
Aku terpegun berdiri di dekat tangga dengan mulut menganga.
Dia… Geeta baru saja menyapaku dengan cara yang persis sama seperti di mimpi.
“Kau, kau menyapaku? Sungguh?” tanyaku tidak percaya.
Geeta tersenyum lebar sampai deretan giginya yang putih terlihat.
Oh, dia punya taring yang cukup tajam.
“Aaang!!” Geeta mengangguk.
Aku masih melongo tidak percaya. Apa itu artinya aku tidak bermimpi tadi? Aku… mendapatkan ingatanku yang lain.
“C-Coba sapaan yang lain. Apa kau bisa?”
Geeta diam sejenak. Berfikir. Kemudian mengangguk.
“Sahmat shang! Sahmat lam!” ujarnya bersemangat.
Aku tertawa hambar sambil menyibakkan rambut. Setengah diriku senang, setengah lagi aku merasa, diriku sudah gila.
“Siapa? Siapa yang mengajarimu?” tanyaku lagi. Mencoba menepis kemungkinan kalau aku gila.
Geeta berdiri dan mengacungkan jari telunjuknya padaku.
“Hangi!!!”
Aku mendengus. Apa… apa aku gila? Apa aku masih mimpi? Ini tidak masuk akal.
Bukan. Sejak awal eksistensi Geeta sendiri sudah tidak masuk akal. Apa aku bisa mempercayai ingatanku sendiri?
“Aku? Aku yang mangajarimu?” Alisku terangkat.
Geeta mengangguk pasti. Kemudian mendekatiku.
Pluk!
“Hangi!”
Geeta memukul kepalaku pelan. Seperti berusaha meyakinkanku kalau ini bukanlah mimpi.
Aku menatapnya lamat-lamat. Bahuku melemas. Senyuman kaku di wajahku masih terukir jelas.
Segala hal aneh ini. Aku masih belum bisa menerimanya.
“Kau… apa kau sungguh nyata?”
Geeta tampak terkejut dengan pertanyaanku. Matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam.
Dia menunduk.
Apa ini? Aku jadi bingung dengan sikapnya yang berubah-ubah.
“Hangi… upa Hita?” lirihnya.
‘Hannie lupa Geeta?’, itu kan yang dia katakan?
Hatiku menjawab sendiri.
Iya.
Iya, itu yang dia katakan. Dan… Iya. Iya aku melupakanmu, Geeta.
Detik itu juga aku sadar. Geeta yang menunduk lesu, Geeta yang menyapaku, Geeta yang khawatir, adalah nyata.
Semua perasaan yang dia perlihatkan padaku. Semua itu terlalu nyata untuk dikatakan mimpi.
Aku menghela napas panjang. Diriku belasan tahun lalu, dan diriku yang sekarang sangat jauh berbeda.
Dan aku rasa Geeta baru menyadarinya sekarang.
“Maaf…” sesalku.
Tidak. Aku tidak berniat mengatakan itu. Mulutku bicara sendiri.
Entahlah, dadaku terasa sesak begitu mendengar lirihannya tadi.
Geeta mengangkat pandangannya. Mata kami bertemu. Permata hijau itu mengunciku. Begitu menghipnotis.
Aku tersenyum tipis, dan mengusap kepalanya. Gerakanku yang tiba-tiba itu membuat Geeta terkejut.
Tanganku, bergerak sendiri.
“Maaf, sudah meragukanmu.”
Geeta berlinangan air mata. Cahaya matanya yang tadi meredup, kini kembali lagi.
Dia tertawa-tawa kecil. Meraih tanganku yang mengusap kepalanya. Kemudian menempelkannya ke pipi.
“G-Geeta?...”
Geeta memejamkan mata. Seakan sangat merindukan diriku. Membuka matanya lagi, Geeta tersenyum hangat.
Aku tertegun. Senyuman itu, mirip sekali dengan senyuman Nenek.
Untuk sesaat, Geeta membawaku kembali pada khayalan tingkat tinggi, bahwa Nenek masih ada.
...…...
Seakan mendapatkan ‘Hansa’-nya kembali, Geeta tidak berhenti meloncat kegirangan ke sana kemari.
Matanya juga bersinar sangat terang. Aku sampai silau.
Oh, apa aku sudah bilang tadi? Geeta salah menyambutku selamat malam, jadi selamat pagi.
Aku rasa dia masih belum mengerti penggunaannya. Aku juga memperbaiki itu.
“Baiklah, makan malamnya sudah siap.”
Aku meletakkan piring-piring berisi masakan ala kadarnya di atas meja makan. Kepalaku masih agak pening.
Geeta meloncat dari sofa ruang keluarga dan berlari ke meja makan.
“Aang!! Aangg!!!” serunya penuh semangat.
Aku mengisyaratkannya untuk tenang dengan jari. Geeta menangkap isyarat itu dan berdiri tegap. Seperti pasukan baris berbaris yang menunggu komando.
Aku mendengus geli. “Ga usah begitu. Santai aja, tapi jangan pecicilan,” tukasku.
Geeta mengangkat alis, dan melemaskan bahunya. Kemudian tersenyum malu.
Tingkahnya itu, seperti anak kecil. Padahal wujudnya seumuran denganku.
Ah, tunggu.
Aku memijat-mijat pelipis. Berusaha mengingat.
Dulu, dia juga terlihat seperti ini. Apa Geeta tidak bisa tua? Seperti Vampir? Atau dia hanya memiliki satu bentuk manusia?
Aku memandangnya menganalisa. Geeta yang tampak keheranan memiringkan kepala, dan bertanya, “Aaang, Hangi?”
Aku menggeleng. Mengibas-ngibaskan tangan.
“Bukan apa-apa. Nanti saja.”
Agaknya Geeta terlihat kecewa. Tapi semua itu sirna begitu aku mepersilahkannya untuk duduk.
Geeta cukup cerdas. Aku baru mengajarinya sekali, dan dia langsung paham maksudku.
Aku harap kedepannya jauh lebih lancar.
Aku duduk di seberang Geeta. “Sekalian makan, aku akan mengajarimu table manners.”
Geeta memandangku dengan alis terangkat.
Aku melanjutkan. “Etika makan. Aku akan mengajarimu cara makan yang benar.”
Menghela napas, aku menatap lurus ke sepasang mata permata di hadapanku.
“Suatu saat, walau aku tidak tahu kapan. Pasti kamu akan berhadapan dengan orang-orang lain selain aku. Saat itu kamu harus bisa jadi manusia seutuhnya.”
Aku mendesah kasar. Tidak tahu apakah Geeta paham maksudku atau tidak.
“Maksudku, setidaknya kamu harus menyamar dengan baik.”
Geeta terdiam sejenak. Seolah memahami perkataanku, dia mengangguk dan tersenyum tipis.
“Eung,” katanya sambil mengangguk.
Aku mendengus lagi. Sepertinya aku terlalu meremehkan Geeta. Nyatanya dia jauh lebih cerdas dari dugaanku.
“Baiklah, kita mulai dengan makan menggunakan tangan kanan. Lalu….”
Selama satu jam, aku mengajari Geeta etika makan. Dia belajar dengan cepat.
Paginya, aku meminta Geeta membersihkan kamar sendiri. Kamar yang aku siapkan untuknya tidur.
Kalau aku biarkan tidur di ruang keluarga, bisa-bisa dia kembali mengacaukan dapur dalam semalam. Seperti waktu itu.
Sementara aku menyapu halaman. Di sekitar rawa banyak sekali orang. Oh, jangan khawatir. Aku menutupi jendela dan pintu dapur dengan tirai.
Dengan harapan bisa menyembunyikan Geeta setidaknya seminggu. Aku harus cari tempat untuknya. Yang pasti tidak bisa di rumah ini.
“Hannie!”
Aku menoleh. Itu Tante. Semalam lewat telepon, dia bilang lebih baik kamar-kamar rumah ini disewakan saja.
Maksudnya agar aku tidak tinggal sendiri.
Tapi, memangnya siapa yang mau menyewa kamar di desa yang jauh dari kota begini? Jauh dari tempat wisata. Jauh dari sekolah atau kampus-kampus. Jauh dari mana-mana.
Aku tersenyum menyambutnya. Kalau tidak begitu dia bisa curiga lagi.
“Gimana? Udah enakan badannya?” tanya Tante basa-basi.
Aku mengangguk. “Udah, Tan. Sehat banget malah.”
Tante memukul lenganku. “Kemaren tuh Tante kaget banget tau! Tiba-tiba kamu sakit kepala terus ngejedukin ke tembok. Aduh takut geger otak aja Tante.”
Aku tertawa kecil mendengarnya.
Kemarin itu, memang agak aneh. Aku tidak pernah sakit kepala seperti itu sebelumnya.
Tapi karena memikirkan Geeta, tiba-tiba kepalaku jadi sakit. Dan saat sadar aku benar-benar kembali sehat seperti sedia kala.
“Beneran udah gapapa kan? Abis pas Tante manggil doker katanya masa ga ada apa-apa.”
Tante memegang dagunya. “Asaan kamu téh dulu ga pernah begini, Han.”
Aku mengulum senyum. “Gapapa. Kemaren mungkin… masih kaget kali baru bangun langsung dibawa panik,” kataku cari-cari alasan.
.
.