
Aku mengerjap. Buta katanya? Aku tidak percaya masih mendengar perkataan itu di usia segini. Terlebih lagi, dari seseorang yang sudah sangat dewasa sepertinya.
“Buta? Justru anda yang buta kan? Matanya berwarna abu-abu terang. Bukan berarti dia buta. Terus ya, berasal dari desa ini bukan berarti dia warga sini. Orang KTP-nya Jakarta kok. Terus lagi,” Paman mengambil napas.
“Neneknya punya peliharaan- apa tu tadi? Di- Dia? Dika? Diba?”
“Diwa,” sahut Pak Sono.
“Nah, iya itu. Itukan cuma gosip. Kalo gosip kemungkinan benernya ga sampe delapan puluh persen! Percaya sama saya.”
“Percaya sama kamu sama aja musyrik.” Pak Sono menyahut lagi.
“Ya, ga gitu dong. Maksudnya bukan begitu. Pokoknya anak-anak ini dalam pengawasan saya! Mereka ga ngelakuin hal-hal aneh, dan ga nunjukin hal-hal aneh. Lagian ya, pak. Masih gosipin orang yang udah ga ada itu ga baik. Mending zikir banyak-banyak. Udah berumur gitu.”
Perkataan Om menohok tepat ke jiwa Pak Sono. Aku termangu mendengarnya. Om Dien pintar bicara. Aku tidak terlalu kaget karena sudah menghabiskan waktu dengannya cukup lama sih. Walau belum seminggu.
Tapi tetap saja, Om Dien tidak terdengar seperti musisi.
“Yasudah! Terserah kalian! Kalau terjadi apa-apa saya tidak akan membantu.” Pak Sono itu akhirnya menyerah.
“Baiklah. Kami akan berhati-hati, Pak. Janji jangan ganggu-ganggu lagi ya?”
Pak Sono mendecih.
“Hahh, kok ada orang kayak begitu ya?” keluh Om setelah memastikan Pak Sono dan pengikutnya pergi.
Aku menghembuskan napas panjang. “Gatau. Untung ada Om. Makasih ya.”
Om terkekeh dan mengusak rambutku. “Santai, Han. Santai. Om udah bilang kan, kamu sama Geeta tuh udah kayak anak Om.”
Aku ikut tertawa.
“Aduh Hannie, Tante minta maap yah. Mereka gedor-gedor rumah Tante dan maksa minta dianterin ke rumah ini. Katanya kamu ga bakal buka pintu kalo bukan Tante yang manggil.”
Aku diam sejenak. Kenapa ya, aku jadi sulit percaya pada Tante.
“Kamu ga punya pilihan, Din. Tapi keluargamu gapapa, kan?” Om kembali menengahi.
Apa dia sadar perasaanku? Aku jadi curiga Om bisa membaca ekspresi seseorang.
“Gapapa sih. Tapi—”
“Yaudah, mending langsung balik ke rumah. Kamu ninggalin mereka kan? Mau kuanterin?” Om mengajukan dirinya.
“Oh? Eh, boleh.”
Om langsung mendorongku masuk. “Kamu tetap di sini, Han. Jagain Geeta. Om mau ke rumah Tante Dinan dulu nih.” Dia mengedipkan sebelah matanya.
Benar kan? Dia tahu aku sedang merasa kurang nyaman di dekat Tante.
“Iya, hati-hati.” Aku menutup pintu setelah mereka pergi, dan menghela napas.
Dari kemarin ada saja masalah. Pemburu Diwa? Apa lagi itu? Pak Sono juga…
Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ingin sekali bertemu Geeta, tapi dia sedang tidur.
Melangkah naik ke lantai dua, aku berdiri di depan pintu kamar gadis misterius itu. Aku tidak mau membangunkan Geeta, tapi hati kecilku ingin sekali melihatnya.
Setelah nyaris lima menit beradu argumen dengan diri sendiri, aku membuka pintu kamar Geeta yang tak terkunci. Sosoknya yang tenang terbaring di atas tempat tidur membuat kepalaku terasa lebih ringan.
“Geeta, bukan kamu kan? Pelakunya?” gumamku setelah menarik kursi ke sisi ranjang. “Aku yakin bukan kamu. Aku mau percaya kalo bukan kamu pelakunya.” Suaraku mengecil.
“Apa yang orang-orang omongin itu ga bener, kan?”
Geeta tidak memberikan respons. Tentu saja.
Aku mendengus. Mentertawakan diriku sendiri. “Aku bodoh. Kenapa ya, orang-orang bilang aku itu pintar? Padahal aku jelas sebodoh ini.” Kurebahkan kepalaku di pinggir kasur. Menatap tangan Geeta yang pucat dan anehnya terasa sangat hangat.
“Sering bimbang. Lemah. Mudah kehilangan rasa percaya. Sulit mengerti situasi.”
Air mataku menetes tanpa dikomado. “Susah move on. Selalu dibayang-bayangi masa lalu. Padahal aku bahkan ga inget jelas masa lalu itu.”
Merasa kepalaku semakin pusing, aku memutuskan untuk memejamkan mata. Sesaat saja, aku ingin menikmati ketenangan ini sebentar saja.
...…...
Geeta merasakan tangannya diremat. Dia membuka mata sedikit, mendapati laki-laki bermata kelabu yang amat dikenalnya meneteskan air mata.
Tapi Geeta tidak kaget. Dia malah membiarkan laki-laki itu menangis. Geeta tahu, dari sejak Hansa berdiri di depan kamarnya, dia sudah tahu perasaan laki-laki itu.
Jelas sekali, perasaan sedih selalu terasa kuat dalam diri Hansa. Geeta sendiri belum pernah merasakan perasaan sedalam itu dalam diri seseorang sebelumnya. Bahkan dirinya sendiri.
Sebenarnya sudah berapa lama laki-laki itu memupuk rasa sedih sampai seperti itu?
“Kenapa mereka nuduh Nana…?”
Gumaman Hansa membuat Geeta tersentak. Laki-laki itu belum tidur? Atau mengigau?
Geeta duduk perlahan. Tidak mau membangunkan laki-laki itu. Hansa benar mengigau.
“Aku… kangen… kangen Na.”
Mata permata Geeta berubah kebiruan. Lihatlah, rasa sedihnya semakin kuat. Geeta menyentuh air mata laki-laki itu, dan seketika terserap kedalam telunjuknya.
Ia mengangkat tangannya di udara, di atas kepala laki-laki itu. Kemudian ikut memejamkan mata.
Cahaya terang kekuningan muncul dari telapaknya. “Ingahtan… Nonna….”
...…...
“Han?... Hannie~ … Han~ Nie~….”
Suara yang kukenal. Aku membuka mata perlahan, dan mendapati sesosok wanita berambut pirang tengah menimang seorang bayi.
Aku yakin ini suara Nenek. Tapi kenapa yang ada di depanku orang lain?
Wanita itu tersenyum saat bayinya tertawa. Tangan mungil bayi itu berusaha untuk meraih pipi si Wanita. Tawanya riang sekali.
“Hannie, anak tampan~ pintarnya.” Wajah wanita itu berseri.
Aku mengernyit. Hannie? Langkahku mendekat, dari sudut ini aku tidak bisa melihat wajah wanita itu. Sudah pasti bukan Bunda. Warna rambut Bunda kan hitam.
“Aw, tertawa lagi.”
Bayi yang dibalut kain itu, katanya aku? Aku memimpikan orang asing yang sedang menggendongku waktu bayi?
Ini pasti tidak nyata. Dalam hati sih begitu, tapi kakiku tetap melangkah karena penasaran dengan wajah si Wanita.
“Oh, coba lihat matanya~ ah, cantiknya~ Mata siapa ini cantik begini.”
Aku semakin dekat. Di ruang kosong berwarna putih ini, hanya ada aku, wanita itu, dan bayi yang katanya adalah aku. Sepenting apa dia sampai muncul di mimpiku?
“Mata Nana dong~”
Langkahku langsung terhenti.
“Mata cantiknya dari Nana nih… Aduh gantengnya cucu Nana.”
Seketika itu ruang putih tadi berganti dengan ruang keluarga rumah Nenek. Hanya saja dengan barang-barang yang lebih sedikit dan masih terlihat baru.
“Cucu pertama ya gini. Digendong-gendoong terus.”
Aku menoleh ke belakang. Orang yang tadi berkomentar mirip sekali dengan Paman, hanya jauh lebih muda.
“Tau sih, nanti cucu keduanya juga digituin ga? Jangan-jangan cuma sayang sama si Hannie doang,” sambar seorang wanita lainnya yang mirip sekali dengan Bibi May.
“Engga dong. Semua cucu Ibu itu spesial. Tapi yah, cucu pertama siapa sih yang ga seneng.” Wanita berambut pirang itu kini menoleh menghadapku.
Saat itu juga aku merasa waktu berhenti berputar. Air mataku mengalir. “Nana…” lirihku spontan.
“Dia… bakal jadi cucu yang paling sayang sama neneknya.” Wanita itu tertawa berseri-seri. Tawa lebar yang sangat kurindukan.
“Kenapa Ibu namainnya Hansa? Aneh gituloh.” Paman mendekat dan melihat aku dalam versi bayi dengan raut wajah tak suka.
“Kenapa ya? Mungkin karena Ibu suka banget sama angsa.”
“Angsa?” Bibi ikut mendekat.
“Iya, Hansa itu artinya Angsa. Angsa sering kali melambangkan kemewahan, kemegahan, elegan, dan setia. Ibu mau anak ini tumbuh dengan baik. Punya sopan santun yang tinggi, cerdas, dan setia sama psangannya nanti.” Dia tertawa kecil.
“Ga lupa ganteng juga. Angsa kan biasanya cantik-cantik gitu kan bentukannya.”
Paman ikut tertawa. “Jadi cantik atau ganteng nih?”
“Ya kalo cowok berarti ganteng dong, Ren.”
Aku tertegun. Kok bisa aku memimpikan hal semacam ini? Aku ingin percaya, tapi dipikir gimana juga mustahil sekali. Kalau menyangkal, kenapa terasa sangat nyata?
“Terus dipanggil Hannie biar kayak Honey gitu?” Bibi mendelik.
“Iya!” Senyum Nenek bertambah lebar. “Biar dia dicintai dan dihormati banyak orang di sekitarnya. Honey kan panggilan sayang.”
Aku ikut tertawa. Kalau memang benar begitu, aku sangat bersyukur. Aku sangat berterima kasih pada Nenek.
“Nana aku—” Baru aku melangkah sekali untuk mendekatinya, ruangan itu berputar. Sosok ketiganya menghilang dalam sekejap.
“Ga! Tunggu, tunggu!” Tanganku berusaha meraih Nenek yang tertawa.
.
.