Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XXX



Aku berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Ada Bunda di ruang tamu. Sedang duduk di sofa.


Aku tahu dia tengah bersiap melerai dua kakak beradik itu kalau-kalau terjadi sesuatu.


Tidak lama Bibi May muncul dari dapur. Dia agak terkejut melihatku. Kemudian tersenyum.


“Masuk dan mandilah Hansa,” katanya sambil mengusap wajahku.


Aku tahu dia juga sedang cemas. Buktinya dia memanggilku ‘Hansa’ bukannya ‘Hannie’.


Aku berjalan ke ruang keluarga dan Eli menyambutku. “Ayo mandi. Aku sudah siapkan air hangat.”


Dia menuntunku ke belakang. Mereka mencoba menyembunyikan pertengkaran Ayah dan Paman walau itu sudah sangat jelas.


Bersikap seolah semuanya baik-baik saja.


Bodoh. Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri. Aku merasa semua ini adalah salahku.


“Kenapa ga bilang-bilang bawa Hansa?! Udah tau lo ga bisa jagain dia!”


“Batre handphone gue mati! Dengerin dulu dong!”


“Sebelum jalan kan bisa bilang dulu! Dasar ga guna!”


Samar-samar aku mendengar pertengkaran mereka. Dadaku terasa amat sesak.


Air mataku menetes diam-diam. Aku takut apa yang ditakutkan oleh Paman terjadi.


...…...


Tok! Tok!


Aku menoleh ke pintu. Setelah mandi, Eli meninggalkanku sendiri di kamar.


“Hannie?”


Itu suara Nenek. Aku bangkit dari kasur dan mendekati pintu.


“Iya,” sahutku sambil membuka pintu perlahan.


Nenek tersenyum lembut begitu menatap mataku. Dia membawa sebuah nampan dengan biskuit dan susu putih hangat di atasnya.


Camilan favoritku.


Aku mempersilahkannya masuk dan menutup pintu lagi. Di bawah, Ayah dan Paman masih berselisih. Sesekali kudengar suara Bibi May menengahi.


Setelah kupikir-pikir, kenapa Ayah semarah itu?


Nenek meletakkan nampan di atas bufet kecil dan duduk di pinggir kasur.


Aku ikut duduk di sana. Di dekatnya. Kurasa Nenek bukannya ingin menenangkanku. Tapi dia menghindari keributan di bawah sana.


“Makanlah,” ujarnya masih memaksakan seulas senyum.


Aku tahu dia lelah. Tanpa basa-basi aku meraih sepotong biskuit dan melahapnya.


“Hannie….”


Suara Nenek menarik perhatianku.


“Malam ini, mau ikut Nenek temui Geeta?”


Aku berhenti mengunyah dan menatapnya dengan alis terangkat.


Melihat reaksiku, Nenek melanjutkan.


“Mari cari udara segar di bawah sana,” katanya sambil tersenyum.


Di bawah maksud Nenek adalah rawa. Memang, udara malam di desa sangat menyejukkan.


Aku menelan lahapan terakhir, dan meminum susunya sampai habis dengan cepat. Kemudian mengambil jaket, juga sebuah kain untuk Nenek di lemari.


Aku paham maksud Nenek. Sangat paham.


“Ayo,” balasku tanpa penolakan sedikitpun.


Kami pergi ke rawa setelah berpesan pada salah seorang asisten rumah tangga untuk pergi ke rumah Tante Dinan.


Kata Nenek, untuk saat ini Ayah tidak akan mengecekku. Juga Nenek.


Dia terlalu sibuk melampiaskan emosinya.


Kami berputar dari halaman belakang ke gerbang depan. Nenek bilang ingin menemui Geeta di bawah jembatan.


Aku menurut. Malam ini aku akan jadi anak yang baik dan tidak merepotkan.


“Geeta,” panggil Nenek lembut begitu kami sampai di rawa.


Geeta muncul perlahan dari dasar rawa. Matanya yang bersinar langsung redup begitu menatap Nenek.


Dugaanku Geeta merasakan kesedihan yang saat ini menyelimuti hati Nenek.


Dia naik ke daratan. Nenek memberinya baju. Kemudian tanpa aba-aba Geeta langsung memeluknya. Erat.


Aku terdiam menonton pemandangan itu. Agaknya mata Geeta terlihat kebiruan. Biru tua.


Setelah beberapa saat memeluk Nenek, Geeta berbalik dan menatap lurus ke mataku.


Bias-bias warna biru itu masih tergambar jelas di matanya. Aku mengerutkan dahi.


“Geeta, warna matamu berubah biru.”


Bukannya menjawabku, Geeta malah tersenyum. Senyuman yang terasa perih saat kau melihatnya.


Dia mendekat, dan dalam hitungan detik tubuhku sudah berada dalam dekapannya.


“G-Geeta…?” Aku masih mencoba melepaskan pelukannya.


Tapi tidak berhasil. Geeta terus memelukku. Sama seperti yang dilakukannya pada Nenek.


Aku menyerah. Membiarkan dia memelukku sepuasnya.


Di luar dugaan, tubuh Geeta sangat hangat. Padahal dia baru saja keluar dari air kan?


Merasakan kehangatan mulai menyelimuti diriku, aku terpejam. Nyaman sekali.


Rasanya dadaku yang tadi sesak jadi lebih lega. Seperti mengisi ulang energi.


Setelah beberapa saat, Geeta melepas pelukannya. Kemudian memegangi kedua pundakku. Menyuruhku untuk menatapnya.


Kulihat mata Geeta sudah kembali normal. Hijau permata yang indah.


“Oh, matamu sudah kembali.” Aku menunjuk mata Geeta sambil tersenyum lebar.


Geeta membalas senyumanku tidak kalah cerah. Kemudian tersenyum juga pada Nenek.


Lihatlah, Geeta sudah seperti charger untukku dan Nenek. Kini aku paham kenapa Nenek sangat menyayanginya.


...…...


Di tengah perbincangan kami dengan Geeta, tiba-tiba seseorang memanggil Nenek dari kejauhan.


Rupanya itu Tante Dinan. Agar dia tidak curiga, Nenek memilih untuk menghampirinya. Sementara aku tetap di bawah jembatan.


Saat itu aku tidak kelihatan karena Nenek langsung menitahku untuk bersembunyi. Begitu juga dengan Geeta.


“Hangi…” bisik Geeta dari dalam air begitu Tante dan Nenek sudah tidak memperhatikan.


Aku mendekat lagi ke air, dan tersenyum ke arah Geeta.


“Suatu hari nanti, kamu pasti tidak usah sembunyi-sembunyi begini lagi. Aku akan berusaha,” kataku pada Geeta.


Dia ikut tersenyum. Kemudian naik lagi ke daratan.


“Geeta, di sini agak berbahaya karena ada Tante. Gimana kalo kita ke taman? Di sana pasti sudah sepi karena udara malam di desa ini dingin.”


Aku mengusulkan sambil menggenggam tangan Geeta yang basah.


Dia langsung mengangguk tanpa memudarkan senyumnya. Lalu aku membawanya ke taman.


Nenek melirik sedikit tanpa sepengetahuan Tante. Dia tahu aku dan Geeta pergi dari bawah jembatan. Tapi dia tidak melarang.


Tidak sampai lima menit, kami sampai di taman. Geeta tidak tampak kelelahan sama sekali setelah berlari.


“Kemarilah. Duduk di sini.” Aku menepuk tempat kosong di sebelahku.


Geeta menurut. Kami duduk di kursi panjang di bawah pohon besar.


“Geeta, saat aku sudah besar nanti kita jalan-jalan lagi kayak gini ya?”


Geeta menatapku agak kebingungan. Kemudian mengangguk. Aku tertawa kecil melihatnya.


“Habis kalau di dekat Geeta aku jadi merasa senang sekali,” kekehku.


Aku tidak bohong. Kalau di dekat Geeta, rasanya hatiku menghangat.


Senyum Geeta mengembang. Dia mengusap pucuk kepalaku lembut. Sentuhannya mirip dengan Nenek.


Saat itu aku jadi teringat Ayah dan Paman yang sedang bertengkar di rumah.


“Geeta…” panggilku pelan.


Gerakan tangan Geeta langsung terhenti. Dia memfokuskan pandangannya padaku yang sedang menunduk.


“Aku rasa, aku sudah menjadi sumber masalah untuk Pamanku.”


Aku menghela. Kenapa tiba-tiba aku jadi cerita masalah ini?


Tapi mulutku tak mau berhenti bergerak.


“Ayah dan Paman bertengkar karena aku. Sebenarnya, aku merasa Ayah agak sensitif sih, tapi….”


Kalimatku berhenti. Aku tidak mengerti apa yang sedang aku rasakan saat ini. Dadaku jadi terasa sesak lagi.


“Aku… aku merasa… aneh….”


Air mataku menggenang tanpa dikomando. Aku tahu Ayah dan Paman kerap bertengkar dari dulu.


Tapi, setelah aku pingsan terahir kali karena melihat Geeta, Ayah jadi agak berubah.


Dia terus menyalahkan Paman kalau ada apa-apa denganku.


“Hangi….”


Aku mendongak menatap sosok cantik itu. Senyumannya mengembang.


Dia mengusap kepalaku lagi. Tanpa mengatakan apa-apa. Terus tersenyum seperti itu saja.


Pandangannya tidak pernah lepas dari mataku.


Seakan mengerti apa yang ingin Geeta sampaikan aku tersenyum simpul.


‘Bukan salahmu. Semuanya akan baik-baik saja.’ Aku seakan mendengar perkataan Geeta.


.


.