Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XXXV



“Kelincinya ga ketinggalan kan?” Om membuka pintu mobil dan bertanya sekali lagi. Khas bapak-bapak saat ada acara keluarga.


Geeta mengangguk dengan wajah pucat. Menunjukkan Navy yang sudah ada di pelukannya.


“Geeta kenapa?” tanyaku curiga.


Dia menatapku ragu. Kemudian menjawab, “Hita… pinging buang aih kecik.”


“Buang air kecil? Kenapa ga bilang dari tadi?!” Om menutup kembali pintu mobil. “Udah sana, ke kamar mandi dulu. Nanti di mobil ngompol Om turunin kamu ke jalan.”


Aku menahan tawa. “Ayo Geeta, aku anterin.”


“Nganterin di depannya aja loh, Han!” seru Om membuatku malu.


“Iya lah!” sahutku.


...…...


Gadis cantik itu keluar dari bilik kamar mandi dan mengikat ulang rambut hijau umutnya yang berantakan di depan cermin. Dia mengingat-ingat cara yang diajarkan cucu Miss Sophie.


“Lo, yang tadi bikin ribut itu kan?” Seseorang yang baru masuk ke kamar mandi bersama dua orang temannya itu langsung menghampiri dengan nada suara tak menyenangkan.


“Hibut?” Geeta menautkan alisnya.


“Ribut. Ri-but! Lo ga pernah sekolah apa gimana? Ngeja aja ga bisa. Heran gue sama tu cowok. Kok mau deket-deket sama cewek kecentilan kayak lo.” Perempuan berambut panjang terurai itu menyudutkan Geeta.


“Udah gitu bego lagi. Sayang, ganteng-ganteng seleranya begini.” Matanya memicing. “Tapi kalo bukan karna muka lo, kayaknya dia juga ogah kali.”


Geeta menggertakan giginya. Dia tidak bodoh. Dia tahu perempuan-perempuan ini bukanlah orang baik.


“Minggih.”


Perempuan dan dua orang temannya itu tertawa mengejek. “Minggih katanya. Minggir woy! Minggir! Pake R!!!”


Tidak tahan dengan wajah ‘jelek’ si perempuan itu, Geeta langsung mendorongnya sekuat tenaga hingga terpental.


“Sial, gila lo ya?!” pekik salah satu teman perempuan itu.


“Kok bisa cewek punya tenaga kayak gitu?” kata yang satunya dengan tubuh bergetar ketakutan.


Mata Geeta berubah kemerahan. “Hita ga suka.” Kemudian berjalan ke pintu meninggalkan mereka.


Perempuan yang terlempar tadi berusaha untuk berdiri dan menjambak rambut Geeta.


“Brengsek lo! Berani-beraninya lo nyentuh gue setan!”


Sebenarnya Geeta sudah menahan diri untuk tidak menyakiti mereka lebih lagi. Dia tahu perempuan-perempuan itu bukan tandinganya. Kalau melawan dengan serius, mereka bisa mati.


“Lefas!!!” Geeta memegangi tangan perempuan itu.


“Lo pikir gue bakal nurutin kata-kata lo? Cewek sial! Lo bisa apa kalo ga ada cowok lo itu hah?!” Perempuan itu kini menatap temannya. “Lo pada ngapain?! Bantuin gue!”


Dua temannya mendekat dengan ragu dan mulai memukuli Geeta.


“Geeta? Kamu udah beres?”


Geeta dan tiga perempuan itu menoleh cepat ke pintu.


“Han- Mmmph!” Perempuan berambut panjang itu menutup mulut Geeta dengan sebelah tangannya.


“Itu cowoknya! Kunci pintu, kunci! Lo bakal abis sama gue sekarang, sialan!”


Perempuan itu menjambak rambut Geeta lebih kuat lagi.


...…...


Dari kamar dalam kamar mandi wanita terus terdengar suara gaduh. Aku jadi khawatir. Tapi aku tidak bisa masuk begitu saja.


“Geeta? Kamu udah beres?”


Tidak terdengar jawaban. Tapi suara gaduhnya masih terdengar.


“Misi, mas. Saya mau masuk.”


Aku tersentak dan minggir ke samping. “Oh, iya. Maaf, Bu.” Rasanya jadi seperti orang aneh yang menguping kamar mandi perempuan.


Aku menggaruk tengkuk dan berbalik ke tempat tunggu semula.


Cklek


“Loh, kok dikunci?”


Aku menoleh cepat ke arah ibu tadi. “Kenapa bu?”


“Ini, kok pintunya kekunci ya?”


Aku langsung memeriksanya sendiri. “Masa sih? Kayaknya tadi masih gapapa.”


Benar, pintunya terkunci dari dalam. Ibu itu memanggil salah seorang karyawan di sana. Pintunya benar terkunci.


“Ada orang di dalam mas. Dari tadi juga gaduh aja,” jelasku.


“Oh, bisa jadi lagi berusaha keluar ya.”


“Tapi kok ga kedengeran? Minta tolong apa kek gitu?” timpal si Ibu.


“Han! Kok lama?!” Om menyusul dari parkiran. “Mobilnya sampe Om matiin lagi loh.”


“Pintunya kekunci Om. Yang di dalem ga bisa keluar,” jelasku.


“Wah? Kok bisa? Terus?”


Aku mengangkat bahu. Hingga tiba-tiba terdengar suara hantaman yang amat keras.


“Ada apa di dalam?! Tolong jangan melakukan hal berbahaya, kami akan segara membuka pintunya!” seru karyawan restoran itu.


Bukannya terdengar jawaban atau apa, malah terdengar suara jeritan dari dalam kamar mandi.


“Geeta?!” Aku langsung mendekati pintu. Dan berusaha mendobraknya seorang diri.


“Eh, mas tunggu. Kunci cadangannya lagi diambil kok.”


“Kelamaan!”


Om membantuku. Dan akhirnya karyawan itu juga membantu.


“Yang di dalam, menjauh dari pintu! Kami akan mendobrak!” seru karyawan itu lagi.


Brak!


“Geeta!!” Aku terbelalak begitu pintunya terbuka.


Geeta, dengan luka lebam di tangan dan wajahnya sedang menjambak rambut dua orang perempuan.


...…...


“Dia yang duluan! Diliat dari bekas lukanya juga udah jelas dia yang mukulin kita kan?! Luka kita lebih banyak dan lebih parah!"


Perempuan dengan rambut panjang berantakan itu membela diri di depan pemilik restoran.


Keributan tadi tidak bisa selesai begitu saja ternyata. Tiga perempuan itu menuduh Geeta yang tidak-tidak dan meminta pertanggung jawaban.


Jadi pemilik retoran membawa kami ke kantornya.


“Benar begitu?” tanya pemilik restoran itu pada Geeta.


Ah, apa aku sudah bilang kalau kita akhirnya makan di restoran milik Kakek Kama. Kini restoran itu dikelola anaknya. Sudah sejak Kakek Kama meninggal dunia.


Geeta tidak menjawab. Dia terus menunduk.


“Tuh kan! Dia ga ngomong apa-apa! Berarti dia ngakuin itu dong!” ngotot perempuan itu. Sementara dua temannya terus menangis seperti anak kecil.


Pemilik restoran itu melirikku sesaat. Dia tidak mau menunjukan kalau kami saling kenal. Itu pilihan bagus, orang-orang bisa salah paham mengira dia berpihak pada kita. Dan itu hanya akan memperburuk keadaan.


“Saya tidak suka keributan di restoran saya—”


Aku mendesah. Kemudian maju menghadap tiga perempuan itu.


“Saya minta maaf,” potongku sambil menunduk. Geeta tampak terkejut dengan tindakanku. Begitu juga dengan pemilik restoran.


“Yang bersalah belum terbukti siapa, kenapa kamu minta maaf?” tanya pemilik restoran.


“Terlepas dari siapa yang bersalah, saya tetap minta maaf. Seluruh kerusakan dan biaya pengobatannya juga biar saya yang tanggung.”


Dua perempuan yang menangis itu langsung berhenti. Om Dien diam saja melihat keputusanku. Ini jalan terbaik bukan? Kalau tidak begini, tidak akan ada yang mengalah.


Pemilik restoran menghembuskan napasnya, dan berdiri. Mendekatiku.


“Kalau memang begitu keputusan anda, saya sih tidak keberatan. Gimana? Dengan begini apa nona-nona sekalian sudah merasa lebih lega?”


Tiga perempuan itu menatap sinis Geeta yang berdiri di balik punggungku.


“Maafkan adik saya,” kataku lagi menyela tatapan mereka. “Lain kali akan saya beritahu agar tidak memukul orang.”


Mereka terlihat puas. Aku tahu dalam hati mereka mentertawakan Geeta. Masalahnya selesai tepat setelah aku menyerahkan uang untuk biaya pengobatan dan ganti rugi kerusakan pintu kamar mandi itu.


“Hansa,” panggil anak Kakek Kama yang kurang lebih seumuran dengan ayahku begitu tiga perempuan tadi keluar.


“Ini, kamu ga perlu ganti kerusakannya. Itu bukan masalah besar. Lagian bukan salahmu juga, terus lagi kenapa kamu minta maaf?” Dia menyerahkan kembali uang yang aku berikan.


Aku tersenyum kecil. “Mereka ga bakal berhenti sampai kita mengalah, kan?”


Paman itu ikut tersenyum. “Ambil lagi uangnya. Paman tidak suka begini.”


Aku menerima kembali uangku. “Terima kasih.”


“Ngga, Hansa. Harusnya Paman yang terima kasih karena kamu keributan tadi jadi berhenti lebih cepat.”


Aku menggeleng. “Aku cuma gamau masalahnya jadi tambah panjang.”


“Yaudah, kamu ngobrol sama temanmu itu.” Seperti menyadari keterkejutanku dia melanjutkan. “Kamu pikir Paman gatau dia bukan adikmu?” Dia terkekeh.


“Adikmu cuma satu dan dia baru sepuluh tahu, Hansa. Namanya Zihan, benar? Walau kita udah lama banget ga ketemu, tapi Paman tau.”


Aku menghela. “Iya, makasih sekali lagi.”


.


.