Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XVIII



Setelah obrolan singkat dan makan malam, kami pulang ke rumah Nenek.


Tenang saja, Ayah dan Paman sudah berhenti berdebat begitu Bunda menjitak kepala keduanya.


“Hansa.”


Aku menoleh. Kita ada di depan restoran, tempat mobil Ayah terparkir.


Kakek Kama menghampiriku, seperti ada yang kelupaan. Aku mengangkat alis heran saat ia memberikan sebuah arloji tua dengan huruf-huruf yang masih belum kumengerti artinya.


“Apa ini?” tanyaku sembari meraih arloji itu.


Kakek Kama tersenyum tipis.


“Itu milik kakekmu, Hansa. Kurasa dia akan lebih senang barang favoritnya dijaga olehmu.”


Aku menatap Kakek Kama terkejut.


“Ini barang favorit Kakek?!”


Kakek Kama mengangguk. “Iya. Dia memintaku untuk menjaga barang itu. Tapi, kupikir sebagai cucunya, kamu lebih pantas.”


Mendengar penjelasan dari Kakek Kama, aku memandangi arloji itu untuk sesaat.


Kalau dipikir-pikir, kenapa semua orang ingin aku menjaga sesuatu?


Aku kembali menatap Kakek Kama yang pandangan matanya terkunci pada arloji ini.


“Tapi, kakekku sudah menitipkan ini pada Kakek Kama. Kenapa diberikan padaku? Kenapa Kakek Kama yakin kakekku akan lebih senang kalau barang ini ada padaku?”


Seribu pertanyaan itu membuat Kakek Kama terpaku sejenak. Kemudian tertawa lepas.


“Ah! Kamu ini, bicaranya tua sekali!” Dia masih tertawa.


Sementara aku memandanginya keheranan. Aku tidak mengerti, apanya yang lucu? Aku serius!


Kakek Kama mengusap setitik air mata di ujung matanya. Terlalu banyak tertawa.


“Begini, Hansa. Raje hanya menitipkan benda itu padaku. Kalau aku merasa ada orang yang lebih baik, yang bisa menjaga benda itu, bukankah tidak masalah? Apalagi kau adalah cucunya.”


Aku tidak mengerti apa yang Kakek Kama katakan. Tapi, sebenarnya aku tidak mau menanggung beban seperti ini.


Barang ini, pasti sangat berharga untuk kakekku. Karena itu dia menitipkannya pada orang yang paling dia percaya.


“Hansa.”


Aku mendongak menatap Kakek Kama.


“Barang itu bukan milikku. Memberinya padamu adalah bagian dari tugasku untuk menjaganya.”


Kakek Kama tersenyum lebar dan mengelus pucuk kepalaku.


“Kamu mirip sekali dengannya! Haha.”


Mendengar ucapan, dan senyumnya yang seperti itu, aku mau tidak mau menerima arloji ini.


Di mobil saat perjalanan pulang, aku memperlihatkan barang berharga itu pada Nenek.


Dia tidak terlihat kaget. Nenek tersenyum lembut dan membelaiku.


“Jaga itu baik-baik.”


Hanya itu komentarnya. Kemudian aku tahu, kalau deretan huruf-huruf yang melingkar itu adalah angka romawi. Sama dengan jam, fungsinya untuk menunjukkan waktu.


Bunda bilang arloji ini masih bagus. Kalau dibawa ke toko barang klasik, mungkin bisa diperbaiki agar berfungsi lagi.


Mungkin, barang ini bisa membantuku mengenal Kakek lebih jauh.


...…...


“Nenek! Selamat pagi!” sapaku pada Nenek yang tengah membaca buku di halaman belakang.


Nenek menoleh dan tersenyum. Dia memintaku untuk mendekat.


Aku dengan senang hati mendekatinya. Eli mengikutiku sambil membawa sekotak biskuit dan susu hangat.


“Bagaimana tidurmu semalam?” tanya Nenek begitu aku duduk di hadapannya.


Aku mengangguk riang. Perasaanku pagi ini amat sangat baik!


“Nyenyak, Nek! Aku mimpi indaaahhhhh banget.”


Nenek tertawa, begitu juga dengan Eli. Ini adalah pagi pertamaku di rumah Nenek setelah satu bulan tidak kesini.


“Mimpi apa memang?”


Aku melahap biskuit pertama dan mengayun-ayunkan kaki sambil berpikir.


“Mimpi main sama Kakek.”


Tapi detik berikutnyaa Nenek tersenyum. Dia menyesap tehnya, dan kembali menatapku.


“Jadi, apa saja yang kalian lakukan?”


Aku berpikir lagi. Mengingat-ingat.


“Main ke taman. Naik ayunan. Naik perosotan. Nangkep kupu-kupu. Pokoknya semacam itu.”


Nenek kembali bertanya, “Apa Kakek tersenyum?”


Melihat pandangan Nenek yang penuh harap. Aku juga ikut tersenyum.


“Iya, Kakek senyum lebaarr banget. Kita juga ketawa-ketawa!”


Mendengar jawabanku, Nenek menghela napas lega. Walau yang aku ceritakan hanyalah mimpi, tapi Nenek merespon seolah-olah semua itu adalah kejadian nyata.


Aku juga agak terkejut saat bangun. Kenapa tiba-tiba memimpikan Kakek? Apa karena arloji itu?


Eh, arloji?


“Oh iya!” Aku menggebrak meja. Membuat Eli, Nenek, dan beberapa asisten rumah tangga di sekitar kami tersentak.


Eli mengomeliku, dan aku meminta maaf pada Nenek sebelum melanjutkan.


“Aku baru ingat! Di mimpi, Kakek nitipin aku arloji yang sama. Aku ga inget lagi suara Kakek sih, tapi aku yakin Kakek bilang arloji itu sekarang milikku.”


Eli yang masih belum tahu soal arloji memandangku dan Nenek heran.


“Arloji?”


Aku beralih menatap Eli. “Iya! Arloji dari Kakek.”


Merogoh saku celana, aku mengeluarkan sebuah arloji tua dan memperlihatkannya pada Eli.


Dia terpana sesaat. “Ini, indah sekali,” komentarnya.


Aku tersenyum bangga. “Iyakan! Sekarang benda ini punyaku. Kakek bilang sendiri!”


Nenek hanya tersenyum seperti biasa mendengar ceritaku. Eli bilang, hal yang paling Nenek suka di dunia ini adalah suaraku.


Nenek suka mendengar aku berceloteh seperti burung. Katanya itu seperti musik relaksasi baginya.


Padahal kalau Bunda, dia akan mengomel jika aku terlalu banyak bicara.


Bawel, katanya.


“Nek, aku akan memperlihatkan ini ‘padanya’!”


Perhatian Nenek pada buku kembali teralihkan. Seperti mencerna kata-kataku, dia tersenyum lebar.


“Baik. Nanti kita temui dia.”


Mataku berbinar. Aku turun dari kursi dan meloncat kegirangan. Berlari ke sana dan ke sini.


Sementara Eli lagi-lagi kebingungan dengan maksud dari perbincanganku dengan Nenek.


Siangnya, Nenek kembali membawaku ke bawah jembatan untuk bertemu Geeta.


Jangan bingung bagaimana kami bisa mendapat izin dari Ayah. Nenek bilang, aku akan bertemu dengan Tante Dinan.


Tapi Nenek tidak berobohong, karena setelah bertemu dengan Geeta, kami akan pergi ke rumah Tante.


Sudah tidak terlalu takut, aku langsung mendekat ke rawa. Kulongokkan kepalaku, berusaha menembus gelapnya air rawa.


Di samping, Nenek mencelupkan tangannya. Dari tatapannya, dia menyuruhku untuk melakukan hal yang sama.


Aku meletakkan arloji Kakek di samping, dan ikut mencelupkan sebelah tangan ke dalam air.


Dingin. Air rawanya sangat dingin. Aku takut ada sesuatu yang memakan tanganku dari kegelapan.


Melihat ada keraguan dalam diriku, Nenek tertawa kecil.


“Tidak apa. Tidak akan ada yang berani melukaimu di rawa ini. Bahkan satu desa ini juga, tidak akan ada yang berani melukai kamu, Hannie.”


Mempercayai kata-kata Nenek, aku mengusir perasaan ragu itu, dan memantapkan hati.


Iya, aku kan mau memamerkan arloji ini pada Geeta. Aku juga harus dekat dengannya agar Nenek memberi tahu rahasia selanjutnya.


Tidak lama, sesuatu yang besar berenang dari dasar rawa. Aku menarik tanganku kembali dari air dan,


Sama seperti terakhir kali, sesosok putri duyung meloncat ke permukaan.


Kali ini dia terlihat bersih. Mata permata hijaunya, dan mata abu-abuku saling bertatapan.


.


.