedua, aku masih menikmati makanannya. Lahapan ketiga, kuperhatikan gerak-gerik Ayah.


Sepertinya aku harus menunggu sampai mereka selesai makan.


...…...


Selesai makan, Zihan mengangkut piring dan gelas kotor ke wastafel. Membantu Bunda mencuci piring.


Kali ini kesempatanku. Aku berdeham menarik perhatian Ayah.


“Ayah, aku sudah lulus. Dan, aku sudah nerbitin tiga buku selama empat tahun terakhir.”


Ayah meletakkan koran lamanya dan menatapku. Mendengarkan apa yang aku ingin.


Melihat itu, aku melanjutkan, “Sekarang aku mau menulis buku keempat. Aku mohon, biarkan aku tinggal di rumah Nenek.”


Detik itu juga Bunda menjatuhkan piring yang sedang ia cuci. Aku dan Ayah terperanjat.


Untung saja piring plastik.


“Kenapa?!” tanya Bunda tidak rela.


Aku sudah menduga reaksinya akan seperti ini.


“Hannie, kamu baru aja balik ke Jakarta. Kamu ga betah lagi tinggal sama Bunda?!”


“Kakak mau pergi lagi?”


Aku kewalahan dengan Bunda dan Zihan yang saling merengek memintaku untuk tidak pergi. Tapi tekadku sudah bulat.


Bunda memelukku erat. Berusaha untuk menahanku. Sementara Zihan, dia memegangi tanganku erat-erat.


“Tapi, kita juga udah lama ga ke sana kan. Kalo rumahnya ada yang ngurus bukannya lebih enak?”


Ayah memegang dagunya, berpikir.


“Tapi, nak. Kenapa harus di sana?”


Aku terdiam sejenak. Alasanku? Entahlah. Aku hanya rindu pada Nenek.


“Aku mau menjaga memoriku bersama Nenek.”


Ayah menatapku dalam sunyi, dengan tatapan aneh.


“Kamu sudah melupakannya.”


Kalimat yang keluar dari mulut Ayah barusan membuat dadaku terasa agak nyeri.


Dia benar, setelah kepergian Nenek secara tiba-tiba ingatanku menghilang.


Mungkin saking tidak inginnya aku sakit hati. Otakku terpaksa mengubur seluruh ingatan itu.


“Aku mulai ingat setelah membaca sebuah novel. Latarnya pedesaan, entah bagaimana aku mulai ingat pada Nenek.”


Nada suaraku bertambah serius.


“Ayah, aku ingin menggali ingatanku lagi.”


Bunda berhenti memelukku. Dia tahu sedepresi apa aku setelah kehilangan Nenek.


Pamanku bilang, aku seperti tak bernyawa. Pandanganku kosong, dan aku hanya menggumamkan ‘Nana… Nana… Nana…’


Dan itu terjadi selama dua tahun, sampai Zihan lahir.


Kurasa Bunda takut hal yang sama akan terjadi. Tapi, kali ini berbeda. Aku sudah lebih terkendali.


“Bunda, aku mohon,” pintaku dengan mata memelas.


Aku yakin Ayah tidak masalah, tapi Bunda. Dialah yang akan mencegahku mati-matian.


.


.