Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XXXII



Aku mengerjap beberapa kali.


“Pantai?"


Geeta mengangguk kuat. “Ung! Pangtai!”


“Tapi kenapa pantai?” tanyaku dengan alis terangkat.


Geeta mengambil kertasnya yang dia letakkan di atas meja TV.


[Hannie janji pada Geeta untuk pergi ke pantai dulu.]


Membaca itu aku lantas mengerutkan kening. Aku pernah janji begitu? Kapan?


...…...


“Hansa.”


Aku yang sedang bercanda dengan Paman dan Eli menoleh cepat. Itu Ayah, dia berdiri di ambang pintu dengan raut wajah tak menyenangkan.


“Masuk. Sudah malam, besok kita kembali ke Jakarta.” Ayah membalikkan badannya ketika aku memekik tidak setuju.


“Kok tiba-tiba?! Liburanku kan masih lama. Ayah bilang kita bisa menginap dua tiga hari.” Aku bangkit dari kursi.


Ayah tak membalik badannya dan menjawab, “Perubahan rencana. Kamu harus menuruti permintaan Ayah.”


“Permintaan apanya?! Ini namanya paksaan. Pokoknya aku ga mau balik ke Jakarta besok. Kalo bisa ga usah balik aja sekalian!”


Kali ini Ayah langsung berbalik. Pandangannya terkunci pada sepasang bola mata kelabu milikku. Alisnya bertautan.


“Kamu berani membalas perkataan Ayah?! Sejak kapan kamu ga sopan begini?” Ayah mengalihkan pandangannya pada Paman.


“Pasti karena kamu terlalu banyak bergaul dengan si curut itu kan?” desisnya.


Aku memandang Ayah tak percaya. Tanpa diperintah, air mataku mengucur. Dia bukan Ayah yang aku kenal.


“Kenapa Ayah ngomong begitu?! Paman ga pernah ngajarin aku yang nggak-nggak!” balasku dengan nada tak kalah tinggi.


Kerutan di dahi Ayah semakin dalam.


“Kamu—”


“Kamu bukan ayahku!” Teriakanku memotong kalimat Ayah.


Dia tampak terkejut mendengarnya. Kerutan di dahinya langsung hilang. Ekspresi marahnya berganti dengan ekspresi kecewa.


“Kamu bukan Ayah yang aku kenal! Cepat bilang dimana Ayah! Pasti kamu bukan Ayah!”


Aku meremat ujung kaus sekuat tenaga. Mengumpulkan semua keberanian yang tersisa untuk melawannya.


Eli berdiri dari kursi dan memegangi bahuku. “Hansa, jangan begitu. Kamu ga boleh bicara begitu pada ayahmu.”


“Tapi Ayah ga pernah menyalahkan orang lain! Ayahku ga pernah berteriak padaku! Ayah ga pernah maksa aku ngelakuin sesuatu!” Air mataku semakin mengucur deras.


Eli bungkam. Begitu juga dengan Paman. Ayah tampak membuka mulutnya, namun dia tidak mengatakan apa-apa. Dan menutupnya lagi.


“Kenapa sih?” Bibi May muncul dari dalam rumah. “Kenapa ribut lagi? Ada apa, Han? Teriakanmu kedengeran sampe dalem.”


Tak seorangpun dari kami yang menjawab pertanyaan Bibi, sampai akhirnya Bunda juga keluar. Dia sangat terkejut saat melihat wajahku dibanjiri air mata.


“Hannie, what’s wrong baby?! Something’s hurt?” Suaranya khawatir.


Aku mendongak menatap wanita berambut sebahu itu dengan air mata yang masih mengalir. “Yes, here.” Aku menunjuk dadaku.


Bunda refleks termangu. Dia memelukku dan menatap orang-orang sekitarnya. Terutama Ayah.


“What have you done?” tekannya kecewa.


Sebelum Ayah sempat menjawab, Bunda sudah lebih dulu membawaku masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Bibi, Eli, dan Ayah di luar.


Aku melirik ke belakang sebentar sebelum menaiki tangga. Ayah tertunduk lemas dan tangannya mengepal.


‘Shit.’ Itu yang dia gumamkan.


Di tempat tidur, aku menahan lengan Bunda yang akan meninggalkanku.


“Bunda, besok kita ga akan balik ke Jakarta kan?”


Bunda diam sejenak. “Bunda ga tahu, sayang. Sekarang kamu tidur dulu ya.”


“Aku ga mau, Bunda. Aku ga mau kalo tiba-tiba Ayah gendong aku ke mobil pas lagi tidur.” Air mataku yang sempat berhenti mengalir lagi.


“Aku masih kangen Nenek. Kalo mau ke Jakarta, Ayah sama Bunda aja. Aku ga mau ikut.”


Bunda duduk lagi di pinggir kasur dan menghapus jejak air mataku. “Bunda ga akan tinggalin kamu lagi.”


Aku mengernyit tipis. Lagi? Apa maksudnya? Tapi aku tidak ambil pusing dan mengabaikan perkataan Bunda yang itu.


“Pokoknya jangan bawa aku ke Jakarta besok ya?”


Aku ikut tersenyum. “Makasih, Bunda.”


...…...


Pagi ini, aku masih di rumah Nenek. Tapi aku tak bisa menemukan Ayah. Mobilnya juga tidak ada. Padahal Bunda masih ada di sini kok.


Apa Ayah ke Jakarta sendirian? Ya, aku sih ga masalah. Malah bagus.


Aku menghampiri Nenek yang baru selesai minum obat. Dia langsung tersenyum seperti biasa begitu melihatku.


“Pagi, Hannie. Tidurmu nyenyak?”


Aku tidak menjawab, dan tertunduk. “Aku mimpi buruk.”


Mata Nenek melebar. “Mimpi apa?”


“Bukan apa-apa.” Aku menggeleng. “Eli bilang mimpi buruk ga boleh diceritain. Nanti bisa kejadian beneran.”


Nenek tertegun. Kemudian tersenyum lagi. “Begitu ya? Ah, gimana arlojinya? Lancar kan? Ga rusak-rusak lagi?”


Aku menggeleng. “Bagus kok.”


Mendengar jawaban-jawaban singkat dariku itu sangat tidak biasa untuk Nenek. Dia meminta seluruh asisten rumah tangga untuk memberiku dan dirinya ruang.


“Semuanya sudah Nenek suruh pergi. Sekarang tinggal kamu dan Nenek. Cerita sama Nenek, apa yang terjadi?”


Aku mengulum senyum, masih tertunduk. “Kalo diceritain juga ga akan membuat semuanya kembali seperti semula.”


Nenek lagi-lagi dibuat terdiam dengan kalimatku. Aku juga ga tahu kenapa mulutku bicara begitu. Hanya saja, aku merasa lelah sekali.


Dan tidak dalam mood untuk bercerita. Apapun yang terjadi di sekitarku sekarang terlihat tidak menarik.


“Nek, dimana Paman?” tanyaku begitu sadar belum melihat rambut jagung yang mengkilap itu.


“Oh, kayaknya dia ada di luar. Seingat Nenek dia belum masuk sih. Mobilnya juga ada.”


Aku langsung berjalan keluar. Padahal aku tahu Nenek masih mau bicara denganku, tapi lebih baik menghindar dulu.


“Paman?” panggilku begitu melihat balutan selimut di atas kursi. Kursi yang sama dengan yang digunakan Paman semalam.


“Paman, bagun. Burung udah pada nyanyi-nyayi tuh. Nanti rejekinya dipatok uler loh kata Bunda.”


“Dipatok ayam! Sejak kapan berubah jadi uler?” erangnya masih meringkuk di posisi yang sama.


“Ya mangkannya bangun dong! Ayamnya belum makan kan? Aku ga tahu gimana cara ngasih makannya.”


Dengan ‘ogah-ogahan’ Paman membuka mata. Rambut pirangnya yang bersinar karena matahari itu membuat mataku sakit.


“Tinggal ditaburin aja, apa susahnya sih? Ganggu orang lagi tidur aja.”


“Ditabur, ditabur. Emangnya meses?” Aku menyolot. “Udah ah, cepetan bangun!” Kemudian menarik selimutnya kuat-kuat.


“Duh, iya! Gausah tarik-tarik!”


Paman berdiri dan melipat selimut, lalu mencuci muka. Di luar. Entah kenapa aku merasa Paman tidak berniat masuk ke rumah sedikitpun.


“Nih, kek gini caranya. Liatin bae-bae.” Paman meletakkan jagung giling di atas mangkuk kecil, dan meletakkannya di dalam kandang. “Tuh, kan, dimakan. Udeh gitu doang.”


Aku mengangguk-angguk mengerti. Sebenarnya aku sudah tahu sih, tapi aku cuma mau Paman bangun saja.


“Ayamnya masih sakit, ya? Makan kayak yang ga niat gitu.” Aku mengidikkan dagu ke arah si ayam.


“He’eh, kayaknya dia masih shock. Tapi udah mau makan segini juga bagus kok. Daripada ngga sama sekali.”


Paman berdiri di hadapanku. “Han, mau ke pantai ga?”


Aku mengangkat alis spontan. “Kok tiba-tiba pantai? Mau ngapain? Lagian pantai kan jauh dari sini.”


Paman mengangkat kedua bahunya. “Pengen aja. Tapi lagi ga ada temen yang bisa diajak. Paman bakalan seneng banget loh, kalo kamu mau ikut.”


Aku mengalihkan pandangan sejenak. “Emang apa serunya sih pantai? Aku hampir kebawa arus waktu pertama kali ke sana.”


Paman terkekeh. “Kamu kan emang baru sekali ke pantai. Seru apa nggaknya juga nanti kamu tau. Waktu itu kamu masih terlalu kecil, Han. Ga akan paham. Mangkannya yuk ke sana lagi.”


Memang sih, taman bermain atau beli es krim di minimarket lebih menyenangkan bagiku. Apa serunya lihat-lihat pemandangan dan ga melakukan apapun?


Kalo begitu doang di rumah Nenek juga bisa kan? Pemandangan rawa di belakang sana lebih menakjubkan dari pada pemandangan laut.


“Terserah deh. Tapi Bunda sama Nenek boleh ikut kan?”


Paman mengangguk. “Iyalah. Plus Eli juga boleh. Yakali ngajak kamu doang. Seru nggak, repot iya.”


.


.