
BRAK! BRAK! BRAK! BRAK!
“HANSA!!!”
BRAK! BRAK! BRAK!
Aku mengerang. Siapa yang bertamu dengan tidak sopan pagi-pagi begini?
“HANSA! HANSA!! HANSA!!!”
Susah payah aku turun dari kasur dengan mata terpejam. Kurasa, semalam aku tidur terlalu larut.
“Iya…” jawabku lirih. Tenggorokanku kering sekali.
Aku menuruni tangga dengan langkah gontai. Bahkan nyaris terpeleset.
Begitu membuka pintu depan, kudapati Tante dengan napas terengah-engah.
“A-Ada apa?” tanyaku ikut panik.
Seketika kesadaranku kembali terisi penuh. Rasa kantuk yang tadi masih mendominasi tubuhku menguap ke udara.
“Hansa! Kenapa sih dipanggil dari tadi ga nyaut-nyaut!” protes Tante.
Dia kemudian memegang kedua lenganku, memeriksa tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seakan takut ada yang terluka.
“Ada apa? Kenapa Tante panik begini?”
Setelah memastikan aku baik-baik saja, Tante lalu menatap tepat ke mataku. Aku tidak bisa menebak pikiran dan perasaannya.
Semuanya campur aduk. Takut, gelisah, marah.
“Hansa. Kamu belum dengar berita pagi ini?”
Aku menggeleng. Tentu saja belum. Aku baru saja bangun karena Tante tadi.
Sebelum menjelaskan, Tante menghela kasar.
“Pagi ini, beredar kabar anak hilang.”
Aku terkejut. Anak hilang?
“Saksi bilang, dia terakhir melihat anak itu bermain di rawa sore-sore.”
Aku berpikir keras, mencoba mencerna perkataan Tante.
“Kalo begitu kenapa Tante malah khawatir padaku?” tanyaku heran.
Tante menghela napas lagi. “Rumah ini kan dekat rawa. Tante khawatir kamu kenapa-kenapa.”
Rawa?...
Jawaban Tante sudah cukup membuatku memahami situasi saat ini.
Tapi aku ingin memastikan.
“Apa hubungannya rawa, rumah ini, dan penculikan itu?”
Tante mendecak. “Kamu belum paham juga? Bukannya kita sudah pernah membahas ini?!”
Pekikan Tante agak mengejutkanku. Dia memijat pelipisnya sebentar, kemudian melanjutkan.
“Hansa, orang-orang mencurigai Diwa. Karena itu Tante khawatir padamu, Tante khawatir Diwa juga datang ke rumah ini dan melukaimu.”
Kali ini Tante berkacak pinggang. Matanya menyiratkan rasa takut sekaligus khawatir.
“Apa lagi kamu tinggal sendiri. Gimana kalo terjadi sesuatu?”
Aku mendesah. Mengulum senyum. Tapi dibalik senyuman itu, ada seribu pertanyaan yang menghantui kepalaku.
Dugaanku benar. Diwa.
“Terima kasih, tapi aku baik-baik aja.”
Aku menunduk. Memang rumor yang aku dengar, Diwa suka menculik anak-anak atau siapapun yang mendekati rawa.
Keningku mengernyit. Melihat Diwa yang bisa berubah menjadi gadis cantik telah membutakanku.
Aku sampai lupa kalau ada rumor mengerikan seperti itu. Bagaimana kalau dari awal akulah targetnya? Tapi aku malah—
Nyut
“Ah!”
Tiba-tiba kepalaku seperti dihantam batu yang besar.
“Hansa! Kenapa? Ada apa?!”
Tante memegangi tubuhku agar tidak terjatuh. Suaranya terdengar jauh lebih panik daripada sebelumnya.
Aku menyandarkan punggung ke dinding. Kenapa? Aku juga tidak tahu kenapa. Kepalaku tiba-tiba terasa sangat sakit.
“Hansa. Jangan buat Tante takut dong!”
Rasa sakit ini, aku tidak pernah merasakan sakit yang luar biasa seperti ini seumur hidupku.
Aku merintih. Memegangi kepalaku kuat-kuat. Rasanya aku ingin sekali membenturkan kepala ini ke batu.
Di tengah rasa sakit itu, muncul bayang-bayang gadis cantik dengan rambut hijau lumut tengah tersenyum di kepalaku.
“Ha~ngi!”
Semakin sakit kepala ini, semakin terasa nyata bayang-bayang itu.
“Ha~ngi~”
Aku seperti melihat rekaman ulang memoriku. Terasa sangat… nyata.
“Hangi, aang!!!”
Gadis itu menjulurkan kedua tangannya. Seakan ingin menangkup wajahku.
Kepalaku semakin sakit. Sampai mau pecah rasanya. Apa… sekalian saja aku benturkan?
Tidak kuat lagi, aku memajamkan mata kuat-kuat. Mendorong Tante untuk menjauh.
Bugh!
Hal terakhir yang dapat aku dengar adalah pekikan Tante.
...…...
“Hannie! Han~nie~!”
Nenek menyerukan namaku dari halaman belakang.
Aku yang sedang berlatih piano dengan Paman langsung menoleh dengan cepat.
“Ya?” sahutku riang.
Dari balik pintu kaca besar itu, Nenek tersenyum lebar. Sebelah tangannya mengisyaratkan aku untuk menghampirinya.
Paman langsung memelototiku. “Hei! Jangan coba-coba kabur lagi,” bentaknya.
Aku mencibir.
“Ini sudah kali ketiganya kau berusaha kabur. Aku ga akan melepaskanmu lagi.” Paman melipat kedua lengannya di depan dada.
“Ingat. Siapa yang pertama minta belajar piano? Hah?! Siapa?!”
Aku cemberut. Kembali menatap Grand Piano milik Nenek dengan setengah hati.
“Aku…” jawabku lemah. Rasanya tidak pernah aku melihat piano sememuakkan ini.
“Kamu sudah tujuh tahun. Dewasalah sedikit, setidaknya kamu harus menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai,” omel Paman.
“Dia baru tujuh tahun. Kau memintanya bersikap dewasa?” timpal Ayah yang sedang membaca koran di sofa.
Paman mendesah. “Bukan begitu….”
Tidak terlalu mendengar omelan Paman, aku curi-curi pandang ke luar jendela. Ingin melihat Nenek lagi.
Sekaligus meminta bantuan.
Tapi Paman memblokir penglihatanku dan memberi aba-aba untuk melanjutkan permainan.
“Ayo, ayo. Siap!”
Aku mendengus. Untung saja Paman bercita-cita menjadi dokter. Kalau jadi guru, bisa-bisa dia tidak punya murid sama sekali.
“One, Two, Three!”
Jari-jari mungilku kembali menari di atas tuts piano. Mengikuti ketukan yang Paman berikan.
Melodi-melodi indah kembali melantun dari benda besar antik kesayangan nenekku itu.
Bunda yang sedang menyirami tanaman tampak menari-nari kecil mengikuti irama.
Aku tersenyum tipis. Melihat orang-orang menikmati permainan ini, membuatku semakin bersemangat.
Eli yang sedang berjalan menuju lantai atas menghentikan langkahnya.
Ayah yang sedang membaca koran, menggerakan kepala pelan.
Jemariku semakin lihai. Seakan bergerak sendiri, tanpa dikomando.
Paman berhenti memberi ketukan, membiarkanku mengingat sendiri. Dia duduk di pinggir meja. Ikut menikmati permainanku.
Aku melanjutkan tanpa ada kesalahan sedikitpun. Tidak ada yang bersuara selain piano itu.
Sampai di tengah-tengah…
Tiba-tiba telepon rumah berdering. Menyela permainanku yang nyaris mencapai puncaknya.
Jariku meleset, dan permainan refleks kuhentikan.
“Aaahh,” sorak semuanya termasuk aku.
“Yang bener aja! Siapa yang berani-berani menelepon di saat sakral begini!” gerutu Paman sembari mengangkat telepon.
“Halo?” seru pria berambut pirang itu.
Kami semua menatapnya. Ingin tahu siapa pengacau yang berani mengganggu permaianku.
Paman mengacungkan jari telunjuknya. Meminta kami untuk tetap diam.
Aku mengangkat kedua alis. Siapa?
“Oh, ya. Tidak masalah. Kau tidak lupa jalan kemari kan?”
Paman mendengarkan dengan seksama. Sesekali mengangguk menanggapi lawan bicaranya di ujung sana.
“Hm. Aku yakin dia senang sekali. Sudah lama kalian tidak bertemu kan?”
Kali ini Paman menatapku dengan cengirannya yang menyebalkan.
Aku memicingkan mata. Siapa sih?
“E’hem, ya… baiklah. Sampai jumpa. Oh—tunggu! Jangan lupa bawa makanan kesukaanku.”
Paman tertawa kecil. “Ya… terserah. Dah~”
Panggilan berakhir. Kami semua menatapnya dengan intens. Sementara Paman malah terlihat santai-santai saja, kemudian menyeringai.
“Nungguin ya…?” guraunya dengan nada menyebalkan.
Kami semua mendesah malas. Sudahlah, apa yang kita harapkan dari ‘abang-abang’ pirang menyebalkan sepertinya.
Ayah mendecak dan melempar bukunya sembarangan. “Eii, yang benar saja! Kau mengerjai kami?!” desisnya sambil memiting sang adik.
“Iya! Iya, maaf! Eeuughpp!!! Lefas! Lefas!!!” Paman memohon sambil menepuk-nepuk tangan Ayah dengan napas tersengal.
“Cekek aja cekek! Nanti kebiasaan.” Bunda menyahut dari kejauhan.
“Terus yah!! Teruss!!!!” Aku ikut mengompori.
.
.