Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XLV & XLVI



“Jadi berapa banyak cewek yang minta nomermu, Han?” Om Dien berdiri di sampingku dengan sebotol soda.


Dua hari yang lalu kami kembali dari pantai. Untunglah tidak terjadi masalah macam-macam di sana.


Aku tertawa kecil. “Lebih dari seratus.”


Mata Om langsung melebar. “Bercanda doang kan kamu? Ga serius kan? Masa sampe lebih dari seratus? Bohong nih. Bohong pasti. Bohong kan, Han? Ga mungkin soalnya nih. Impossible. Bercanda kan? Ya kan?” cecarnya sembari mengguncang tubuhku.


“Iya lah! Mana ada yang minta nomer.” Tawaku semakin geli.


Napas Om langsung kembali normal. “Kalo ada sih, ya ada aja kemungkinan. Tapi ga sampe seratus lah. Emang kamu artis?”


“Tapi aku penulis loh, Om.”


Om terdiam. “Iya sih ya. Wah, kurang terkenal nih kamu, Han.”


Aku tertawa lagi. “Udah ah. Emang aku yang ga pernah nunjukin muka ke publik.”


“Oh… tapi merasa terkenal lah ya,” goda Om dengan nada menyebalkan.


“Harus bangga sama diri sendiri Om. Kalo kita aja ga bangga, gimana orang mau merasa bangga. Bermimpilah setinggi-tingginya.”


Menyesap sodanya, Om membalas cepat. “Kalo ketinggian ati-ati. Nanti jatohnya sakit. Siapin tangga ya, Han.”


Aku menggeleng. Ada-ada saja. Kemudian memasukan kedua tangan di saku celana. Malam ini udaranya cukup dingin. Sudah masuk musim hujan juga.


“Masih aja liatin foto nenekmu. Kenapa sih?” Om kembali membuka suara.


Aku sudah berdiri memandangi foto berbingkai besar yang mepempel di dinding ruang tamu sejak setengah jam lalu. Foto Nenek dengan gaun putih sederhana bergaya Eropa. Rambut sanggulnya sudah berubah putih di foto itu.


Aku ingat sekali kami mengganti foto di bingkai ini saat usiaku delapan tahun. Aku lupa foto apa yang dipajang di sana sebelum foto Nenek yang ini.


“Kangen aja.” Aku mengedikkan bahu.


Namun Om mengabaikan jawaban asalku dan berceletuk, “Masih kepikiran sama mimpimu itu?”


Pertanyaan Om membuatku menahan napas. “Kayaknya sih.”


“Kayakya?” Om meletakkan botol sodanya yang hanya tersisa setengah di atas meja. Kemudian bersedekap memandangi foto Nenek bersamaku.


“Jujur ya. Menurut Om, kamu tuh ga mirip sama nenekmu. Selain mata dan hidung, muka kamu itu dominan Asia. Kalo kakekmu gimana? Mungkin kamu mirip dia?” Om berkomentar tanpa ada yang meminta sambil menatapku dan foto Nenek bergantian.


“Gatau deh. Seingatku ga ada foto Kakek waktu muda. Adanya pas udah brewokan, dan mukanya kurang lebih mirip ayahku. Om udah pernah liat kan, yang waktu itu video call.”


Sehari setelah kami kembali dari pantai, Ayah menelepon. Katanya ingin tahu kondisiku. Salahku juga jarang menghubungi 'orang rumah' sejak tinggal di rumah ini.


“Oh, iya itu….” Om mengingat-ingat. “Tapi kayaknya kamu juga ga mirip bapakmu deh. Kalo menurut Om, bentuk wajah bapakmu itu tegas gitu, khas orang kaukasoid lah. Cuma emang kulitnya ga seputih nenekmu, dan rambutnya juga hitam.”


Om mendesis. “Kalo kamu tuh, lembut gitu loh mukanya. Khas Asia. Jangan-jangan kamu anak pungut, Han.”


Aku tertawa. “Tapi kan aku emang berdarah Asia juga. Aku mirip ibuku Om. Banyak juga yang bilang begitu. Tapi, kayaknya ada deh yang bilang aku mirip Kakek. Kalo ga salah bagian mata, aku lupa-lupa inget gimana jelasnya.”


Bagus. Sekarang aku jadi penasaran dengan wajah Kakek sewaktu muda.


Om mengangguk-angguk. “Om jadi penasaran sama muka Kakekmu. Pokoknya kamu percampuran Eropa-Asia yang cukup sempurna, Han. Emang iya sih, produk Eropa jarang gagal.”


“Kalo lahir di Indonesia apa disebut produk Eropa juga?” Aku terkekeh.


Om menjentikan jarinya. “Selagi ada bule-bulenya, sebutan ‘mister’ masih cocok buatmu.”


“Selagi harga nasi uduk tiba-tiba mahal, masih masuk kategori bule ya?” gurauku.


Aku tidak sadar kalau saat itu Geeta ikut memperhatikan dari ruang TV. Hingga tiba-tiba saja pagi saat jadwal membersihkan rumah tiba.


Seluruh pintu kamar dibuka. Tidak ada ruangan yang dikunci sama sekali. Karena sudah ada yang menempati, Tante tidak lagi bertanggung jawab atas kebersihan rumah ini. Jadi kami bertiga bekerja sama membersihkannya.


“Geeta? Bisa bantu aku ambil kantong sampah yang ada di lantai dua?” pintaku dari ruang tamu. Membayangkan naik lagi ke atas dan turun ke bawah berkali-kali sudah membuatku kelelahan.


Tapi sayang sekali tidak ada jawaban. Om sedang ada di lantai dua, dia tidak akan dengar. Aku memutuskan untuk masuk ke ruang TV. Geeta tidak ada di tempat ia ditugaskan.


“Geeta? Kamu dimana? Tugasmu belum selesai, nih. Masih berantakan,” panggilku, ketika suara berisik dari dalam kamar Nenek terdengar.


Lampunya menyala. Aku melongokkan kepala ke kamar itu. Sedang apa dia di sana? Bukannya sudah kubilang kalau aku yang akan membersihkan kamar Nenek?


“Geeta, kamu—” Aku terbelalak begitu melihat sosok wanita yang sedang bergaya di depan cermin dengan gaun putih Nenek. Gaun yang ada di foto bingkai ruang tamu.


“Ah, Hannie?”


...…...


Sejak satu jam yang lalu, kamar yang langsung menghadap ke rawa itu sudah menarik perhatian Geeta. Tapi dia menahan diri untuk ke sana.


Hannie bilang, kamar itu dia sendiri yang akan bereskan.


“Aku yang bakal beresin kamar ini. Geeta ruang TV sama ruang tamu. Om kita ke lantai atas dulu. Dapur nanti aja belakangan. Halaman kapan-kapan lagi deh.” Begitu kira-kira perintah Hannie.


Tapi, Geeta ingin sekali melongok ke dalam. Dia mendesah kasar dan melirik lantai dua yang dihiasi dengan suara langkah kaki Hannie dan Om Dien.


Kelihatannya mereka sibuk. Tidak masalah kan, kalau dia berkunjung sebentar ke kamar itu. Dia bersumpah tidak akan lama, hanya melihat-lihat.


Geeta melangkahkan kakinya perlahan ke dalam kamar bernuansa coklat kalem itu.


Luas, dan tenang. Geeta bisa merasakan aura yang sama dengan yang dipancarkan Nonna Sophie dari kamar ini. Aromanya juga, berbeda dengan ruangan lain di rumah ini.


Mata Geeta tertuju pada lemari besar dengan ukiran unik di permukaannya. Dia beruntung ketika tahu pintu lemarinya tidak terkunci.


“Uwaahhh….” Geeta termangu melihat deretan gaun cantik di lemari. Salah satunya gaun yang ada di foto yang Hannie pandangi terus sejak pulang dari pantai.


Geeta menarik keluar gaun itu, dan mengenakannya. Dia bergaya di depan cermin besar dekat lemari. Mengikuti gaya yang Nonna Sophie lakukan di foto.


“Geeta kamu—”


Geeta menoleh cepat ketika mendengar suara Hannie di belakangnya. Ia terlalu asik bergaya sampai tidak menyadari kehadiran laki-laki itu.


“Ah, Hannie?”


Geeta sudah siap dimarahi oleh lelaki itu. Tapi kenyataan yang ditangkap mata Geeta justru jauh lebih mengejutkan. Dia tidak menyiapkan diri untuk ini.


Hannie meneteskan air mata.


Langsung, dari kedua matanya. Mengalir deras. Geeta tidak merasa Hannie benar-benar menatapnya. Laki-laki itu seperti berada di dimensi lain.


“Nana….”


_____________


Chapter XLVI


Andai memori dapat tersusun rapi di rak buku, mungkin hatiku akan bekerja lebih santai.


...…...


“Nana….”


Dia tepat ada dihadapanku. Aku jelas sangat merindukannya. Tapi kenapa dadaku malah terasa sakit?


“Hannie? Sudah bangun?”


Aku mengangguk pelan. “Nana kemana aja?! Aku cari Nana dari tadi. Ayah bilang dia gatau Nana dimana.”


Nana tertawa dan berjalan mendekat. “Aku… tidak pernah kemana-mana.”


Dahiku mengkerut. “Tapi, tapi, aku ngerasa udah lama banget ga ketemu Nana.” Suaraku bergetar.


Lagi-lagi Nana hanya tersenyum. Tangannya yang mulai keriput membelai wajahku. Menghapus jejak air mata yang membekas di pipi.


“Kenapa menangis? Gantengmu hilang kalau menangis seperti ini, Hannie.”


Menangis? Aku juga baru sadar kalau aku sudah menangis sejak tadi. Kenapa ya? Kenapa aku menangis?


Nana menarik kembali tangannya dan mendekapku. Aku jadi merasa tubuhku mengecil. Eh? Memang sejak kapan tubuhku besar? Aku memang setinggi ini. Aku kan… baru tujuh tahun.


“Sebentar lagi ulang tahunmu.”


Aku mengulum senyum dan melingkarkan tanganku pada pinggang Nana. “Iya. Sebentar lagi aku delapan tahun. Nana jangan lupa kasih hadiah ya?”


Seketika Nana melepas pelukannya dan memandangku heran. “Delapan tahun? Hannie, kamu mengigau?”


“Eh?”


PLAK!!!


Aku tersadar begitu Geeta menampar wajahku sekuat tenaga. Aku tahu itu karena sebelah pipiku terasa sangat panas. Bengkak ga ya?


“HAN-NIE!!!”


Dia bersiap menamparku lagi karena aku masih belum memberikan respon apapun. Cepat-cepat aku menahan tangannya.


“Geeta, Geeta! Hentikan. Kenapa kamu nampar aku?”


Gadis berambut hijau lumut itu langsung meneteskan air mata. “Geeta kira Hannie kesurupan!!!”


Dia jatuh terduduk dan terisak sendiri. Tunggu, kesurupan?


Tiba-tiba kepalaku terasa berat. Apa tadi aku benar kesurupan? Rasanya aku seperti melihat Nenek. Apa ya… dia bicara sesuatu tapi aku tidak bisa mengingatnya.


“Hannie!” rengek Geeta. Masih duduk di lantai.


“Hm? Kenapa?” Seulas senyum terpaksa muncul di wajahku.


“Jangan kesurupan lagi! Geeta takut tau!” Geeta menangkup wajahnya yang merah karena emosi meluap-luap. Sebenarnya apa yang terjadi?


Tidak ingin memperpanjang masalah, aku menarik lengan Geeta untuk berdiri. “Jangan begitu. Ayo bangun, tadi aku bukan kesurupan. Kamu tau dari mana coba kata-kata itu?”


Masih terisak, Geeta menjawab dengan terbata-bata. “Dari Om! Terus, kalo bukan kesurupan apa dong?!”


“Eh? Emmm… kecapean! Iya, kecape-an.”


Beruntung Geeta menelan mentah-mentah alasanku yang tidak masuk akal itu. Maaf ya Geeta, kalu obrolan ini diteruskan kepalaku akan bertambah sakit.


“Lagian, kenapa juga kamu main-main di sini. Kan udah kubilang kamar ini biar aku yang urus. Terus, ini baju Nenek kenapa kamu pake?”


Sepertinya omelanku berhasil menghentikan arus air matanya. “Geeta cuman penasaran. Dari kemaren Hannie sedih terus liat poto Nonna. Jadi….” Geeta menghentikan kelimatnya. Membuatku semakin penasaran.


“Jadi?”


Mata hijau yang tertutup lensa kontak itu tidak berani beradu pandang denganku. Kenapa sih? Ada apa?


“Geeta… Geeta pikir bisa hibur Hannie pakai baju Nonna. Hannie kayak kangen banget sama Nonna.” Volume suara gadis itu mengecil di akhir kalimat.


Kalau itu alasannya… apa dia juga yang mempengaruhi mimpiku waktu itu? Diingat-ingat, saat itu aku ga sengaja tertidur di sampingnya.


Dan kalau itu benar, berarti mungkin saja itu adalah ingatan Geeta? Artinya sama saja Geeta sudah ada sebelum aku dilahirkan?


Banyak... banyak sekali yang ingin kutanyakan. Terlalu banyak sampai aku takut lupa apa saja pertanyaan itu.


“Hannie?” seruan lembut Geeta memecah lamunanku.


“Geeta, kamu… kapan kamu pertama kali ketemu Nenek?”


Geeta memegang dagunya. Mengingat-ingat. “Lamaaa banget. Geeta juga ketemu sama Han—”


Han?


“Eh, bukan. Raj- Raje. Geeta ketemu Kahkek Raje.” Dia terlihat salah tingkah. Han itu maksudnya siapa?


“Han. Han yang tadi itu, siapa? Raje? Kakekku? Namanya mengandung unsur Han juga ya?” Seingatku nama Kakek hanya Rajendra saja.


Geeta menggeleng cepat. “Bukan! Namanya Raje! Raje!”


“Jelas kamu pengen nyebut Han- apa gitu tadi. Apa maksudmu Han- siapa dia?!” Tanpa sadar napasku tersengal. Aku juga tidak tahu kenapa jadi begini? Aku jadi lebih, emosional?


Anehnya rasa sakit di kepalaku juga tidak hilang. Malah semakin parah.


“Hannie….” Tangan Geeta bergetar memegangi ujung kausku.


Hahh… aku sudah berlebihan. Sejak mendapat mimpi itu aku merasa isi kepalaku jadi kacau.


“Maaf. Aku bener-bener kecapean. Boleh tinggalin aku sendiri?” Sembari mengusak wajah, kulihat ekspresi kecewa bercampur khawatir Geeta samar-samar.


Dia keluar dengan langkah gontai. Detik itu juga, kedua kakiku terasa kehilangan tenaganya. Aku duduk di pinggir kasur Nenek.


“Pagi-pagi gini udah nge-halu yang aneh. Mau jadi apa kamu Hansa?” Aku mentertawakan diri sendiri.


Menghela napas panjang. Kutatap langit-langit kamar dengan ukiran bergaya Eropa kuno sebagai hiasannya. Dulu, aku tidak sering main di kamar Nenek. Tapi aroma kamar ini, membatku bernostalgia.


...…...


[15 tahun lalu]


“Sayang….” Bunda mengusap pelan punggungku yang dibalut selimut. “Tidur yuk sudah malam.”


Aku menggeleng. Menolak. “Aku mau tungguin Ayah.” Terdengar jelas desahan frustasi Bunda. Sudah yang keberapa kali ya hari ini?


Sejak pulang dari pantai dengan Paman, aku tidak berhenti menunggu Ayah di ruang tamu. Duduk di sofa, bahkan tidur di sini. Sendirian saja.


Terkadang Bibi menemaniku sih. Sudah tiga hari aku begini. Walau awalnya aku tidak peduli, tapi setelah dipikir-pikir kurasa kata-kataku sudah berlibihan pada Ayah.


“Nanti kamu sakit. Nunggu di kamar dan di ruang tamu ga akan ada bedanya.”


“Gamau!” sentakku kencang. “Aku mau tunggu Ayah! Kalau di kamar, bisa aja Ayah ga lihat aku dan langsung pergi lagi, Bunda!”


Air mataku mengalir tanpa izin. Ah, payah. Padahal aku paling anti menangis di depan Bunda. Dia akan menunjukkan ekspresi yang aku benci.


Bunda menautkan alisnya, kemudian menunduk. Tuh kan. Itu ekspresi yang paling aku benci. Aku ga suka lihat Bunda sedih. Apalagi penyebabnya adalah diriku sendiri.


“Kenapa Bunda malah ikut sedih?! Ga ada yang perlu Bunda tangisin! Aku… Aku….” Suaraku mulai bergetar dan air mataku semakin deras.


Payaaahhhh!!! Payah sekaliii! Kau sebut dirimu laki-laki, Hansa?!


“Aku cuman mau liat Ayah walau sebentar! Bunda ga usah ikutan! Ini urusan laki-laki.”


Mendengar itu senyum Bunda kembali terlihat. Walau bukan senyuman yang aku suka, tapi itu jauh lebih baik.


“Memangnya seperti apa urusan laki-laki itu? Hm?” Dia mengusak rambutku sampai berantakan. “Padahal kamu masih tujuh tahun. Tapi bicaramu itu tua banget, Hannie.”


Kekehan Bunda membuatku gusar. “Apasih! Udah sana Bunda yang tidur di kamar! Aku kan laki-laki jadi tubuhku pasti lebih kuat! Kalau Bunda di sini, nanti malah Bunda yang sakit.”


“Oh ya? Kamu pikir Bunda serapuh itu?”


Aku mendengus. “Iya lah! Bunda kan perempuan.”


“Sejak kapan perempuan sudah pasti lebih lemah daripada laki-laki?” Bunda mengukir senyum mautnya. Kalau sudah tersenyum miring begitu, aku pasti akan kalah berdebat dengannya.


“P-Pokoknya emang begitu dari sananya.” Suaraku mengecil. Ketakutan duluan. Takut kalah.


Bunda tertawa kecil dan kembali mengusak rambutku. “Anak Bunda yang ganteng dan pintar. Memang benar anak laki-laki harus melindungi yang perempuan.” Bunda menarik napas sesaat.


“Tapi bukan berati anak perempuan selalu lebih lemah daripada laki-laki. Mengerti? Bunda yakin kamu ngerti. Kamu kan anak Bunda yang paling cerdas.”


Aku menepis tangannya yang masih memainkan rambutku. “Aku kan anak Bunda satu-satunya.”


“Eh? Bener juga ya?” Dia tertawa. “Tapi kalo kamu punya adek, mau?”


Aku cemberut. Menimbang-nimbang. Banyak temanku yang punya adik dan kakak. Mereka bilang itu bukan hal yang menyenangkan.


“Gamau!” putusku pada akhirnya.


“Loh, kenapa?” Bunda kembali bertanya.


“Kata temenku punya saudara itu nyebelin. Nanti Bunda ga sayang lagi sama aku. Cuman sayang sama adek aja.”


Bunda tampaknya tidak terkejut dengan penjelasanku. Dia malah tersenyum semakin lebar. Pandangannya melembut. “Iya ya. Kamu pasti mikir begitu. Tapi kenyataannya jelas berbeda. Kasih sayang Bunda, ga akan berkurang sama sekali bahkan kalau kamu punya sepuluh adik sekalipun. Kamu tetap putra Bunda, sayang.”


Wanita berambut hitam pekat sebahu itu, menarik kepalaku mendekat ke wajahnya. Kemudian mencium keningku.


“Selamanya. Ga akan ada yang bisa menggantikan kamu, Hansa.”


Jantungku terasa diledakkan saat itu. Bunda memanggil namaku, nama asli. Bukan nama panggilan, dengan cara yang lembut. Biasanya dia memanggil nama asliku dengan nada marah dan keras.


Aku balas memeluk Bunda. ‘Bunda juga tidak tergantikan.’ Ingin sekali aku bilang begitu. Tapi lidahku kelu.


“Kita ke kamar ya? Kalau Ayah kembali, Bunda bakal langsung bangunin kamu.”


“Promise me?”


Bunda tersenyum tipis. “Yes. Of course, Honey.”


.


.