Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter LIV



“Ren!”


Ren menoleh cepat. Mencari orang yang memanggilnya. Seorang laki-laki menghampirinya dengan helm yang masih terpasang.


“Ngapain lo?” tanya Ren dengan alis berkerut melihat Budi menghampirinya terburu-buru, dan menunjuk pelindung kepala yang masih menyangkut itu. “Lepas dulu tuh.”


“Ya ngejenguk lah! Gue denger abang lo sakit?” Budi melepas helmnya dan duduk di samping Ren. “Ga nungguin abang lo? Subuh-subuh dah makan aje.”


Ren mendecak. “Gue belom makan dari kemaren elah!” Ia melahap donatnya tidak *****. Melihat Budi selalu membuat selera makan menghilang.


Budi mengangguk-angguk. “Terus gimana? Abang lo sakit apa?”


“Jatoh dari tangga. Cuman luka-luka sama kepalanya— ah! Bikin gue ga ***** aja lo! Gue lagi makan ah, males bahas begituan.” Ren menggebrak meja sampai penjaga warung terperanjat.


Budi mengangguk singkat meminta maaf atas sikap temannya. “Yee, lo kan dokter. Masa bahas begitu doang bikin lo ga ***** makan?”


Ren mendecak lagi dan melontarkan tatapan tajam pada temannya. Sebagai peringatan untuk tidak membahas lebih jauh. Sebenarnya, Budi tidak salah.


Ren bukan tipe yang mudah terbawa suasana. Dia juga tidak takut darah. Tapi, kemarin begitu sudah terbukti pasien yang datang itu kakaknya, ia secara refleks langsung menghampiri.


Darah dimana-mana. Sampai wajah kakaknya tidak terlihat jelas. Para perawat membawa air yang berubah merah dan menggantinya dengan air baru. Itu pertama kalinya Ren merasa mual saat melihat seseorang terluka.


Kepalanya pusing, bahkan nyaris saja pingsan kalau bukan karena rekan satu jadwalnya menarik dia keluar.


“Gue mau masuk, lo ikut ga?” Ren berdiri dari kursi dan membayar makanan yang dia ambil.


Budi ikut berdiri dengan wajah yang masih bingung. “Kemana?”


“Ke rumah bapak lo! Ya ke RS lah, katanya mau jenguk?” decak Ren gemas.


Sampai di koridor kamar rawat, Ren melihat kamar kakaknya agak ramai. Dia belum sadar hingga beberapa detik. Mungkinkah?


Ren mempercepat langkah meninggalkan temannya di belakang.


“Weh, Ren!” seru Budi berusaha menyusul.


Semoga apa yang dipikirkannya benar! Begitu terus yang digumamkan Ren dalam hati sampai ia berdiri di depan kamar kakaknya.


Air mata muncul di ujung matanya. Padahal sang kakak tidak tertidur selama itu, tapi Ren sudah khawatir sekali.


Kakek Kama yang sejak kemarin belum pulang menyadari keberadaan Ren di depan pintu. Ia tersenyum dan memberi isyarat kepada sang kakak bahwa seseorang yang ditunggunya telah datang.


“Ren….” Budi memahami situasi dengan cepat. Ia memelankan suara dan mengambil alih kantung berisi makanan yang ada dalam genggaman temannya.


“Santai aja, kakak lo baru sadar Ren.”


Ren tersadar dan mengusak matanya cepat. “Apasih,” decihnya kemudian masuk ke kamar.


Melihat itu, Budi hanya terkekeh. Dia memutuskan untuk menunggu di luar terlebih dahulu. Sepertinya ini waktu untuk keluarga.


...…...


“Pfft.”


Ren menoleh cepat menatap kakaknya. “Apa yang lucu? Mau gue bius lagi?”


Radi menggeleng. Masih menahan tawa. Melihat adiknya sudah bisa galak, membuatnya sedikit lebih tenang.


Setelah dokter keluar, Radi langsung meminta waktu berdua untuk bicara dengan adiknya. Dia harus membereskan kekacauan yang dia buat sendiri.


“Gimana koas? Seru?” tanya Radi basa-basi.


Tidak langsung menjawab, Ren melengos dan meminum es tehnya. “Ya, kali?”


“Kali?”


“Ck, mana ada seru? Dikira main layangan apa? Kalo basa-basi cari topik yang lebih bagus kek,” sembur Ren. Tapi kakaknya terlihat tidak peduli dengan kata-kata itu.


“Begitu… Yaudah, kalo kakak tanya soal pacar-pacar kamu? Kemana mereka? Kok ga dateng jenguk?” Senyum menyebalkan terukir jelas di wajah Radi.


Ren menarik kembali kalimatnya. Radi tidak berubah sama sekali. “Putus.”


“Putus? Semuanya?”


“Jangan ngomong yang aneh-aneh! Aku ga punya pacar sebanyak itu.”


“Tapi lebih dari satu kan?” balas Radi cepat dengan senyum yang sama.


Agh! Kakaknya yang seperti ini malah membuat Ren semakin kesal. Ia lebih memilih kakaknya yang suka marah-marah.


“Terserah,” kata Ren akhirnya menyerah.


Radi terkekeh dan menegakkan punggung. Kemudian menghela napas panjang. “Maaf, kakak keterlaluan sama kamu.”


Kedua alis Ren menekuk. “Kenapa tiba-tiba minta maaf?” Senyum kakaknya masih belum memudar.


“Selama ini, kakak marah sama diri kakak sendiri Ren.” Radi menoleh ke arah jendela dengan tatapan nanar. “Kakak takut kehilangan Hansa, kecelakaan saat usianya lima tahun, kakak cuman takut itu terjadi lagi.”


Ia menarik napas dan menghembuskannya lagi. Seolah pembahasan saat ini benar-benar sulit untuknya. “Ketakutan kakak benar terjadi lagi saat dia tujuh tahun. Dan kebetulan kamu yang menjaganya saat itu.”


Detik itu Ren menahan napasnya tanpa sadar.


“Kakak tidak tahu harus marah pada siapa, karena saat itu juga bukan sepenuhnya salahmu. Tapi kakak sangat marah, sampai akhirnya memutuskan untuk menyalahkanmu sepenuhnya.” Radi menunduk.


“Kakak pikir, kakak bisa gantikan posisi Bapak. Tapi nyatanya nggak. Kakak malah memperburuk suasana ya?”


Melihat sang kakak yang meringis, membuat Ren semakin sulit bernapas. Dia sampai tidak bisa berkata apa-apa.


“Oh, kakak pergi hari itu, bukan karena membencimu. Kakak pergi ke Jakarta karena kakak takut semakin nyalahin kamu. Kayaknya kamu sadar kalo kakak ngindarin kamu?”


Ren tidak menjawab. Dan membiarkan sang kakak melanjutkan kalimatnya.


“Hari itu, saat Hansa teriak kalo kakak bukanlah ayahnya. Itu yang buat kakak sadar kalo selama ini kakak udah jadiin kamu target empuk untuk melampiaskan amarah. Padahal kecelakaan Hansa juga kecerobohan kakak sendiri.”


Ren menunduk, bersusah payah menahan air matanya.


“Kakak ga maksud teriak-teriak ke kamu kayak di Mekdi waktu itu. Kakak cuman takut nyakitin kamu lebih lagi, karena kakak belum siap untuk menatap kamu, Ren. Kakak takut menyalahkan kamu, dan semuanya malah tambah buruk.” Radi meremas selimutnya.


“Malah kakak juga minta ketemuan sama Paman Kama. Kamu manggil dia Kakek, kan?” kekehnya.


Ren tahu, kakaknya memaksakan senyum itu. Memaksa tertawa. Tidak ada yang lucu!


“Katanya, dia ga bisa kasih tau gimana cara untuk kita baikan. Kakak sendiri yang harus cari caranya, dan kata Paman kamu sudah lebih dulu menemukan cara untuk berbaikan dengan kakak?”


Senyum Radi mengembang. “Kamu memang yang terbaik di antara kita bertiga. Paman Kama bilang, pertengkaran saudara tidak akan ada ujungnya, tapi bukan berarti tidak bisa berbaikan juga. Berbaikan dan bertengkar berjalan bersamaan. Asal salah satunya tidak berjalan lebih cepat, semuanya bakal baik-baik aja, gitu juga kata Bapak kan?”


Ren menggigit bibir bawahnya. Masih menahan air mata.


“Maaf ya, Reno.” Sang kakak menjulurkan sebelah tangannya.


Ren diam sejenak. Kalau dipikir-pikir, akar masalah ini tidak seberat yang dia duga. Ia menatap tangan kanan sang kakak. Kemudian membalas uluran itu ragu.


“Maaf, juga. Aku ga bilang-bilang waktu mau bawa Hansa ke dokter hewan. Abis kayaknya, ayam itu sekarat dan Hansa juga mohon-mohon pake muka lucu. Gimana ga meleleh hati ini?”


Radi tertawa kecil, dan mengusak kepala adiknya. “Siapa dulu bapaknya?!”


Saat itu, mereka tidak sadar, ada sepasang mata menggemaskan yang memperhatikan mereka dari balik pintu. Sosok mungil itu tersenyum, dan menutup kembali pintunya perlahan hingga tidak menimbulkan suara.


.


.