Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter LII



Ren menyesap jus apelnya dan memutar pandangan. Sudah hampir tengah malam, dia tidak bisa menetap lebih lama lagi. Dan dimana teman sialannya itu saat sedang dibutuhkan?


“Renooo~”


Ren mendecak. Padahal sudah susah payah dia menyingkir dari kerumunan. Kenapa cewek-cewek itu selalu bisa menemukannya?


“Mau kemana? Kok keliatannya linglung gitu?” Salah satu dari banyak teman perempuan sekampusnya mulai mendekat.


Ren mengangibas-ngibaskan tangannya dan mundur teratur. “Gapapa kok, gapapa,” katanya dengan senyum yang sedikit dipaksakan. “Cuman… nyari, euh, bolu! Iya boluu. Tadi bolu coklat udah abis ya?”


Temannya itu tertawa. Cih, Ren sudah hafal dengan gerak-gerik sok imut mereka. Tapi, dia belum pernah merasa serisih ini.


“Lo lucu, Ren. Mau gue ambilin bolunya?”


Ren masih memaksakan senyum. “Boleh. Ambil yang banyak ya.”


Perempuan itu membentuk tanda ‘oke’ dengan tangannya dan pergi mengambil bolu yang jelas terpajang di meja tengah-tengah halaman.


Iya, ini acara Budi yang dia sebutkan waktu itu. Ren sudah tidak mau datang karena minggu ini adalah minggu pertamanya koas. Tapi temannya itu bersikeras menyeret Ren ke pesta ulang tahunnya yang membosankan.


“Ren, psst.” Ren berbalik cepat. Dia kenal suara ini. Si sialan itu!


“Kemana aja lo?! Sebenernya yang punya acara lo atau gue??!” sembur Ren begitu mendekati temannya. Masa bodo dengan perempuan tadi, Ren tinggal minta maaf lewat pesan singkat karena meninggalkannya.


“Sssst! Ini juga gue lagi bantuin lo kabur!” bisik Budi. Dia menarik Ren masuk ke dalam rumah. Pestanya dilakukan di halaman depan.


Sebenarnya Budi bukan dari keluarga biasa-biasa saja. Dia memilih tinggal di luar rumah karena lelah dengan semua peraturan di keluarganya.


“Dah ah, gue mau pulang. Cape banget ampe tengah malem. Lo kudu traktir gue besok, gamau tau gue.” Ren meletakkan gelas jus apelnya agak kasar ke atas meja setelah mereka berhasil meningalkan pesta diam-diam.


“Ya sorry. Tapi makasih loh, udah gue duga rambut neon lo bisa mengalihkan perhatian orang-orang dari gue.” Budi menepuk pundak temannya dan tertawa.


Ren menepis tangan Budi, kemudian mengedarkan pandangannya ke arah halaman yang terlihat jelas dari jendela. “Mana ortu lo? Gue mau pamit.”


“Harusnya sih, udah balik ke kamar. Atau lagi ngobrol-ngobrol sama keluarga. Di halaman tinggal temen-temen aja sih.” Budi memegangi dagunya berusaha mengingat.


“Yaudah, gue langsung aja. Titip salam, bilang sama nyokap lo ‘makasih kue bolunya enak’.” Ren meraih jaketnya yang digantung di dekat pintu utama. “Nanti kemeja lo gue balikin se-abad lagi.”


Awalnya Ren datang dengan kaus biasa. Si Budi itu tidak bilang kalau tema pestanya formal.


“Santai aja kenapa. Kan lo bisa pinjem baju gue.” Begitu kata si sialan itu tadi.


Tapi kan Ren jadi harus menanggung malu walau hanya untuk beberapa menit. Tidak! Beberapa menit itu justru sudah sangat-sangat buruk.


“Yakin gamau dianter? Atau nginep dulu? Besok pagi juga gue balik ke kos. Bareng aja.” Budi bersandar di dinding. Ren tidak bawa mobil, dia yakin para perempuan itu akan semakin menempel kalau lihat apa yang dia kendarai.


“Nope. Cukup ya, gue mending nikmatin angin sepoi-sepoi malem ini dari pada harus maksain nyengir 24/7.” Ren memakai helmnya dan menyalakan mesin motor.


“Bae-bae. Nanti suka ada yang minta bonceng,” kekeh Budi.


“Heh! Kalo ngomong, gue bakar mulut lo lama-lama.”


Gertakan itu tidak membuat Budi diam, dan malah semakin cekikikan. “Yaudah ah, ati-ati! Nanti keburu malem. Sepuh kayak lo bahaya kalo keluar malem-malem. Matanya udah ga awas.”


Ren mencibir dan menjalankan motornya. “Selamet begadang brader!”


...…...


“Ren! Bangun!”


Ren terperanjat begitu merasakan kepalanya dihatam oleh sesuatu yang keras.


“Ya maap, abis gue cape banget....” Ren kembali merebahkan kepalanya di atas meja.


Temannya itu kembali memukul kepala Ren. “Emang lo doang yang cape? Gue juga!”


“Duh, gue kemaren abis berdiri lebih dari lima jam. Udah kayak spg tau lo?” Nada suara Ren ikut tinggi. “Berasa kek ilang aja kaki gue ini. Mana kemaren tiba-tiba tetangga bangun rumah. Kaga bisa tidur asli.”


Temannya berhenti memukul Ren. “Oh, lo dateng juga ke acaranya si Budi? Mau aja lo? Udah tau pasti bakal begitu, tetep aja dateng.”


“Mana bisa ga dateng. Orang emaknya ngirimin gue kue bolu.” Ren meniru mengulang reaksinya saat melihat pesan kertas di atas kardus bolu. “Katanya, ‘Ren, jangan lupa dateng ya ke ulang tahunnya Budi. Tante kangen juga loh sama kamu.’”


Temannya itu tertawa. “Wah, gila. Gapapa sih, membantu sesama.”


“Pala kau pitak!” Ren memukul lengan temannya agak keras.


Omong-omong, selama seminggu terakhir Ren tidak berhasil menemukan kakaknya. Padahal dia sudah menyiapkan hati. Entah kenapa bertemu dengan orang itu jauh lebih sulit dari memasukkan benang ke jarum jahit.


“Eh, gue mau ke kamar mandi dulu. Cuci muka.” Ren bangkit dari kursi dan meninggalkan temannya.


“Jangan lama-lama.”


Saat itu, Ren tidak mengira akan ada hal serius yang terjadi setelahnya.


Ren keluar dari kamar mandi dan menangkap perawat yang berlarian ke ruang IGD. Halaman depan rumah sakit juga ramai sekali.


“Kecelakaan?” gumam Ren pada diri sendiri.


Saat itu, dada Ren terasa agak berat. Perasaannya tidak enak, entah kenapa? Apa karena ini pertama kalinya ia melihat situasi genting?


Ren ragu, ia ragu dan penasaran dengan yang sedang terjadi. Ia melihat temannya berdiri di koridor. “Ada apaan?” tanyanya masih ragu.


“Kecelakaan.”


Nah, benar kan. Ren hanya bisa diam. Sepertinya cukup serius. Tapi kenapa hatinya masih tidak tenang? Padahal bukan dia juga yang akan menangani pasien.


“Ayah!”


Detik itu tubuh Ren langsung membeku. Suara bocah laki-laki yang sangat dikenalinya, kenapa ada disini?


Tidak mau, Ren tidak mau menoleh ke arah sumber suara. Tapi, tapi, dia harus memastikan.


“Lepas Bunda! Aku mau lihat Ayah! Ayaaaahhh!!!! Ayah!!”


Ren mau tidak mau menoleh. Tidak sampai satu menit matanya sudah menangkap sosok kecil bermata kelabu persis sepertinya di ruang tunggu.


Orang-orang memperhatikan anak itu. Seluruh mata tertuju padanya. Tapi bukan karena kagum ataupun terpesona seperti biasa. Itu… tatapan iba.


Tidak. Tidak mungkin. Ren tidak ingin percaya pada pikirannya. Ini tidak nyata. Dia pasti masih mimpi kan? Tidak.


“Ayaaahhhh…” Anak itu semakin tersedu-sedu. Seorang wanita memeluknya erat. Wanita yang juga Ren kenal dengan baik.


Salah lihat kan? Pasti otaknya lelah karena kurang istirahat sampai berhalusinasi.


“Ren?” Temannya menepuk bahu Ren yang wajahnya kelihatan memucat. “Ngapa lo, Ren?”


Ren masih tidak melepas pandangan matanya dari sosok ibu dan anak itu. “Mimpi kan…?”


.


.