
“Gila kali itu orang! Jual ayam sok banget. Dah gitu ngomongnya kaga beradap. Sialan emang,” desis Paman kesal.
Sejak menyeberang tadi, dia tidak berhenti menggerutu sendiri.
Sekarang, kita sedang arah pulang di dalam mobil. Berkali-kali Nenek mencoba menenangkannya agar menyupir dengan benar.
Tapi itu tidak berpengaruh sama sekali.
“Udahlah, om-om tadi kayaknya kesel banget waktu Paman bilang ‘cepet sembuh’.”
Nenek menoleh menatapku. “Pamanmu bilang apa?”
Aku mengidikkan bahu singkat. “Kata Paman, ‘Saya transfer lebih, buat abangnya berobat’. Terus, ‘Cepet sembuh, ya’. Gitu….”
Aku melirik Paman yang sedang menyupir di kursi depan. Dia jadi agak seram. Baru kali ini kulihat dia semarah itu.
Nenek mendengar jawabanku bukannya terkejut malah tertawa lepas.
“Wahh… Ren, kamu sungguh berbakat. Teruslah begitu pada orang-orang kurang ajar.”
Nenek mengelap air mata di ujung matanya. “Ibu pikir cuma May yang berani begitu.”
Paman mendengus. “Ya engga lah. Justru cara May lebih ga keren. Dia mah langsung nge-gas. Kurang elegan.”
Agaknya aku tertegun melihat respons mereka yang di luar dugaan.
Nenek yang mendukung tindakan Paman, dan para asisten rumah tangga yang tampak tidak terkejut. Termasuk Eli.
“Wah… nge-gas itu perlu ya Nek?”
Nenek dan Paman langsug terdiam. Pasalnya mereka selalu mengajarkanku untuk tetap tenang bagaimanapun situasinya.
Nenek berdeham. “Bukan begitu, tapi kamu ga bisa diem aja kalo ketemu orang yang kurang ajar. Apalagi kalo ngomong sama kamu.”
“Intinya jangan biarin orang-orang ngeremehin kita, Han,” timpal Paman.
Aku ber-oh kecil, dan mengangguk.
Kutatap Eli sejenak, dan dia balas menatapku sambil tersenyum dan mengangguk juga.
Seakan mengatakan, ‘Ya, itu benar’.
...…...
Sampai di rumah aku tidak langsung masuk ke dalam seperti biasa. Aku mendekati bagasi mobil. Menunggu Paman membukanya.
“Awas, Han. Nanti kamu kena.” Paman menitahku untuk mundur sedikit. Takut terdorong pintu bagasi mobil.
Paman mengeluarkan kandang ayam yang tadi kita beli di pasar. Kalau dilihat dari jarak sedekat ini, aku baru sadar kaki ayam itu berdarah.
“Nek! Kaki ayamnya berdarah!” seruku begitu melihat cairan merah menetes dari kandang.
“Wah, benar. Kakinya luka.” Nenek menutup mulutnya dengan tangan.
“Ren, cebat bersihkan dan beri ayam itu obat.”
Mendengar suruhan Nenek, Paman terkejut.
“Obat? Obat apa?” tanyanya bingung.
Nenek yang baru saja memijakkan kakinya di ruang tamu berbalik dan mendecak.
“Bawa ayam itu ke vet. Terus tanya apa obatnya,” sahut Nenek, kemudian berbalik dan melangkah masuk dengan cepat.
Aku menarik ujung jaket Paman. Dia menoleh. “Kenapa?”
“Aku… boleh ikut?” tanyaku ragu dengan wajah memelas.
Setelah kejadian aku pingsan di halaman belakang saat main dengan Paman waktu itu, dia jadi tidak berani jalan-jalan denganku lagi.
Maksudnya tanpa orang lain yang ikut menjagaku. Dia tidak berani mengajakku pergi sendirian.
Paman berpikir sejenak, dan menatap Ayah yang tengah sibuk merawat Nenek di dalam rumah.
Dia mendesah, dan berkata. “Boleh, asal kamu janji ga akan lepasin tangan Paman. Oke?”
Aku mengangguk pelan. Paman tampaknya kurang puas dengan responsku itu.
Dia berlutut dan mengacungkan cari kelingkingnya di depanku.
“Promise me?” tanyanya lagi.
Aku menahan senyum dan mengaitkan jari kelingkingku di kelingkingnya.
“Yes.”
Paman tersenyum puas dan berdiri. “Okay! Let’s go then.” Dia menjulurkan tangannya. Aku meraih uluran itu, dan kami pergi ke dokter hewan.
Tanpa Eli. Hanya aku dan Paman.
...…...
Sang ibu duduk di sofa menuruti permintaan anak sulungnya.
Sang ibu menghentikan gerakan tangan wanita yang tiba-tiba memijiatnya itu. “Ga apa-apa, Anitta. Ibu paham.”
“Dimana Hansa?!”
Sang ibu tersentak begitu mendengar teriakan putra sulungnya yang menggelegar.
“Eli! Dimana Hansa, hah?! Kenapa dia belum masuk?!”
Salah satu asisten rumah tangga yang bertanggung jawab menjaga putra kecil si sulung itu langsung gelagapan.
Dia melongok ke halaman depan rumah dan tak menemukan sosok kecil bermata abu-abu itu.
“Sa-Saya yakin tadi Hansa ada di belakang saya, pa—”
“Alasan!”
Si sulung menggebrak meja bufet dengan sangat keras. Sampai asisten rumah tangga itu gemetaran.
“RADI!”
Seruan sang ibu langsung membuat si sulung terdiam. Dia mendecih dan meminta yang lain untuk mencari putra semata wayangnya itu.
“Cari Hansa sampai ketemu. Kalau tidak….” Dia melirik sinis asisten-asisten rumah tangga lain yang dia sewa sendiri untuk menjaga ibunya.
“Kalian tahu akibatnya kan?”
Si sulung berjalan ke lantai atas sambil memainkan ponselnya. Menelepon seseorang.
Sang ibu yang masih duduk di sofa mengatur napasnya berat. Dia sudah menahan napas sejak putranya mulai mengamuk tadi.
“Ibu ga apa?” tanya istri si sulung khawatir.
Sang ibu mengangkat sebelah tangannya. Tanda dia baik-baik saja. Kemudian meminta segelas air.
“May, beri tahu Radi kalau Hansa kemungkinan besar ikut dengan Reno ke dokter hewan,” pesan sang Ibu pada anak keduanya yang sedang menyiapkan segelas air.
...…...
Aku turun dari mobil dan langsung mendekati Paman yang sedang mengeluarkan ayam tadi.
Hari sudah hampir malam. Aku tidak mengira kalau dokter hewan bisa seramai itu.
“Paman, nanti kalau aku sama Paman pulang ke rumah masing-masing. Siapa yang jaga ayam ini?”
Paman yang wajahnya entah kenapa berubah pucat hanya menjawab singkat. “Eli,” katanya.
Aku mengangkat alis. Memangnya sudah buat perjanjian dengan Eli untuk merawat ayam ini?
Setahuku Eli tidak terlalu suka memelihara sesuatu. Aku menatap ke depan dan baru menyadari kalau Ayah sudah menunggu di ambang pintu depan.
Aku menelan ludah. Wajah Ayah terlihat sangat marah.
Kalau tidak salah, tadi Paman bilang ponselnya mati dan tidak sempat izin ke Ayah untuk membawaku.
Aku berlari kecil menghampiri sosok pria bertubuh tegap itu. “Ayah, aku—”
“Masuk,” potongnya tanpa permisi.
Suaranya jauh lebih berat dari yang biasa aku dengar. Penuh dengan penekanan, dan dia bahkan tidak menatapku sama sekali saat mengatakan itu.
Aku tidak menyerah dan berusaha untuk membujuknya lagi. Aku tahu Ayah akan memarahi Paman.
Terakhir setelah aku pingsan saat melihat Geeta untuk pertama kali, mereka bertengkar sampai seminggu.
Ayah menganggap hal itu adalah kesalahan Paman. Padahal karena aku yang memang kelewat penasaran. Semuanya bukan karena Paman!
“Ayah, dengar dulu—”
“Ayah bilang, masuk!” titahnya, kali ini sedikit berteriak.
Dia masih tidak menatapku. Ayah benar-benar marah. Kalau begini tidak akan ada yang bisa membujuknya.
Aku melirik Paman yang berhenti melangkah di depan pintu. Wajahnya semakin pucat. Tangannya agak berkeringat.
Dia bukannya takut pada Ayah. Tapi dia takut hubungan mereka semakin renggang tiap kali bertengkar.
Kenapa aku tahu itu?
Sebenarnya, aku pernah tidak sengaja mendengar percakapan Bunda dan Paman sehari sebelum dia berbaikan dengan Ayah waktu itu.
Katanya dia takut hubungan mereka merenggang karena suatu pertengkaran.
Aku mendesah pasrah. Kalau Ayah marah pada seseorang, dia akan sulit memaafkannya.
Paman menatapku sejenak dan tersenyum tipis. Kemudian mengangguk.
‘Gapapa’ dia seakan mengatakan itu.
.
.