
Pintu terbuka. Kepalaku keluar sedikit, mengintip keadaan di luar.
Ada Paman dan Bunda yang sedang tersenyum lega ke arahku.
Aku mendengus. Kemudian Bunda berlutut di depanku.
“Kalau kamu mau belajar piano, belajar saja sama Paman. Oke?”
Aku menatap Bunda tidak percaya. Kemudian beralih ke Paman yang saat ini jelas-jelas kebingungan.
“Piano?”
Bunda berdiri dan menepuk pundaknya.
“Ajari dengan sabar keponakanmu biar ga ngambek lagi,” bisik Bunda.
Aku bisa mendengar itu. Tapi tidak masalah. Yang penting keinginanku terkabul, dan aku juga bisa makan sate.
Bunda tersenyum lagi padaku.
“Ayo turun, nanti satenya dingin,” ujarnya kemudian turun ke bawah lebih dulu.
Aku memeluk kaki panjang Paman dengan erat.
“Makasih Paman Ren!!!”
“Eh? Emm… I-Iya… sama-sama.”
Paman tersentak dan mengelus kepalaku ragu.
Setelah makan siang, aku belajar piano dengan Paman. Dia tidak sabaran, tapi aku masih mengerti maksudnya.
Catatan baru lagi. Paman tidak jago menjelaskan. Tidak berbakat jadi pengajar.
Tiga puluh menit kuhabiskan di depan piano. Benar kata Ayah, jariku pegal sekali.
Kurentangkan tangan ke atas dan meregangkan tubuh.
Capek.
“Istirahat?” tanya Paman sambil menyodorkan segelas air putih.
Aku mengangguk.
“Terima kasih,” ujarku sambil menerima segelas air itu.
Paman terkekeh. “Kamu sudah tahu sopan santun? Bagus juga.”
Aku mendengus.
“Aku sudah belajar dari umur empat tahun. Nenek bilang tata krama itu penting,” tuturku sambil mengacungkan jari telunjuk. Meniru Nenek.
Paman tertawa.
“Wah, kayaknya aku terlalu sibuk sampe ga sadar kalo kamu sudah sepintar ini.”
Dia mencibit pipiku. Aku menepis tangan jahilnya, tentu saja.
“Aku bukan anak kecil lagi! Jangan cubit-cubit!"
“Eh, eh. Katanya udah belajar tata krama. Tapi kok masih suka teriak-teriak?” balasnya cepat.
Alhasil aku hanya bisa terdiam dan membiarkannya mencubiti pipiku yang kenyal.
Tidak lama Eli memanggil dan menyuruhku tidur siang. Wah, kali ini aku sangat senang dengan perintahnya.
Kau menyelamatkanku Eli!
...…...
Pukul 16.00.
Aku sudah bangun sejak lima menit lalu. Tubuhku terasa lebih segar dari biasanya.
Terkadang aku bingung, kenapa teman-temanku sulit sekali disuruh tidur siang? Padahal setelah itu tubuh kita bisa jauh lebih ringan.
Kalau main sorenya nanti jadi lebih semangat juga kan.
Aku mandi, dan setelah itu mengambil bola plastik di dekat televisi.
Kemudian membawanya ke halaman belakang.
“Mau kemana kamu?”
Ayah menahanku.
“Main bola,” sahutku singkat.
Baru aku melangkah sekali, Ayah kembali menahanku.
“Hei! Siapa bilang kamu boleh main di sana?”
Aku mendengus sebal. Bukan peraturan Bunda saja yang semakin ketat. Tapi peraturan Ayah juga. Terutama soal halaman belakang rumah Nenek.
“Aku kan sudah tujuh tahun.”
“Lalu?”
Ayah menatapku tajam. Aku membalasnya dengan tatapan memelas. Sudah pasti, Ayah akan melunak.
“Pergi main dengan Eli. Jangan sendirian,” putusnya.
Aku tersenyum penuh kemenangan.
“Eli!!! Temani aku main.”
Eli tidak menyahut, tapi asisten rumah tangga lain menjawabku.
“Eli sedang keluar bersama Ibu.”
Ibu yang dimaksudnya adalah bundaku. Aku mengeluh kecewa.
“Yahh….”
Kalau begitu aku tidak bisa main. Eh, tunggu.
Aku menatap Ayah curiga. Mata kami bertemu, dan dia tersenyum licik.
Benar, dia sudah tahu tidak ada yang bisa menemaniku bermain. Ayah tahu Eli sedang keluar. Nenek sedang beristirahat. Yang lainnya sedang sibuk.
Ayah sendiri tidak akan mau menemaniku.
Aku berdecih. Sudahlah, kita main di depan saja. Baru aku membalik badan, Paman datang dari lantai atas.
“Mau main sama Paman?” tanyanya.
Ayah melongo. Dia sudah pasti lupa dengan keberadaan adiknya. Yah, aku juga.
Tapi ini kabar baik untukku.
“Ayo!!” seruku senang.
Ayah tidak bisa mencegahku lagi. Hehe.
Kami main di luar sampai matahari hampir terbenam. Kelihatannya Paman sangat merindukanku ya.
Aku mengangguk. Untuk yang terakhir kalinya, aku memantulkan bola ke tanah dengan keras.
Di luar rencana, bola itu malah memantul miring ke arah rawa. Aku berusaha menangkapnya sebelum melewati tembok batu.
Tapi, aku terlalu pendek.
Bola itu jatuh tepat ke bibir rawa. Paman tidak menyadarinya. Dia tetap berjalan masuk tanpa memastikan apakah aku mengikutinya atau tidak.
Bagus. Aku menyeringai.
Kalau begitu aku bisa turun ke rawa. Kalian tahu, seseorang semakin di larang, semakin penasaran. Dan aku seperti itu.
Aku menuruni tangga dengan perlahan. Berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun. Sampai di tanah berlumpur, kulihat bolaku masih ada di sana.
Tapi tiba-tiba angin berhembus kencang, mendorong bola plastikku yang ringan ke tengah rawa.
“Ehh… bolaa…” bisikku.
Aku langsung frustasi detik itu juga. Apa kembali saja?
Tapi, itu bola favoritku.
Membulatkan tekad, aku berjalan mendekati rawa. Dipikir bagaimanapun aku tidak akan bisa meraih bolaku kembali.
Menarik napas panjang, aku berjongkok di bibir rawa. Sudahlah, relakan saja bola itu.
Terdengar suara orang berenang dari dalam air. Aku mengangkat kepalaku yang tertunduk.
Ada orang yang berenang di rawa ini?
Dahiku berkerut, mataku memicing. Di tengah rawa, tepat di dekat bolaku, muncul benjolan hitam seperti yang aku lihat terkahir kali.
Aku berdiri. Jadi itu bukan benda? Itu makhluk! Aku mendengarnya dengan jelas tadi. Dia berenang.
Benjolan itu membawa bolaku ke tepi daratan. Aku mundur selangkah. Apa dia? Makhluk apa ini?
Makhluk itu berhenti begerak. Benjolannya semakin besar. Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat kalau itu adalah rambut.
Aku mundur lagi. Tiba-tiba kakiku jadi lemas.
Dia, makhluk itu berdiri dengan perlahan. Mataku melotot. Tubuhku tidak mau bergerak.
Keringat bercucuran. Aku ketakutan.
Makhluk itu, dia tinggi sekali. Dan dia memegang bolaku.
Matanya bercahaya warna hijau, rambutnya panjang dan berlumpur.
Dia menyodorkan bolaku. Kemudian membuka mulut.
“Aangg!”
Suaranya terdengar seperti alien yang ada di film-film.
Aku menutup telinga dan terjatuh. Selanjutnya, aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi.
...…...
“Loh, Ren. Hansa mana?” tanya sang kakak pada adiknya.
“Dia ada dibelakangku….”
Sang adik berbalik dan mendapati keponakannya tidak ada di tempat.
“Loh? Hansa?!”
Mereka panik, dan berlari ke halaman belakang.
“Hansa!” seru mereka. Seisi rumah ikut panik.
Istri sang kakak yang baru saja pulang langsung menjatuhkan barang belanjaannya, lalu ikut berlari ke belakang begitu mendengar nama anaknya dipanggil.
“Hansa!” seru si adik.
Sang kakak langsung berlari ke arah adiknya memandang. Dia mendapati anaknya tengah terbujur lemah di atas tanah berlumpur dekat rawa bersama bolanya.
“Hansa! Nak!”
Istrinya ikut lari ke lokasi. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Hal yang sama terjadi lagi.
“Hannie…” lirihnya.
“Reno! Jangan diam saja, bantu aku! Panggil ambulans, siapkan mobil, apapun!”
Istri dan adiknya tersentak, kemudian masing-masing melakukan apa yang mereka bisa di saat panik tersebut.
Mereka tidak sadar ada yang memperhatikan dari dalam rawa.
Sampai di dapur, sang ibu dari dua bersaudara itu menahan mereka.
“Tunggu. Biar kulihat,” katanya.
Sang kakak yang sudah tidak sabar berteriak pada ibunya.
“Bu! Sudah tidak ada waktu lagi! Reno, siapkan mobil!” titahnya panik.
“Ibu bilang kemari!”
Sang kakak terdiam, begitu juga dengan istrinya, si adik dan para asisten rumah tangga.
Dia kemudian membawa anaknya ke dekat sang ibu.
“Dia tidak luka. Hanya pingsan karena syok.”
Sang kakak tidak mempercayai pernyataan sepihak ibunya.
“Bagaimana Ibu tahu? Dia—”
“Biar Ibu yang urus. Reno!”
Sang ibu memanggil anak bungsunya.
“Bantu ibu. Kamu mahasiswa kedokteran. Kamu calon dokter. Cepat bantu Ibu.”
Si sulung yang tidak sabar membentak ibunya lagi.
“Bu! Dia harus diperiksa oleh dokter!”
Sang ibu menatapnya tajam.
“Kamu pikir mantan dokter bukanlah dokter?” tanyanya.
“Aku hanya berhenti praktek di rumah sakit. Tapi aku tetaplah seorang dokter.”
Si sulung kebahisan kata-kata, kemudian meletakkan anaknya di atas sofa. Membiarkan sang ibu memeriksanya.
“Dia akan sadar beberapa jam lagi, jadi tenanglah.”
.
.