
Samar-samar, dibalik dinding aku melihat Nenek memerhatikan kami. Aku mengusap mataku untuk memastikan.
“Nenek?”
Bunda melepas pelukannya dan menoleh ke belakang. “Ibu?”
Nenek tersenyum seperti biasa. “Mau tidur dengan Nenek malam ini, Hannie?”
Aku berdiri sambil tersenyum sumringah. Kemudian menatap Bunda ragu. Agak tidak enak juga meninggalkan Bunda. Padahal aku baru bermanjaan dengannya.
Tapi Bunda malah ikut tersenyum cerah dan mengangguk menyetujui. Jadi aku ikut dengan Nenek tidur di kamarnya. Jarang-jarang aku berkunjung ke kamar Nenek.
Ayah melarangku. Atau siapapun memasuki kamarnya. Kata Ayah, itu tempat khusus untuk Nenek istirahat. Jadi jangan di acak-acak.
“Waahhh….” Aku melongo memandang sekeliling kamar bernuansa Eropa itu. Nyaman dan hangat. Itu kesan pertama yang kudapat begitu menginjakkan kaki di dalamnya.
“Malam ini, lupakanlah seluruh masalahmu dan tidurlah yang nyenyak.”
Nenek mengganti lampu biasa dengan lampu tidur. Yang membuat suasana kamar ini jadi semakin hangat.
“Mau Nenek bacain dongeng dulu?” tanyanya begitu aku menaiki kasur.
“Boleh! Aku suka dongeng apa aja.”
Nenek terkekeh dan mencari dongeng yang pas dikepalanya. Satu, dua dongeng dia ceritakan tapi mataku masih sangat segar. Nenek juga sepertinya tidak berniat tertidur sebelum aku.
“Masih belum ngantuk juga? Gimana kalo kita lihat-lihat album foto?”
Nenek turun dari kasur dan mencari album foto yang dia sembunyikan di dalam lemari.
“Kenapa taruh album di dalam sana?” Aku mengintip aktivitas Nenek dari kasur.
“Album penting. Kalau diletakan di luar, takutnya cepat berdebu.”
Aku memiringkan kepala semakin heran. “Memangnya kalo di dalem lemari ga akan berdebu? Kalo jamuran?”
Nenek tertawa lagi dan naik ke kasur. “Kalo begitu konsepnya baju-baju kita juga bakal berdebu dan jamuran dong, Han.”
Aku ber-oh, dan duduk lagi di samping Nenek. “Iya juga. Hehe.”
Nenek mengulurkan tangannya, menyuruhku mendekat. Dia merangkulku, dan mulai membuka halaman pertama.
“Lihat. Ini kakekmu. Ganteng kan?” Nenek menunjuk satu foto pria bertubuh tinggi dengan mantel gelap berdiri di tengah halaman sebuah gedung. Menghadap ke kamera.
Fotonya hitam putih. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu. “Ini kakek?”
“Iya. Ini foto kakekmu sewaktu muda. Dia sekolah di negara tempat Nenek dilahirkan.”
Aku mengangguk-angguk. Berarti Kakek di sini masih muda sekali? Sayang wajahnya ga terlihat jelas. Di bawah foto itu ada foto Nenek.
“Nah kalo foto Nenek mukanya jelas!”
Nenek tertawa mendengar celetukanku. “Kamera kakekmu ga sebagus kamera Nenek,” guraunya tertawa sendiri.
Lembar-lembar selanjutnya sudah lebih berwarna. Walau agak kusam. Dan tidak ada lagi foto kakek muda. Semuanya foto kakek saat sudah berewokan.
“Oh! Ini Ayah?!” Aku menunjuk foto anak bayi berambut coklat terang. Dibawahnya ada dua foto lain, yang satu anak bayi berambut pirang, satunya bayi berambut coklat juga. Hanya saja lebih gelap.
“Iya. Ini ayahmu, ini Bibi May, ini Paman Ren.” Nenek menunjuk ketiga foto bayi itu bergantian. Lalu di halaman berikutnya, ada foto mereka bertiga saling bergandengan.
Dari dulu Ayah itu jarang bereskpresi. Bibi juga, ternyata dari dulu sudah ceria dan urakan. Paman… dia masih lucu dan polos. Haha… polos ya?
Nenek membuka halaman baru dan berseru, “Ah, ini foto Ayah dan Paman Ren saat masuk sekolah. Di sini hari pertama Ren, dan dia ketakutan karena anak-anak lain memelototi dirinya.”
Aku terkekeh. Itu kan sudah pasti. Rambut menyilaukan bagai matahari itu mana mungkin ga menarik perhatian.
“Jadi ayahmu sebagai kakak, dia menggenggam tangan Ren dan bilang, ‘Jangan payah! Kamu anak laki-laki. Mereka cuman iri ga punya rambut senter kayak kamu.’ Begitu katanya.”
Pandangan Nenek yang menerawang sambil tertawa kecil itu membuat aku hanyut dalam ceritanya. Jauh lebih seru dari dongeng.
“Ternyata dulu Paman lebih payah dariku.”
“Iya. Siapa yang menduga anak penakut itu sekarang sudah jadi calon dokter yang suka gonta-ganti pacar.” Nenek menghela. “Tapi dia akan jadi dokter yang hebat.”
“Itu sih. Udah pasti.” Aku menyetujui perkataan Nenek. “Mereka bakal baikan kan, Nek?”
Membahasa tiga saudara itu membuatku teringat akan masalah yang kutinggalkan di belakang.
Nenek terdiam. Tapi senyumannya tidak memudar sedikitpun.
Walau tersenyum, aku tahu Nenek sedih melihat anak-anaknya bertengkar.
“Sampai kapan pun, kasih sayang yang sudah dibangun sejak mereka lahir itu tidak akan pernah putus, Hannie. Itu namanya hubungan keluarga. Tali penghubung di antara kita terlalu tebal untuk diputuskan begitu saja.”
Nenek kini menatapku, dan menjulurkan sebelah tangannya. Kupikir dia akan mengusap kepalaku seperti biasa. Tapi ternyata dia malah mengusap pipiku.
“Dilihat-lihat… kamu mirip sama ayahmu juga. Ayahmu banyak yang bilang mirip Raje. Berarti yang Kama bilang soal kamu mirip Raje itu mungkin ada benarnya.” Nenek menutup album foto dan meletakkannya di atas nakas.
Kakek Kama memang bilang mataku mirip Kakek Raje. Tapi aku kurang setuju dengan pendapat Nenek. Aku sudah lihat foto Ayah waktu seumuranku dan dia sama sekali tidak mirip denganku. Tidak tahu kalau Kakek.
“Nah, sekarang waktunya tidur. Matamu udah 5 watt tuh.”
Aku menurut dan Nenek mematikan lampu. Entahlah, tapi malam itu aku tidak bermimpi sama sekali. Pertama kalinya aku tidak bermimpi.
...…...
“Hannie! Geeta udah rapihin semuanya!”
Geeta meloncat-loncat dan melaporkan pekerjaannya begitu aku keluar dari kamar Nenek. Jujur, aku nyaris ketiduran.
“Begitu?” Aku melirik ruang TV dan ruang tamu yang ada tepat dibalik punggung kecil Geeta. Iya, semua sudah rapi dan bersih.
“Bagus. Begitu dong.” Geeta langsung tersenyum malu-malu dan menunduk sedikit. Menunjukkan pucuk kepalanya yang menganggur.
“Apa? Minta dipukul atau di jitak kepalanya?”
Bibir merah muda gadis itu langsung tertekuk ke bawah. “Huuummmm. Hannie!”
Aku terkekeh. “Okey, okey. Santai aja dong. Tapi… aku lupa tuh gimana cara nepuk-nepuk kepalamu.”
Kali ini mata Geeta menajam. Dia menarik sebelah tanganku kasar dan dia letakkan ke pucuk kepalanya. “Hum! Hum!”
Lucu sekali.
“Gini?” Aku mengusak rambut Geeta sampai berantakan.
“Agghh! Bukan gituh!”
Saat marah Geeta malah terlihat makin lucu. Ya mungkin, karena dia tidak benar-benar marah sih.
“Eh anak ayam! Kemana aja kamu? Om cari-cariin juga.”
Aku menoleh cepat ke atas tangga. Om, dengan tumpukan kardus-kardus terlihat emosi.
“Maap, Om. Aku tadi… tadi, bersihin kamar Nenek.”
Om menatapku dengan pandangan menyelidik. “Serius. Kok ga keliatan capek sama sekali? Terus sampah-sampah yang tadi? Udah kamu buangin belom?”
Oh iya! Aku tidak bisa bilang kalau aku kelupaan dan nyaris tertidur kan? Ayo pikir baik-baik Hansa, alasan apa yang saat ini paling natural, natural!
“Geeta udah buang-buangin kok, Om. Tadi Hannie beneran bersihin kamar Nonna Sophie.” Suara Geeta membuyarkan pikiranku.
Kenapa dia? Mau melindungiku?
“Oh? Terus itu dress-nya kenapa ketinggalan di luar kalo emang udah diberesin?” balas Om cepat.
“Justru itu bukti Hannie dah beres-beres kamar Nonna, Om.” Geeta menjawab dengan lancar. Selancar arus sungai saat badai datang.
Om diam memandangi kami berdua bergantian. “Yaudah. Taro lagi tuh dress-nya. Nanti kotor, nangess.”
Aku meraih gaun putih yang tadi Geeta kenakan. Dia tidak melipat gaun itu dan menyampirkannya di sofa. Pilihan bagus Geeta.
Tapi aku sangat bodoh karena membiarkan Om menuruni tangga sendirian dengan kardus bertumpuk di depan wajahnya.
“Om! Ati-ati!” Geeta yang seakan memprediksi nasib buruk Om mulai memberi peringatan.
“Iyaa. Udah sana minggir jangan di depan tangga nanti malah ketabrak, jotoh, nangess.”
Aku hanya melirik sedikit. Tidak peka akan peringatan yang Geeta berikan. Kemudian…
BRUK !!!
“OM!” pekikkan panik Geeta saat itu membuat langkahku yang baru memasuki kamar Nenek terhenti. Aku menoleh ke belakang, dan mendapati Geeta berlutut di samping pria yang terkapar dengan darah di sekelilingnya.
.
.