Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter LVI



“APA?!”


Aku menjauhkan ponsel dari telinga. Teriakan Bunda saat sedang marah bisa mengalahkan suara speaker. Sudah seperti ledakan bom.


“Aku ga tau kenapa Zihan pergi tanpa izin. Nanti langsung aku anter lagi ke rumah ya?” jawabku dengan suara memelan tiap katanya.


“Jangan nanti. Antar dia se-ka-rang!”


Untuk yang entah keberapa kali, aku menelan ludah. Bunda yang sedang marah lebih menyeramkan dari apapun. “I-Iya… nanti Hansa anter. Eh- maksudnya sekarang. Iya sekarang.”


Zihan langsung meremat kausku kesal. “Kok gitu sih?” bisiknya.


Aku memberi isyarat diam padanya, dan bicara lagi dengan Bunda. “Yaudah Bunda. Nanti kutelepon lagi.”


“Pastikan kamu bawa dia pulang tanpa luka segorespun ya?!”


Aku mengangguk-angguk walau sadar Bunda tidak akan bisa melihatnya. Kemudian menutup telepon.


“Kenapa ga izin? Terus ngapain juga kamu ke sini?” semburku begitu selesai bicara dengan Bunda.


Zihan langsung mundur selangkah, agak ketakutan. “Abis, aku tau Bunda sama Ayah ga bakal izinin.”


“For your information, gue ga nyulik dia loh, Han. Ade lo sendiri yang minta gue anterin ke sini. Katanya dia gatau cara lain,” sela Ran dengan kedua tangan di angkat ke udara. Takut disalahkan.


Aku menepuk dahi dan menggeleng singkat. “Kita pulang dulu aja.”


“Ke Jakarta?!” Zihan langsung histeris.


Aku mendesah dan menyentil dahi Zihan gemas. “Ke rumah Nenek. Mending kamu diem dulu sebentar. Kepala Kakak jadi seratus kali lebih pusing sekarang.”


.........


Geeta tak henti-hentinya memandangi adikku selama perjalanan kembali ke rumah Nenek.


“Kak, kenapa dia melototin aku terus kayak gitu?” bisik Zihan merinding.


Aku hanya mendengus geli. Sebelum masuk ke mobil, Geeta berbisik padaku. Katanya, Zihan sangat mirip dengan Paman. Hanya saja versi perempuan dan lebih kecil.


Memang sih, dari semua keturunan Nenek, hanya Zihan dan Paman yang sangat mirip dengannya. Mata kelabu, rambut pirang, dan kulit putih pucat.


“Kita sampai, ini pertama kalinya kamu ke rumah Nenek kan?” tanyaku pada Zihan sembari melepas sabuk pengamannya. Zihan paling tidak suka duduk di kursi belakang. Dia hanya ingin duduk di kursi depan samping supir.


“Iya. Rumahnya lebih bagus dari yang aku bayangin.”


Aku tertawa kecil. “Emang kamu bayanginnya gimana? Rumah tua kayak gubuk gitu?”


Zihan hanya terkekeh, dan menggaruk kepalanya. Kemudian turun dari mobil. Tidak lama Ran menyusul dan memarkir mobilnya di samping mobilku.


“Wah! Gile, berasa ke luar negeri. Ini rumah nenek lo, Han? Ala-ala Eropa banget ya?” komentar Ran begitu turun dari mobilnya.


Tanpa berlama-lama, aku langsung membawa mereka masuk. Om Dien yang entah bagaimana turun ke ruang TV sendirian, memandangi kami penuh dengan tanda tanya.


Sama denganku saat melihatnya bersantai di sofa. “Om! Kok bisa ke bawah? Gimana caranya? Sendirian?”


Om mendecak dan meletakkan segelas kopi yang sepertinya dia buat sendiri juga. “Ya iyalah. Kaki Om cuman cedera bukannya lumpuh, Han. Lagian bosen amat di kamar sendirian. Mana sepi.”


Om mengalihkan pandangannya pada dua perempuan yang berdiri di ujung ruangan. “Siapa?”


Aku mengikuti arah pandangnya dan mengenalkan mereka. “Ini adikku, Zihan. Ini Rania, temanku.”


“Temanmu cewek semua ya?”


Aku mengabaikan komentar Om dan melanjutkan perkenalannya. “Mereka ke sini karena Zihan ingin ketemu aku. Ga tau apa motifnya tiba-tiba pengen jenguk kakaknya.”


Zihan mendengus dan membuang muka.


“Yang pasti, Ran cuman nganterin adikku ke sini. Tapi adikku ini ga izin dulu sama orang tuanya buat jenguk aku.” Aku menghela. “Jadi aku dimarahin. Tamat.”


Om tertawa kecil dan memandangi orang-orang baru itu. “Menarik-menarik. Anak-anak jaman sekarang sudah tahu caranya kabur dari rumah ya? Kamu ada masalah? Kenapa tiba-tiba kabur?” Om bicara pada Zihan.


“Aku ga kabur!” pekik Zihan tak terima. “Cuman… cuman….”


“Cuman apa?” Aku ikut memprovokasi.


Om menjentikkan jari paham. “Oh, jadi kamu merasa ga adil karena kakakmu bisa tinggal di sini? Sementara kamu, berkunjung aja ga boleh?”


Zihan berpikir sejenak. “Ga juga sih. Karena Kakak bisa tinggal di sini, aku malah seneng. Aku bisa kabur, terus ke sini diem-diem kan? Kalo Kakak ga disini, nanti siapa yang jagain aku?”


“Dih, emang Kakak mau jagain kamu?” sambarku cepat.


Zihan memberengut dan memukul lenganku kencang. “Yaudah! Zihan pulang lagi aja!”


“Yaudah sana, malah enak Kakak gausah repot-repot anterin kamu.”


Jelas sekali pipi Zihan memerah karena emosi. “Yaudah ayo Kak Ran! Kita pulang!”


Ran yang baru saja menerima minuman dari Geeta, tersenyum jahil. “Dih, kamu kok yakin banget aku mau nganterin pulang lagi? Capek tau!”


Zihan menggeram dan menghentakkan kakinya. “Emang Kak Ran mau di sini selamanya?!”


Setelah menenangkan Zihan, aku kembali menelepon orang rumah. Kali ini aku menelepon Ayah. Kalau Bunda, sudah pasti dia akan meneriakiku lagi.


“Begitu? Hmm….” Ayah terdengar sedang berpikir. “Yaudah, antar dia besok atau lusa.” Ayah berhenti sejenak dan menghela. Sepertinya Bunda sedang memelototi dia.


“Pastikan Zihan ga tergores sedikitpun ya? Kembalikan berlian bundamu itu dalam keadaan sempurna. Kalau engga kamu akan kena denda.”


Aku tertawa kecil dan mengakhiri panggilan. “Zihan, kamu cuman bisa nginep semalam ya?”


Zihan langsung menoleh cepat. “Semalem?! Sekarang aja udah sore. Masa cuman sebentar?”


Aku menghampiri anak itu dan menyentil dahinya. “Terus gimana? Kamu mau di sini sampe kapan hah? Sekolahmu gimana?”


“Gausah sekolah!”


Aku mendengus dan melipat tanganku. “Kalo besok ga pulang, hari-hari selanjutnya kamu disini cari makan sendiri. Kakak ga mau bantuin.”


“Lah kok gitu?!”


“Ya mangkannya mending kamu pulang!” Suaraku meninggi ikut terbawa suasana.


Zihan berhenti membalas kata-kataku. Pipinya dikembungkan tanda dia ngambek. Sejujurnya, kalau bukan karena sifat jelek yang keras kepala itu Zihan adalah anak yang manis dan menggemaskan.


Aku tidak bisa membayangkan betapa pusingnya Bunda yang setiap hari, setiap saat selalu bersamanya 24/7.


“Pokoknya liat besok. Untuk sekarang keputusan Kakak masih sama. Kamu cuman bisa nginep semalem.” Aku memberi penekanan di akhir kalimat.


Geeta yang memperhatikanku sejak tadi sepertinya tidak setuju dengan yang aku lakukan.


“Kenapa?” balasku menatapnya.


Geeta menekuk bibirnya dan menghampiri Zihan. “Kamu bisa tinggal di sini kalo kamu mau.”


Aku, Om, dan Ran langsung menoleh ke arah Geeta bersamaan. “Ga bisa!”


...…...


Setelah pembelaan yang diberikan Geeta beberapa saat lalu, Zihan jadi menempel terus padanya. Hanya dalam hitungan detik dua makhluk itu sudah akrab seperti teman lama.


Tapi aku cukup lega dengan itu. Zihan jadi tidak peduli bagaimana aku dan Geeta bertemu sebenarnya. Dia percaya saja kalau kami bertemu di kampung halaman Nenek.


“Kak Geeta juga suka es krim?” Mata Zihan bersinar terang. Entahlah, rasanya Zihan selalu mengspesialkan orang yang menyukai es krim.


Geeta mengangguk semangat. “Suka banget! Besok Hannie bakal beliin buat kita!”


Zihan memiringkan kepalanya heran begitu mendengar panggilan Geeta untukku. Ah! Aku lupa bilang padanya!


“Hannie? Kok Kak Geeta bisa tahu nama panggilan itu? Kalian bener udah lama kenal ya?” Suara Zihan penuh dengan kecurigaan.


Aku sampai menahan napas saking paniknya.


.


.