
“Jadi, Geeta? Benar?”
Geeta mengangguk singkat lalu kembali melahap udangnya. Om Dien menahan tawa.
“Kamu asli mana? Kok ga bisa bahasa Indonesia?”
“Ah- Geeta berasal dari negara yang sama dengan nenekku. Karena itu kita bisa berteman.” Aku memotong gerakan Geeta yang hampir saja menunjuk rawa di halaman belakang.
Paham maksudku, Geeta mengangguk kecil dan melahap udangnya lagi.
“Ohh, pantesan. Berarti Geeta juga kenal sama Miss Grace?” Paman kini menatapku.
“Iya. Waktu aku ke kampungnya Nenek pas kecil, kami ketemu di sana. Geeta anak tetangga sebelah. Karena waktu itu tidak banyak anak kecil, jadi aku cuma main sama Geeta,” karangku. Bukan hal yang sulit mengarang cerita seperti itu bagi penulis seperti aku.
Dalam hati aku berkali-kali meminta maaf pada Om Dien. Walau tidak sepenuhnya bohong. Geeta dan aku memang ‘teman kecil’ kan?
Om mengangguk-angguk. “Jadi teman kecil ya…” gumamnya. Kemudian melahap makanan lagi.
“Temen kecil itu paling susah dilupain loh. Walaupun kalian cuma menghabiskan waktu sebentar, tapi ingatannya akan bertahan lama.”
Aku yang kehilangan seluruh ingatan masa kecilku hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Om. Kalau aku tidak kembali ke rumah ini, mungkin aku sudah lupa pada Geeta selamanya.
“Kalo Om? Punya teman kecil juga?”
Om meletakkan sendoknya dan memegang dagu. “Kayaknya engga. Om dulu pindah-pindah gitu rumahnya. Temen ya sekedar temen aja. Di sekolah gitu. Jadi kenangannya terlalu biasa, ga mudah diingat.” Dia terkekeh.
“Aku malah ga punya banyak kenangan sama temen sekolah. Paling cuma pas SMA aja,” timpalku.
“Loh? Kok gitu?”
“Ya… Temen-temenku waktu SD ngatain mataku buta, karena warnanya abu-abu. Terus, waktu SMP, cuma cewe-cewe yang suka deketin. Yang cowoknya menjauh karena aku didekati banyak cewek.” Aku meringis pelan.
“Kalo SMA, mirip-miriplah sama SMP. Cuma bedanya ada temen cowok yang mau main, karena aku ga terlalu memedulikan cewe-cewe yang mendekat.”
Kelihatannya Om tidak terlalu terkejut dengan ceritaku.
“Oh, Om sudah menduga kamu bakal populer di sekolah, Han.” Dia tertawa. “Tapi, kenangan tetap kenangan. Nanti pas kamu tua, ingatan sekecil apapun akan terasa sangat berharga.”
Om Dien menunjuk dirinya sendiri. “Kayak Om nih. Sekarang udah mau punya cucu. Om suka ngomong sama calon cucu Om yang masih dikandungan. Nyeritain semuanya, sampe ke makanan kesukaan ibu kantin di sekolah Om dulu.”
Aku ikut tertawa bersamanya. “Om udah mau punya cucu? Katanya anak Om seumuran denganku?”
“Ya, kan anak Om ga cuma satu, Han. Anak Om ada tujuh!” Dia mengangkat tangannya dan menunjukkan angka tujuh. Kemudian terkekeh.
“Tujuh? Nenekku aja cuma punya anak tiga, Om.”
“Ya, itukan Nenekmu. Lagian Om orang pribumi asli.”
Aku mengernyit. “Emang apa hubungannya?”
“Justru hubungannya kuat! Kalo orang pribumi kan terkenal anaknya banyak. Ga kayak londo-londo. Orang kaukasoid cenderung lebih suka punya anak sedikit. Lagian, Han. Banyak anak banyak rezeki!”
Aku tertawa lagi. “Kok jadi ke londo-londo segala, nenekku bukan londo, Om.”
Selesai makan, Om kembali ke kamarnya. Geeta sibuk memberi makan Navy. Kelinci itu sudah mau berjalan sekarang.
Hingga siang berganti malam. Rencananya Om ingin mengajak kami makan di luar. Katanya untuk memulai kehidupan bersama kami di rumah Nenek.
Tapi karena Geeta masih teringat kejadian hari itu di mall, dia jadi murung. Aku tahu dia mau ikut. Tapi di sisi lain dia juga takut.
“Geeta?”
Aku berjalan melewati pintu kaca. Malam ini orang-orang yang biasa berkeliaran di sekitar rawa untuk mencari Diwa tidak ada, Geeta jadi bisa ke halaman belakang sekarang. Entah pergi kemana mereka.
“Geeta, kamu yakin gamau ikut? Perginya belum tentu sebentar loh.”
Geeta tidak menoleh. Dia terus menatap rawa dengan tatapan sendu sambil memangku si Navy.
“Kalo Navy diajak, kamu mau ikut?” usulku. Tidak yakin meninggalkan Geeta sendirian di rumah.
Geeta menoleh perlahan. “Mang bisha?”
Aku mengulum senyum. “Bisa dong. Nanti kita cari restoran yang bisa bawa binatang.”
Geeta tidak langsung mengiyakan, dan menatap Navy lamat-lamat.
Aku mendengus. “Gausah pake pet cargo. Kamu gendong aja. Asal jangan dilepas.”
Mata Geeta kini berbinar terang. “Sius?”
Aku tertawa kecil. “Iyaa, serius Geeta,” jawabku sembari mengelus pucuk kepalanya.
Geeta bangkit dari kursi dan langsung berjalan menuju dapur. Dia itu, susah-susah gampang dibujuknya.
Aku menggeleng pelan dan mengikuti langkahnya.
...…...
Setelah menyebutkan pesanan pada pelayan, kami berbincang lagi seperti tadi siang. Sampai makanannya tiba.
“Jangan ngomong begitu, Om. Nanti kokinya resign gimana?”
Om tertawa. “Ya kamu gantiin lah. Om jamin, yang punya restoran ini jadi makin tajir.”
Aku tertawa dan menggeleng. Kulirik Geeta yang agak kesusahan memotong daging steak-nya.
“Sini, aku bantuin.” Aku meraih pisau dan garpu dari tangan Geeta, dan membatunya. Ternyata dagingnya memang agak alot.
“Kurang mateng?” Om melirik daging itu.
Aku tersenyum singkat. “Engga juga. Masih enak kok.” Selesai memotong dagingnya, aku kembali fokus pada makananku.
“Makasih.”
Gerakanku yang akan menyuap langsung berhenti begitu mendengar satu kata yang keluar dari mulut Geeta.
“Apa?”
Geeta menatapku, dan mengulangi ucapannya ragu. “Makasih…?”
Senyumku langsung mengembang. “Sama-sama. Terus latihan ya. Kamu cepet juga berkembangnya.” Aku lagi-lagi mengusak pucuk kepala Geeta secara refleks. Terbiasa juga aku lakukan pada Zihan sih.
“Uuuuuu, Hansa. Kok uwu-uwuan di depan Om sih. Iri nihhh.” Om menyesap tehnya dan terkekeh.
Tersadar, aku langsung menarik tanganku, dan menyuap. Kenapa jadi malu? Aku kan sudah biasa begitu juga ke Geeta. Apa karena sekarang dilihat Om?
“Kayaknya bukan Om aja tuh yang iri.” Om mengidikkan dagunya ke meja-meja di belakangku. “Ciwi-ciwi juga ikutan iri deh. Cari pacar sana, ciwi-ciwi!”
“Nanti kedengeran gimana, Om?” Aku menempelkan telunjuk di bibir.
“Biarin aja. Ngeliat secara langsung begini, Om jadi tambah ga bisa bayangin sepopuer apa kamu di sekolah dulu, Han. Pasti banyak yang ‘nembak’ kamu ya?”
Aku yang sedang menyesap minumanku langsung tersedak. “Nembak? Hahaha.”
Geeta langsung menjatuhkan garpunya. “Hannie, tembakh?!” Dia berdiri dan memeriksa tubuhku.
“Eh, Geeta?"
“Tembakh mana?”
Raut wajahnya benar-benar menunjukan rasa khawatir. Dia memaksaku membuka jaket. Mencari luka yang mungkin membekas karena ‘tembakan’.
Aku tidak bisa menahan tawa. “Geeta, nembak tuh maksudnya bukan nembak beneran. Bukan yang pake pistol bukaan.”
Om ikut tertawa. Dia sampai keluar air mata. “Kamu terlalu polos apa gimana, Geeta? Haduuh. Dasar bule.”
“Trus? Nembak afpa?” Geeta duduk kembali. Masih menuntut penjelasan dariku.
“Maksudnya kayak, apa ya?...” Memutar otak, aku berusaha mencari kalimat yag mudah dimengerti.
“Maksudnya menyatakan perasaan gitu loh. Masa kamu ga ngerti?” Om mendahului.
Geeta memiringkan kepalanya. “Perahsaan?”
“Iya. Misal nih, kamu suka sama si Hansa.”
“Loh, kok aku?” Mendengar permisalan Om, aku langsung salah tingkah.
Tapi Om Dien tidak menghiraukan keluhanku dan melanjutkan. “Terus kamu bilang kamu suka sama dia. Nah itu namanya nembak. Me-nya-ta-kan pe-ra-sa-an,” tekannya sambil mengangguk.
Geeta mengikuti anggukan Paman dan menatapku serius.
“A-Apa?” tanyaku sambil membuat jarak dengan Geeta yang mendekat.
“Hannie. Hita suka Hannie.”
Om langsung tertawa puas melihat tingkah Geeta. Sementara aku tidak bisa berkata-kata. Merasakan bisikan orang-orang di sekitar kami membuat telingaku memanas.
“Kenapa bilang gitu tiba-tiba?! Lanjutin makannya sana.” Aku mendorong pundak Geeta pelan. Mengalihkan suasana.
Kalau begini terus bisa-bisa wajahku berubah merah. Kulitku yang putih akan memperlihatkan rona merah yang lebih jelas.
“Hannie ga suka Hita?” Geeta masih tidak mau berhenti.
“Bukan begitu. Udah sana abisin makannya,” paksaku.
Cahaya mata Geeta langsung meredup. Dia menekuk bibirnya setelah itu.
“Tuh kan, Han. Kamu ga boleh ngomong gitu. Jadi ngambek deh dia. Cewek tuh butuh kejelasan, Han. Kejelasan!” timpal Om.
Ah, kenapa jadi begini?
Tapi aku tidak merespons lebih jauh yang sudah pasti akan membuat suasanya semakin buruk.
.
.