
Aku melahap roti, salah satu pemberian ‘cewe-cewe’ tadi, sambil berjalan ke halaman belakang sekolah.
Tidak banyak yang menghabiskan waktu di sini karena pemandangannya kurang menyenangkan. Ada tempat pembuangan sampah juga di pojoknya.
Tapi tidak bau kok, asal jangan duduk terlalu dekat dengan tempat itu.
Aku duduk di salah satu kursi, di bawah pohon. Kemudian meletakkan tumpukan makanan lainnya ke samping.
Dari pada pemandangan bagus, aku lebih suka tempat yang sunyi.
“Wah, lo emang famous ya?”
Aku terperanjat sampai tersedak.
“Eh, ehh. Makannya pelan-pelan dong.”
Menoleh kesal, aku mendapati murid baru tadi tengah duduk di sampingku dengan ekspresi menyebalkan.
Dia menepuk-nepuk pundakku. Membantu meredakan efek tersedak.
“Sejak kapan?” tanyaku dengan suara pelan. Masih terbatuk-batuk.
“Hm? Sejak… baru?”
Dahiku mengerut. Dia bicara apa sih?
Aku meraih salah satu minuman, kemudian meneguknya. Setelah di rasa tenggorokanku lebih baik, aku mulai bicara.
“Maksudnya baru dateng?”
Perempuan itu tersenyum.
“Iya!”
Dia mempertipis jarak duduk di antara kami, kemudian bicara lagi.
“Tadi gue liat lo jalan ke sini sambil bawa-bawa makan. Gue ga bawa bekel, males jajan juga, kantinnya rame. Jadi gue ngikutin lo!” katanya dengan senyum lebar.
Aku memandangnya muak. Dan sepertinya dia menyadari hal itu.
Tapi bukannya merubah sikap, dia malah melebarkan senyum.
Tidak punya pilihan lain, karena aku malas juga pindah-pindah. Dia pasti akan tetap mengikutiku. Jadi aku memberinya tumpukan makanan itu.
“Yaudah, ambil aja semuanya.”
Perempuan itu berdiri dan pindah ke sisi lain. Mengambil makananku.
“Makasih, anak ganteng.”
Dia duduk dan memakan semuanya dengan terburu-buru seolah belum makan berhari-hari.
Aku termangu melihat kelakuannya.
Sebagai anak yang dibesarkan dengan seribu peraturan, perempuan ini terlihat seperti binatang liar di mataku.
“Pelan-pelan aja makannya,” kataku, masih terkejut dengan tingkahnya.
Perempuan itu menatapku dengan tajam.
Aku tersentak dan menjauh sedikit. Dia benar-benar tidak pernah makan ya?
Atau tidak pernah diajarkan tata krama?
Lima menit sebelum bel masuk berbunyi. Aku baru menyelesaikan minumanku. Roti sudah habis dari tadi.
Kulihat si murid baru pelan-pelan. Aku rasa, aku mulai takut dia menggigitku.
Ternyata makanannya sudah habis. Semua. Semuanya habis tanpa sisa, termasuk minumannya.
Aku kembali melongo.
Bungkus makan dan minuman terserak di sekitarnya. Dia mengelap mulutnya dengan lengan seragam, kemudian berdiri.
“Ayo balik ke kelas!” ajaknya. Kemudian berjalan.
Tentu saja, aku menahan gadis itu.
“Hei! Kalo udah makan beresin!”
Dia menatapku risih. Untuk beberapa detik, rasa takut menjelajahi tubuhku.
Tapi, aku tidak akan membiarkanmu kali ini. Lagi pula aku laki-laki.
Aku berdiri dan menatapnya tajam.
“Apa kau tidak pernah diajarari etika?”
Tatapannya semakin dalam. Tapi aku tidak akan mundur.
Tanganku semakin mencengkeram lengannya.
“Beresin bungkusannya,” tegasku.
Di luar dugaan dia bisa menepis tanganku dengan mudah.
“Beresin aja sendiri.” Dia mendecih dan berjalan pergi.
Aku menggeram kesal. Tidak tahu terima kasih, tidak tahu sopan santun, liar.
“HEI! AKU BILANG BERESKAN!”
Aku memutar tubuhnya dan dia dengan refleks membanting tubuhku.
Bugh
Saat itu aku teringat pesan Ayah.
“Nak, jangan memandang lemah perempuan hanya karena kamu laki-laki. Percayalah, mereka bisa jauh lebih kuat dari kita.”
Ketika mengingat ucapan itu, tubuhku sudah menghantam tanah.
Terlambat. Kenapa aku baru ingat sekarang? Bunda juga, kalau sudah marah terlihat seperti singa.
Aku baru ingat semua itu ketika punggungku sudah terasa sakit seperti mau patah.
Meninggalkan aku yang sedang kesakitan.
Baiklah, aku salah karena bersikap kasar. Tapi dia juga salah!
...…...
Keesokannya, aku menghampiri murid baru itu. Aku sudah bicara dengan Ayah.
Dia bilang sebaiknya aku tidak berurusan dengannya, tapi entah bagaimana aku malah merasa tertantang.
“Hei, mau belajar tata krama?” sapaku padanya.
Kelas yang baru diisi enam orang termasuk aku pagi itu berubah hening.
Dua gadis diantaranya memperhatikanku dengan pandangan heran.
Si murid baru mendongak dan menatapku dengan senyum kecut.
“Begini cara orang yang udah hatam soal tata krama nyapa orang lain?”
Aku tercekat. Empat orang lain mulai berbisik.
“Terserah, kalo lo tahan,” kata perempuan itu.
Oh, aku jadi semakin tertantang.
Mulai dari situ, Rania dan aku mulai dekat. Teman-temanku bilang kalau aku sudah gila.
Tapi aku jadi tahu, ada alasan di balik sikapnya yang buruk itu.
“Gue ga punya orang tua. Mereka ninggalin gue sama tante yang hidup semaunya. Tante ga begitu peduli sama gue. Tapi, tetep ngizinin gue tinggal di rumahnya sampe sekarang.”
Rania mendongak menatap langit. Kita ada di halaman belakang, seperti biasa.
“Dari kecil gue cari uang sendiri. Ga pernah tuh diajarin jaga ‘tata krama’, haha.”
Dia tertawa. Kemudian menatapku.
“Di sekolah, guru gue ga ada yang sesabar elo. Makasih ya,” katanya, kemudian tersenyum tipis.
Ini kali pertamaku melihatnya tersenyum seperti itu.
Dan seterusnya, dia mulai mengubah cara bicaranya ke arah yang lebih baik.
Tidak kasar, walau masih suka teriak-teriak. Tidak menggunakan ‘gue-elo’, walaupun menurutku itu tidak masalah.
Sepertinya dia hanya meniruku. Tapi tidak apa. Setidaknya jadi lebih baik kan?
Dia juga membuang sampah pada tempatnya, dan memarahi orang yang buang sampah sembarangan.
Kadang, aku masih tidak percaya, aku bisa merubah seseorang seperti ini.
“Aku akan mengikutimu ke kampus yang sama!”
Aku tertawa mendengarnya. Setelah lulus SMA, dia mendaftar ke universitas yang sama denganku.
Aku tidak memintanya, dia yang mau.
Tapi aku senang, walaupun begitu dia tidak pernah bergantung padaku.
Malah akulah yang terkesan lebih membutuhkannya.
...…...
“Aku akan berkunjung ke sana! Sebaiknya kau bersiap menerima pukulan dariku.”
Aku terkekeh. Dari dulu sampai sekarang masih saja suka kekerasan.
“Iya, tapi jangan keras-keras mukulnya.”
“Lemah!” sahutnya.
Dia tidak pernah tidak mengejekku ya. Aku tersenyum. dia juga tidak pernah tidak membuatku tersenyum.
“Sebaiknya jaga sikap kalau datang ke sini. Orang desa menjungjung tinggi tata krama. Kamu bisa diusir kalau ga sopan.”
Kudengar dia tertawa lepas. Padahal sepertinya omonganku tidak selucu itu.
“Ya… ya… terserah.”
Aku menggeleng. Mau diberitahu sekeras apapun juga, responsnya pasti begitu.
Tapi sebetulnya dia mendengarkan kok.
“Aku mau beres-beres dulu, kau istirahat sana.”
Dia mendecih.
“Istirahat, istirahat. Sok perhatian!”
Aku mengapit ponsel diantara bahu dan telinga, kemudian berdiri untuk meletakkan kardus berisi piring-piring ke atas meja.
“Serius, Ran. Udah ya. Nanti ngobrol lagi.”
Rania mendengus. “Yaudah! Bye!”
Aku tertawa kecil.
“Bye….”
Kemudian mengakhiri panggilan dan meletakkan ponsel di atas meja.
Kardus piring ini yang terakhir. Rania menemaniku membongkar kardus dari tadi.
Cukup membantu, aku jadi tidak merasa lelah. Inilah salah satu gunanya teman ngobrol, kalian tahu?
Pekerjaan berat dan melelahkan jadi tidak begitu terasa.
.
.