Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XXIV



Tante mangangguk-angguk. “Iya kali ya. Eh, gimana saran Tante?”


Air wajahnya yang tadi serius berubah ceria lagi.


Aku menopang dagu di ujung sapu. “Hmm, boleh aja sih. Tapi aku cuma bisa sewain dua kamar. Rasanya ga enak aja sama Nenek.”


Tante mengibaskan tangannya di udara.


“Aih, gapapa. Yang penting mah ada yang nemenin kamu.” Dia menepuk pundakku dan terkekeh.


Mengulum senyum, aku mengangguk singkat.


“Iya. Tante khawatir sama aku aja udah makasih banget.”


Tante mengusap hidungnya malu. “Ih, itu mah udah pasti atuh.”


Aku tertawa kecil.


Awalnya kupikir, tinggal di rumah Nenek akan membuatku sedih sepanjang waktu. Tapi ternyata tidak juga.


Tante sangat baik, dan kehadiran Geeta cukup menghiburku. Walaupun awalnya merepotkan.


“Yaudah kalo kamu setuju. Tante langsung bilang sama calonnya ya.”


Aku mengerjap. Calon?


“Eh, udah ada? Maksudnya, udah ada yang mau sewa kamarnya?”


Tante tersenyum lebar. “Iya lah. Cepet kan? Tante gitu loh.”


Aku tersenyum hambar. Secepat itu ya?...


“Berapa orang, Tan?” tanyaku pelan.


Pasalnya, aku menyetujui saran Tante karena Geeta. Kupikir kalau begitu aku bisa bilang Geeta salah satu penyewanya.


Tapi, kalau orang yang Tante hubungi sudah dua orang…


“Baru satu sih. Kenapa?”


Refleks aku menghela lega. “Nggak. Kayaknya temenku ada yang mau di sini juga,” jawabku asal.


Tante langsung terlihat bersemangat.


“Serius? Bagus dong!” serunya dengan mata berbinar.


Aku tertawa kaku. Yah… entahlah bagus atau tidak. Semoga saja tidak ada kejadian macam-macam nanti.


“Langsung suruh pindah aja. Ini kenalan Tante mau langsung pindah besok atau lusa. Bisa kan?”


Aku gelagapan dengan sikap Tante yang terburu-buru. Mana bisa? Geeta belum bisa bicara dengan benar.


“Eh, t-tapi….”


“Udahlah! Lebih cepet lebih baik, Han. Temen kamu juga suruh buru-buru lah,” selanya tanpa mendengar pendapatku.


...…...


“Hannie?”


Geeta memunculkan kepalanya dari balik dinding.


Baru saja, siang tadi Geeta bisa menyebutkan namaku dengan benar. Nama panggilan sih. Biarlah. Itu tetap suatu kemajuan.


“Hm?” Aku menoleh sambil tersenyum tipis. Sama seperti Nenek sewaktu aku memanggilnya dulu.


Geeta duduk di sampingku. Kemudian menulis sesuatu di atas kertas.


Dua hari lalu, aku mengajarinya menulis, dan dia langsung lancar dalam semalam. Mungkin menulis lebih mudah baginya.


Jadi untuk sekarang, Geeta berkomunikasi dengan tulisan.


[Mikirin apa?]


Tulisnya di kertas.


Aku menggeleng pelan. “Bukan apa-apa.”


Sebenarnya aku sedang memikirkan cara untuk menyembunyikan mata Geeta.


Mata itu terlalu mencolok. Manusia di belahan bumi sebelah mana yang punya mata permata?


Entah apa yang terjadi jika ada yang melihat mata seperti itu. Ugh, aku tidak mau membayangkannya.


Geeta menulis lagi.


[Bohong.]


Aku mendengus geli. “Beneran. Mending kamu makan. Katanya laper. Mau aku masakin?”


Geeta cemberut karena aku mengalihkan topik pembicaraan. Dia melengos malas, dan melipat kedua tangannya di depan dada.


Enam hari lalu, aku meminta kenalan Tante untuk datang seminggu lagi. Alasannya menyiapkan kamar.


Dan selama itu aku mengajari Geeta banyak hal. Soal komunikasi, aku sudah mengatasinya. Tapi, mata…


Memutar otak, aku mencari solusi untuk mata ‘senter’ itu. Ah, aku tahu.


“Geeta.”


Geeta menoleh ke arahku dengan wajah tak bersahabat.


“Gimana kalo kita makan di luar hari ini?” usulku.


Matanya langsung bersinar terang. Ah, ini juga masalahnya. Mata Geeta seperti senter.


Dia melompat dari sofa dan menulis lagi.


Kemudian menarik tanganku sepenuh tenaga, sampai aku nyaris terjatuh.


Apa aku sudah bilang kalau tenaga Geeta sangatlah besar? Tenaganya bukan tenaga manusia. Sungguh.


“Eh, tunggu. Kamu ga akan keluar dengan penampilan begitu.”


Aku menunjuk pakaian santainya dan mata yang bersinar tanpa penutup apapun.


Geeta memiringkan kepalanya. Merasa tidak ada yang salah.


“Tunggu sebentar. Aku punya ide.”


...…...


Bruk!


Aku menutup pintu mobil dan melihat Geeta keluar dari kursi penumpang.


“Pfft.” Menahan tawa aku membalik badan.


Geeta menghentakan kakinya kesal. “Euungh!!!”


“Enggak, enggak. Bagus kok,” ujarku masih menahan tawa.


Melihatnya dengan jaket tebal, topi, dan kacamata hitam membuatku tertawa. Dia benar-benar tenggelam dalam pakaian itu.


“Mungkin kita harus cari baju buat kamu juga. Bajuku semuanya kebesaran.”


Aku mengulurkan tangan padanya. “Ayo. Lebih cepat lebih baik.”


Geeta masih cemberut saat meraih uluran tanganku. Jujur, dia itu sangat penurut. Aku mensyukuri hal itu. Jadi tidak terlalu merepotkan.


Kami memasuki kawasan Mall yang dipenuhi lautan manusia dengan langkah pasti.


Aku berencana mencarikan Geeta lensa kontak. Sebenarnya aku tidak mau memakaikannya benda macam-macam seperti itu.


Rasanya seperti mengecat bulu cantik alami kucing dengan cat rambut manusia.


Kasihan kan.


“Geeta, jangan pernah lepaskan tanganku. Paham?” titahku padanya begitu memasuki gedung ber-AC itu.


Geeta mengangguk. Penampilannya saat ini cukup menarik perhatian. Tapi orang-orang terlalu sibuk dengan urusannya untuk menghampiri kami.


Sebelum ke tempat makan, aku mencari toko kacamata terlebih dulu.


Aku rasa kacamata hitam yang Geeta pakai lah, yang banyak menarik perhatian orang.


“Geeta, nanti aku mau kamu memakai sesuatu di matamu. Mau ya?” tanyaku begitu menemukan toko kacamata.


Geeta tampak takut sesaat. “Eumm….”


Sepertinya dia jadi takut karena aku bilang begitu.


“Aku juga bukannya sengaja. Tapi, kamu harus. Kalau mata permata itu ga di tutupin, identitasmu yang asli bisa ketahuan,” jelasku. Mencoba membujuknya.


Geeta menunduk. Kemudian menatapku lagi. “Oyge,” katanya pelan.


Aku mengulum senyum dan mengelus lembut kepalanya. “Terima kasih.”


Kemudian menuntunnya masuk ke dalam toko.


Aku meminta lensa kontak untuk mata normal, warna coklat tua. Dan memakaikannya pada Geeta di tempat lain.


Geeta memegangi kacamata hitamnya erat-erat saat aku berusaha melepasnya.


“Hei, kau kan tadi sudah setuju,” kataku dengan nada agak kecewa.


Geeta menunduk. “Hita… hagut.”


‘Geeta takut’ katanya. Aku menghela napas panjang.


“Gapapa. Aku yang makein. It’s okay.”


Aku mengelus kepalanya lembut. Dan Geeta melepaskan kacamatanya sendiri, setelah lima belas menit merajuk.


Setelah lensa kontak terpasang sempurna, aku menyodorkannya kaca kecil yang aku bawa dari rumah. Sepertinya milik Nenek.


“Sudah, bagus kan?” kataku menghibur.


Geeta meraih kaca itu dan memperhatikan matanya lamat-lamat. Kemudian tersenyum riang.


“Aaang!!”


Aku tertawa kecil. “Sekarang ga perlu pake kacamata hitam lagi. Yuk makan.”


Geeta mengabaikanku sesaat. Terus memperhatikan tampilan baru matanya.


Aku mendengus geli. Syukurlah kalau dia suka. Aku pikir dia akan kesakitan dan semacamnya.


Dalam hati aku sudah siap untuk dibenci Geeta karena memakaikannya benda-benda asing.


Di sisi lain, aku juga tidak yakin kalau lensa kontak bisa menutupi cahaya matanya. Tapi, kurasa semuanya berjalan jauh lebih lancar dari yang aku duga.


Saat senang, cahaya mata Geeta tidak seterang biasanya. Lumayan Hansa, lumayan. Aku membanggakan diri sendiri.


“Geeta, ayo….”


Geeta tersentak kecil, dan tersenyum ke arahku. Dia mengembalikan kacanya, dan meraih uluran tanganku yang sudah dia abaikan sedari tadi.


“Aang!”


.


.