Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XIV



Seketika makhluk itu berenang mendekat. Aku terlonjak dan berlari ke belakang Nenek. Bersembunyi.


Aku memeluknya erat. “Nek… dia mendekat! Jangan suruh dia mendekat!”


Makhluk itu berhenti begitu mendengar seruanku. Nenek mendengus.


“Tidak apa, mendekatlah. Dia cucuku. Aku ingin mengenalkan kalian.”


Nenek masih bicara pada makhluk itu. Aku mendesis. Kenapa Nenek tidak mendengarkanku?


“Nek, aku bilang jangan suruh dia mendekat.”


Nenek berbalik, dan menarikku dari balik punggungnya.


“Tenang saja. Bukankah Nenek sudah bilang akan melindungimu?” katanya ringan.


Aku menelan ludah. Kemudian menuruti Nenek.


Kulihat makhluk itu menenggelamkan setengah wajahnya ke dalam air begitu aku menatapnya.


Nenek melepas pelukannya dariku dan mengusap kepala makhluk itu.


“Duh, kamu sudah kotor lagi. Aku kan sudah bilang, jaga dirimu agar tetap bersih sampai cucuku datang. Ingat, terakhir kali kalian bertemu, dia ketakutan setengah mati.”


Nenek terkekeh. Aku tidak tahu apa yang lucu, tapi kelihatannya mereka sudah sangat dekat. Seperti teman lama.


Makhluk itu menunjukkan lengan kirinya pada Nenek. Aku bisa melihat ada batu berlian yang menyatu dengan lengannya.


Apa itu?


“Iya, bersihkan dirimu,” ujar Nenek sambil mengangguk.


Batu itu berubah menjadi cairan bercahaya dan mengalir ke seluruh tubuhnya. Tidak lama, sinar hijau itu semakin terang sampai membuat mataku memicing.


Silau.


Tidak lama, sinarnya meredup. Makhluk itu berubah menjadi sosok manusia. Seorang perempuan berambut hijau lumut dengan kulit pucat.


Walau begitu masih ada lumpur di tubuhnya. Dia membasuh diri dengan air rawa, dan kembali menenggelamkan diri.


Beberapa detik kemudian dia muncul dengan rambutnya yang lebih bersih.


Aku mematung. Bisa bersih secepat itu?!


Nenek merapikan rambut makhluk itu, agar wajahnya terlihat jelas. Kemudian aku bisa melihat matanya. Seperti berlian yang bersinar warna hijau.


Aku melongo. Kulit pucat makluk itu membuat matanya semakin menonjol.


Dia menatapku, mata kami bertemu. Kemudian dia tersenyum.


Agaknya aku terkejut melihat senyuman itu. Apa Nenek yang mengajarinya untuk tersenyum seperti itu?


Sungguh, dia sangat cantik. Seperti yang ada di film-film.


Apa batu di lengannya pindah ke mata?


“Geeta, kenalkan, ini cucuku Hansa. Dia anak yang baik. Hanya saja saat bertemu denganmu dia sangat terkejut sampai pingsan.”


Nenek beralih menatapku. Tunggu, Geeta?


“Hansa, ini Geeta. Dia makhluk yang kau temui malam itu. Bukankah dia cantik?”


Aku tercekat, dan melengos. “N-Nenek yang memberinya nama?”


Nenek tertawa kecil melihat reaksiku.


“Iya, sama sepertimu, Neneklah yang memberinya nama,” jawabnya.


Iya, Nenek yang memberiku nama Hansa. Aku tidak tahu kenapa harus Hansa.


Aku memandang makhluk itu perlahan. Dia masih memandangiku.


Apasih? Kenapa menatap seperti itu?


“Nek, apa yang terjadi dengan matanya? Kenapa matanya bisa terang kayak senter?”


Nenek lagi-lagi tertawa.


“Bukankah tidak menyenangkan kalau tahu segalanya dalam satu waktu?”


Aku memiringkan kepala bingung. Memahamiku, Nenek melanjutkan kalimatnya.


“Rahasia selanjutnya, akan Nenek beri tahu lain kali. Sekarang berkenalanlah dulu sampai dekat.”


...…...


Aku memperhatikan makhluk besar yang sudah berubah menjadi seorang gadis dari tangga.


Dia sedang memakan apa saja yang ada di dalam kulkas. Setengah jam yang lalu, makhluk itu berubah menjadi seorang gadis berambut hijau lumut dengan kulit pucat.


Matanya yang seperti permata menatapku dalam. Seakan berkata ‘jangan takut’.


Tapi, hei, siapa yang tidak takut melihat makhluk besar berubah bentuk menjadi manusia di depan matanya?


Aku memicing. Makhluk itu benar-benar rakus. Dia makan seperti monster.


Dari ingatanku, Nenek memanggilnya Geeta.


Aku sudah pernah bertemu dengannya saat berusia tujuh tahun. Dan Neneklah yang membawaku padanya.


Walau begitu, aku tidak bisa mempercayai ingatanku sendiri. Begitu banyak pertanyaan di kepalaku.


Apakah makhluk ini sungguh makhluk yang sama dengan yang dulu aku lihat? Apa dia berbahaya? Kemana dia pergi saat Nenek tiada?


Aku mengernyit. Kepalaku jadi sedikit sakit sejak tersadar. Apa aku membentur sesuatu?


Makhluk itu menoleh tiba-tiba seakan menyadari sesuatu. Dia memandangiku lamat-lamat.


Aku mengerutkan kening. Mau apa dia?


“A-Ada apa?” tanyaku ragu.


Dia masih diam. Lama-lama tatapannya semakin terasa horor.


“Aaang?” suaranya tiba-tiba.


Aku tersentak kecil. Setiap gerakannya membuatku terkejut.


Aku mengeratkan genggaman pada gagang sapu yang sudah aku persiapkan sebagai senjata sejak tiga puluh menit lalu.


Dia meletakkan sepotong ayam –masih mentah- yang dia ambil dari kulkas ke atas meja.


Aku mundur, naik ke anak tangga ke tiga. Apa dia akan mendekatiku?


Benar saja, dia mulai berjalan mendekat. Untuk kesekian kalinya hari ini, jantungku mulai berdebar lebih cepat.


“T-Tunggu dulu! Sudah kubilang jangan mendekat! Tetap di sana!”


Aku menodongkan gagang sapu was-was. Dia berhenti bergerak dan memandangiku. Kemudian memejamkan matanya.


Kalung yang aku kenakan kembali bercahaya dengan terang. Beberapa detik kemudian, cahayanya meredup lagi dan sakit kepalaku menghilang.


Makhluk itu kembali membuka matanya perlahan, menatapku lagi, kemudian kembali ke meja makan.


Aku menghela lega. Sebelumnya, setelah berubah makhluk itu juga melakukan hal yang sama.


Dia menatap diriku, kemudian memejamkan mata, kalungku bercahaya sangat terang sesaat, dan tubuhku jadi lebih ringan setelah cahayanya meredup.


Entah apa yang sebenarnya dia lakukan. Tapi yang pasti, aku masih menganggap kehadirannya sebagai suatu ancaman.


Tidak lama, bel rumah berbunyi. Memecah suara kecap mulut si makhluk aneh yang sedang makan.


Aku menoleh ke pintu. Siapa?


“Hannie!! Kau ada di rumah?!” teriak seseorang dari balik pintu.


Aku mengerjap. Itu suara Tante. Dengan cepat aku menuruni tangga, melirik jam dinding, dan berlari ke pintu depan.


Aku lupa! Aku seharusnya sarapan di rumah Tante pagi ini! Aku lupa janjiku!


Tapi langkahku terhenti seketika begitu mendengar suara kecapan dari dapur.


Aku mendesis. “Diwa….”


Iya, untuk sesaat aku melupakan makhluk itu. Bagaimana sekarang? Apa aku beri tahu pada Tante tentang makhluk ini dan meminta polisi membawanya?


Atau…


Aku melirik bimbang makhluk yang sekarang sudah berwujud perempuan dengan kaos kebesaran sedang memakan ikan mentah.


Apa Tante akan percaya?


Apa dia akan percaya kalau aku bilang gadis ini adalah makhluk besar berlumpur yang muncul dari rawa?


Tambah lagi, aku sudah membersihkan lumuran lumpurnya. Makhluk itu juga sudah bersih setelah aku semprot dengan air.


Dan…


Dia mengenakan bajuku…


Aku mendecak kesal sembari menghampiri makluk itu dengan langkah cepat.


Tiba-tiba saja rasa takutku akan makhluk ini menghilang. Aku menarik lengan ‘gadis’ ini dan menyeretnya ke halaman belakang.


Dia menatapku agak kesal.


“AAANG!” protesnya.


Aku mengernyit. “Ssst! Diam! Nanti Tante bisa dengar,” bisikku.


Makhluk itu cemberut, lalu buang muka.


“Heungh!” ketusnya.


Aku menggertakkan gigi dan merampas ikan yang sudah termakan ekornya dari tangan makhluk itu.


Dia menatapku tak percaya.


“Aaaanggg!!!”


Aku mendorong wajahnya. “P-Pokoknya kalau kau mau ikan ini lagi, harus sembunyi dulu!”


Makhluk itu berhenti memberontak. Ajaib, aku pikir dia tidak mengerti apa yang aku katakan.


Dengan wajah ditekuk, dia berjalan ke tangga yang menuju rawa, dan berjongkok di sana.


Kepalanya muncul, kemudian, “Ang!” Dia mengacungkan sebelah jempolnya dari balik dinding batu.


Aku mendengus geli.


Eh! Tidak, tidak! Kenapa aku berpikir dia lucu?! Tidak! Aku pasti sudah gila.


.


.