
Aku mengusap kaki Geeta dengan tisu kering di depan kamar hotelnya.
“Nanti jangan lupa ganti baju, cuci kaki, cuci tangan. Kalo perlu mandi aja sekalian. Baru tidur.”
“Tapi kata Om mandi malam bikin sakit.”
Aku mendengus dan berdiri menghadapnya. “Engga. Mitos itu. Kamu mandi pake air hangat. Abis itu jangan lama-lama juga. Dari pada kotor, terus paginya gatel-getel. Mending mandi aja sekalian. Badan kamu penuh pasir begitu.”
Geeta mengangguk dan membuka pintu kamarnya.
“Oh iya!” tahanku, kemudian mengeluarkan sebuah ponsel yang baru aku beli sehari sebelum ke pantai. Sengaja untuk Geeta karena sudah pasti kita akan berada di kamar terpisah.
“Ini. Kalo ada apa-apa telpon aku pake ini.”
“Cahranya?”
Aku menunjukkan langkah-langkah menelepon dengan cepat. Tidak masalah, hanya ada kontakku dan Om di ponsel itu. Sengaja juga baru kuberikan sekarang, karena takut hilang.
“Ngerti kan?” tanyaku lagi memastikan.
Geeta mengangguk dan masuk ke dalam. “Mandi, gantih baju, tehus tepon Hannie kalo ada apah-apah,” katanya sebelum benar-benar menutup pintu.
Aku terkekeh. “Iyaa. Udah ya. *G*ood night, ‘princess’,” godaku. Mengingat aku menggendongnya sampai ke depan kamar. Untung saja sudah cukup malam dan tidak ada yang lewat tangga darurat.
...…...
“Gimana nge-date nya? Ga macem-macem kan? Pulang-pulang bajumu penuh pasir gitu.” Nada suara Om menyelidik.
“Aku baru selesai mandi udah mau di interogasi nih?” kataku balik bertanya. Masih mengeringkan rambut.
Om meletakkan ukulelenya dan memelototiku. “Iya. Anak gadis Om harus terjaga seratus persen. Laki-laki manapun yang habis main sama dia harus langsung diiterogasi secepatnya.”
Om mendengus. “Lagian, mandi malem-malem gini apa ga rematik?”
“Engga Om. Justru malah mengurangi efeknya kalo mandi pake air anget.” Aku duduk di sisi kasur menghadap Om. “Dan engga, aku ga macem-macem. Geeta yang dorong aku sampai jatuh. Jadi bajuku penuh pasir.”
“Oh gitu?” Wajah Om tidak percaya. “Laki-laki sulit untuk dipercaya kamu tau?”
“Berarti Om juga sulit dipercaya?” balasku cepat.
“Ya— Engga gitu. Ga semua laki-laki dapat dipercaya. Begitu maksudnya.” Om meraih kembali ukulelenya. “Faktanya memang lebih banyak yang sulit dipercaya. Apalagi yang mukanya 'mempesona' kayak kamu.”
“Berarti Om ga 'mempesona' dong? Berarti yang bisa dipercaya otomatis mukanya ga 'mempesona'?”
Om mendecak. “Bukan begitu juga. Duhh, pokoknya kamu ga ngasih Om alasan buat percaya sama kamu.”
“Kalo gitu kenapa juga aku harus percaya sama Om? Om belum kasih aku 'a-la-san' juga.”
“Loh, ga bisa gitu dong. Om kan lebih tua dari kamu.” Suara Om meninggi.
Aku memiringkan kepala sok polos. “Memang yang lebih tua sudah pasti bisa dipercaya?”
“Engga— Bukan gitu. Tapi, ya… Agh! Terserah kamu lah, Han!” erang Om frustasi. “Berdebat denganmu bukan pilihan yang baik. Om akan ingat itu.”
Gerakan tanganku yang masih mengeringkan rambut terhenti. “Nenek juga bilang begitu waktu berdebat denganku pas kecil.” Aku tersenyum tipis. “Kayaknya memang aku ga seharusnya banyak bicara.”
Om kembali memainkan ukulelenya dengan santai. “Ga juga. Tapi iya, untung kamu ga terlahir banyak bicara, Han. Coba kalo cerewet kayak si Geeta itu. Udah pecah kepala Om dari kemarin.”
Aku terkekeh. “Emangnya kepala Om terbuat dari apa? Balon? Kok gampang pecah?”
Jari telunjuk Om terangkat ke atas. “Cukup, Hansa. Cukup. Om mau menikmati malam di pantai ini dengan tenang. Jangan ganggu. Kilauan mukamu habis mandi itu sudah cukup menganggu penglihatan Om.”
“Silau ya?” sahutku lagi.
“He’em. Kayak lampu taman. Shining shimmering splendid. Cewe-cewe yang deketin kamu itu, udah kayak laron yang suka nempel di lampu. Heran Om, mereka ga silau apa ya?”
...…...
“Hannie, selahmat pagi.”
Geeta menarik kursi di sampingku. Semalam dia menelepon, dan katanya dia sulit tidur. Jadi aku dan Om terjaga sepanjang malam hanya untuk menemaninya tidur lewat telepon.
“Enak ya, yang tidurnya di nyanyiin semaleman. Liat nih tangan Om sampe keriting buat kamu.” Om menunjuk jari tangan kanannya penuh emosi.
Dia sudah memainkan lebih dari sepuluh lagu dengan ukulelenya. Haha, aku juga nyaris tertidur kalau saja dia tidak memukul kepalaku.
“Yang penting suara Om ga ikut keriting juga. Kalo rambut sih… kayaknya udah dari sana ya?” godaku sambil menyesap teh manis hangat yang disediakan.
“Heh, jangan macem-macem sama rambut Om. Kamu gatau perjuangan Om sama rambut ini waktu muda?”
Aku menggeleng dan tersenyum tipis. Membiarkannya membagi kisah lagi.
“Rambut ini yang bikin istri Om mau sama Om tau. Kamu gatau aja gimana kerennya rambut ini waktu itu.” Om menyibak rambutnya ke belakang penuh percaya diri.
Geeta dengan jelas menahan tawa.
“Kenapa kamu ketawa?” Om memelototi Geeta. “Om ga lagi ngelawak ya,” desisnya.
“Ngga.” Geeta mulai terkekeh. “Rambut Om miriph rumput laud.” Dia menunjuk kumpulan rumput laut di dalam akuarium besar di tengah restoran. “Buuff, gitu.”
“Dasar kamu. Masa Om ganteng gini disamain sama rumput laut?” Tangan Om yang baru memegang sendok terhenti lagi.
Geeta menggeleng. “Kalo gamteng itu Hannie, Om.”
“Terus Om ga ganteng?”
Geeta diam sejenak. Menahan senyum, dan menatapku.
“Kenapa malah liat aku?”
Dia kemudian menunduk dan menatap Om lagi. “Om gamteng kok. Segini….” Dia menunjukkan tanda ‘sedikit’ dengan telunjuk dan ibu jarinya.
Aku tertawa lagi. “Sedikit tuh maksudnya.”
“Masa cuman sedikit? Tega banget deh, padahal Om udah anggep kamu sebagai anak Om sendiri loh.” Nada suara Om kecewa.
Dia melengos dan menjatuhkan sendoknya kasar. “Tau ah. Om ngambek. Tega kamu, Geeta.”
Geeta langsung kelabakan dan bangkit dari kursinya. Pindah duduk di kursi sebelah Om.
“Geeta minta maaph.” Dia menepuk kedua pundak Om mencoba menenangkan.
Tawaku langsung terhenti begitu mendengar Geeta menyebut namanya dengan benar.
“Geeta! Kamu bisa nyebut ‘Geeta’?” tanyaku dengan semangat.
Om yang baru menyadari hal itu langsung berbalik dan memegangi kedua lengan Geeta. “Ulangi lagi, nak. Cepat ulangi lagi! Om mau denger.”
“Iya! Coba ngomong lagi!” seruku mengikuti Om sembari mencondongkan tubuh ke depan antusias.
Dengan ekspresi heran, Geeta menuruti permintaan kami. “Ge-Geeta…?”
Mataku dan Om berbinar.
“Wah! Anak Om sudah besar! Ga sia-sia kita ke pantai.”
“Akhirnya bisa juga! Ga sia-sia begadang semaleman.”
Aku dan Om berseru bergantian. Menciptakan kehebohan di restoran hotel pagi-pagi. Kuharap pekerja di sini tidak melarang kami untuk datang lagi.
Setelah sarapan, kami bersiap untuk pulang siang nanti.
“Ga ada yang ketinggalan ya? Abis main di pantai kita langsung pulang loh. Biar ga kemaleman.” Aku bersandar di tembok dengan tangan dilipat.
“Om udah cek lemarinya. Kamu ga naruh apa-apa ya?” tanya Om pada Geeta sembari mengecek lemari untuk kedua kalinya.
Agar lebih pasti kami -aku dan Om- memutuskan untuk merapikan barang-barang Geeta bersama. Sementara si empunya hanya duduk cantik di tengah kasur.
“Engga. Geeta dah rapihin semua sebelum sarahpan,” jawabnya.
Om mengangguk-angguk dan menepuk tangannya. “Kalo gitu udah beres. Pinter deh kamu. Ga kayak si ‘itu’ tuh,” sindirnya melirik padaku.
Aku yang tersinggung membalas cepat, “Emangnya aku kenapa?”
“Ga kok. Cuman, lupa naro cardlock aja.” Om melengos.
Ah, benar. Aku menghilangkan kartu untuk membuka kamar kami semalam. Sebenarnya, setelah Geeta tidur aku dan Om berjalan-jalan di taman hotel. Tapi saat kembali, kartu keramat itu malah lenyap begitu saja.
Dan itulah alasan utamanya kami begadang semalaman.
“Ya- ya maap. Namanya juga manusia. Tidak luput dari kesalahan. Alangkah lebih baiknya Om memaklumi hal tersebut.” Aku menoleh ke arah lain, sedikit menyesali kejadian sial itu.
“Tentu saja. Tapi akan jauh lebih baik kalau anda tidak teledor seperti itu, Mr. Grace. Kita bisa tidur lebih awal kalau saja kartu itu masih menampakkan wujudnya,” sahut Om ikut-ikutan formal.
“Tapi kan aku juga yang bayar gantinya, Om. Ikhlas aja, oke?” balasku lagi tidak terima.
Om melipat tangannya di depan dada. “Oh ya. Tapi kamu ga bisa ganti waktu tidur Om kan? Kalo nanti Om ngantuk pas nyupir gimana? Orang tua butuh waktu tidur yang lebih banyak, Han.”
“Mangkanya biarin aku yang nyupir. Kan lebih enak di Om juga.”
Om mendesah kasar. “Emangnya kalo anak muda ga bakal ngantuk abis begadang semaleman? Enak aja nyupir-nyupir. Om gamau menitipkan nyawa Om sama anak ayam baru netes kayak kamu.”
Aku menegakkan badan menghadap Om. Entah bagaimana suasananya memanas. “Loh, kan Om sendiri yang bilang orang tua butuh waktu tidur lebih banyak.”
“Ya bukan berarti Om mau menitipkan nyawa kita bertiga ke kamu.”
“Tapi kan—”
“AAAAAAAHHHHHHHH!!!!!!!”
Pekikan Geeta menghentikan perdebatan kami. “Om, Hannie, Om, Hannie. Geeta kahpan ngomongnya?!” seru gadis berparas seperti dewi itu. Pipinya menggembung merah.
.
.