
“Mau kau namain siapa?” tanyaku sembari memasak di dapur. Memperhatikan Geeta yang tengah ‘menghibur’ si kelinci di sofa ruang keluarga.
Geeta berbalik, dan memegang dagunya. Berpikir. Dia meraih kertas di atas meja TV. Kemudian menulis sesuatu.
[Navy]
Aku mengangkat alis. Lumayan juga.
“Kenapa Navy?”
Geeta menulis lagi sambil senyum-senyum. Dia terlihat jauh lebih bahagia dari biasanya.
[Matanya indah. Aku lihat warna itu namanya warna navy.]
Gerakan tanganku yang sedang membalik masakan terhenti. Mata navy? Aku tidak sadar kalau kelinci itu punya mata biru.
Eh, memangnya ada? Kelinci mata biru?
“Sungguh? Wah, aku ga sadar warna matanya sebagus itu.” Aku mengecilkan api kompor, dan mendekati Geeta.
[Iya! Matanya warna navy! Lihat saja!]
Berlutut di depan sofa, aku memperhatikan wajah kelinci itu. Mata kami –aku dan si kelinci- bertemu.
Setelah menatap lurus ke matanya seperti itu, aku baru sadar kalau itu benar-benar warna biru.
Warna birunya benar-benar gelap. Sampai kukira itu warna hitam atau coklat. Aku terpana. Benar kata Geeta, matanya indah. Seperti lautan.
“Iya, warna matanya indah. Kayak laut,” kataku sambil tersenyum, dan membelai kepala kelinci itu.
Lembut sekali! Bulunya sangat-sangat lembut!
“Geeta, pas Navy sehat mandiin ya. Aku ga mau ada makhluk kotor di rumah ini.”
Aku tersenyum penuh harap ke Geeta. Dia tampak tidak terima dengan kata-kataku.
Haha, iya aku tahu, aku menyebalkan.
“AAANG!!!” protesnya sambil menunjuk tulisan di atas kertas ke depan wajahku.
[NAVY BUKAN MAKHLUK KOTOR!]
Aku terkekeh. Huruf besar semua ya...
...…...
Aku meletakkan sepiring sate 30 tusuk, sepiring 10 telur dadar, dan semangkuk besar sup ujhazi –gampangnya sup ayam asal Hungaria- ke atas meja.
Juga tidak lupa nasinya.
Geeta melongo menatap makanan yang tersaji. Sengaja kumasak dalam porsi besar karena Geeta pasti tidak cukup makan sedikit.
“Duduklah, jangan berdiri aja di sana.”
Aku memutari meja dan menarikkan kursi untuk Geeta. Dia tersadar dan tersenyum singkat ke arahku.
Sepertinya makanan jauh lebih mempesona ya. Aku menahan tawa.
Sebelum dia sendiri makan, Geeta sudah lebih dulu memberi kelinci tadi makanan.
Tampaknya kelinci itu masih belum pulih juga. Dia lemas dan tak berdaya walau Geeta mengajaknya main.
“Si kelinci— maksudku Navy, dia masih lemes ya?” tanyaku pada Geeta sambil makan.
Geeta yang sedang menyeruput sup dari mangkuk kecil, langsung berhenti dan menatapku.
Dia meletakkan mangkuk itu, lalu mengelap mulutnya dengan serbet.
“Ung,” jawabnya singkat. Kemudian menulis di kertas.
[Aku tidak akan tidur dan menjaganya.]
Membaca itu, aku tertegun. Kenapa rasanya familiar ya? Apa aku juga pernah memelihara sesuatu dulu?
Aku mengulum senyum. “Akan kutemani.”
Mata Geeta berbinar. Dia meletakkan kertas itu, berdiri, dan berlari menghampiriku yang duduk di seberangnya.
Brugh
Sendok yang ada di genggamanku terjatuh. Geeta menarik tubuhku ke dalam dekapannya.
“Hannie!!! Makh ahsih!” katanya sambil memelukku.
Aku tertawa kecil. “Sama-sama.”
Setelah makan malam, aku dan Geeta tidur di ruang keluarga. Gelar karpet. Sementara Navy –kelinci itu- dia tidur di atas sofa.
Geeta menghela sedih. “Nahvi….” Dia merebahkan kepalanya di atas sofa dan mengelus lembut tubuh kelinci malang itu.
Kakinya yang diperban menarik perhatianku. Sungguh tidak asing. Sepertinya memang benar aku pernah memelihara sesuatu.
Apa ya?
Mengalihkan pikiran, aku meraih remote di atas meja TV dan menyalakannya.
"Geeta, makanlah pudingnya," kataku sembari menatap televisi dengan sepiring kecil puding coklat di tangan kiri.
Saat itu, acara yang muncul di layar menampakkan gerombolan ayam yang berlari ke sana kemari.
Ingatanku langsung kembali saat itu juga. Aku termangu.
Lima belas tahun lalu. Aku pernah merawat seekor ayam hias.
...…...
“Na— Nenek!!!”
Aku berlari dari ruang tamu ke halaman depan. Nenek baru saja pulang dari rumah sakit.
Sebenarnya hari ini memang jadwalnya cek kesehatan, sih.
“Hannie… kamu kangen Nenek?” tanyanya sambil tersenyum begitu kupeluk.
Aku mengangguk dalam dekapannya. “Hannie khawatir.”
Nenek tertawa. “Ga ada yang perlu dikhawatirkan. Lihat.”
Nenek melepaskan pelukanku dan melebarkan tangan. “Nenek baik-baik aja kan?”
Aku cemberut. “Iya, tapi aku tetep aja khawatir.”
Nenek tertawa lagi. Kemudian tidak lama Ayah dan Paman keluar dari mobil.
“Woi bocil! Jangan ganggu ibuku, dia harus istirahat!” seru Paman dengan tas milik Nenek di tangannya.
Aku menjulurkan lidah. “Dia nenekku!” sahutku marah.
Kemudian tiba-tiba dari belakang seseorang mencubit pipiku keras.
“Heii, bocah nakal. Dengerin pamanmu dong~”
Aku berbalik. “Bibi May juga sama nyebelinnya!”
Yang mencubitku itu Bibi May. Dia datang kemarin sore. Seperti biasa, begitu melihatku dia langsung mencubit dan mencium pipiku.
Menyebalkan.
Bibi May terkekeh melihat ekspresi marahku. “Aduh… keponakanku yang paling imut. Kalo marah tambah imut dehhh~”
Dia berlutut dan menggendongku masuk ke dalam rumah. Aku berontak. Memukuli punggungnya. Tidak terlalu keras kok.
“Aku kan emang keponakan Bibi satu-satunya!!!”
Nenek mengikuti dari belakang. Dia hanya tertawa melihatku ‘di-bully’ seperti ini.
Duo kakak beradik itu mirip sekali sifatnya. Maksudku, antara Bibi dan Paman. Bisa dibilang Ayah yang paling berbeda di antara mereka.
Mungkin karena anak tertua?
“Lepas! Lepas! Lepasin aku!”
Bibi tidak merespon dan masih cengengesan. “Ga mau~ Bibi gamau~ usaha aja sendiri.”
Aku melihat Bunda yang sedang merapikan piring-piring cucian dengan mata memelas.
Tapi dia tidak menolongku. Dia malah tertawa. Dan… menyemangati.
“Aghhh!!! Lepas!” Aku memukul punggung Bibi May agak keras, dan dia langsung menjatuhkanku.
Untungnya di atas sofa.
Dugh!
Aku merintih. “Kenapa aku dilempar?!” geramku sembari mengusap punggung.
Bibi mengangkat kedua bahunya. “Kamu yang minta dilepasin. Masih untung Bibi lepas di sofa. Lagian,”
Bibi mendekatkan wajahnya ke wajahku. “Bibi ga lempar kamu, tapi cuma jatoh aja,” bisiknya dengan senyum mengerikan.
Aku merinding. Ini sebabnya aku lebih suka Paman daripada Bibi.
“May, jangan godain Hannie terus. Dari dulu sampe sekarang masih aja begitu.”
Nenek mengomeli putrinya dari kamar. Aku menahan senyum penuh kemenangan.
Bibi mendengus. “Yaa, Hannienya aja yang cengeng.” Dia menyeringai dan meninggalkanku. Membantu ibu merapikan cucian piring.
Aku mendecih. Semua orang di sini hanya bisa dijinakkan sama Nenek ya?
“Maapin bibimu ya, Han. Dia masih aja begitu.”
Aku menoleh, menatap Om, suami Bibi yang baru turun dari lantai atas.
Dia menggendong anaknya yang masih berusia tiga tahun. Sepertinya baru bangun tidur.
Aku bangkit dari sofa. Kemudian memaksakan seulas senyum. “Ga apa sih. Aku udah biasa,” jawabku.
Kami memang tidak begitu dekat. Mengingat keluarga mereka yang tinggal jauh, jadi jarang ketemu.
Kemudian pandangan mataku terkunci pada sebuah benda yang ada dalam genggaman Om.
Om yang menyadari aku tengah memperhatikan benda itu langsung membahasnya.
“Oh ya, Hansa. Ini punyamu? Tadi dimainin sama Sena. Kata Eli ini punyamu?”
Sena adalah anaknya. Anak laki-laki. Aku merasa agak aneh, karena di sekolahku yang namanya Sena itu perempuan.
Aku langsung mengangguk dan mengambilnya. Itu arloji Kakek.
“Iya, punyaku. Makasih Om, udah dijagain.”
Om mengangguk. “Sama-sama. Tadi Om juga kaget, barang bagus kayak gitu Sena nemu dimana?” Dia tertawa kecil.
Anak dalam gendongannya masih terpejam.
Aku mengulum senyum. Bukan senyum formalitas. Dia pria baik. Jarang sekali mengomeli anaknya.
Tidak seperti Ayah yang sedikit-sedikit memperingatiku ini-itu. Walau begitu Ayah tetap Ayah yang baik kok.
Nenek yang memperhatikanku dari tadi angkat suara. “Hannie. Kalau kau setuju, besok mau pergi betulin arloji itu sama Nenek?” usulnya.
.
.