Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter I



Aku mulai kehilangan ingatan masa kecilku di usia sepuluh tahun. Sejak itu, aku tidak lagi percaya pada cerita-cerita dongeng, hantu, dan semacamnya.


Sejak Nenek tiada, aku kehilangan semangat untuk hidup. Nenek adalah segalanya bagiku. Karena itu, aku memutuskan untuk menghapus segala kenanganku bersamanya.


...…...


Malam saat usiaku tepat sepuluh tahun, saat kedua orang tuaku merencanakan pesta di rumah Nenek, telepon rumah kami berdering.


Aku yang sedang meminum susu cokelat hangat buatan Bunda langsung berhenti ketika Ayah tiba-tiba menitikan air mata.


Dia terlihat sangat sedih. Aku belum pernah melihatnya sesedih itu.


Bunda menenangkannya dan mengambil alih telepon. Reaksinya tidak jauh berbeda dari Ayah.


Dia menangis.


Aku ingat kalimat Nenek. Dia bilang, kalau air mata jatuh dari mata sebelah kanan terlebih dulu, maka itu adalah tangis bahagia.


Tapi, kalau air mata jatuh dari mata sebelah kiri terlebih dulu, maka itu adalah tangis kesedihan.


Aku meletakkan gelasku dan menghampiri mereka. Aku lihat, Ayah meneteskan air mata dari sebelah kiri terlebih dahulu. Begitu juga dengan Bunda.


Kutarik ujung pakaian Bunda. Aku ingin memastikan.


Bunda menoleh dan menatapku, tanpa menjauhkan telepon dari telinganya. Kemudian dia tersenyum.


Aku termangu melihat senyuman Bunda.


Itu bukan senyum bahagia.


Diam-diam aku berharap tidak ada kabar buruk yang datang setelah ini. Aku harap Bunda menangis karena mendengar karakter drama favoritnya kalah atau sakit.


Tapi, kalau begitu kenapa Ayah juga menangis?


Aku beralih menatap Ayah. Dia tidak berani menatapku.


Ayah menyembunyikan wajahnya dan pergi ke kamar mandi.


Aku kembali menatap Bunda yang sedang bicara di telepon.


“Iya, baik… Baik. Akan kusampaikan padanya nanti.”


Beberapa kali kulihat Bunda mengangguk. Kemudian melihat ke arah kamar mandi, tempat Ayah berada. Lalu bicara lagi di telepon.


Terakhir, sebelum mengakhiri panggilan, Bunda menatapku lamat-lamat, dan bicara lagi.


“Sebelumnya… Apa boleh kita datang besok pagi?... Ehem, iya. Aku takut dia tidak fokus menyetir… Iya. Baiklah, terima kasih.”


Panggilan berakhir. Bunda meletakkan kembali gagang telepon dan berlutut di hadapanku.


Dia memelukku, lalu mengusap kepalaku. Tanpa berkata apa-apa, aku tahu kalau Bunda sangat sedih sekarang.


Kebiasaannya. Kalau sedih Bunda pasti memeluk dan mengusap kepalaku.


“Hannie….” Suara Bunda terdengar parau.


“Besok, kita akan ke rumah Nenek. Tidurlah sekarang.”


Aku mengerutkan dahi.


Lalu kenapa kalian terlihat sangat sedih sekarang? Ayah bahkan tak mau menatapku.


Aku melepas pelukan Bunda. Membuatnya menatapku keheranan.


“Terus, kenapa Bunda sama Ayah nangis?” lirihku.


Bunda terkejut bukan main mendengar pertanyaan itu. Air matanya kembali menggenang. Dia tertunduk. Kemudian meremat bahuku.


“Tidur sekarang.”


Kerutan di dahiku semakin dalam. Bukan, bukan itu jawaban yang aku mau.


Aku menepis tangan Bunda. Dia tersentak.


“Aku tanya kenapa?!” Suaraku meninggi.


“Kenapa Bunda sampai sesedih ini? Kita akan pergi ke rumah Nenek besok. Seperti yang direncanakan. Terus kenapa Bunda dan Ayah—”


“Hansa!”


Aku tercekat. Teriakan Bunda yang menyela kalimatku menggema memenuhi seisi rumah. Aku mundur selangkah. Baru kali ini Bunda membentakku.


Sadar akan perbuatannya, Bunda menghela penuh penyesalan.


“Maaf, Hannie. Tapi, tolong tidurlah sekarang. Besok pagi, Bunda akan menjelaskannya padamu.”


Suara Bunda bergetar. Tubuhnya juga. Kali ini, Bunda juga tidak mampu menatap mataku.


Tapi saat itu aku terlalu terkejut untuk menyadari getaran tubuhnya. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke kamar, dan tertidur.


Seperti yang Bunda perintahkan.


Besoknya, Ayah sudah bisa menatapku lagi, hanya saja tanpa senyuman seperti yang biasanya ia berikan padaku setiap pagi.


Aku pikir semuanya akan kembali normal pagi ini. Tapi ternyata tidak.


Bunda berlutut lagi dihadapanku, seperti tadi malam.


Lihat, dia tidak memanggilku dengan nama panggilan.


“Sekarang mandilah dan gunakan setelan hitam. Kita harus berangkat pagi ini.”


Titah Bunda terdengar janggal. Tunggu, setelan hitam?


Aku mundur selangkah. Kalau kuurutkan kejadian semalam, semuanya jadi jelas.


Ayah menangis, Bunda juga. Kita akan pergi ke rumah Nenek. Setelan hitam.


Aku jatuh terduduk. Tak mau mempercayai pikiranku.


“Hansa!” Bunda terkejut dan menopang tubuhku. Ayah berdiri dari kursi dan ikut menghampiriku.


Mereka tahu. Aku cukup cepat dalam memahami sesuatu. Tapi kali ini, aku tidak ingin percaya pada otakku sendiri.


Tanpa sadar, air mata jatuh dari mataku yang sebelah kiri. Aku mengusap air mata itu dan memandanginya.


Sakit sekali. Dadaku terasa sangat sakit. Aku menatap Bunda dan Ayah bergantian.


“Bunda… Boleh aku bicara dengan Nenek sekarang?”


Bunda dan Ayah tercekat. Kerutan di dahi mereka sangat jelas.


“Telepon Nenek sekarang, Bunda. Telepon Nenek…” pintaku lemah.


Air mata berjatuhan ke pipi. Aku sudah tidak peduli lagi kalau Bunda membentakku. Aku hanya ingin menepis pikiran anehku ini.


“Bunda! Telepon Nenek!”


Kucengkeram kerah Bunda. Tapi dia tak melawan.


Aku beralih pada Ayah. Setahuku Ayah tidak pernah tidak mengabulkan permohonanku.


“Ayah! Telepon Nenek, Ayah. Aku mohon.”


Air mata mengalir dari mata pria dewasa itu. Dia menunduk. Dan menjawab dengan suara bergetar hebat.


“Maaf, nak. Kita harus segera berangkat sekarang.”


Tangisku pecah semakin keras. Air mata membanjiri wajahku.


Tidak. Tidak! Tidak! Tidak!


“Telepon Nenek! Aku tidak mau tahu! Telepon Nenek!” rengekku pada mereka.


Setelah itu, aku tidak ingat bagaimana jelasnya. Yang pasti kami, aku-dan kedua orangtuaku, berhasil sampai di rumah duka dengan selamat.


Nenek sudah pergi. Begitu kata Bunda.


Aku paham. Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, aku sudah paham betul maksudnya.


Setelah turun dari mobil, aku melihat banyak kerabat dekat, maupun jauh berkumpul memenuhi rumah besar Nenek.


Aku berjalan melewati mereka. Dengan mata yang masih sembab akibat menangis sepanjang jalan.


Beberapa menahanku, aku menepis mereka. Beberapa hanya memanggil. Berseru.


Aku tidak peduli dan tetap berjalan maju.


Di ujung kerumunan, aku dapat melihat tubuh kaku Nenek yang sudah tebalut kain putih. Dan lagi-lagi, aku jatuh terduduk.


Bunda dan Ayah berlari ke arahku.


“Hansa!” seru Bunda. Dia langsung memelukku setelah sampai.


“Hansa, kamu harus ikhlas, ya?” kata bibiku.


Dia anak kedua. Bibi May. Orang yang baik, tapi aku tidak begitu menyukainya. Karena dia terlalu cerewet, dan suka sekali menciumiku.


Selanjutnya aku tidak bisa mendengar apapun lagi. Pandanganku berubah kosong.


Yang ada dipikiranku hanyalah Nenek, Nenek, dan Nenek. Hanya dia dan senyumnya yang ada dipikiranku saat ini.


“Nana…” gumamku pelan.


Itu panggilanku untuk Nenek semasa kecil.


“Nana…”


Panggilan untuk nenek dari negeri kelahirannya.


“Nana…”


Air mataku menetes kembali. Bunda mengusapkan wajahnya pada wajahku.


“Sudah, Han. Nenek pergi dengan senyuman di wajahnya.”


Aku meringis. Aku tahu, Bunda. Aku dapat melihatnya dengan jelas dari sini.


Di usiaku yang tepat sepuluh tahun satu hari, aku kehilangan Nenek.


.


.