
Setelah menyelam lagi sebentar, Geeta kembali muncul, kali ini perlahan.
Aku terpana melihat matanya yang indah itu.
“Nek, apa permata di tangannya pindah ke mata?” tanyaku.
Nenek tertawa. “Tidak tahu ya. Mungkin kamu bisa tanyakan itu padanya.”
Aku menatap Geeta lagi. Dan Dia balas menatapku dengan mata berbinar-binar.
“Hei, apa permatamu pindah ke mata?”
Nenek tertawa lagi. Geeta tidak menjawab. Dia hanya bisa mengeluarkan suara aneh.
“Aang!” katanya.
Aku tidak mengerti. “Nek, apa dia tidak bisa bicara bahasa kita?”
Nenek menggeleng. “Sepertinya tidak bisa. Tapi kurang lebih dia paham dengan apa yang kita katakan. Mungkin kamu bisa memeragakan sesuatu dengan tanganmu, agar lebih mudah.”
Aku cemberut. Kalau begitu sama saja dengan interaksi satu arah dong.
“Kalau gitu aku mau ajarin dia!”
Nenek terkejut. “Memangnya kamu bisa?”
“Bisa!” tegasku semangat.
Aku berdiri dan menunjuk Geeta. “Kamu, mulai pertemuan berikutnya, aku akan mengajarkanmu bicara bahasaku!”
Geeta mengerjap beberapa kali dan tersenyum lebar.
“Aang!!”
Sepertinya itu tanda ‘oke’. Baiklah, mungkin aku mulai terbiasa.
Kembali duduk, aku menunjukannya aroloji Kakek.
“Lihat ini Geeta. Ini arloji Kakekku. Dia memberikannya padaku.”
Geeta memiringkan kepalanya memperhatikan arloji itu.
“Hangi uung?”
Aku menggeleng. “Bukan milikku, tapi milik Kakek. Yah, udah dikasih ke aku sih, walau dari mimpi.”
Geeta memperhatikan arloji sekali lagi dan tersenyum lebar lagi.
“Aang! Aang!”
Sepertinya dia juga suka. Aku tersenyum riang mengikutinya. Setelah itu Geeta tampak berpikir sejenak.
Kemudian kembali menyelam. Aku memandang Nenek bingung.
“Kenapa dia pergi tiba-tiba? Kupikir dia suka arloji ini?”
Nenek mengidikkan bahu. Tanpa memudarkan senyumnya.
Aku mengerutkan dahi. Apasih, kenapa dia tiba-tiba pergi?
Tidak sampai lima menit, Geeta kembali dengan sepucuk bunga teratai berwarna putih bersih.
Dari mana dia mendapatkan bunga ini?
“Aaang!! Hangi, aang!!”
Dia menyodorkan bunga itu padaku. Apa dia ingin aku memilikinya?
“B-Buatku?” Aku menunjuk diri dengan telunjuk.
Geeta tersenyum dan mengangguk. “Aang! Aang!”
Aku menerima bunga itu. Cantik sekali. Bunganya sangat bersih dan cantik. Biasanya bunga secantik ini hanya kulihat di foto.
Begitu malihat aslinya tidak akan begitu cantik. Tapi Geeta berhasil menemukan yang seperti ini.
“Terima kasih, aku suka. Bunganya indah, seperti matamu.”
Geeta melebarkan senyum. Dia juga terlihat cantik bagaikan dewi. Tapi tetap, Bunda dan Nenek lebih cantik.
...…...
Aku termenung menatap sesosok gadis cantik yang tengah meminum teh panas di hadapanku.
Geeta, aku jadi lebih yakin kalau dia adalah Geeta yang sama dengan Geeta lima belas tahun lalu.
Aku mengernyit. Sekarang isi kepalaku dipenuhi oleh Geeta, Geeta, dan Geeta.
“Hangi?”
Sambil memijat pelipis, aku menatapnya.
“Apa?”
Geeta memandangiku sesaat. Matanya yang bersinar tampak agak khawatir. Apa karena sebelumnya aku kesakitan?
Aku menghela. Mencoba menenangkannya.
“Aku tidak apa. Tadi cuma kecapean.”
Geeta masih menatapku dalam-dalam. Aku jadi merasa agak risih.
“Sudahlah,” ujarku sembari mengibaskan tangan di depan wajah. “jangan menatapku seperti itu terus-terusan.”
Kemudian Geeta kembali meminum tehnya. Sesekali meringis karena panas.
Sekarang gantian aku yang memperhatikannya.
“Hei.”
Geeta menatapku.
“Apa kau, masih ingat Nenek?”
Geeta meletakkan cangkir di atas meja. Sinar di matanya meredup. Aku mengerutkan dahi.
“Kau tahu? Kalau Nenek sudah….”
Geeta mengangguk pelan.
Aku menghirup napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Membicarakan Nenek membuat dadaku sesak.
“Hangi….” Geeta memegang satu tanganku dengan kedua tangannya.
Dia tersenyum. Seakan mengatakan padaku, kalau semuanya baik-baik saja.
Aku mengernyit. Tatapannya yang mengasihaniku, itu menyebalkan. Tapi entah bagaimana, air mataku menggenang.
Rasanya, rindu sekali. Seperti bertemu dengan orang berharga yang sudah lama berpisah dengan kita.
“Kenapa, kau menatapku seperti itu?”
Geeta membuka mulutnya, tapi dia tidak mengatakan apapun. Dia menahannya. Apa yang ingin dia katakan?
“Seingatku, kamu akan kuajari bicara. Apa kau sudah lupa? Atau aku yang belum melakukannya?”
Geeta menggeleng kukuh. “Aang, Hangi. Uung, inga, uuuaa.”
Kerutan di dahiku semakin dalam. Sungguh, aku tidak mengerti apa yang dia katakan.
“Baiklah, nanti aku ajari lagi.”
Kali ini sinar di matanya kembali. Dia tersenyum manis. Senyum yang sama saat aku bilang menyukai bunga teratai yang dia berikan lima belas tahun lalu.
“Aaang!” katanya sambil mengangguk.
Entah apa yang akan terjadi kedepannya. Tapi aku tidak mau mengusir Geeta. Walau aku merasa asing, tapi hatiku ingin dia tetap di sini.
“Geeta,” panggilku lagi.
“Ung?” Dia memiringkan kepala.
“Maukah kau membantuku mengumpulkan ingatan?”
Geeta tampak bingung, tapi dia tetap mengangguk dengan ragu.
Aku mendegus geli. “Temani aku. Akan kuberikan kau makanan yang banyak sebagai gantinya.”
Geeta tersenyum lebar. Sampai matanya membentuk bulan sabit.
“Aang!”
Mungkin aku sudah gila, meminta makhluk aneh menemaniku mencari ingatan yang hilang.
Memintanya agar tetap di sini.
Tapi, sejak awal aku memang sudah gila dengan memutuskan untuk kembali ke rumah ini.
Malamnya, aku menyuruh Geeta untuk tidur di ruang keluarga. Di sofa.
Jahat? Ya, aku memang jahat dan gila. Tapi itu bukan tanpa alasan.
Aku juga belum tahu Geeta itu mahluk apa, dan kehadirannya di rumah ini sangat misterius.
Mataku memicing memperhatikan Geeta yang tengah menonton televisi dengan mata bercahaya.
Tidak bisa, pokoknya aku tidak mau terlalu dekat dengannya dulu.
Aku mengernyit. Duh, padahal aku yang memintanya untuk tetap tinggal, tapi aku juga yang menyiksanya begini.
Geeta menoleh, sadar kalau aku memperhatikannya dari jauh. Dia tersenyum, kemudian mengibaskan sebelah tangannya. Menyuruhku tidur?
Tatapan matanya bilang kalau dia tidak apa-apa. Baiklah, mari kita lihat sampai besok.
Inginnya sih, keadaan rumah ini masih tetap sama seperti semula walau ada Geeta di dalamnya. Tapi, harapan itu langsung kandas begitu aku bangun di pagi hari.
Kapal pecah.
Ruang keluarga dan dapur berubah seperti habis terjadi perang dunia.
“Geeta!!!” seruku marah.
Kemana dia setelah melakukan semua ini? Dasar. Dia mau kabur setelah membuat kekacauan?!
Sampah makanan berserakan di mana-mana. Pintu kulkas terbuka lebar. Isinya sudah lenyap.
Bufet, meja makan, lemari dapur, semuanya berantakan. Aku menoleh ke halaman belakang. Pintunya terbuka lebar dan ada jejak makanan keluar.
Dia pasti kabur ke rawa.
Dengan lagkah tergesa-gesa aku pergi ke halaman belakang.
“Geeta! Keluar sekarang! Apa yang sudah kau lakukan pada rumah ini?!”
Dari balik semak-semak, Geeta memunculkan kepalanya. Dia tampak ketakutan. Matanya memelas begitu melihatku.
Huh, kau pikir aku akan mengasihanimu? Setelah semua ini? Dengan suara tertahan akibat emosi, aku mengomelinya.
“Geeta… Kau harus membayar semuanya,” kataku sambil melotot.
.
.