Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XXV



“Kau mau makan apa?” tanyaku sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Mencari tempat makan yang pas.


Geeta tidak langsung menjawab. Dia berpikir sejenak dan melihat ke sekitar.


Walau sudah tidak mengenakan kacamata hitam, Geeta tetap saja menarik perhatian orang lain.


Kenapa?


Hmm, bisa dibilang wajah Geeta terlihat unik. Kulit putih pucat, matanya besar, dan karena warna mata asli Geeta kerap bersinar, lensa kontak coklat tua tadi berubah jadi coklat muda.


Dengan kata lain Geeta terlihat seperti orang asing. Malah mengalahkan aku yang memang ada darah eropanya.


“Oh! Hannie!”


Geeta menarik lengan bajuku dan menunjuk salah satu restoran cepat saji.


“Kau mau makan di sana?” tanyaku memastikan.


Geeta mengangguk. Kemudian berjalan lebih dulu, menarikku.


Aku tertawa kecil. Yah, walau banyak yang memperhatikan, aku rasa Geeta tidak begitu terganggu.


Begitu sampai di sana, ternyata antreannya sangat panjang.


Aku mendecak. Lalu mencari meja yang kosong terlebih dahulu. Kalau Geeta ikut mengantre, dia bisa kelelahan.


Aku menariknya ke meja khusus dua orang di ujung ruangan dekat kaca besar. Pembatas antara area indoor dan outdoor restoran.


“Duduk di sini. Aku mau pesan makanan.”


Geeta tampak kebingunan ketika aku akan meninggalkannya. Baiklah, sepertinya dia memang belum terbiasa dikelilingi orang banyak.


Aku mengusap punggung tangan Geeta. “Sebentar saja. Kamu masih bisa melihatku dari sini.”


Aku menunjuk barisan orang-orang. “Lihat. Aku akan berdiri di sana. Kalau ada apa-apa lambaikan tanganmu.”


Geeta ragu sejenak. Kemudian melepaskan genggamannya dari ujung kaus putihku.


Dia mengangguk. Dari ekspresi wajahnya, aku tahu dia cemas. Tapi aku tidak bisa mengajaknya ikut mengantre kan? Aku takut nanti dia kelelahan.


“Aku tidak akan lama. Janji,” kataku sebelum melangkah cepat ke antrean.


...…...


Gadis cantik berambut hijau lumut itu mengigit ujung ibu jarinya. Dia tampak sangat cemas.


Matanya tidak pernah lepas dari laki-laki bertubuh jangkung yang sedang mengantre di kasir depan sana.


“Ih, liat tuh. Bule ya?"


“Bro, bro! Sini dah, ada cewe cakep banget.”


“Yang cowok tadi pacarnya bukan ya...?”


Sejak mereka memasuki kawasan Mall, banyak sekali yang berbisik-bisik membicarakan mereka.


Gadis itu sebenarnya cukup terganggu. Tapi saat melihat cucu dari Miss Sophie itu biasa saja, dia jadi ikut menahan perasaan jengkelnya.


Dia tidak mau menyusahkan laki-laki itu. Tidak mau membuatnya khawatir.


“Permisi, nona."


Ketukan tiga kali di mejanya membuat gadis itu tersentak. Dia menoleh, melihat dua orang laki-laki yang tidak ia kenali wajahnya berdiri dengan senyuman aneh.


“Boleh kenalan? Eh, bisa bahasa Indonesia kan ya?” kata salah seorang laki-laki itu.


Sementara yang satunya terkekeh sambil mengarahkan ponsel pada sang gadis. Sepertinya dia sedang merekam.


Gadis itu mengerutkan kening tidak suka. Harusnya, kedua laki-laki itu paham kalau gadis ini merasa terganggu.


Tapi mereka tidak peduli dan terus mengajaknya bicara.


“Kayaknya ga bisa bahasa Indonesia ya? Yah… sayang banget, jadi ga bisa kenalan dong.”


Gadis itu memundurkan kursinya ke tembok, karena laki-laki yang terus bicara mulai mendekat.


Dia menoleh ke sekitar. Banyak orang yang memperhatikan, tapi tidak ada satupun yang berniat membantunya.


Sebagian memilih untuk pura-pura tidak tahu.


Gadis itu ingat, kalau ada apa-apa dia harus melambaikan tangan. Jadi dia langsung mengangkat sebelah tangannya, dan melambai.


Tidak seperti yang ia pikirkan, cucu Miss Sophie itu tidak langsung datang.


Laki-laki pengganggu itu terkekeh. “Hahaha, ngapain sih? Lambai-lambai ga jelas.”


Dia terus mendekati gadis itu, dan temannya terus merekam tanpa izin.


“Rambutnya bagus deh, aku lihat ya.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya. Berusaha meraih rambut sang gadis.


Sementara gadis itu memejamkan mata. Ketakutan. Dalam hati, dia terus berharap seseorang membantunya. Karena entah kenapa, tubuhnya tidak berani melawan.


“Hannie…” gumam gadis itu pelan. Sangat pelan. Sampai ia tidak yakin kalau ada yang mendengar.


“Hoi.”


“Anda pikir, apa yang sedang anda lakukan?”


...…...


Aku tidak berhenti memeriksa Geeta yang duduk di ujung ruangan. Dia tampak cemas.


Aku jadi kasihan. Apa lebih baik dia lelah mengantre denganku dari pada menunggu sendiri begitu ya?


Tinggal satu orang lagi di depanku. Bagus, tolong cepatlah.


“Selamat siang, silahkan pesanannya, kak,” ujar kasir sekaligus pencatat pesanan begitu giliranku tiba.


Aku berpikir sejenak. Aku lupa bertanya pada Geeta apa yang dia inginkan. Mendesah kasar, aku memilih untuk memesan menu-menu terbaik saja.


Bukannya aku tidak tahu menu yang enak. Tapi, aku tidak tau selera Geeta. Bisa saja berbeda denganku.


Setelah pesananku tercatat, aku melirik lagi ke pojok ruangan memeriksa Geeta.


Bukannya pemandangan Geeta yang sedari tadi memelototiku, aku malah mendapati dua orang laki-laki mendekatinya.


Aku menggeram. Apa yang mereka lakukan?


“Pesanannya, kak.”


Aku membayar dengan cepat, dan buru-buru menghampiri Geeta.


Bukannya sudah kubilang untuk melambaikan tangan kalau ada apa-apa? Atau aku tidak melihatnya karena sibuk memesan?


Oh, sekarang pengganggu itu berusaha menyentuh Geeta!


Aku berlari kecil. Tidak peduli kalau menyenggol orang sekalipun. Kenapa juga tidak ada yang menghentikan ‘cowok-cowok’ ini?!


“Hoi.”


Aku mencengkeram pergelangan tangan laki-laki yang berusaha menyentuh Geeta.


“Apa yang sedang anda lakukan?” kataku menahan emosi.


Laki-laki itu mendengus. “Masnya sendiri?” balasnya dengan nada yang menjengkelkan.


Aku menggertakan gigi. Menaruh nampan di meja, dan menghempaskan tangan laki-laki itu.


“Lebih baik anda pergi sebelum terjadi keributan,” ancamku.


Tapi dia malah tertawa. “Oh, ya? Masnya ga tau siapa saya?"


Aku mengernyit. Ah, begitu rupanya. Inikah alasan tidak ada pekerja di sini yang menghentikannya?


Aku mendengus kesal. Kalau dilihat-lihat dia masih bocah. SMA?


“Oh? Aku tidak peduli siapa kau,” tegasku. Tidak peduli sekitar.


Aku beralih pada temannya yang sedang merekam. Dengan cepat aku menyambar ponsel itu dan menghapus videonya.


“Kau tahu kejahatan apa yang sedang kau lakukan?”


Aku melempar ponselnya ke meja. Kemudian menatap sinis keduanya.


Anak laki-laki yang sombong tadi terkejut. Kemudian menggeram.


“Aku anak manajer restoran di sini. Jangan macam-macam. Kalau ponselnya rusak kau mau ganti?!”


Aku memijat pelipis sejenak. Berusaha tetap tenang. Kalau meledak sekarang bisa gawat.


“Memang berapa harganya?” desahku.


“Itu keluaran terbaru! Har—“


“Baik-baik. Ambil ini. Puas?” Aku menyela omongannya dan melepaskan jam tanganku. Meletakkannya di atas meja.


“Ro-Rolex…” gumam laki-laki pemilik handphone.


“Ini bisa dipake untuk beli lima handphone yang sama sekaligus.” Aku mendengus. “Malah masih kembalian."


Kemudian beralih lagi pada orang yang mengaku anak manajer retoran ini.


“Kalau orang tuamu memang manajer di sini, lebih baik jaga sikap. Jangan buat ulah dan mempermalukan keluarga sendiri.”


Aku menarik Geeta dari kursi.


“Kau beruntung aku masih membayar makanan ini,” desisku sebelum pergi.


Dari belakang, aku bisa merasakan orang-orang berbisik membicarakan kami.


Masa bodo. Aku malah berharap kasus ini sedikit terkenal dan orang-orang jadi sadar kalau yang seperti itu tidak boleh didiamkan saja.


.


.