
Aku melotot mendapati kepala ‘Diwa’ yang muncul di balik jendela. Apa yang dia lakukan?!
“Jadi, Hansa. Bagaimana menurutmu? Apa Miss Sophie benar-benar memelihara Diwa?”
Aku terperanjat sedikit. Dan sepertinya Tante menyadari ketidakfokusanku.
“Kamu teh dengerin Tante ga sih?” tanyanya dengan suara meninggi.
Aku memaksakan seulas senyum.
“Ah, iya dengerin kok. Dengerin.”
Tapi respon Tante malah bertambah buruk. Setelah itu aku baru sadar kalau aku tidak seharusnya tersenyum sekarang.
“Kamu kelihatannya ga terlalu kaget yah.”
Rasanya keringatku sudah mengucur deras. Tante kemudian berbalik perlahan. Posisinya yang tadi membelakangi Diwa, kini akan berbalik.
Buru-buru aku menahannya.
“Ah! Tante!” Aku memegangi lengan kanannya dengan erat.
Tante menatapku heran. Begitu juga dengan Agni. Aku sendiri merasa aneh pada tubuhku.
“S-Soal Nenek… Apa gosipnya sudah berhenti?” tanyaku asal.
Pokoknya Tante tidak boleh melihat Geeta! Itulah yang hatiku katakan.
Tante kemudian tersenyum tipis. “Entahlah,” jawabnya. Kemudian memegang dagu.
“Tapi kamu jangan khawatir. Dia dokter yang hebat, dan dia sudah menumbuhkan kesan yang sangat baik di masyarakat,” lanjutnya.
Aku terdiam sejenak. Cara bicara Tante yang berubah-ubah membuatku bingung. Apakah aku harus percaya padanya… atau tidak?
Apakah dia bisa dipercaya… atau tidak?
Apakah Nenek mempercayainya… atau tidak?
Kemudian aku tersenyum simpul, dan menggenggam kalungku. Terbesit satu kalimat Nenek yang sebelumnya tidak kuingat.
“Apapun itu, selama dia tidak berniat untuk melukai maka tidak masalah.”
Aku mengangkat pandangan dan melihat ke jendela. Diwa sudah pergi. Tidak ada di jendela lagi.
Tante menangkap tatapanku pada jendela. Dia berbalik, dan memandang ke arah yang sama.
Selama tidak melukai, maka tidak masalah… ya?
Aku menatap Tante lagi. “Tante, makhluk apapun Diwa itu. Aku yakin, Nenek tidak akan menjauhinya. Terlepas dari apakah gosip itu benar atau tidak.”
Tante memandangku dalam-dalam untuk sejenak. Kemudian mengulum senyum.
“Ih, kamu mah! Ngeliatinnya jangan gitu atuh. Nanti pagi-pagi Tante udah diabetes.”
Aku tertawa mengikutinya. Aku rasa, aku sedikit mengerti bagaimana Nenek dan Tante bisa berteman.
...…...
Setelah sarapan selesai, Tante dan Agni pulang. Aku memberi mereka sekotak buah apel, yang masih tersisa.
“Aku ga bisa janji, tapi lain kali ku-usahain buat makan di rumah Tante.”
Tante mencibir. “Huu, awas ya kalo ga dateng lagi.”
“Masak sendiri ya, kak!” timpal Agni.
Aku menahan tawa. “Iyaa.”
Setelah mengantar Tante dan Agni ke depan gerbang, aku bergegas kembali ke halaman belakang.
“Kau sudah boleh keluar,” ujarku di tengah-tengah halaman.
Tapi makhluk itu tidak muncul juga. Aku mengerutkan dahi.
Kemana dia?
“Hei! Aku bilang kau sudah boleh keluar, tamunya sudah pulang!”
Makhluk itu tidak keluar juga.
Sebenarnya dimana dia bersembunyi? Kenapa tiba-tiba menghilang?
Aku menghela napas kasar dan berkacak pinggang. Yasudahlah, lagi pula dia makhluk aneh yang aku juga tidak tahu apa.
Aku mengusak rambut pasrah dan berbalik ketika tiba-tiba sekelebat ingatanku muncul.
“Berteman baiklah dengannya.”
Langkahku terhenti seketika. Aku mengingat kalimat Nenek lagi.
“Ck, aku tidak bisa ingat kapan,” desisku.
Kapan dan dimana Nenek mengatakan kalimat itu? Aku tidak ingat, tapi,
sepertinya berhubungan dengan Diwa.
Aku segera berbalik, menatap rawa bersih di balik dinding batu yang telah menjadi pembatas selama bertahun-tahun.
“Suatu hari nanti, Hannie. Tidak akan ada lagi batasan diantara kita.”
“Manusia, dan mereka. Kita sama saja, tidak ada perbedaan.”
Aku membungkuk sembari meremat kepalaku. Walau tidak ingat kapan, dimana, dan bagaimana situasinya. Tapi aku yakin ‘mereka’ yang dimaksud Nenek adalah Diwa.
“Suatu hari nanti Hannie, kamu pasti bisa melakukannya.”
Aku berjongkok. “Agh….” Sakit sekali. Kepalaku seperti ditusuk ribuan jarum di saat bersamaan.
“Suatu hari nanti…”
Napasku tersengal.
“Pasti….”
Keringat dingin melapisi kulitku.
“Kamu bisa membawanya pergi bersama.”
Nenek, aku tidak mengerti. Aku tidak ingat. Apa yang kau katakan? Apa yang kau pesankan?
Aku memukul-mukul kepalaku sekuat tenaga. Berharap rasa sakit ini menghilang.
Karena bersamaan, hatiku juga terasa sakit. Terasa berat. Tanpa tahu alasannya.
“Rahasia selanjutnya, Hannie.”
Aku terbatuk. Dadaku sesak. Udara di sekitarku menipis.
“Kamu, akan segera mengetahuinya.”
Pandanganku memudar. Ingatan selanjutnya, kenapa begitu menyakitkan?
Di tengah rasa sakit tiada akhir itu, sesosok gadis berambut hijau lumut sepinggang mendekatiku dari balik semak-semak.
Dia tampak kotor. Lengan dan kakinya dilumuri lumpur. Samar-samar kulihat ekspresi khawatirnya.
“Hangi….”
Dia berdiri di depanku dengan sepucuk bunga teratai. Diam, tidak melakukan apapun.
Dengan napas tersengal, aku mendongak melihatnya. Iya, aku ingat sekarang.
Bunga teratai.
Di pertemuan kedua dulu, kau juga membawa bunga teratai. Lima belas tahun lalu, satu bulan setelah pertemuan pertama kita.
Geeta, kau memberiku bunga itu.
...…...
Paman memainkan jemarinya dengan percaya diri. Semua pandangan tertuju padanya.
Begitu juga denganku. Melihat Paman bermain piano adalah hobi baruku sekarang.
Aku akui, dia terlihat sangat keren ketika bermain alat musik. Ya, asal kalian tahu, Paman juga jago bermain gitar, biola, terompet, bahkan alat musik tradisional, angklung dan seruling!
Kata Nenek, dulu Paman bercita-cita untuk menjadi seorang musisi. Tapi, entahlah sejak SMA minatnya berubah drastis.
Paman memainkan melodi terakhir dengan penuh semangat. Semuanya bertepuk tangan mengapresiasi.
Paman berdiri dari kursi dan membungkuk. Memberi salam, dan ucapan terima kasih pada penonton.
Malam ini, kita –aku, Ayah, Bunda, Nenek, dan Paman- pergi ke restoran milik teman lama Kakek. Katanya mereka pergi ke universitas yang sama di luar negeri.
“Very, very nice, Ren!” kata pria tua yang mengaku sebagai teman Kakek.
Dia lebih tua dari Nenek, tapi tidak terlihat setua itu. Dia masih sangat sehat. Sementara Nenek sudah disuruh untuk banyak istirahat oleh Ayah.
Apa Ayah berlebihan?
“Thank you. You look great tonight, sir,” balas Paman.
Dia kembali ke meja setelah memainkan lima lagu. Permainan terakhir tadi sepertinya belum cukup juga untuk para pengunjung.
Teman Kakek tertawa dan menepuk punggung Paman keras. “AHAHAHAHA. Kau sama dengan ayahmu kalau soal memuji ya!”
Paman meringis sedikit. Menahan sakit. Walau begitu dia tetap tersenyum.
Kata orang-orang sekitar, Paman adalah anak yang paling mirip dengan Nenek. Dua lainnya mirip Kakek.
Sampai ada yang bilang kalau dia adalah photo copy-nya Nenek.
Mata abu-abu terang, rambut kuning yang mencolok, kulit putih bercahaya. Dia sangat terkenal di lingkungan sekolahnya.
Tapi sifatnya mirip dengan Kakek, katanya sih. Sementara Ayah dan Bibiku sifatnya mirip dengan Nenek.
Aneh? Ya, aku juga berpikir Paman sudah aneh sejak dilahirkan. Baik fisik maupun sifatnya.
Teman Kakek kini menatapku. Dia tersenyum.
“Oh ya, aku belum ngobrol denganmu ya, Tuan Muda.”
.
.