Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XXXI



Aku langsung membulatkan tekad untuk menengahi perdebatan Ayah dan Paman.


Tidak lama, Nenek datang dan memanggil kami. Dia mengantar Geeta kembali ke bawah jembatan.


“Geeta, besok akan kutunjukkan ayamku padamu!” seruku sebelum meninggalkan jembatan.


Tampak seburat kebingungan dalam wajah Geeta. Tapi dia tetap tersenyum padaku.


Aku melambai, dan pulang ke rumah bersama Nenek.


“Paman! Dimana ayamnya?” tanyaku lantang sambil berlari kecil dari dapur.


Paman yang wajahnya agak kesal langsung melunak. Dia membawaku pada ayam yang sudah di obati itu.


“Ada di halaman depan. Paman belum sempet buatin kandang yang bagus.” Paman mengusap pucuk kepalaku, dan menghela.


“Besok deh, ya?”


Aku mengangguk sambil membalas senyumannya. “Kapan-kapan aja. Paman pasti capek.”


Kemudian pergi ke kamar dan mengambil selimut. Aku duduk di kursi halaman depan.


“Ngapain, Han?” tanya Paman terkekeh kecil.


Aku tersenyum tanpa dosa dan menunjuk ayam yang sedang terbaring di dalam kandang lamanya.


“Aku bakal nemenin ayam ini semalaman. Aku mau begadang!”


Mendengar jawabanku Paman tertawa. Dia kemudian mengambil selimut dan bantal dari kamarnya.


“Kalo gitu Paman temenin,” balasnya duduk di sampingku.


Eli membawakan susu dan teh hangat, juga kue bolu yang baru masak.


“Jangan paksakan dirimu. Tidur aja kalo ngantuk,” pesan Eli sembari mengusap pundakku.


Aku memegang tangan Eli dan menatapnya.


“Kalo gitu Eli temenin aku sama Paman aja di sini.”


Paman langsung terbatuk. Aku tidak tahu kenapa, jangan tanya aku.


Sementara Eli tertawa kecil. Kemudian duduk di satu kursi kosong yang tersisa.


“Baiklah. Hanya sampai kau mengantuk,” katanya, dan mencubit hidungku pelan.


Aku terkekeh. Lalu menyesap susu sekali. “Kalau begitu aku ga akan ngantuk.”


...…...


“Hannie?”


Panggilan Geeta menyadarkanku dari lamunan. Aku tertawa kecil, dan mengusap wajah dengan sebelah tangan.


Tadi itu… ingatanku kan?


Tiba-tiba datang begitu saja.


Aku menatap Geeta yang saat ini mulutnya belepotan. Aku mendengus geli.


“Geeta, bersihkan mulutmu.”


Geeta langsung mengerjap dan mencari tisu. Aku tertawa lagi melihat tingkahnya.


Kemudian menarik pergelangan tangan gadis itu. Menyuruhnya untuk duduk kembali.


“Lain kali, siapkan satu tisu di dekatmu saat memakan sesuatu.” Aku mengusap mulutnya yang kotor perlahan.


Dalam ingatan tadi, Geeta berhasil menghiburku yang masih kecil. Aku lupa kalau aku pernah mengalami hal semacam itu.


Menyalahkan diri sendiri atas suatu kejadian? Anak kecil seperti itu?


“Hannie?” panggil Geeta lagi begitu sadar aku kembali melamun.


Aku tersenyum tipis. “Maaf. Aku baru saja mengingat sesuatu.”


Mulut Geeta sudah bersih. Aku menarik kembali tanganku dari wajahnya. Kemudian tertunduk.


“Dulu, kau ada di sana saat aku sedang sedih. Terima kasih.”


Aku menatap Geeta lagi. Tepat lurus ke kedua bola mata yang kini berwarna coklat muda itu.


“Aku yang masih tujuh tahun pernah berjanji untuk jalan-jalan bersamamu, ingat?” tanyaku, masih tersenyum.


Geeta menghela. Kemudian mengangguk. Perasaanku saja, atau Geeta jadi agak sendu?


“Aku berjanji untuk membawamu keluar dari duniamu. Tanpa harus sembunyi-sembunyi.”


Mata Geeta mengeluarkan bias kebiruan.


“Tidak tahu kapan, tapi yang pasti sampai saat ini aku masih belum benar-benar bisa melakukannya. Aku bahkan sempat melupakanmu.”


Geeta tampak terkejut. Dia termangu mendengar ucapanku. Aku mendengus.


“Aku tahu kau sudah sadar sejak awal, kalau aku tidak ingat padamu.”


Seakan membenarkan pernyataanku, Geeta terdiam. Meremat piring kecil bekas pudingnya.


“Hannie… tida… lufpa,” gumannya pelan.


Mataku melebar. “Kau, bilang apa?”


Geeta menatap lurus ke mata kelabuku. Dia meletakkan piring kecil tadi, dan menangkup wajahku dengan kedua tangannya.


“Hannie… tikda… lufpa,” tekannya sedikit terbata.


Aku tersenyum lebar. Kemudian memengangi tangannya. “Kamu bisa bicara dengan benar,” kataku berseri-seri.


Agaknya wajah Geeta jadi merona. Dia melepaskan kedua tangannya dari wajahku. Tapi kutahan.


“Katakan lagi,” pintaku masih memasang senyum yang lebar.


Geeta jadi enggan melihat wajahku. Dia melengos dan berusaha melepaskan tangannya dari genggamanku.


Aku tertawa kecil. “Ayolahh, katakan lagi.”


Geeta menggeleng. Masih tidak mau menatapku. Jadi aku terus mengikuti arah pandangannya. Memaksanya menatapku.


“Geeta… katakan lagi.” Aku terkekeh.


Sekarang aku tahu kenapa Paman dan Bibi suka sekali jahil. Ternyata menjahili orang itu cukup menyenangkan!


“Ayolaaahhh, kalau kau berusaha melepaskan tanganmu, berusalah yang benar. Aku tahu tenagamu jauh lebih besar dari ini.”


Kali ini Geeta berhenti menghindari pandanganku, dan melotot.


Aku mengangkat alis heran. Apa aku salah bicara? Apa sekarang Geeta akan memukulku?


Tapi di luar dugaan. Geeta hanya menarik tangannya dengan sekuat tenaga, dan berdiri dengan cepat.


“Nyebeling!” pekiknya kemudian naik ke lantai atas.


Aku melongo melihat tingkahnya.


Brak!


Aku terperanjat. Itu suara bantingan pintu. Dia marah?


Bukannya merasa menyesal, aku malah tertawa menyaksikan tingkah kekanakan Geeta.


“Geeta! Ga baik loh, ngambek-ngambek!” seruku dari bawah.


Aku tahu suaraku pasti terdengar ke kamarnya.


Geeta tidak menyahut dan hanya menghentakan kakinya keras. Membuat suara gaduh.


Tawaku semakin menjadi. “Nanti rubuh! Kalo kamu jatuh aku ga mau nangkep ya!”


Kali ini Geeta tidak menghentakkan kakinya dan berteriak. “AAAANGGG!!!”


Aku tertawa lagi sampai terbaring. Geeta bisa bertingkah kekanakan. Catat itu.


Paginya, aku membawakan sarapan ke kamar Geeta. Dia mengunci kamarnya. Dasar.


“Geeta~ Good morning. Ayo sarapan, nanti perutmu sakit. Aku tahu kamu ga tahan kalo ga makan.”


Aku menempelkan telinga ke pintu. Berusaha menangkap setitik suara dari dalam sana.


“Geeta? Kelincinya juga belum makan loh. Kamu kan janji buat ngerawat kelinci itu.”


Kali ini ada respon dari dalam. Suara hentakan kaki.


Geeta baru turun dari kasur, dan melangkah ke pintu. Buru-buru aku menjauh. Dan memasang seulas senyum terbaikku.


Pintu terbuka. Aku bisa melihat wajah tak bersahabat Geeta.


“Selamat pagi, nona ingin sarapan yang lain? Atau ini saja?” gurauku sambil menyodorkan senampan roti dan susu putih.


Geeta melengos dan langsung turun ke bawah. Menghampiri kelinci berbulu hitam pekat itu.


“Hei, jangan kacangin aku dong~”


Aku mengikuti langkah Geeta, dan meletakkan kembali nampan berisi sarapan itu ke atas meja makan.


Geeta mengambil pakan kelinci dan bersiap memberikannya pada Navy –si kelinci itu.


“Sudah kuberi makan. Aku bohong biar kamu mau keluar kamar,” selaku sebelum Geeta memberikan kelinci itu makan lagi.


Geeta cemberut.


“Hei, Navy udah membaik loh. Tadi makannya lahap banget.” Aku mengangkat kedua tagan di udara.


“Aku minta maaf, Geeta. Jangan marah lagi ya?” ujarku masih berusaha membujuknya.


Tapi tatapan Geeta masih tidak berubah. Dia meletakkan kembali pakan kelinci itu dan berniat kembali ke kamar.


Aku menahan pergelangan tangannya dengan cepat.


“Hei, jangan begitu. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tahu aku menyebalkan, jadi….”


Aku memutar otak sesaat. Kalimat apa yang bisa membujuk Geeta saat ini?


“Apapun, yang kau mau. Akan kukabulkan hari ini, ya?” usulku.


Bisa gawat kalau hari ini Geeta ngambek. Kenalan Tante yang ingin menyewa kamar akan datang siang nanti.


Geeta terlihat mempertimbangkan kalimatku. “Ahpapung?”


Aku mengangguk dengan sabar. “Iya, apapun. Bilang aja.”


Seperti menyetujui hal ini, Geeta terlihat jauh lebih tenang. Tangannya yang tadi berontak kini melemas. Dia memutar mata, memikirkan apa yang paling ia inginkan saat ini.


Kemudian ber-oh, setelah menemukannya.


“Hannie! Ahyo ke pangtai!”


Aku mengerjap.


“Apa?”


.


.