
Lantunan piano menerobos masuk telingaku. Tenang sekali. Irama merdu ini, aku sudah lama tidak mendengarnya.
Aku membuka mata. Langit-langit kamar dengan ornamen Eropa kuno meyambutku.
Irama musik ini berasal dari lantai satu.
Kakiku yang pendek berusaha menapaki lantai kayu dari atas kasur.
15 tahun yang lalu.
Aku berlari menuruni tangga. Ada aroma masakan yang lezat. Sekarang sudah waktunya sarapan?
“Nenek!” seruku begitu melihat siapa yang sedang bermain piano.
Nenek menoleh tanpa menghentikan permainannya. Dia tersenyum.
“Sudah bangun?”
Aku berlari ke arahnya. Eli yang sedang menyiapkan sarapan di atas meja makan melirikku.
“Hansa! Jangan lari-lari,” serunya gemas.
Aku memperlambat langkah dan mendengus.
“Apasih, aku kan sudah tujuh tahun. Aku ga akan jatuh semudah itu.”
Eli meletakkan sendok terakhir, kemudian berkacak pinggang.
“Kamu sudah jatuh dua kali saat sehari sebelum ulang tahun.”
Eli. Selain bebersih, hobinya adalah mengomeliku. Tidak ada satupun yang membela walau begitu.
Ayah, dia tidak akan beraksi sama sekali. Tetap membaca buku kesukaannya.
Bunda, dia hanya tersenyum diam-diam saat aku diomeli. Bunda tahu aku hanya mendengarkan Eli di rumah ini.
Nenek, dia juga tersenyum saja. Kadang tertawa kecil. Membenarkan perbuatan Eli. Dia juga tahu, kalau aku tidak akan mendengarkannya.
Aku adalah tipe anak yang lebih mendengarkan perkataan orang asing daripada orang yang sudah dekat.
Bukan, bukan. Eli bukan orang asing, sebenarnya kami cukup dekat. Tapi dia bukan keluargaku, jadi secara refleks tubuhku menuruti perintahnya.
“Kemarilah, duduk di samping Nenek.”
Aku mendongak menatap wajah teduh Nenek pagi ini. Kalau sedang kesal atau sedih, aku akan memandangi Nenek.
Wajahnya membuat pikiran dan hatiku tenang.
“Nenek bisa ajari aku main piano?” tanyaku begitu duduk di sampingnya.
Nenek mengangguk. “Ikuti saja gerakan Nenek.”
Aku memperhatikan gerakan tangannya yang cekatan. Walau iramanya terdengar pelan, tapi jari-jari Nenek bergerak cukup cepat.
“Nek, pelan-pelan dong,” keluhku. Pusing melihat gerakan-gerakan cepat itu.
Nenek tertawa. Dia kemudian berhenti sejenak, dan meletakkan kesepuluh jariku di atas tuts-tuts piano.
“Begini, kemudian ikuti gerakan Nenek. Kali ini pelan-pelan.”
Aku tersenyum riang. Kemudian memfokuskan diri pada grand piano di hadapanku.
Jari kami bergerak bersama. Aku agak kesusahan karena jariku pendek dan kecil.
Kami berlatih selama lima belas menit. Lalu Bunda memanggilku.
Sarapan sudah siap.
“Bunda! Main piano itu seru banget. Aku mau belajar piano!” kataku sambil menyantap makanan.
Bunda terbatuk sedikit. Minum seteguk air, baru setelah itu berkomentar.
Aku sudah tahu dia akan menolak di awal.
“Kenapa tiba-tiba?”
Aku meletakkan sendok dan mengangkat kedua tangan di udara. Seolah sedang menyentuh deretan tuts putih itu.
“Karena seru. Sensasi saat aku menekan balok-balok putihnya sangat menyenangkan.”
Bunda berdeham dan menyikut lengan Ayah pelan. Meminta dukungan.
Ayah memasang ekspresi bingung sesaat. Kemudian menatapku serius.
“Apa kamu tahu efek samping bermain piano?”
Aku menggeleng. Efek samping apa? Terlalu senang? Terlalu bahagia? Terlalu bersemangat?
Ayah menyeringai.
“Well, kalau kamu mau belajar piano, jari-jarimu harus sekuat baja. Kamu tidak boleh mengeluh lelah.”
Dia kemudian bertopang dagu. Ekspresinya sama seperti saat menakutiku dengan cerita hantu agar aku tidak suka main keluar di malam hari.
“Apalagi sekarang kamu lagi sering belajar menulis karangan. Siap-siap saja jari-jari kecil itu teriak kelelahan.”
Aku yang masih kecil ini bergidik ngeri. Kemudian memandang Nenek, dengan tatapan ‘Nek, apa itu benar?’.
Nenek sadar aku tengah menatapnya, tapi dia tidak menatap balik. Dia malah melanjutkan sarapan dengan tenang seperti biasa.
Mataku mulai berkaca-kaca. Kalau begitu, apa yang dikatakan Ayah benar?
Tubuhku jadi lesu seketika. Di belakang Eli tertawa melihat reaksiku.
“Ayolah, kemana semangatmu yang membara tadi?” usiknya.
Catatan, hobi Eli yang lain adalah menggodaku.
“Apasih! Memangnya Eli bisa main piano?”
Eli tersenyum usil.
“Kalau bisa? Apa ‘Tuan Muda’ Hansa akan memohon untuk diajari oleh saya?”
Nada bicara Eli berubah. Apa pula ‘Tuan Muda’ itu? Kenapa dia menyelipkan sebutan memalukan itu dalam kalimatnya?
Wajahku memerah karena kesal. Sepertinya setelah ulang tahunku yang ke tujuh, semua orang berubah jadi lebih menyebalkan.
Peraturan Bunda semakin ketat. Ayah tidak lagi mengabulkan semua permintaanku, dia hanya mengabulkan beberapa.
Nenek, dia juga jarang membelaku lagi. Dan yang terparah, Eli memanggilku tanpa sebutan ‘Dek’. Katanya aku bukan anak kecil lagi.
Aku turun dari meja makan. Kemudian naik ke lantai atas.
Sarapanku belum habis.
“Hannie! Sarapanmu!” seru Bunda.
Aku tidak mendengarkannya, dan terus melangkah dengan tergesa-gesa dan penuh emosi ke lantai dua.
Biar saja, Bunda juga tidak mendengarkanku.
Samar-samar aku mendengar Nenek mulai membuka suara. Tapi terlambat, aku sudah terlalu kesal.
“Kenapa kalian tidak turuti kemauannya? Belajar piano tidak merugikan.”
“Ah, aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi Hansa anaknya cepat bosan. Dia hanya akan menghadiri les sekali dua kali, kemudian mengeluh capek.”
“Iya, bu. Kalau begitu jadinya malah boros. Sayang biaya lesnya. Tapi, aku merasa bersalah karena harus bohong soal jari-jari itu.”
...…...
Berjam-jam aku mengurung diri di kamar, hingga tiba waktunya makan siang.
Perutku sudah keroncongan akibat tidak sarapan dengan benar. Tapi, aku tak akan keluar sebelum mereka menyerah!
“Hannie….”
Bunda mengetuk pintu tiga kali dan memanggilku dengan suara lembutnya.
Aku tidak mengunci pintu. Kurasa dia tahu itu. Tapi Bunda sudah paham dengan sikapku.
Dia akan menungguku membukakan pintu lebih dulu.
Aku menenggelamkan wajah ke bantal. Aku sebal. Sangat sebal.
“Hannie, kamu ga lapar?”
Ugh, kalau begini terus aku akan termakan oleh rayuan Bunda.
“Paman Ren mau dateng loh. Dia bawa makanan kesukaanmu.”
Aku langsung terduduk. Paman Ren?
“Dia bawa sate~”
Aku menelan ludah. Ayolah… kuatkan hatimu Hansa. Jangan goyah hanya karena sate!
“Oh, sepertinya dia sudah datang.”
Sepertinya mulutku mulai memproduksi air liur lebih banyak. Aku tidak berhenti menelan ludah. Dan perutku juga tidak bisa diam.
“Jangan merayu,” gumamku pelan pada perut sendiri.
“Hansaaa!!!”
Aku menoleh cepat ke arah pintu. Suaranya dari lantai bawah. Itu suara paman!
“Hansa~ Keponakanku yang paling imut. Aku bawa sate nih!”
Aku sudah duduk di pinggir kasur saat langkah kaki paman terdengar di tangga.
“Hei, kak,” sapanya pada Bunda.
Paman Ren adalah adik Ayahku. Dia masih kuliah, dan baik sekali. Aku suka diajak nonton film, makan di tempat-tempat enak, dan masih banyak lagi.
Biasanya Paman akan mengajak seorang perempuan saat itu. Tapi yang menbuatku bingung, perempuan yang di ajak Paman terus berganti.
Katanya mereka adalah teman Paman. Tapi, kenapa temannya hanya perempuan?
Kemudian, setelah sampai di rumah Ayah akan mengomelinya.
“Belajar sana! Pacaran mulu. Terus yang kemarin mana? Kok sekarang ganti lagi?!” Begitu katanya.
“Han.Nie!”
Paman sudah ada di depan pintu kamar. Aku turun dari kasur dan melangkah pelan ke pintu.
“Hei… kamu lagi ngambek ya? Kalo gitu kita makan aja yuk. Nanti perasaanmu jadi jauh lebih baik. Percaya deh,” bujuknya.
Aku menggerutu dalam hati.
Iya, tanpa Paman membujukku seperti itupun, aroma sate yang memenuhi seisi rumah ini sudah lebih dulu memikat hatiku.
.
.