Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter VII



Aku pamit dari rumah Tante dan berjalan kembali ke rumah Nenek. Di tengah jembatan, aku berhenti sejenak.


Semilir angin yang menerpa wajahku sudah tak sedingin dulu, tapi masih terasa sejuk.


Aku terdiam memandangi rawa luas dan indah itu. Sepertinya rawa ini akan jadi inspirasi yang bagus untuk buku keempatku.


“Hati-hati, jangan terlalu menyukai rawa ini.”


Aku terkesiap. Tiba-tiba seorang pria paruh baya berdiri di sampingku sambil bersandar ke tepi jembatan.


“Maksudnya?”


Pria itu menatapku sinis.


“Orang luar sepertimu tak akan mengerti.”


Aku mengerutkan kening.


“Saya masih tidak paham maksud anda.”


Jangan terlalu menyukai rawa ini? Tapi Nenek sangat menyukainya dan tidak ada hal yang terjadi.


“Cih, kamu terlalu awam.”


Air wajahnya berubah serius.


“Dengar, di dalam rawa ini ada makhluk aneh yang suka menculik orang lain untuk menjadi santapannya.”


Kerutan di dahiku semakin dalam. Memahami kebingunganku, pria itu melanjutkan.


“Kamu tahu kenapa tidak ada yang berani mendekati rawa ini bahkan saat siang hari?”


Aku menggeleng. Memang sih, sekitaran rawa selalu terlihat sepi. Aku pikir aku hanya tidak mengingatnya, ternyata dari dulu memang sudah sepi.


“Itu karena mereka takut di culik oleh makhluk itu. Kami menyebutnya, Diwa.”


Aku melongo mendengar penjelasannya. “Diwa?”


“Iya, Diwa, Gadis Rawa. Kami menyebutnya begitu karena wujudnya yang menyerupai seorang gadis. Berambut panjang sepinggang, dengan kulit putih, tapi bagian tubuhnya dari pinggang ke bawah seperti ikan.”


Pria itu berhenti sejenak. Menarik napas. Kemudian melanjutkan kembali.


“Konon katanya, dialah yang membuat rawa ini menjadi bersih. Sehingga orang-orang jadi suka berada di dekatnya. Kemudian saat kita lengah, Diwa akan menculik kita.”


Ah, sekarang aku paham. Begitu rupanya. Mitos seperti di desa-desa pada umumnya.


Aku menghela dan mengangguk. Baiklah, kali ini terima saja peringatannya.


Kalau tidak, aku pasti akan di cap tidak sopan.


“Baik, terima kasih tas peringatannya.”


Kemudian aku pergi meninggalkan pria itu.


“Aku tahu kau tak serius menanggapi perkataanku. Tapi, berhati-hatilah!” teriak pria itu setelah aku melewatinya.


Aku menoleh sedikit ke belakang. Sejak dulu, aku tidak begitu suka orang sepertinya.


Sudahlah. Jangan bersikap kekanakan dan cepat rapikan barang-barang.


...…...


Brak!


Aku meletakkan kardus terakhir di atas meja besar tua kesukaan Nenek. Yang biasanya digunakan untuk makan malam, siang, dan sarapan.


Meja ini seperti saksi bisu atas obrolan keluarga kami. Banyak hal penting yang di bicarakan di hadapan meja ini.


Aku juga tidak paham, kami selalu membicarakan hal pentig setelah makan bersama. Entah itu sarapan, makan siang, apalagi makan malam.


Ponselku berdering di tengah lamunan. Aku pikir penelepon itu adalah Bunda, seperti biasanya.


Tapi bukan.


“Halo?”


“Hansa!!!”


Teriakan gadis yang muncul dari ujung sana membuat telingaku berdengung.


“Apasih? Kenapa teriak-teriak?” ketusku.


“Kenapa kau tidak bilang padaku kalo pindah, hah?!”


Dia adalah teman satu kampusku. Rania.


Kita juga satu SMA. Dia murid pindahan kelas dua. Sifatnya agak buruk, jadi tidak ada yang mau dekat-dekat dengannya.


Yah, seperti namanya, dia bersikap seolah seorang bangsawan. Maksudku, dia suka seenaknya seakan dia orang paling berkuasa. Bicara tanpa di filter.


Dan, lain-lain.


“Kamu kan tahu aku tidak punya teman selain kamu! Tega banget sih,” dengusnya kesal.


Aku menarik napas panjang dan berusaha menjelaskan semuanya dengan bahasa yang paling halus dan mudah dimengerti.


Kalian bingung kenapa aku bisa jadi temannya?


Hmmm… aku juga. Sejujurnya pas SMA aku juga tidak mau dekat-dekat dengannya. Ceritanya agak panjang.


...…...


“Anak-anak, tahun ini kita kedatangan murid baru.”


Aku tidak terlalu mendengarkan perkataan ibu guru di depan, dan melengos menatap keluar jendela.


Murid pindahan? Siapa peduli, dia tidak akan mengubah hidupku.


Walau aku tidak mau dengar, tapi suara mereka secara otomatis masuk ke telingaku.


“NAMA GUE RANIA!!!”


Aku langsung menoleh cepat ke arah sumber suara. Melongo, menatap seorang perempuan dengan suara lantang dan cara bicara yang tidak sopan.


Murid lain juga bereaksi sama denganku. Hei, siapa yang mengenalkan diri mereka dengan cara seperti itu?


“Kenapa kamu teriak?” tanya guruku yang sempat tersentak.


“Abis banyak yang ga fokus bu! Contohnya dia!”


Perempuan itu menunjukku.


Aku mengernyit. Aku?


Ibu guru terlihat bingung sedikit. Sepertinya dia memaklumi ketidaktertarikan kami.


Gadis-gadis di kelasku mulai berbisik, menyebabkan kehebohan.


“Beraninya dia nunjuk Hansa kita.”


“Iya ih, caper banget.”


“Murid baru udah masang target ya, gercep juga.”


Telingaku mulai gatal. Murid baru ini, dia mempermalukanku.


“Sudah-sudah. Maaf ya, Rania. Tapi walau begitu kamu ga seharusnya teriak-teriak.”


Guruku, yang memang dasarnya lembut, memberi pengertian. Tapi aku tidak yakin itu akan berpengaruh.


Aku mendengus dan kembali memandang keluar jendela.


Selamanya. Aku tidak akan pernah bicara pada perempuan itu selamanya.


Jam istirahat berbunyi. Seluruh murid di setiap sudut sekolah ini langsung berhamburan keluar kelas, berlarian menuju kantin.


Beberapa bawa bekal sih, tapi tetap pergi keluar karena tidak boleh makan di kelas.


Jarang sekali ada murid yang tidak keluar kelas, karena sekolahku hanya istirahat di jam makan siang, jam 12 tepat.


Paling tidak, walau tidak makan mereka akan keluar untuk mencari udara segar. Salah satunya, aku.


Jangan kesal dulu, sekolahku bukannya menyiksa. Tapi sebelum jam pelajaran pertama, kami di wajibkan untuk sarapan.


Jadi, ada jam sarapan di pagi hari, dan sekolah menyediakan menunya.


Sebelum keluar kelas, aku melihat beberapa orang mendekati murid baru tadi. Tapi responsnya terhadap mereka sangat buruk.


“Apasih, sok kenal.”


Begitu katanya.


Aku menggelengkan kepala. Dia tidak akan punya teman sampai hari kelulusan.


Tapi mungkin dia memang tidak menginginkan teman. Tidak butuh.


“Hansa! Kantin kuy,” ajak teman sebangkuku.


Aku tersenyum dan mengangguk sebelum berbalik untuk melihat si murid baru sekali lagi.


Wajahnya terlihat cuek dan menyebalkan.


...…...


Kantin sudah dipenuhi lautan manusia ketika aku sampai di sana. Aku tidak yakin akan kebagian.


Tahu begini aku turuti perkataan Bunda dan bawa bekal saja.


“Wih, gile. Kok hari ini rame amat ya?” tanya teman sebangkuku.


“Kan kelas sepuluh ada jadwal senam pagi, gan. Biasalah,” sahut temanku yang lain.


Iya, di sekolah ini ada jadwal senam satu angkatan tiap seminggu sekali. Bergilir tiap minggunya.


“Terobos aelah!!!” seru temanku yang dari sananya memang sudah… eum… bar-bar?


Mereka berjalan menerobos kerumunan, sementara aku masih berdiri di tempat.


Apa aku tidak usah makan ya? Baru saja aku ingin berbalik, seseorang mencolek lenganku.


“Hansa, kamu belum beli makan kan? Ini aku udah beliin.”


Seorang siswi dengan empat orang temannya menyodorkanku sejumlah makanan dan minuman. Mereka siapa? Dari kelas sebelah? Aku tidak kenal…


Aku tersenyum kaku. Niat sekali ya, mereka.


“Ah, makasih. Buat kalian aja, kan udah capek-capek ngatri—”


“Tuh tau kalo kita udah capek ngantri. Jadi, mending diterima aja.”


Siswi yang berdiri paling depan menyela kalimatku dengan senyuman seram.


Hahh… begini lagi. Untung teman-temanku sudah pergi, kalau tidak mereka akan mengejekku seperti biasa.


“O-Oke, makasih ya,” ujarku finalnya.


Mereka tersenyum puas dan berjalan menuju taman sambil menjerit-jerit pelan. Aku mendesah kasar.


Kalau sebanyak ini siapa yang mau habiskan? Tapi, untung juga. Aku jadi tidak perlu mengantre mati-matian.


.


.