
Ren duduk di kursi tepat sebelah ranjang. Pagi tadi, kakaknya datang dengan ambulans. Jatuh dari tangga. Kepalanya terbentur, Ren harap tidak terjadi sesuatu yang serius.
Melihat keponakannya menangis sampai seperti itu membuat Ren jauh lebih sedih. Tapi sekarang Hansa sudah tenang, tidak lama setelah menggendong Hansa, ibu Ren dan May datang.
Setelah itu Hansa langsung ditangani oleh ibunya. Memang cucu nenek, Hansa hanya bisa jinak oleh neneknya.
“Ren….” Ren mengangkat kepalanya cepat. Diperhatikan lamat-lamat wajah kakaknya itu.
“Ren…” gumam kakaknya sekali lagi.
Bukan. Kakaknya belum sadar, hanya bergumam biasa. Sejak beberapa jam yang lalu, kakaknya mulai bergumam. Tapi masih belum sadar juga.
Ren menggenggam tangan kakaknya erat dengan kedua tangan. Saat ia berharap agar takdir yang mempertemukan mereka untuk berbaikan, maksudnya bukan seperti ini.
Yah, tapi apa boleh buat.
“Ren….”
Ren menoleh lagi. Memandangi kakaknya. “Di sini. Aku… aku di sini.” Genggamannya semakin erat. “Mangkanya buka matamu dan lihat aku.”
Suara Ren bergetar. Sudah pukul sepuluh malam, dan kakakya belum juga sadar. Berkali-kali Ren berdoa dalam hati agar tidak ada hal buruk yang terjadi.
“Ren….”
Ren menggertakan giginya. “Dibilang aku di sini! Mangkannya melek dong!”
“Apa begitu caranya ngomong sama orang yang ga sadarkan diri?”
Ren mengerjap dan mendapati Kakek Kama tengah berdiri menghadap ranjang kakaknya.
“Kapan Kakek masuk?” Ren berdiri sembari mengusap air mata.
Kakek Kama mengedikkan bahu. “Baru aja sih.” Ia menyerahkan sekantung jus kepada Ren dan duduk di kursi yang tadi Ren gunakan.
“Masih belum sadar ya?”
Ren mengangguk singkat. “Iya.”
Kakek Kama tertawa kecil. “Kamu tau ga? Sebenernya aku kemari karena kakakmu.”
Ren melebarkan matanya.
“Dia, Radi, minta nasehat dari kakek-kakek yang dia anggap sebagai bapak keduanya.” Kakek Kama menarik napas dan membuangnya perlahan.
“Dia sayang banget loh sama kamu Ren.”
Mendengar hal itu, Ren merasa kakinya tidak lagi bertenaga. Tapi ia tahan, karena merasa bukan saatnya ia menjadi lemah.
“Waktu kecil, Radi itu sering main ke rumahku. Anaknya cerdas, persis kayak Hansa. Engga ding, Hansa lebih cerdas lagi.” Dia terkekeh dan melanjutkan ceritanya. “Suatu hari, Ren. Kakakmu ini, ingin punya adik. Adik perempuan. Dan keinginannya terkabul.”
Ren menelan ludah dan menopang tubuhnya ke kasur.
“Ga lama, ada satu adik lagi hadir.” Kakek Kama memasang senyum yang selama ini Ren belum pernah lihat. Dia tersenyum ke arah Ren, dan melanjutkan kalimatnya.
“Adik laki-laki.”
Ren sudah tahu. Maksudnya pasti dia. Siapa lagi?
“Saat itu Radi tidak senang. Dia marah. Katanya, dia sudah punya adik perempuan. Dia tidak mau adik laki-laki.” Kakek Kama memejamkan matanya sejenak. “Tapi bukan karena dia takut tersaingi. Dia hanya… tidak mau ada yang bertanggung jawab lagi.”
Ren mengerutkan keningnya bigung. “Maksudnya?”
“Kalau ada anak laki-laki lain, anak laki-laki itu juga akan merasa bertanggung jawab. Singkatnya, Radi hanya ingin dia yang menanggung semua beban,” jelas Kakek Kama.
“Setelah kau lahir, Radi berubah pikiran. Anak kecil itu bahagia. Dia merasa punya teman baru. Tapi ternyata kau dan May sama-sama adik yang menyebalkan.” Kakek Kama menatap Ren lagi.
“Tapi, kau itu yang paling diperhatikan. Anak bungsu tidak pernah kehilangan perhatian. Dan itu benar.”
Ren melemaskan bahunya.
Ren mengangkat wajahnya dan beratanya balik. “Terus, apa alesan Kakak pengen ketemu Kakek Kama?”
Kakek Kama tidak menjawab. “Nanti juga tahu. Yang pasti dia tidak pernah marah padamu, Ren. Apalagi benci.”
Ren memutar otaknya keras. “Oh! Jangan bilang hari itu, di Mekdi! Kakek Kama harusnya ketemu Kakak ya?”
Kakek Kama tertawa dan mengangguk. “Lama banget kamu sadarnya. Aku ga percaya kamu calon dokter, Ren.”
Ren menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Masa sih?...
Setelah perbincangan itu, Ren izin keluar kamar rawat. Dia harus menjernihkan pikiran. Ren turun ke taman rumah sakit dan berdiri di sana.
“Paman Ren!”
Ren menoleh. “Yo Hansa!” balasnya dengan seburat senyuman kaku. Hansa anak yang tajam, Ren berharap keponakannya itu tidak sadar senyuman kakunya.
Hansa berlari kecil dan memeluk kaki panjang pamannya erat. “Aku kangen banget sama Paman!”
Ren mengulum senyum dan menggendong anak itu. “Baru seminggu udah kangen?”
Hansa cemberut. “Udah lebih dari seminggu tau! Emangnya Paman ga kangen aku?”
Ah, anak-anak selalu manis dan menggemaskan. Ren merasa lebih lega Hansa sudah bisa berekspresi ceria seperti ini lagi. “Kangen kok. Kangen banget.” Ren mencubit hidung kecil keponakannya itu dan tertawa.
Tidak lama, ia bisa melihat ibunya, May, dan ibunya Hansa dibelakang.
“Gimana Radi?” tanya ibunya. Ren menggeleng dengan senyuman tipis.
“Belum ada perkembangan, tapi Kak Radi baik-baik aja. Semuanya normal.” Ren merasakan genggaman Hansa pada bahunya bertambah erat.
“Ayah… bisa main sama aku lagi kan Paman?” Melihat mata besar memelas Hansa, membuat Ren merasa sesak lagi.
“Iya. Pasti bisa.” Ren melebarkan senyumnya mencoba menghibur Hansa.
Untung saja, Hansa bukan tipe yang rewel terus menerus. Bahkan setelahnya mereka main kejar-kejaran di taman. Ya, malam-malam.
Ren mengangkat tangan. “Istirahat sebentar,” serunya terengah-engah. Padahal sudah malam, tapi energi Hansa masih sangat banyak.
“Paman, kalau Ayah udah bangun kita main lagi ya!” kata bocah itu dengan napas tersengal. Ikut duduk di atas rumput bersama Pamannya.
Ayah, Ayah, Ayah. Hansa tidak bisa berhenti menyebutkan panggilan itu ya? Sepertinya Ren bisa benar-benar mengutuk kakaknya kalau dia tidak segera bangun.
Kali ini Ren hanya tersenyum dan mengangguk singkat sebagai jawaban. Melihat itu Hansa entah bagaimana langsung paham dan memeluk lengan pamannya.
“Ayah pasti bangun, Paman. Aku yakin banget. Buktinya, menurut Paman kenapa aku bisa sesantai ini?” celoteh mulut kecil itu.
Ren melongo dan mengusap kepala Hansa. “Terima kasih, padahal harusnya Paman yang nenangin kamu.”
Hansa tertawa kecil dan balik mengusap kepala Pamannya. “Iya! Sama-sama!”
Bulan berganti dengan matahari perlahan. Ren sudah terjaga lebih dari 24 jam. Dia tidak tidur sama sekali sejak pulang dari pesta Budi. Tapi bukan itu yang penting.
Ren melirik kakaknya yang masih terbaring tenang di atas ranjang rumah sakit. Kemudia beralih pada keponakan kecilnya yang tertidur di sofa. Satu sisi bibirnya terangkat samar.
Ia melangkah mendekati bocah itu dan mencium keningnya.
“Mau kemana Ren?” tanya ibu dari bocah itu.
“Ke toilet, cuci muka. Sama cari sarapan, mbak Nitta mau nitip apa?” Ia pikir istri kakaknya belum bangun.
Mbak Nitta menimbang-nimbang sesaat. “Apa aja deh, roti juga boleh. Yang penting buat si Hannie aja. Eh, emangnya udah ada yang jualan subuh-subuh gini?”
“Ada kok, aku sering beli.” Ren terkekeh dan berjalan ke pintu. “Kalo ada apa-apa langsung telpon aku aja ya Mbak,” pesannya sebelum pergi.
.
.