
Dien memandangi deburan ombak yang menyelimuti pasir dalam diam ketika seseorang mencolek lengan kirinya.
“Oh? Udah balik?” tanya Dien setelah menoleh dan mendapati gadis bermata coklat terang tengah tersenyum menatapnya.
Geeta mengangguk dan ikut memandangi laut di hadapan mereka. Sebenarnya Dien merasa satu malam saja di pantai belum cukup untuk gadis itu.
“Kemana si anak ayam? Kok kamu balik sendiri? Ga nungguin dia sampe beres?”
Gadis itu menggeleng tanpa menatapnya.
“Oh? Kenapa? Kamu di usir ya sama dia?” Dien menahan tawa.
Kali ini Geeta menatapnya, dengan senyum melebar. “Kasian Om. Nangti kesepian.”
Mendengar itu Dien tidak bisa menahan senyum lagi. Tidak. Sebenarnya melihat senyuman gadis itu juga membuatnya tersenyum. Dien jadi rindu pada putri-putri kecilnya.
“Peduli juga kamu sama Om yah.”
Geeta terkekeh dan dia seperti mengingat sesuatu. “Om! Geeta udah nepatin jangji loh! Geeta dah lebih lancar ngomongnya.”
Dien melirik gadis itu menyelidik. “Jan-ji, Geeta. Belum lancar banget tuh.”
“Ih! Kan jang- eh, jannn… ji –nya cuman sampe lebih langcar aja!” Pipi Geeta mengembung.
Dien terkekeh melihat gadis itu kesusahan. “Iya deh, segitu juga udah bagus.” Ia kembali memandangi lautan di hadapan mereka.
Sudah seminggu lebih dia menghabiskan waktu dengan kedua bocah itu. Rasanya lebih menyenangkan dari yang dia duga. Sampai nyaris saja Dien lupa pada ‘misi’ –nya.
“Geeta, kalau Om boleh tanya. Kenapa kamu ga nyebur ke air dari kemaren? Kita udah mau pulang loh. Yakin nih ga nyesel? Nyicipin rasanya berenang di air asin ga bikin kulitmu mengkerut.” Dien berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil dan tenang. Sehingga gadis itu tidak merasa curiga.
“Engga.” Di luar dugaan. Senyum gadis itu nampak semakin lebar. Dia mengunci pandangan Dien.
“Main sama Hannie dan Om dah bikin Geeta seneng!” Wajahnya berseri setiap dia menyebutkan nama lelaki bermata kelabu itu. Mungkin hubungan di antara mereka lebih erat dari yang Dien ketahui.
“Lagian Geeta udah nyeburin kaki kok.”
Dien mendengus. “Kalo ‘kaki’ itu ya sampe ke paha lah minimal. Lah ini, kamu cuman sebatas mata kaki, Geeta. Itu mah namanya nge-rendem.”
Gadis itu tertawa. Ah, tawa bocah-bocah ini juga yang membuat Dien terhanyut. Kondisi Hansa juga tidak separah yang dikatakan.
Geeta menoleh kebelakang seolah merasakan kehadiran seseorang. Dien mengikuti arah pandang gadis itu. Hansa, cucu Miss Sophie sudah selesai berganti pakaian.
“Geeta, Om mau jajan dulu ya. Sayang nih kita belum nyobain semua jajanan di sini. Kudu puas-puasin.” Iya, Dien mencoba untuk jaga jarak. Dirinya tidak boleh terpengaruh lebih jauh lagi. Dia tidak boleh melupakan misi pentingnya.
“Tunggu Hannie dulu aja. Janjan bareng.”
Dien menggeleng sambil tertawa kecil. “Pertama Geeta, bukannya janjan, tapi ja-jan. Kedua, gapapa kok. Kalian tunggu aja dimana kek. Nanti kita makan bareng-bareng. Main, lari-lari, atau ngapain kek. Pokoknya puas-puasin di pantai sebelum pulang. Biar Om yang jajan, mumpung Om emang suka kulineran.”
...…...
“Loh, Om mau kemana?” tanyaku begitu jarakku dengan Geeta tidak sampai setengah meter.
“Jan- eh, jaajaann.” Geeta bicara susah payah.
“Jajan apa? Bukannya kita udah mau pulang?”
Geeta mengangkat bahunya. “Katanya harus puhas-puhasin di pantai sebelum pulang.”
Aku ber-oh singkat dan tersenyum tipis. “Kalo gitu kita juga jalan-jalan aja dulu. Apa mau duduk-duduk? Atau… beli es krim?!” usulku bersemangat. Kalau hanya kita berdua, Geeta tidak perlu menyembunyikan identitasnya susah payah.
Geeta langsung berpikir keras. Sepertinya dia punya rencana sendiri. Dia melihat ke sekelilingnya. Memerhatikan satu persatu kegiatan pengunjung lain di pantai ini.
“Main itu tuh! Buat rumah!” tunjuknya.
Aku mengikuti arah yang ditunjuk Geeta. “Ahh, istana pasir? Boleh juga. Tapi kita ga punya alatnya. Nanti susah ngebentuknya. Udah gitu kotor juga. Mending makan es krim sambil duduk-duduk.”
Kalau sudah ada maunya Geeta tidak pernah menyerah ya? Aku mengulum senyum dan mengalah. “Oke. Beli dulu deh airnya. Jangan pake yang bekas.”
Geeta mengangguk kuat. Yang penting keinginannya terlaksana.
“Oh ya, Geeta. Berarti satu hutangku udah lunas ya.” Aku memulai obrolan setelah mendapatkan 'alat' untuk membuat istana pasir.
Kami berjongkok di dekat bibir pantai. Bagian pasir yang agak basah, agar mudah dibentuk.
Geeta yang sibuk dengan istananya mengangkat wajah heran. “Hutang?”
“Iya. Janji kan sama aja hutang. Pokoknya janjiku soal pantai ke kamu udah lunas kan? Gimana rasanya? Seneng ga?” tanyaku berentet. Aku harap dia sudah cukup senang.
Senyum Geeta melembut. “Seneng! Tapi ada janji lain yang belum lunas.” Geeta menghentikan gerakan tangannya dan menatap air laut yang menerpa ujung kaki kami.
“Oh? Ada lagi?”
Geeta masih tersenyum. Tapi kenapa aku merasa tidak enak? Kenapa sih aku yang masih kecil suka sekali membuat janji? Bodoh. Hansa bodoh.
“Hannie janji Geeta ga usah takut keluar. Ga usah sengbunyi.” Gumaman lembut yang jelas mengandung kekecewaan.
Aku tahu. Aku mengerti. Sejak awal aku selalu memperingatkannya untuk tidak semberono di depan umum. Memintanya melakukan ini dan itu yang mungkin… membuatnya risih.
Siapa yang suka hidupnya diatur orang lain kan?
“Ah… janji itu. Aku—” Kalimatku terpotong. Bukan oleh orang lain, tapi oleh diriku sendiri. Aku tidak bisa bilang kalau janji yang 'itu' mustahil.
Aku tidak yakin, Geeta. Ingin sekali kujawab begitu.
Tapi jawaban semacam itu hanya akan membuatnya tambah sedih. Aku tidak mau dia kecewa terhadapku.
“Usaha bareng-bareng. Kita usaha bareng buat menuhin janjiku itu ya? Karena butuh kerja sama untuk janji yang itu.”
Geeta menatapku dalam. Seakan berusaha membaca isi kepalaku. Tapi aku tidak akan membiarkannya.
Aku mengalihkan pandangan pada istana pasir kami, dan mengganti topik obrolan. “Habis ke pantai kita mau jalan kemana lagi? Belanja? Kamu belum sempet beli baju baru kan?”
Untunglah, usahaku tidak sia-sia. Geeta kembali menyusun istana pasirnya dan menjawab, “Okei. Sama Om juga?”
Aku tersenyum. “Iya. Sama Om juga ya. Nanti kita beliin dia baju-baju lucu.”
“Suruh jadi badut!” Suara Geeta kembali ceria.
“Iya, boleh. Rambutya udah mirip badut-badut pesta. Tinggal kostum sama idungnya aja.” Aku mengikuti arah obrolan yang dibangun Geeta.
“Hannie juga lah, jadi badut!”
Aku mendengus. “Udah buat istana, berarti jadi pangeran atau raja dong. Masa badut.”
“Gapapa, nanti Geeta yang jadi putih!”
“Putih?” Alisku bertaut samar.
“Iya! Yang ada di istana juga. Putih!” kukuhnya.
Putih? Di istana? Aku mulai berpikir keras. Kemudian menjentikan jari. “Oh! Putri?!”
“Ha! Itu!” Geeta bersorak kencang.
Lagi-lagi kami membuat keributan. Tapi untunglah sekarang di luar ruangan dan memang berisik juga. Aku tidak tahan untuk tidak tertawa.
.
.