Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XXII



Aku berlari kecil menuju halaman belakang menghampiri Nenek yang sedari tadi memanggilku.


Akhirnya, aku bisa lepas dari Paman berkat Ayah. Terima kasih, Ayah.


Oh, ngomong-ngomong. Orang yang menelepon tadi adalah bibiku. Katanya dia akan datang.


Kalian tahu, bibiku itu rumahnya yang paling jauh dari rumah Nenek. Jadi dia jarang sekali datang.


Tapi untunglah, aku tidak begitu suka dengan Bibi. Dia menyebalkan, cerewet, dan suka sekali menciumi sekaligus mencubit pipiku.


“Nenek!!”


Nenek menoleh dan tersenyum hangat.


Setelah aku mengenal Geeta, Nenek jadi sering mengajakku menemuinya. Tentu saja, tanpa sepengetahuan yang lain.


“Kita akan bertemu ‘dengannya’ lagi?” tanyaku tersenyum lebar.


Nenek mengangguk. “Iya. Dia sudah sangat merindukanmu.”


Aku tertawa renyah. Ah, mana mungkin. Kita kan baru saja beretemu kemarin.


Nenek menuntunku ke rawa. Kali ini kami tidak ke jembatan. Tapi langsung turun ke bawah lewat tangga batu yang dulu aku gunakan sembunyi-sembunyi.


Nenek bilang pada yang lain kalau kita akan mencari ikan di rawa.


Tapi yang terjadi adalah kebalikannya. Neneklah yang membawa ikan ke rawa. Dengan kata lain, di rawa tidak ada ikan.


“Kita akan kasih ini pada Geeta?” tanyaku lagi.


Nenek mengangguk. Kemudian membuka kantung ikan yang masih segar itu.


Ikannya masih hidup, asal kalian tahu.


Aku membuat jarak pada kantong ikan besar yang sudah Nenek siapkan di dekat rawa sebelum kita kemari.


“W-Wah, ikannya benar-benar hidup.”


Aku terpana.


Tidak lama Geeta muncul ke permukaan. Mata permata hijaunya bersinar.


“Aaang!!”


Aku tersentak sedikit. Masih belum terbiasa dengan suara Geeta.


“Ssssttt, jangan terlalu berisik. Nanti ketahuan yang lain,” omelku pada sosok cantik itu.


Geeta menutupi mulutnya dengan kedua tangan seketika. Lucu sekali.


Aku tertawa kecil.


Nenek mengeluarkan Ikan Mas berukuran sedang dari kantung, dan melemparkannya pada Geeta.


Dengan sigap sosok cantik itu menangkap ikan yang dilempar dengan mulutnya. Seperti lumba-lumba.


Aku menepuk tangan senang. “Keren! Lakukan lagi! Lagi!”


Tanpa sadar, sekarang akulah yang membuat keributan. Tapi Nenek tidak mempermasalahkan hal itu dan kembali melempar ikan yang kedua.


Geeta lagi-lagi menangkapnya dengan mulut, dan langsung melahapnya dengan cepat.


Hanya dalam hitungan detik, Ikan Mas itu habis tak bersisa.


Geeta kembali bersiap untuk ikan berikutnya. Matanya menajam. Lidahnya menjilati bibir, tanda masih lapar.


Nenek tertawa kecil. “Sabarlah Geeta. Bagaimana kalau kau makan di sini?”


Nenek mengisyaratkan Geeta untuk datang ke daratan. Aku mengangguk menyetujui.


“Iya! Mendekatlah!”


Sekarang aku sudah tidak takut lagi pada Geeta. Walau tubuhnya jauh lebih besar dariku, Geeta itu bersikap seperti anak anjing.


Bisa dibilang, sosoknya saat menjadi manusia, terlihat seumuran dengan Paman.


Geeta keluar dari air. Rambut panjangnya mampu menutupi seluruh tubuh makhluk itu. Tapi Nenek memberinya kaus.


Dia duduk di sampingku. Dan tersenyum manis.


“Hangi!~” sapanya.


Aku tertawa. “Iya, iya! Halo juga.”


Sambil Geeta menyantap ikannya, aku menceritakan bayak hal yang sudah kuajarkan pada Geeta ke Nenek.


Oh, dalam bentuk manusia, Geeta makan dengan tangan. Dia sudah dilatih oleh Nenek sejak lama untuk melakukan itu.


“Nek, Nek! Aku sudah ajarkan Geeta caranya menyapa orang. Mau dengar?”


Nenek membulatkan matanya terkejut. “Sungguh? Kapan kau mengajarinya?”


Aku terkekeh. “Kapan saja saat kita bertemu.”


Nenek memandangku curiga. “Kamu tidak pergi diam-diam untuk menemuinya kan?”


Aku menggeleng kukuh. “Engga kok! Aku ga akan keluar rumah diam-diam lagi, ya kan Geeta?”


Geeta menatapku sesaat, kemudian beralih menatap Nenek. Dia tersenyum lebar dan ikut menggeleng.


“Hangi, aang aang!!”


Aku tertawa lagi dan mengusap kepala Geeta.


Walau begitu perasaan curiga Nenek belum juga pergi. “Hmmm, tampaknya kalian sudah bisa bekerja sama,” katanya kemudian terkekeh.


Setelah menghabiskan ikan terakhirnya, Geeta menunjukkan apa yang sudah kuajarkan padanya.


“Geeta, beri salam pada Nenek.”


Geeta menjulurkan tangan kanannya pada Nenek begitu mendengar instruksi dariku.


Nenek tampaknya cukup terkesan. Dia menerima uluran tangan Geeta.


“Sahmat hagi!” ujar Geeta lantang.


Aku tersenyum bangga. Kemudian memberi instruksi berikutnya.


“Geeta, perkenalkan dirimu.”


Geeta melepaskan genggaman tangannya, dan berdiri tegap.


“Naham sah Hita!” katanya lagi.


Nenek tersenyum lebar. Terkesan dengan perkembangan Geeta. “Masih belum bisa mengucapkan kata dengan benar, tapi begini juga sudah sangat lumayan,” komentarnya.


Aku membusungkan dada. “Iyalah! Siapa dulu yang ngajarin.”


Selanjutnya, Geeta memberi salam untuk malam, dan siang hari. Juga cara mengucapkan huruf-huruf.


Sampai tak terasa sore hari pun tiba. Tapi aku belum ingin berpisah dengannya. Aku mau main lebih lama.


Menundukkan kepala, aku memberi permohonan pada Nenek ragu.


“Nek, boleh aku… main lagi dengan Geeta besok?” suaraku pelan.


Nenek menoleh. “Apa?”


Ah, sudah kuduga dia tidak dengar. Aku menghela dan mengangkat kepala.


“Aku ingin main dengan Geeta besok. Boleh kan?”


Nenek diam sejenak. Berpikir. Aku tahu, besok adalah jadwal Nenek periksa kesehatan. Dia tidak akan bisa menemaniku. Tapi…


“Tidak bisa,” putusnya.


Saat itu juga, untuk pertama kalinya aku kecewa dengan keputusan Nenek.


“Ayolah, aku mohon.” Aku memeluk lengan kiri Nenek. Bermaksud membujuknya.


Tapi itu tidak bekerja.


“Tidak bisa, Hannie. Nenek harus pergi besok.”


Aku tetap tidak mau kalah.


“Ngga! Pokoknya aku mau main sama Geeta!!”


“Hannie….”


“Pokoknya mau main!!!”


“HANGI!”


Aku tersentak. Di tengah perdebatanku dengan Nenek, tiba-tiba saja Geeta berteriak.


Aku membalik badan menatapnya. Sosok perempuan cantik dengan mata permata yang indah, tengah tersenyum lembut menatapku.


“Hanti itaa… mahin agi. Hm?”


Aku mengernyitkan dahi. ‘Nanti kita… main lagi’? Itu yang ingin dia katakan, kan?


Aku mengusap air mata yang muncul di ujung mataku. “Geeta….”


Dia tersenyum sampai matanya terpejam dan membentuk bulan sabit.


“Ha~ngi~”


Dia mendekatkan wajahnya pada wajahku.


“Denghain Nek!”


Aku mengerutkan dahi lagi. ‘Dengarin Nek’? Dengerin Nenek maksudnya?


Geeta mengusap lembut kepalaku dan kembali tersenyum. Matanya menatap tepat ke mata abu-abuku.


Dia seolah mengatakan, ‘Jadilah anak baik’.


Aku terkesima. Geeta, baru saja berkomunikasi denganku. Dengan bahasa manusia.


...…...


Aku membuka mata perlahan. Hal pertama yang kulihat, adalah langit-langit bergaya Eropa kuno. Aku di kamar.


Kupaksa tubuhku untuk duduk. Kepalaku terasa sangat berat, dan dadaku agak sesak.


Kuputar pandangan ke seluruh sudut kamar. Tak ada seorang pun di sana.


Terakhir, kuingat Tante memekik memanggil namaku. Kemudian aku memimpikan masa kecilku lagi.


Apa itu benar ingatanku atau hanya mimpi?


Aku merintih. Saat mencoba mengingatnya, kepalaku jadi sakit.


Aku turun dari kasur, dan keluar dari kamar. Apa Tante sudah pulang ya? Jam berapa sekarang?


Turun dari tangga, aku bisa melihat sosok wanita berambut hijau lumut sepinggang tengah duduk di meja makan. Kepalanya di rebahkan di atas meja.


Geeta?


Saat itu, entah kenapa aku tidak mau mendekatinya. Apa aku takut padanya? Tidak. Aku takut dia terbangun dari tidurnya.


Aku memandangi Geeta lamat-lamat. Rasanya rindu sekali. Seperti sudah sangat lama aku tidak melihatnya. Padahal semalam kami menghabiskan waktu bersama.


Apa karena efek mimpi tadi?


Seperti sadar tengah diperhatikan, gadis itu terbangun dan menatapku dengan matanya yang masih mengantuk.


Walau begitu dia tetap terlihat sangat cantik.


“Hangi…?” Dia megucek mata dan membentuk seulas senyum. Kemudian bersuara lagi.


“Sahmat hagi!”


.


.