Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter VI



Langkahku terhenti.


Tante katanya? Memangnya siapa dia?


Menyadari kehadiranku, Nenek berbalik dan memintaku mendekat.


Dengan ragu, kulangkahkan kaki mendekatinya.


“Hannie, kenalin. Ini teman Nana, Dinan Dinianti.”


Aku menatap wanita itu. Dinan?


“Kamu bisa panggil aku Tante,” timpalnya sok dekat.


Mataku berkedut. Orang aneh ini, sok kenal sekali. Aku ga suka!


Dia menjulurkan tangan, mengajak bersalaman. Aku hanya memandangai tangannya.


“Hannie.” Nenek mendorong punggung kecilku.


“Perkenalkan dirimu seperti yang sudah Nana ajarkan.”


Aku masih ragu. Dia orang yang menyebalkan. Kenapa aku harus berkenalan dengannya?


Tapi, aku tidak bisa mempermalukan Nenek.


“Halo.”


Aku menyambut uluran tangannya.


“Nama saya Hansa Reyki Grace.”


Wanita itu tersenyum senang.


“Nama yang bagus!” katanya.


Aku mengerutkan dahi. Senyuman itu, apa Nenek yang mengajarkannya untuk tersenyum seperti itu?


Tautan tangan kami terlepas. Aku kembali mengingat tujuan awalku mencari Nenek.


“Oh iya, Nana.”


Nenek menoleh menatapku lurus.


“Aku mau jajan!”


Agaknya, Nenek terkejut mendengar permintaan tidak biasaku itu. Sejak kecil kan aku tidak suka jajan. Aku juga tidak terlalu tertarik pada uang.


“K-Kenapa tiba-tiba?”


“Aku lihat abang penjual mainan lewat di jembatan. Ada benda-benda yang mengkilat! Aku mau!”


Nenek mendengus geli. Begitu juga dengan wanita itu.


“Kamu ini, ga suka uang tapi suka yang mengkilat-mengkilat.”


Aku terkekeh malu. Apa boleh buat? Yang mengkilat itu jauh lebih indah dari uang.


“Boleh, tapi jangan pergi sendiri.”


Nenek mengeluarkan selembar uang berwarna hijau dari saku.


Sebelum memberikannya, Nenek memintaku untuk mencari Eli terlebih dahulu.


“Ahhh, Nana! Nanti abangnya keburu pergi!”


Nenek bersikeras menyuruhku untuk menemukan Eli terlebih dahulu.


Kalau tebakanku tidak salah, Kak Eli ada di lantai dua. Tadi dia membawa tumpukan baju. Pasti mau disetrika. Dan ruang setrika ada di lantai dua.


“Nana…” rengekku sambil terus menarik-narik lengannya. “Kalo gitu sama Nana ajaaa!!!”


“Nana ada tamu, kamu ga lihat?”


“Aaahhhhh!!”


Di tengah perdebatanku, wanita yang katanya teman Nenek ini tertawa.


“Kalau gitu sama Tante aja, yuk. Kasihan Nana sudah tua, harus banyak istirahat. Bukannya ayahmu bilang begitu.”


Aku berhenti merengek. Iya sih, Ayah bilang aku tidak boleh mengganggu Nenek dan membuatnya lelah.


Tapi, aku tidak menyukai tante ini.


Dengan berat hati aku melepaskan lengan Nenek dan mengangguk menyetujui tawarannya.


Wanita itu tersenyum puas, dan berdiri.


“Ayo,” ajaknya.


Aku meraih ulurannya, lagi. Kemudian dia berbalik menatap Nenek.


“Tidak apa kan, aku menemani cucu-mu?”


Nenek tersenyum lembut.


“Iya, bawa saja dia.”


Wanita itu tersenyum lebar dan menarikku.


Kenapa kesannya seperti Nenek telah membuangku ya?


...…...


“Kamu mau yang mana? Ini atau ini?”


Tante memperlihatkan dua kelereng padaku.


Aku mendengus. Apa dia bercanda? Benda mengkilat yang aku inginkan bukan itu!


“Aku ga suka keduanya.”


Tante tampaknya agak kecewa atas penolakanku. Tentu saja, sudah jelas aku tidak menyukai mainan-mainan seperti itu. Lagian, aku sudah punya banyak.


Aku melihat seisi gerobak dengan saksama.


Dimana benda yang aku lihat tadi?... Oh! Ketemu!


Aku menarik keluar benda itu dari bagian dalam gerobak.


“Adek suka yang ini?” tanya abang penjual.


Aku mengangguk dengan mata berbinar.


“Iya! Tante, aku mau ini!”


“Ah, oke.”


“Satu aja, Han?” tanyanya sebelum membayar.


Aku berpikir sejenak.


“Ada lagi yang seperti ini?” tanyaku pada abang penjual, dan dia mencari di gerobak untuk beberapa saat.


“Ga ada, dek. Itu yang terakhir kayaknya. Tapi ini ada yang mirip.”


Abang penjual menunjukkan sebuah gantungan beruang berwarna emas.


Aku mengangguk tidak masalah.


“Gapapa. Tante, ini dua ya,” serahku.


Kemudian Tante membayarnya, dan kembali ke rumah. Setelah melewati gerbang, aku menghentikan Tante sesaat.


“Kenapa?”


Aku mengangkat sebelah tanganku yang memegang gantungan kunci berbentuk beruang tadi.


“Ini buat Tante.”


Sepertinya dia tidak menduga hal ini. Begitu menerima gantungan itu, Tante langsung memelukku.


“Aw, lucunya. Terima kasih ya, Hannie.”


Tentu saja aku tidak membalas pelukannya.


“I-Iya, sama-sama.”


Sampai di dalam rumah, aku langsung berlari menghampiri Nenek.


“Nana! Lihat apa yang aku beli!”


Nenek meletakkan secangkir tehnya, kemudian menatapku.


“Wah, cantiknya. Kamu memilih benda yang cantik.”


Itu adalah gantungan kunci berbentuk daun dengan warna emas yang mengkilap. Tentu saja, bukan emas asli.


“Dia juga memberiku ini,” unjuk Tante bangga.


Nenek hanya tertawa melihatnya.


“Kamu anak yang baik, Hannie.”


Aku tersipu malu. Hanya Nenek yang bisa membuatku begitu.


Kupinta dia memperlihatkan telapak tangannya, lalu kuletakkan gantungan itu di sana.


Nenek memandangku heran dengan alis dinaikkan.


“Itu buat Nana. Minggu kemarin Nana ulang tahun. Semuanya memberi kado. Bahkan Bunda dan Ayah juga. Sementara aku tidak menyiapkan apa-apa, jadi….”


Kutatap mata kelabu Nenek yang mulai digenangi air mata.


“Nana kenapa menangis?” tanyaku khawatir.


Apa hadiahnya terlalu jelek?


“Tidak. Bukan apa-apa Hannie. Nana hanya… tidak menyangka.”


Nenek menundukkan kepala dan mengusap matanya. Kemudian menatapku lagi.


Kini dia tersenyum sampai matanya agak terpejam. Menyerupai bulan sabit.


“Nana tidak menyangka kamu memikirkan hal ini. Terima kasih, My Hannie.”


Tambahan ‘My’ itu membuat hatiku menghangat. Tiba-tiba saja aku menjadi sangat senang.


Aku memeluk Nenek erat-erat.


“Tentu saja, aku kan sayang Nana!”


Nenek membalas pelukanku.


“Iya, Nana juga sayang kamu. Sangaatt sayang sekali.”


Aku tertawa. Begitu juga dengan Tante.


Beberapa hari setelahnya, Nenek jadi jauh lebih perhatian terhadapku.


Dia bahkan memasakkan aku makan siang. Ayah sampai mengomeliku karenanya.


Tapi tentu, Nenek memberiku pembelaan.


Tahun berikutnya, di ulang tahunku yang ketujuh. Nenek memberiku sebuah kalung dari emas dengan gantungan kaca berisi cairan bercahaya di dalamnya.


Hadiah dari Nenek ini adalah emas asli. Beda dengan hadiahku tahun kemarin.


“Besok Nenek tunjukkan kotak rahasia Nenek.”


Tahun ini pula, tiba-tiba Nenek menyebut dirinya ‘Nenek’, bukan Nana lagi. Otomatis aku mengikutinya perlahan-lahan.


Dan tahun ini, Tante datang untuk ikut merayakan. Dia meberiku sepasang kaus kaki beruang berwarna ping. Huh, padahal kan aku laki-laki. Kaus kaki itu terlalu imut untukku, bukan?


“Nenek janji?”


Nenek mengangguk.


“Janji.”


Mataku berbinar. Kutatap kalung yang telah menggantung di leherku itu sekali lagi.


Ini hadiah terbaik seumur hidupku. Gumamku dalam hati.


Aku memeluk Nenek erat. Dia membalasnya, dan mengusap kepalaku.


Bunda punya kebiasaan yang sama dengan Nenek, suka mengusap kepalaku.


Entah, tapi aku merasa Bundalah yang mengikuti Nenek. Mungkin dia sadar aku menyukai usapan di kepala.


“Sehat terus ya, My Hannie.”


Senyumku melebar diam-diam dalam pelukannya. Aku mengangguk. Tentu, aku akan sehat terus dan membawa Nenek keliling dunia.


“Nenek-ku juga, sehat terus ya!”


Siang ini, adalah pesta ulang tahun terbaikku. Tidak akan ada hari yang lebih baik dari hari ini.


.


.