Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XLI



“Hannie!!!”


Aku menoleh ke belakang. Itu Geeta. Tidak langsung berdiri, aku balik menyapanya dengan nada yang tak kalah riang.


“Geeta? Kok akhirnya nyamperin juga, diem-diem apa diizinin?” godaku setelah membiarkannya duduk.


“Izin! Om bohein.”


“Bolehin, Geeta. Bo-le-hin,” tekanku. Kemudian tertawa kecil. “Kamu kadang bisa, kadang engga ngomongnya.”


“Hita juga la-la-la-laaaa…gi belajar, Hannie,” sahutnya dengan cara yang menggemaskan.


“Itu bisa ngomong L. lancarin terus ya.” Aku mengusak kepala Geeta seperti biasa. Biasanya setelah itu dia akan jadi lebih senang dan bersemangat.


“He’em! Hita juga dah jan-ji ama Om.”


“Janji apa?”


Geeta mengacungkan kelingkingnya. “Janji ngomong langcar! Eh-” Dia menepuk mulutnya sendiri, agak keras, sampai membuatku terkejut. “Lan-car! Ah, itu!” ulangnya.


“Kenapa harus nepak mulut dulu sih? Nanti jadi dower loh.” Aku memegangi tangannya dan memeriksa bibir kecil itu dengan seksama.


“Ih, biar Hita inget. Kalo ga hini Hita ga akan inget.”


Aku terdiam sesaat. Mencoba mencari jalan lain untuk membantunya. “Kalo nepuk tangan aja gimana? Atau nepuk paha gitu. Oh, atau nepuk ke bawah aja.” Aku menepuk dataran pasir memberi contoh.


“Gini.”


Geeta menimbang-nimbang. Dia terlihat tidak puas. “Ga ah, ga ngarugh. Gini aja.” Dia menepuk mulutnya lagi.


“Eiih, jangan. Nanti kalo kamu nepoknya kekencengan terus luka gimana?” Aku menahan kedua tangannya lagi.


“Kan ada Hannie. Hannie pasti obahtin Hita!” kekehnya senang.


Aku mendengus tidak percaya. Apa-apaan itu? Belajar dari mana dia kalimat menggoda seperti itu?


“Bisa aja ya. Pasti diajarin Om, nih. Ngegombal begitu.”


Tidak setuju, Geeta menunjuk diriku dengan cepat. “Dahri Hannie juga kok.”


“Aku? Kok bisa aku yang ngajarin? Kapan?”


Dia menekan dagunya. Kemudian menunjuk balkon restoran di seberang area pantai. “Tadi, pas di sana! Hannie juga begituh.”


Aku menahan senyum. “Masa sih? Coba contohin.”


Air wajah Geeta langsung serius. Dia meraih telunjukku dengan kasar dan mendekatkannya ke wajahnya.


“Jahdi jelas kan behdanya, Hita,” tirunya dengan nada yang persis sama.


Aku tertawa lepas. “Ulang lagi! Lagi!”


Geeta langsung menghempaskan telunjukku dan berdiri. “Gamau!” Kemudian pergi mendekati bibir pantai.


“Hei! Jangan deket-deket sama laut! Udah malem ombaknya gede.” Aku ikut berdiri dan menyusul Geeta.


“Geeta, jangan bercanda di bibir pantai!” tegasku sembari mencengkeram pergelangan tangannya. “Ga lucu. Jangan dekat-dekat sama laut di malam hari.”


Geeta tampaknya sangat terkejut. Ini pertama kalinya aku benar-benar memarahi dia.


Mengela napas kasar, aku kembali menariknya ke daerah yang kering. “Di sini aja ya. Kita jalan-jalan di yang pasirnya kering aja,” ujarku lebih lembut.


Gadis dengan mata permata itu mengangguk patuh. Oh, ya. Hari ini Geeta belum melepas kontak lensanya sama sekali.


Aku menghentikan langkah Geeta dan memaksanya menghadapku. “Kamu belum lepas kontak lensanya hari ini. Kita pulang aja ke hotel ya. Nanti mata kamu sakit.”


Kini gantian Geeta yang memegangi pergelangan tanganku. “Gapapa, Hannie.” Dia tersenyum penuh harap. Matanya memelas. “Hita pengin jalan-jalan sebentargh.”


Kalau dilihat dari dekat seperti ini, wajah lembutnya sangat jelas terlihat. Ditambah dengan sinar bulan sebagai hiasanan.


Lagi-lagi, aku ingat Nenek yang sedang memandangku yang masih bayi di dalam mimpi. Tatapan dan senyum lembut mereka, sama.


Hatiku melunak. Aku mengalah, lagi. Tanganku bergerak sendiri melepas kunciran Geeta. Membiarkan rambutnya ditiup oleh angin.


“Hannie?” Geeta mendongak dengan tatapan bingung.


Melihatnya dengan gaun putih sederhana dan rambut yang mulai menggelitik wajah kecilnya itu membuatku terpesona.


Aku memeluknya dan membenamkan wajahku pada rambutnya yang ternyata jauh lebih lembut dari yang aku duga. Sama sekali tidak terasa seperti rambut manusia.


Tubuh ramping Geeta menegang. Dia merasa agak tidak nyaman dengan perilakuku yang tiba-tiba. “Hannie, kenahpa?”


“Aku jadi lebih kangen sama Nana gara-gara kamu,” bisikku di telinganya. Sebenarnya aku merasa wajahku mulai memerah, jadi kusembunyikan dengan cara yang menurutku saat ini paling natural.


“Nana?”


Aku mengangguk. “Nenekku. Dulu aku panggil dia Nana. Tapi tiba-tiba dia sendiri yang ngerubah panggilannya jadi Nenek.” Aku melonggarkan pelukan.


“Kamu sendiri manggil nenekku apa?”


Geeta ragu sejenak dan menjawab, “Nonna.”


“Nona?”


“Nonna,” ulangnya membetulkan. “Hita dengar orang-orang panggih Sohpi Nonna.”


Kerutan di dahiku mendalam. Siapa yang manggil Nonna ya? Seakan memahami kebingunganku, Geeta kembali menjelaskan.


“Ituh looo, cewe-cewe pakeh bajuk rapih! Terusan kayak Hita ini!”


Baju terusan sepertinya?... Oh!


“Maksud kamu asisten rumah tangga yang dulu ya? Banyak kan cewe-cewe yang kamu maksud?”


Geeta mengangguk kuat. “Iyah! Meheka bantuin Nonna bikin inih itu! Bahwain kueh, bahwain jaked, bergsih-bergsih juga!”


Aku menahan tawa melihatnya menghitung dengan jari. “Iya, mereka panggil Nenek, Nona. Bukan Nonna. Kalo Nonna artinya Nenek.”


“Iyah, mang Nonna yang surugh panggil Nonna. Bukan Nona.” Geeta melebarkan matanya.


Oh? Berarti Nenek sengaja menggantinya. Haha, benar-benar tidak ingin membuat batas ya.


“Berarti Nenek sengaja. Dia mau buat ikatan kalian lebih kuat. Kalo kamu manggil dia Nona, pasti kesannya kayak ada jarak gitu.” Aku tersenyum lembut. “Dia beneran sayang sama kamu.”


Geeta menggeleng. “Nonna lebih sayang Hannie. Sehtiap Hannie pergi, Nonna pasti sedih. Jarangh senyum kayak waktu sama Hannie.”


Pernyataannya membuatku membeku. Aku tidak tahu kalau Nenek begitu.


“Beneran?”


“Iyah!” angguknya. “Nonna bakal senyum lagi pas Hannie datang.”


Wah, kalau begitu setiap Nenek bilang dia kesepian saat aku di Jakarta itu benar ya? Maksudku, aku tidak menyangka dia benar-benar kesepian. Kupikir Nenek hanya bercanda atau semacamnya.


“Hannie,” panggil Geeta menyadarkanku dari lamunan. “Hita juga sayang Hannie loh.”


Wajah sampai telingaku kembali terasa panas.


“Apasih?! Kenapa kamu jadi sering ngegombal begitu?” Aku mengalihkan pandangan dengan sebelah tangan menutupi wajahku.


Geeta menahan lenganku yang mulai mengendurkan pelukannya. “Hita sehius loh,” katanya lagi dengan wajah datar.


Tidak! Jangan pasang ekspresi seperti itu!


“Mending kita jalan-jalan aja yuk. Katanya mau nikmatin pantai?” Aku melepaskan genggaman Geeta tanpa menatapnya. Bisa mati malu aku kalau dia melihat pipiku memerah.


“Kalo jalan di pantai enaknya nyeker. Lepas deh, jadi berasa pasirnya.”


Aku berlutut dan melepaskan sepatu sandal Geeta setelah melepas milikku sendiri. “Tapi nanti jalannya liat-liat ya.”


“Hita maunya meluk Hannie ajah!”


“Engga! Ga boleh!” Aku refleks mendongak cepat. Dan langsung melengos lagi. “Jalan aja! Nanti di hukum Om loh.”


“Hita dingin nih, kalo dipeluk Hannie jadi hanggat loh.”


Aku menggeleng dan jalan mendahuluinya. “Gamau!”


“Ahh, peluk! Peluk!” serunya sembari mengejarku.


“Gamau! Kata Om dosa, Geeta. Dosa!”


“Tapi bihkin nyaman?”


Aku mendengus. Haduh, kenapa dia jadi begini?


“Kamu kenapa sih? Kerasukan ratu pantai?” kekehku, dan berlari mundur.


“Peluk Hita!!!!”


“Geeta bahaya!"


Geeta melebarkan langkah dan menerjang tubuhku hingga terjatuh.


Brugh!


“Ah, bahaya Geeta,” desisku. Kemudian mengusap punggung. Untung pasirnya lumayan empuk. Bukan, untung jatuhnya bukan muka duluan.


Geeta masih memelukku dengan paksa dan tertawa renyah.


“Ga lucu. Kamu sih enak ga langsung nyium pasir. Punggungku nih.”


“Sinih.” Geeta membalik tubuhku dan menempelkan kedua tangannya di punggungku.


“Ngapain?”


“Sssst, Hita mau sembuhin.”


Aku tertawa kecil. “Emangnya bisa? Kamu dukun apa gimana? Nyembuhin pake nempelin tangan doang.”


Tiba-tiba aku merasakan punggungku menghangat. “Eh, kamu ngapain?”


Kulihat sinar hijau muncul dari tangan Geeta. Dan tidak lama punggungku sudah kembali normal.


“Gapapa tuh. Hannie lebay ajah!” protesnya, lalu memukul punggungku.


“Aw! Kenapa malah dipukul lagi?”


“Biar sakit beneran!” Geeta mencibir. Kemudian menopangkan tubuhnya di punggungku.


“Sekahang gendong ke hotel!”


Aku mendengus. “Lah kok nyuruh? Situ tuan putri?”


“Iya,” sahut Geeta dengan penuh percaya diri. “Cepat! Kaki Hita cape abis obatin Hannie.”


“Apa hubungannya? Kan kamu ngobatinnya pake tangan, bukan kaki.”


Malam ini, aku dapat satu fakta baru. Geeta bisa mengobati.


.


.