Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter LV



“Oh….” Aku menunduk mendengar cerita Paman. Bagaimana bisa aku melupakan kejadian itu?


“Tapi itu masa lalu, Han.” Paman terkekeh. “Sekarang ya, sekarang. Ayahmu juga udah bahagia lagi.”


Ngomongnya sih begitu, tapi Paman dan Ayah jarang sekali bertemu. Aku memilih untuk tidak memperpanjang obrolan ini dan tersenyum tipis.


Paman kelihatannya sudah membaca rencanaku. Dia mendengus geli dan memandang ke atas. “Kapan-kapan, kita nginep di rumah Nenek sama-sama ya.”


“Sama-sama?” Aku memiringkan kepala.


Paman mengangguk cepat dan mengulangi kalimatnya. “Kita nginep sama-sama. Paman kangen banget loh sama rumah itu.” Dia meringis dan tertawa sendiri. “Bayanginnya aja udah bikin nostalgia.”


Saat itu, aku tidak punya pilihan selain mengiyakan rencana Paman. Malah, aku jadi ingin membuka identitas Geeta yang sebenarnya pada mereka. Entah apa yang akan terjadi kalau aku benar-benar melakukannya.


“Nah, sekarang kamu pulang dulu.” Paman bangkit dari kursi dan meregangkan tubuhnya. “Paman masih banyak kerjaan nih. Kapan-kapan kita ngobrol lagi.” Dia mengedipkan sebelah matanya dan berjalan lebih dulu ke dalam rumah sakit.


Aku tidak langsung mengikutinya. Masih kepikiran soal cerita Paman. Awalnya aku pikir sebagian besar ingatanku sudah kembali. Ternyata masih banyak hal-hal penting yang aku lupakan.


Menatap langit, aku menghembuskan napas panjang. “Kalau aku ngelupain Nenek… apa aku ga akan ingat sama sekali?”


“Hannie!”


Suara gadis riang yang sangat kukenal menggema dari belakang. Aku berbalik dan memancarkan senyum terbaikku spontan.


“Hannie lama banget keluarnya! Ayo pulang.” Geeta menarik lenganku tidak sabar. “Geeta capek ngobrol sama Om! Geeta mau makan aja!”


Aku terkekeh mengikuti ajakannya. “Capek kenapa?”


“Om sukanya marah-marah! Geeta capek debat.”


Haha, debat katanya. “Gitu? Kalo sama aku ga capek?”


Geeta menekuk bibirnya. “Kalo Hannie… gatau ah!” Dia menghempaskan sebelah tanganku yang tadi dia genggam erat-erat. Kemudian berjalan pergi dengan langkah cepat.


“Heee, tunggu dong. Ga jadi pulang nih!”


“Aaaahh!!!”


...…...


“Hannie, Geeta boleh pilih-pilih yang Geeta mau?” Sosok cantik dengan rambut hijau dikuncir kuda itu melompat riang setelah memasuki kawasan supermarket.


Aku mendesah pasrah dan membolehkannya. Tidak ada pilihan, kalau ditolak dia malah akan mengamuk dan membuat kekacauan.


Ahh, padahal kita jadi terjebak di sini juga karena perbuatannya.


[Tiga puluh menit yang lalu]


“GA ADA MAKANAN?!!!”


Om Dien memekik kencang begitu tahu tidak ada stok makanan tersisa di dapur.


“Iya, soalnya pulang dari RS Geeta kayaknya laper banget. Terus—”


“Terus kamu kasih dia semuanya?! Semuanya banget?!!” Om Dien melebarkan mata sampai aku takut mata itu keluar dari tempatnya.


“Iya… abisnya Om tau sendiri Geeta kalo udah makan ga bisa berenti ngedadak kayak kereta.” Aku mundur selangkah. Menjaga jarak.


Om diam dan menunduk. Perubahan sikap yang seperti ini malah membuatku semakin merinding.


“Hannie… Om ga bakal pukul kita kan?” Geeta yang sedari tadi bersembunyi di balik punggungku mengintip ragu.


Aku menelan ludah. “Ga tau….”


“Hansa,” panggil Om pelan namun entah kenapa terasa sangat tajam. Dia mengangkat wajahnya dan menatapku dalam sampai rasanya kepalaku bisa berlubang akibat tatapan itu.


“Beli makanan lagi se-ka-rang!” semburnya.


Dan begitu, aku jadi berakhir di supermarket bersama Geeta.


Aku membuka dompet yang sudah menipis. Pasti… pasti pengeluaranku akan berlebih lagi. “Bertahan ya… dompet,” lirihku menahan air mata.


“Loh? Yang promo bukan ini?!”


Mendengar suara yang tidak asing itu, aku langsung berjalan cepat mendekati sumbernya. Memastikan apakah pendengaranku salah atau tidak.


“Dahlah. Padahal udah kukasih tau bukan yang itu. Ngeyel sih.” Anak kecil berambut pirang yang juga tidak asing bagiku menimpali.


Tunggu, itu benar mereka?


“Yahhh, terus gimana dong.” Perempuan yang terlihat seumuran denganku itu menatapi barang belanjaannya. “Yaudah mbak. Tar dulu yak, saya balik pilih-pilih lagi.”


Dia menarik trolinya mundur. Beruntung tidak ada orang lain mengantre di belakangnya. Begitu berbalik, mata kami otomatis bertemu dan dia kelihatan sama terkejutnya denganku. “Hansa?!!!”


Gadis kecil itu juga. “OH! KAKAK?!”


Aku beralih menatap gadis kecil itu. “Zihan?”


“Hannie~”


Kami bertiga menoleh bersamaan. Jangan bilang-


“Geeta baru pilih segini, ga bisa bawa banyak-banyak.” Geeta memasukkan beberapa bungkus makanan yang bagiku sudah sangat banyak ke dalam troli, dan memandangi dua orang lain yang juga sedang menatapnya kebingungan.


“Loh? Siapa?”


Aku meringis dalam hati. Kenapa Geeta harus muncul sekarang?


...…...


“Oh, jadi dia jurnalis? Serius?” tanya Rania menyelidik.


Aku mengangguk membenarkan. Entahlah, rasanya Rania bisa tahu kapan saja kalau aku sedang berbohong.


Rania, teman SMA-ku yang paling peka terhadap sekitarnya. Hanya dengan menatap mata lawan bicaranya, Ran bisa tahu kalau mereka berbohong atau tidak.


“Hmmm,” Ran memandangi Geeta dari atas sampai bawah selama beberapa detik. “Kalo gitu kenalin. Gue Rania. Biasanya pada manggil gue Ran. Lo?”


“Ge-Geeta….” Geeta menjabat tangan Ran ragu.


Sebaliknya aku menghembuskan napas lega. Artinya Ran tidak akan tanya-tanya lebih jauh. Setidaknya untuk saat ini.


Ran tersenyum lebar mendengar jawaban Geeta. “Gita? Nama lo lebih ‘lokal’ dari yang gue duga. Kirain bakal Juliet, atau Diona, atau apalah gitu yang kebarat-baratan.”


Aku ikut terkekeh kecil. Ran belum lihat saja bagaimana Geeta mengeja namanya sendiri. Aku baru ingin menyudahi perkenalan mereka ketika ujung kausku terasa ditarik.


“Dia beneran temen kecil kakak?” tanya Zihan dengan mata menyelidik yang tidak jauh berbeda dari milik Ran.


Detik itu aku baru sadar, kalau aku sudah salah bicara. Aku lupa kalau Zihan adikku!


“Ah, iya… kamu belum pernah ketemu dia. Kan Geeta emang ga tinggal di Indonesia. Dia baru aja pindah buat cari-cari inspirasi. Jadi….” Aku mengutuk diriku sendiri atas apa yang sudah kukatakan. Kamu sudah terlalu banyak bicara Hansa!


Gimana kalau Zihan tanya ke Bunda atau Ayah? Ahh, Hansa kamu hanya membuat masalahnya jadi tambah runyam.


“Gitu? Hmmm, bisa jadi sih.” Zihan melepaskan ujung kausku dan menatapi Geeta yang masih mengobrol dengan Ran.


Benar-benar! Percaya saja dengan apa yang kakakmu katakan yaaaa, ujarku dalam hati.


Oh, omong-omong soal Bunda. Aku jadi ingat sesuatu. “Zihan.” Aku memutar tubuh gadis kecil itu hingga menghadapku.


“Kamu ke sini, udah izin sama Bunda, sama Ayah, kan?” tanyaku degan penuh penekanan.


Mendengar itu Zihan langsung menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Aku punya firasat buruk tentang ini. “Ah… soal itu.”


Jangan berani-berani…


“Aku….” Zihan mengalihkan pandangannya. Tidak berani menatapku. “Aku… udah ninggalin catatan kok…?”


Jawaban Zihan membuatku sesak napas. Kepalaku seperti berputar tanpa henti. “Kamu… ga izin langsung?”


Zihan masih tidak berani menatapku. “Iya…” jawabnya pelan.


Ah, habis sudah.


.


.